Ivonne [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ivonne [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:30 Rating: 4,5

Ivonne [5]

”My dear Theo!!!” Dia memeluk Theo dengan erat. Diciumnya kedua pipi lelaki itu.

”Oma Rima,” Theo juga balas memeluknya dengan erat. Nada suaranya mengandung kasih sayang.

”Siapa ini teman-temanmu?” Oma Rima baru menyadari kehadiran Ivonne dan Pak Andi.

”Ini Pak Andi, sopir PT Kimia Utama.” Theo memperkenalkan Pak Andi. Pak Andi mengulurkan tangannya dengan canggung.

”Hallo, Pak Andi,” sapa Oma Rima dengan hangat. 
Pak Andi tersenyum lebar. Merasa nyaman dengan perlakuan Oma Rima yang hangat dan menyenangkan.

”Dan siapa gadis cantik ini?” Oma Rima berpaling ke arah Ivonne. 
Ivonne merasa jengah. Dia tersenyum tipis. “Pacar kamu, ya?” Kini Oma Rima mengerling jail ke arah Theo.

Theo tersenyum lebar, “Ini personal assistant saya selama berada di Jakarta. Namanya Ivonne Christabelle.”

Ivonne mengulurkan tangannya dan Oma Rima membalas uluran tangan itu sambil tersenyum lebar. ”Senang sekali bertemu dengan kamu, Ivi.” 

”Ehm... saya juga senang sekali bertemu dengan Anda,” Ivonne membalas dengan sopan.
Theo tersenyum melihat reaksi Ivonne, pasti karena nama panggilan itu lagi!

”Ayo, semuanya masuk. Kita makan malam sama-sama, ya...,” ajak Oma Rima, sambil membuka lebar-lebar pintunya.

Tubuh Ivonne tampak mengejang mendengar perkataan Oma Rima.

*****
Makan lagi! Ivonne mengerang. Dia tidak bisa makan di rumah orang lain, makan dengan piring orang lain, makan dengan perangkat makan orang lain, makan bersama orang lain! 
”Ayo, Ivonne. Mari masuk,” Oma Rima kembali mengundang Ivonne, yang berdiri mematung di depan pintu.

Ivonne tidak kuasa membuat wanita baik hati itu terluka, jadi dipaksakannya kakinya untuk melangkah masuk. Di benaknya berkecamuk berbagai cara dan alasan yang mungkin dapat digunakan untuk menolak ajakan makan bersama itu.

“Terima kasih, Oma Rima, tapi saya sudah makan.”
Kkkrriiuuukkkk!!!!
Perutnya mengkhianatinya! Wajah Ivonne memerah mendengar suara protes perutnya sendiri.
Oma Rima tersenyum. Pak Andi tidak berani tersenyum. Theo, sebaliknya, tertawa terbahak-bahak.

“Kalian pasti sudah bekerja keras sekali, ya....” Oma Rima menggandeng tangan Ivonne ke ruang makan. Melirik dengan tegas ke arah Theo, yang langsung terdiam. Ivonne tidak berdaya menolak.

Ruang makan Oma Rima tertata dengan rapi. Di atas meja sudah terhidang macam-macam masakan rumah. Ivonne memandang semua yang berada di atas meja dengan mata terbelalak. Piring orang lain, sendok-garpu orang lain, serbet orang lain, gelas orang lain, makanan orang lain! Dia tidak dapat melakukannya!

”Ayo, dear Ivi,” ajak Oma Rima. 
Ivonne memejamkan matanya. Mengusir bayangan wajah kedua orang tuanya. Itu panggilan sayang dari orang tuanya. Mengapa sekarang semua orang memanggilnya dengan Ivi?

”Saya...,” Ivonne berusaha menolak lagi, tapi dia tidak kuasa melihat kilatan sendu yang tampak dari mata Oma Rima. Kilat sendu yang biasanya tampak pada wajah Mama, kalau Ivonne tidak sengaja melukai perasaannya.

”Saya...,” Ivonne menghela napasnya. ”Senang sekali,” Ivonne memaksakan seulas senyum di wajahnya.

Seketika itu juga, kilat sendu di mata Oma Rima sirna. Digantikan oleh binar-binar ceria. 

”Silakan duduk. Ivi, Pak Andi, Theo sayang....” Oma Rima menjamu mereka layaknya tuan rumah yang baik. 
”Ayo, diambil makanannya.”
Ivonne menurut. Nasi sudah disediakan di setiap piring. Ivonne mengambil tiga macam lauk. Menggosok peralatan makannya dengan cepat dan berusaha tidak terlihat, sebanyak tiga kali. Memotong-motong semua lauknya menjadi tiga bagian kecil, membagi nasinya menjadi tiga bagian, dan... menarik napas panjang. Dia sudah menunda-nunda waktu selama yang dia bisa. Sekarang dia harus mulai makan atau Oma Rima akan merasa sedih. Dia menyendok nasinya. Sendokan pertama....

”Ivi. Makan saja...,” bisik Theo kecil. Oma Rima sedang asyik berbicara dengan Pak Andi sehingga tidak mendengar bisikan Theo. ”Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.” 
Ivonne terkesiap. Benarkah apa yang dia dengar barusan? Theo menenangkannya. Kalau begitu... Theo sudah tahu akan ’ritual tiga’-nya! 
Ivonne memandang Theo takut-takut, tapi Theo tersenyum ramah. Sama sekali tidak tampak terganggu dengan ’ritual tiga’ Ivonne.

”Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk, kalau kamu makan itu.” Theo menunjuk brokoli yang sudah terpotong menjadi tiga bagian dengan ujung garpunya. ”Percayalah,” ujarnya, tegas.

Ivonne seperti tersihir oleh nada suaranya. Tegas, tanpa dapat ditawar lagi, menunjukkan kewibawaan penuh seorang pemimpin. Ivonne tidak kuasa membantah. Dia mengangkat sendoknya dan mulai makan. Makanan meluncur turun ke perutnya. Ivonne memejamkan matanya. Menunggu kejadian buruk apa yang akan  terjadi karena dia sudah makan menggunakan perangkat makan orang lain, makan makanan orang lain, dan makan bersama orang lain. Matanya terus terpejam. Satu detik, dua detik, tiga detik.... 

”See...,” bisik Theo, sambil tersenyum penuh pengertian. Tangannya menggenggam tangan Ivonne. ”Tidak terjadi sesuatu yang buruk, ’kan?”
Ivonne mengangguk, memaksa seulas senyum kecil di wajahnya.

”Habiskan makanannya, ya....” Theo tidak memaksa. Theo meminta.

*****

Ting tong

”Morning, Ivi,” sapa Theo, sambil tersenyum ramah. Ivonne berdiri di depan pintu. Sudah siap dengan setelan formalnya, hari ini berwarna cokelat tua, dan rambut yang digelung tinggi. Sebuah tusuk konde berbentuk konvensional tampak menyembul dari belakang gelung rambutnya. 

“Selamat pagi, Mr Theofilus Lundenberg,” Ivonne membalas sambil tersenyum tipis.
“I know, I’m sorry. Saya terlambat bangun, tapi saya akan segera selesai.” Theo membuka pintu lebar-lebar. “Silakan kamu masuk dulu.” 

Hari ini mereka, Theo, Ivonne, dan satu lagi anak marketing yang bernama Alexander Natanegara, berencana untuk mempresentasikan produk baru dari Chemical International Cooporation kepada beberapa klien. Theo juga punya proyek pribadi. Dia ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan Ivonne. Dia ingat kata-kata Pak Darmawan yang ingin Ivonne menjadi gadis ceria seperti dulu lagi.

“Nothing bad happened yesterday?” tanya Theo.

Wajah Ivonne memerah. Sambil menunduk dia menggeleng. 
Theo tersenyum, “Berarti nanti siang dan juga nanti malam kamu harus menemani saya makan,” ujarnya.

Ivonne terperangah, ragu-ragu dia mengangguk.

”Mr. Theofilus Lundenberg, saya harus memberikan sebuah dokumen kepada Pak Darmawan Sejati, setelah itu saya akan siap berangkat,” ujar Ivonne, begitu mobil berhenti di pintu masuk kantor. 

Theo mengangguk, menyusul langkah Ivonne masuk ke dalam lift. Tidak seperti biasanya, lift kali ini sepi. Hanya Ivonne dan Theo.

”Kenapa kamu selalu menggelung rambutmu seperti itu?” tanya Theo, sambil memperhatikan rambut Ivonne.

Ivonne tidak menjawab. Dia suka keteraturan, hmm... dalam batas yang agak tidak wajar. Baginya, gelung rambut yang rapi mencirikan sebuah keteraturan. 
”Pasti kamu akan terlihat lebih cantik, kalau rambutmu tergerai.”

Theo menarik tusuk konde model konvensional yang menyatukan helai-helai rambut Ivonne. Rambut Ivonne tergerai lemas di pundaknya. Rambut Ivonne indah. Penampilan Ivonne pun tampak lebih segar dengan rambut tergerai seperti itu.

“Mr. Theofilus Lundenberg....” Ivonne terlihat panik. Tangannya terulur untuk merebut kembali tusuk kondenya.  “Kembalikan tusuk konde saya.”
Theo menggeleng sambil tersenyum kecil. 
Trakk... Dia mematahkan tusuk konde itu.

“Hari ini, kamu harus menggerai rambutmu. Tidak ada hal buruk yang terjadi, kalau kamu menggerai rambutmu. Trust me....” 

Tiingg.... Pintu lift membuka dan Theo berlalu dari hadapannya sambil tersenyum.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irene Tjiunata
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Ivonne [5]"