Jejak Seribu Penyu [1] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jejak Seribu Penyu [1] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:18 Rating: 4,5

Jejak Seribu Penyu [1]

Bintan, akhir Februari 2009

“Kau... kenapa mengikutiku?”  

“Aku tidak mengikutimu. Aku hanya ingin ... bicara denganmu.”  

“Bukankah saat ini kita tengah bicara?”

“Bukan, bukan hanya sekadar bicara, tapi ada yang hendak kutunjukkan padamu.”  

“Apa? Apa yang mau kau tunjukkan?”  

“Tidak sekarang. Tapi nanti... di tempatku... pada saat yang tepat.”

Semerbak melati menguar lembut. Menjelajah ruang temaram. Hanya sebuah lampu tidur, satu-satunya penerang kamar di saat malam kian memekat.

Via menarik selimut. Dari bibirnya mengalir desah. Setengah keluh. Untuk apa datang kembali? Apa yang hendak ia tunjukkan? Kapan saat yang tepat? 

Satu demi satu pertanyaan, luruh bersama penat yang kian membenamkan tubuhnya di balik selimut.  
Sesaat, hanya remang dan sunyi yang mengeksplorasi ruang temaram. Aroma lembut kembali menguar. Bukan. Kali ini bukan semerbak melati, melainkan bau laut. Ya. Ini aroma laut! Pasir putih, riak ombak, batu karang....

Tidak! Via menggeleng kuat-kuat. Seraya membekap erat bantal guling pada kedua matanya yang telah terkatup rapat. Lelah...  lelah itu menderanya.

Tuhan, andai jendela itu tetap Engkau izinkan untuk terbuka, kumohon uluran tangan-Mu. Jangan Engkau biarkan keleluasaan itu menguasaiku, betapa kuinginkan lelapku sempurna malam ini....  

Dimensi Lyvia
Perairan Tambelan, dua hari kemudian

“Hei, bangun! Kita sudah sampai!” Seruan keras itu tak hanya membuyarkan mimpinya, tapi juga nyaris membuatnya jatuh tertelungkup. Maklum, tidurnya sejak semalam bukanlah beralas kasur empuk, melainkan hanya berupa sebuah bangku kayu selebar empat puluh senti. 

Bangku kayu yang di dalam kapal ini, tersusun berderet-deret, saling sambung-menyambung, dengan sebuah meja diapit oleh dua deret bangku, dan fungsi sesungguhnya adalah sebagai kursi ruang makan yang tepat bersebelahan dengan dapur ABK. 

Jumlah penumpang yang berdesakan di dek, di dalam kabin bahkan di lorong-lorong sepanjang lambung kapal, membuat Via dan beberapa penumpang lainnya yang sedikit terlambat tiba di dermaga, akhirnya harus ‘terdampar’ di ruang makan. 

Awalnya hal itu bukan masalah, karena mereka –para penumpang yang ‘terdampar’ itu-- mengira bahwa ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur adalah tempat ternyaman untuk menabung stok energi menjelang tibanya kapal di tujuan. Namun kenyataannya, posisi ‘strategis’ itu sekaligus tepat berada di bawah AC sentral bertemperatur 18 derajat yang tak dapat diubah-ubah. Membuat malam yang mereka lalui seakan berada di dalam lemari es. Masing-masing berbaring dengan menekuk lutut, melapisi tubuh dengan lembar demi lembar yang dikeluarkan dari dalam tas, mulai dari sarung, jaket, syal hingga kaus kaki, demi melindungi diri dari siksaan dingin yang menggerogot hingga ke tulang.

Tak cukup sampai di situ, saat waktu makan pun kian mengorupsi kenyamanan yang tersisa. Mereka harus melepas ‘kasur-kasur petak’ sebagai alas duduk penumpang yang datang berbondong-bondong ke ruang makan, berebut menyendok jatah ransum yang tak hanya sangat terbatas, tapi juga dengan kadar higienitas yang memprihatinkan. 

Sluurpp! Hmm. Siapa gerangan yang menghirup sedemikian nikmat ? Di tengah terpa ombak Laut Cina Selatan yang bahkan sejak semalam telah berkali-kali menggoyahkan isi lambung? Via menoleh. Ah. Ternyata Si Jutek. Pria yang hanya mau menoleh jika dipanggil Fei, dan beberapa menit lalu, Si Jutek itulah yang telah membangunkannya dengan berteriak persis di telinganya.

“Enak sekali, ya, kopinya?” Dicobanya untuk berbasa-basi. Siapa pun tahu kalau Fei lebih sering membatu. Kalaupun sesekali bicara, kalimatnya lebih didominasi nada ketus atau sinis. Sama sekali tak sedap didengar telinga. Tanpa peduli siapa yang menjadi lawan bicara. Singkat kata, Fei sama sekali bukan tipe pria yang tepat untuk melabuhkan simpati. Sebaliknya, justru lebih berpotensi memunculkan rasa antipati.

Pertanyaan Via kali ini juga tak menghasilkan respons apa pun, selain bunyi sesapan berikutnya yang tak kalah nikmat dan Fei yang berkonsentrasi penuh pada kopinya. “Sebuah perjalanan yang menyenangkan. Sama nikmatnya dengan enam gelas kopi instan dan kudapan lainnya sejak kapal mulai meninggalkan dermaga.” 

Fei menoleh. Ada pijar di matanya yang dalam sedetik langsung tersulut nyala. “Rupanya kau seorang pengamat yang jeli, Nona.”

“Tentu! Aku mendekam di ruang ini sejak semalam dan hanya sesekali naik ke dek. Jadi kutahu persis penumpang yang paling sering absen ke dapur dan meminta air panas di tengah malam buta.” 

Kembali, pijar itu membara. Mungkin, baru pertama kalinya Fei menemukan lawan bicara yang berimbang. Bagi sebagian orang, mungkin, sorot setajam itu seakan mampu menelanjangi isi hati. Namun, tidak bagi Via. Baginya, tatapan Fei tak lebih dari sebatang anak panah yang terpental setelah meleset dari sasaran. Sedikit pun tak mengubah riak tenangnya saat mengeluarkan isi make up pouch-nya: bedak, lipstik, pensil alis, maskara....

“Cukup!” Sebuah hantaman tak terduga pada permukaan meja, membuat sebagian perangkat kosmetik itu berlompatan, lalu terjatuh dan menggelinding. 

“Kau dengar, ya, gadis pesolek! Jika bukan karena selembar surat tugas itu, tak pernah kuinginkan berada di perjalanan teramat membosankan ini, apalagi harus kembali ke pulau itu! Dan semua yang kulakukan untuk menghangatkan rongga lambungku ini, kau tahu? Hanya demi membunuh bosan yang sudah sejak semalam menggerung sampai ke ubun-ubun!”

Kalimat pedas yang berakhir dengan entakan tubuh pemiliknya, meninggalkan kopi yang masih bersisa lebih separuh. Dasar, pria aneh. Seharusnya Fei tak bertugas di seksi kehumasan. Lebih cocok jika di satpol. 

Seraya tersenyum geli membayangkan sosok Fei dalam balutan seragam satpol tengah mengejar-ngejar para pedagang liar di pinggir jalan, Via memungut ‘alat perangnya’ yang berserakan dan memasukkan kembali ke dalam pouch. Bunyi sirene meraung, pertanda kapal telah merapat ke dermaga. 

Belasan ibu-ibu berbaju kurung warna seragam serentak menabuh kompang ketika ujung tangga telah menjejak pasir pantai yang putih jernih. Lengkap diapit beberapa pria yang menjinjing bunga manggar. Tak lupa menaburkan beras kunyit pada rombongan pertama yang turun dari kapal. 

Berbeda dari biasa, ‘penyambutan’ kali ini terasa lebih istimewa, karena penumpang yang datang di antaranya memang terdapat rombongan orang-orang istimewa. Bupati, ketua dewan, kepala dinas, anggota parpol, wartawan, hingga tokoh seni dan budaya, juga para pegawai pemda yang turut serta. Dalam rombongan itu, tak kurang dari 80-an orang.

Kunjungan kerja sekali dalam setahun telah menjadi agenda rutin pemerintah daerah untuk menjejakkan kaki di Tambelan, pulau terjauh yang memiliki 54 gugus pulau kecil. Meski secara geografis lebih dekat ke Kalimantan, secara administrasi wilayah tercatat sebagai bagian dari Kabupaten Bintan.

“Menginap di mana nanti?”  

Hei! Tumben! Si Jutek itu telah menjejeri langkah Via dan tergerak bibirnya untuk melontarkan basa-basi. 

“Kalau tidak salah, rombonganku diinapkan di rumah Pak Rahman. Kamu?”


Riawani Elyta. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riawani Elyta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Jejak Seribu Penyu [1]"