Ivonne [3] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ivonne [3] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:26 Rating: 4,5

Ivonne [3]

Ivonne kembali terpuruk. Di satu sisi dia lega karena Alextidak menjadi orang terdekatnya. Kalau Alex sampai jadi orang terdekatnya, makadia takut hal buruk akan terjadi pada diri Alex. Di lain sisi, dia merasa tidakcukup berharga untuk dipertahankan Alex. Dia kembali merasa jadi orang abnormalyang tidak mungkin disukai lelaki.  
“Sudah sampai, Ivi,” suara Theo membuyarkan lamunannya. 

Ivonne tersadar, lalu memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Ini bukankantornya.

“Mr. Theofi…” 

“Kita lunch dulu,” potong Theo. “Ini sudah waktunya makan siang. Setelah makansiang, baru nanti kita akan kembali ke kantor untuk meeting. Meeting-nyadimulai setelah jam makan siang, ‘kan?” 

Ivonne dilanda panic attack. Ivonne mempunyai ‘peraturan’ untuk tidak makan ditempat umum, tidak makan dengan orang lain, tidak makan di rumah orang lain,dan tidak menggunakan peralatan makan orang lain. Biasanya, Ivonne akan selalumembawa makanan berikut peralatan makannya sendiri. 

“Ayo, Ivi.” Theo menoleh, memastikan Ivonne juga turun dari mobil. 

Ivonne terpaksa menurut. Dia turun dari mobil, tapi bertekad kuat untuk tidakmelanggar ’peraturan’ yang telah dibuatnya. Biar saja nanti dia beli roti ditoko roti yang ada di lantai bawah kantor.

Theo memesan makanan untuk dirinya dan Pak Andi. Pak Andi tampak terkejutkarena Theo mengajaknya makan bersama di dalam restoran. Ivonne juga terkejut.Tidak menyangka bahwa Theo akan begitu perhatian terhadap Pak Andi, sopirkantor.

“Kamu mau pesan apa, Ivi?” Theo mengangsurkan daftar menu ke hadapan Ivonne.
Ivonne buru-buru mengangkat tangannya, ”Saya belum lapar. Nanti saja, saya akanmakan di kantor.” 

Theo mengernyit, namun memutuskan untuk tidak bertanya lagi.

Ketika pesanan sudah datang, Theo makan dengan lahap. Sudah lama sekali diatidak makan makanan asli Indonesia. Pak Andi, yang duduk di sebelahnya, jugamakan dengan bahagianya. 

Dia tidak pernah makan makanan khas Indonesia di tempat sebagus ini. Pecelayamnya terasa lebih nikmat, sayur lalapnya terasa lebih segar, nasinya terasalebih pulen, bahkan es teh manisnya pun terasa lebih manis!

Ivonne sempat tersenyum kecil melihat gaya makan Pak Andi yang superlahap.Sambil memperhatikan, tangannya memutar-mutar gelas teh hangatnya tiga kali,lalu berhenti, memutar tiga kali lagi, lalu berhenti lagi. 

 “Tiga kali lagi!!!’ pikir Theo. 

Sambil makan, dia terus memperhatikan tingkah laku Ivonne. Ada yang unik daritingkah laku gadis itu. Entah mengapa, dia sering sekali melakukan segalasesuatu tiga kali. Ivonne juga tidak mau makan. Theo memperhatikan bentuk tubuhIvonne. Menilai. Ivonne tidak tampak seperti gadis yang mati-matian menjagaberat badan idealnya. Kenapa, ya, dia tidak mau makan?

Theo memperhatikan Ivonne lagi. Gadis itu memutar gelas tiga kali, berhenti,mengusap bibir gelas tiga kali, minum tiga teguk kecil, lalu kembali memutargelasnya tiga kali. Semuanya dilakukan secara perlahan. Tampak kalau dia tidakingin orang lain menyadari tingkah lakunya.

Ketika akhirnya Theo dan Pak Andi selesai makan, Ivonne buru-buru beranjak. Diaduduk dengan diam sepanjang perjalanan ke PT Kimia Utama. Theo ingin tahusegala sesuatu tentang gadis itu. Menurutnya, gadis itu, dengan segalakeunikannya, adalah gadis menarik. Membuatnya penasaran. Tapi, ditahannyakeinginan itu. Dia harus konsentrasi untuk menghadapi meeting intern.

Sampai di kantor, Ivonne buru-buru turun dan beranjak masuk ke toko roti yangterletak di bawah PT Kimia Utama. Theo memperhatikan Ivonne keluar denganmembawa sebuah roti. Dia membagi roti itu menjadi tiga bagian besar, lalumenghabiskannya dalam tiga kali suapan.

”Tiga lagi...,” pikir Theo.

Ivonne berjalan cepat menuju mejanya. Mengumpulkan berkas-berkas yangdibutuhkan untuk meeting nanti dan bergegas ke ruang meeting.  Tak lamakemudian, Ivonne keluar dari ruang meeting. Theo melihat berkas yang akandipergunakan untuk meeting sudah diletakkan dengan rapi. Seorang office girlsedang mempersiapkan minuman dan makanan kecil untuk menemani acara meetingnanti. Ivonne masuk kembali, berbicara sebentar dengan si office girl. 

”Terima kasih, ya, Sinta,” ujar Ivonne.
Ivonne kemudian beranjak memeriksa layap OHP yang akan dipergunakan nanti.Setelah semuanya selesai, Ivonne berdiri, merapikan bajunya tiga kali danmenepuk punggung tangannya tiga kali.

Theo berdeham kecil dan Ivonne tampak terkejut saat menyadari kehadiran Theo.

“Mr... Mr Theofilus Lundenberg, kenapa Anda sudah ada di sini?” wajah Ivonnebersemu merah.
“Aku?” alis Theo terangkat. “Aku mempersiapkan diri untuk meeting nanti,”jawabnya, ringan. 
“Apakah ... apakah ada sesuatu yang dapat saya bawakan untuk Anda? Minumankhusus? Jus jeruk?” Ivonne masih tampak gugup.
“No thanks, Ivi.” Theo tersenyum, berusaha menenangkan Ivonne.

“Sekian meeting untuk hari ini.” Theo menutup map dihadapannya. “Ivi, sebelum pulang kerja nanti, saya minta salinan notulen rapathari ini.”
Ivonne mengernyit, lalu mengangguk. Dia membereskan laptop-nya.

”Hai, Ivonne...,” sapa Alex.

Ivonne hanya mengangguk singkat dan segera berlalu. Tidak mau berlama-lamaberada di dekat Alex.

”Alex,” panggil Theo. ”Besok saya ikut kamu ke customer. Sekalianmemperkenalkan produk baru dari Chemical International Coorporation.”

”Baik, Pak,” Alex mengangguk hormat.
Ivonne sekilas mendengar perkataan Theo. Besok pasti akan jadi hari yangmelelahkan.
Ivonne menghela napasnya. Dia harus menyelesaikan notulen rapat barusan. Diamenepuk punggung tangannya tiga kali, lalu mulai bekerja.

*****

Theo sedang berada di ruangan Pak Darmawan. Mereka membicarakan kemungkinanuntuk men-training karyawan potensial langsung di Chemical InternationalCoorporation, Australia. 

”Adalah kebanggaan buat kami bahwa Anda bersedia ke sini,” puji Pak Darmawan.”Seperti yang Anda lihat, kehadiran Anda akan memompa motivasi kami semua.”

Theo tersenyum menanggapi pujian itu.
Pintu diketuk dari luar, Ivonne masuk dan mengangguk sopan.

”Mr. Theofilus Lundenberg, Pak Darmawan Sejati, ini notulen meeting.”
”Terima kasih, Ivonne.” Pak Darmawan tersenyum. 
”Thanks, Ivi,” balas Theo. Benar-benar gadis yang cekatan! Meeting panjang tadibelum lama selesai, tapi dia sudah menyelesaikan notulennya dengan rapi. ”Nicejob, Ivi.”

Dahi Ivonne berkerut, lalu dia keluar dari ruangan.

”Bagaimana Ivonne? Kerjanya baik?” tanya Pak Darmawan, ketika pintu sudahtertutup kembali.
Theo mengangguk. ”Dia gadis yang cekatan. Kerjanya memuaskan.”
Pak Darmawan tersenyum. ”Gadis yang malang.”
Dahi Theo berkernyit.

”Masih kerabat,” Pak Darmawan menjawab pertanyaan tersirat itu. ”Anak dari adikistri saya. Orang tuanya meninggal 10 tahun lalu. Mobil yang mereka tumpangidisalip oleh sebuah motor. Kedua orang tuanya meninggal, hanya dia yang selamatdari kecelakaan itu. Tubuh dan wajah kedua orang tuanya hancur akibat tabrakanitu. Sejak itu dia jadi pemurung, penyendiri dan... agak aneh.”

Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Irene Tjiunata
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Ivonne [3]"