Ivonne [2] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ivonne [2] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:22 Rating: 4,5

Ivonne [2]

”Selamat datang Mr. Theofilus Lundenberg. Saya IvonneChristabelle, personal assistant Anda selama berada di Jakarta,” ujarnya,dengan gaya profesional.

”Hai, Ivi...,” sapanya, masih tetap sambil tersenyum ramah.

Ivonne mengernyit. Tidak suka dengan nama panggilan yang didengarnya. Itupanggilan kesayangan Ivonne. Panggilan   khusus orang tuanya....

Ivonne menahan diri untuk tidak berkomentar. Bagaimanapun, Theofilus Lundenbergadalah bosnya. Setidaknya, selama dia berada di Jakarta. Dan, seorang bossebaiknya tidak dibantah.

”Silakan, Mr Theofilus Lundenberg. Lewat sini...,” Ivonne memimpin jalan menujutempat parkir.

”Panas sekali, ya, Jakarta,” kata Theo, sambil mengipas-ngipas. ”Sudah lamasaya tidak ke Jakarta. Seingat saya, terakhir kali saya ke sini adalah duatahun yang lalu. Mengunjungi nenek saya.” Theo tersenyum.

Ivonne hanya tersenyum tipis. Berusaha tetap terlihat profesional.

“Saya ingin check in di hotel sebentar. Hanya untuk menaruh barang bawaan saja.Kamu bawa bahan untuk meeting nanti, Ivi?”
Ivonne mengernyit lagi, panggilan itu! Perlahan –berusaha agar tidak terlalukentara– dia menepuk punggung tangannya tiga kali, lalu mengeluarkan bahanmeeting untuk siang nanti.

“Ini bahannya, Mr. Theofilus Lundenberg.” 

“Just call me, Theo,”  ujarnya. Suasana sejenak hening. Theo tampak seriusmempelajari bahan meeting.

Ivonne diam-diam menarik napas lega. Lega karena Theo tampak serius membaca danuntuk beberapa waktu tidak akan bercakap-cakap dengannya.

*****
Theo tersenyum kecil. Hanya butuh waktu sebentar untuk mempelajari bahanmeeting siang nanti. Diam-diam dia memperhatikan gadis berpakaian gelap disebelahnya. Wajahnya cantik, hanya tampak jarang tersenyum. Rambutnya digelungketat. Bahasa tubuhnya tampak kaku dan konservatif. Selama dia mempelajaribahan meeting, gadis ini mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Tampak lega.Tadi, dia sempat menangkap gerakan kecil gadis itu ketika menepuk punggungtangannya tiga kali.

Pak Darmawan Sejati, CEO PT Kimia Utama, sudah mengatakan bahwa yang akanmenjadi asisten pribadinya selama dia berada di Jakarta, adalah seorang gadisyang teliti, cekatan, dan profesional. Hmm... Pak Darmawan tidak mengatakanbahwa asisten pribadi ini juga cantik dan... pendiam. 

Mobil meluncur pelan, membelah jalan Jakarta yang sudah mulai padat. Empat harilamanya Theo akan berada di Jakarta. Mensosialisasikan produk kimia terbarukeluaran Chemical International Coorporation. Dia juga akan berkeliling,menemani sales engineering dari PT Kimia Utama, menyambangi customer dari PTKimia Utama. Dia sangat bersemangat menerima tugas ke Jakarta. Kota kelahiranOma Rima, neneknya. Kalau ada waktu, dia akan berkunjung ke rumah Oma Rima.Sudah lama sekali dia tidak bertatap muka dengan nenek tersayangnya itu.

Mobil berbelok, masuk ke sebuah hotel. 

“Sudah sampai, Mr. Theofilus Lundenberg,” suara Ivonne membuyarkan lamunannya.

Theo tersenyum, merespons perkataan Ivonne. Dia memperhatikan gadis itumengetukkan ujung kakinya cepat-cepat sebelum melangkah keluar. Tuk tuk tuk.Tiga kali. 
Aneh...

Ivonne mengurus check in hotel dengan cekatan.

“Silakan, Mr. Theofilus Lundenberg.” Ivonne memberikan kartu pass untuk masukke kamar.

“Thanks, Ivi.” 
Ivonne tampak mengernyit ketika mendengar Theo menyebutkan ‘Ivi’. Entahmengapa.

****

 “Permisi….” Seorang room boy mengantarkan barang bawaanTheo.
”Terima kasih....” Ivonne mengangguk sambil tersenyum tipis.

Theo mengambil barang bawaannya dan memberikan tip kepada room boy sambilmengangguk ramah. 

”Ivi, kamu masuk dulu. Duduk saja di sofa sana,” ujar Theo, sambil membukabarang bawaannya. Dia mengeluarkan sehelai kemeja dan satu setel jas warna birutua, lalu  masuk ke kamar mandi. 

”Tunggu sebentar, ya, Ivi. Saya tidak lama, kok,” ujarnya kepada Ivonne.

Ivonne mengernyit, lalu mengangguk dan duduk di sofa ruang tamu. Sebelum duduk,dia mengetukkan ujung kakinya tiga kali. Di hadapan Mr. Theofilus Lundenberg,dia tidak mau terlihat konyol dengan ’ritual tiga’-nya. Maka, dia menggantiritual itu dengan mengetukkan ujung kakinya sebanyak tiga kali. Tingkah lakuitu cukup membuatnya merasa aman. 

”Ivi!” panggil Theo, dari dalam kamar mandi. 

Ivonne mengernyit. “Ya?” sahutnya.

“Bisa tolong ambilkan dasi saya. Ada di dalam koper yang warna biru!” seru Theodari dalam kamar mandi.

Kerutan di dahi Ivonne bertambah. Apakah mengambilkan dasi termasuk dalam jobdesc seorang personal assistant? 

“Ivi,” panggil Theo lagi.

Ivonne bangkit, menepuk punggung tangannya tiga kali. “Sebentar,” sahutnya. Diamembuka koper yang berwarna biru dan menemukan beberapa dasi. Dia melirik dasiyang berwarna biru. Sepertinya ini cocok dengan kemejanya. Dia mengambil dasiitu, meletakkannya kembali, mengambilnya, meletakkannya kembali, dan, untukketiga kalinya, mengambilnya.

”Ivi....” Tiba-tiba Theo sudah berada di belakangnya. Tatapannya tampakbingung.

Wajah Ivonne memerah. Apakah Theofilus Lundenberg melihat tingkah lakunyabarusan? Melihat tingkah laku ’ritual tiga’-nya yang aneh?

”Ini Mr. Theofilus Lundenberg, dasi Anda. Kita harus bergegas ke kantor.Semuanya sudah menunggu.” Ivonne berhasil mengendalikan situasi.

**** 

Perjalanan ke kantor PT Kimia Utama berjalan tanpa hambatan yang berarti.Walaupun jalanan macet,  mobil kantor masih dapat meluncur lancar. 

”Bagaimana bahan meeting yang telah saya persiapkan, Mr. Theofilus Lundenberg?”tanya 
Ivonne, memecah keheningan.

Theo mengangguk sambil tersenyum hangat, ”Oke.”
Ivonne membalas senyum itu dengan anggukan singkat. 

”Siapa saja yang akan hadir dalam meeting nanti?”
”Pak Darmawan Sejati, CEO PT Kimia Utama, Pak Sandy Sanjaya dan Pak SetiawanRahardjo dari bagian produksi, serta Pak Alexander Natanegara dan Pak JonasHandoko  dari bagian marketing,” jawab Ivonne.

Ivonne menghela napas. Ingat  Alexander Natanegara, dia merasa sedih. Alexadalah satu-satunya lelaki yang tidak menganggap dirinya aneh. Satu-satunyalelaki yang tetap gigih mendekatinya. 

Alex dan Ivonne dipertemukan saat Ivonne ditugaskan untuk membantu divisimarketing tahun lalu. Sejak saat itu, perhatian Alex mengalir. Dia rajinmendatangi meja Ivonne. Memberikan setangkai bunga, setangkup roti untuksarapan, mengajak makan siang, mengajak jalan di akhir minggu, atau hanyasekadar menanyakan kabar.  Alex tidak terganggu dengan kebiasaan-kebiasaananeh Ivonne. Ivonne bahkan pernah mendengar Alex membelanya saat ada gadis lainyang membeberkan semua ’keanehan’ yang dimilikinya.

Reaksi Ivonne? Dingin. Menutup diri. Menolak. Menarik diri. Ivonne bukannyatidak suka pada Alex. Kalau mau jujur, Ivonne sebenarnya sangat menikmati semuaperhatian itu. Dan, justru hal itu yang membuatnya takut. 

Saat dia mulai menikmati semua perhatian itu, dia menarik diri. Tidak mau terlibatlebih jauh lagi. Dia selalu menghindar setiap melihat sosok Alex berangsurmendekat. Dia selalu membiarkan bunga dan setangkup roti tergeletak begitu sajadi mejanya.

Alex masih terus mencoba. Tapi kemudian, lima bulan yang lalu, merasa bahwasegala usahanya sia-sia, dia mulai mendekati Sanny, dari bagian marketing lain.Sanny lebih cantik, lebih menarik, lebih hangat, lebih terbuka, dan lebih’normal’. Kabar terakhir yang terdengar, Alex dan Sanny sudah resmi berpacaran. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irene Tjiunata
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Ivonne [2]"