Jejak Seribu Penyu [3] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jejak Seribu Penyu [3] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:44 Rating: 4,5

Jejak Seribu Penyu [3]

Dimensi Lyvia
Siang yang bergerak perlahan

Seperempat jam sudah Via mengurung diri di kamar mandi. Mengguyur air dingin berkali-kali, menggosok tuntas debu, kuman dan keringat yang telah seharian menempel ketat. Segera ia kenakan baju kurung warna maroon sebelum beranjak keluar. Kamar mandi rumah Pak Rahman, terletak di sebelah ruang makan yang menyatu dengan dapur, sementara kamar tidur untuk rombongan letaknya di lantai dua.

Ada dua rombongan yang menginap di rumah Pak Rahman: rombongan Via yang terdiri dari ibu-ibu PKK, serta rombongan seni dan budaya. Keikutsertaan Via dalam kunjungan kali ini adalah mewakili dwi fungsi. Fungsi yang melekat dalam seragam PNS-nya untuk melakukan pembinaan pada para perangkat desa di kecamatan, sekaligus fungsi sebagai pengurus tim penggerak PKK kabupaten untuk melakukan penjurian pada lomba memasak.

Meski usia relatif muda, jam terbang Via terbilang lumayan tinggi. Baik yang berhubungan dengan institusi dan kedinasan, maupun peran aktifnya dalam berbagai organisasi kemasyarakatan. Membuat banyak rekan kerjanya geleng kepala, saat menyimak ritme hidupnya yang sedemikian padat. 

Padahal, terdapat satu sisi yang selama ini rapat ditutup Via dari pengetahuan siapa pun. Satu sisi yang selalu memanfaatkan ruang kosong dan celah waktu dalam hidupnya menjadi sebuah entry connecting door untuk sebuah dimensi tak kasatmata. Dimensi yang menghadirkan tepat di hadapannya bayang-bayang yang serba bias, berdiri tegak di antara mimpi dan realitas. Tak pernah ia kehendaki kelebihan itu melekat pada dirinya, kelebihan yang justru sering menyergapnya dalam ‘keramaian’ yang asing. 

“Wah, anggota yang satu ini sudah cantik, sekalian dandan di kamar mandi, ya? Via mengangguk. 

Ibu Devina, sang sekretaris PKK, juga telah siap dalam baju kurung dan jilbab merahnya. 

“Kita langsung ke lokasi, Bu? tanya Via. 

Ibu Devina menggeleng. “Belum. Kita ke rumah ibu camat dulu. Beliau sudah menyiapkan makan siang untuk semua rombongan.

Makan siang? Via spontan meraba perutnya. Perut yang baru dua jam lalu diguyur sepiring bubur pedas plus laksa kuah yang disajikan di dalam daun mangkok. Tetapi, alangkah rugi jika  menolak jamuan makan siang. Jamuan yang pastinya didominasi makanan laut. Siapa pun tahu, ikan-ikan yang berenang-renang di perairan Tambelan memiliki kesegaran nomor wahid, bebas merkuri dan formalin, bahkan kebanyakan langsung diolah sebelum sempat bersentuhan dengan freezer. 

Rumah dinas camat hanya berjarak 20 meter dari kediaman Pak Rahman. Dua buah meja panjang yang merapat pada dinding papan, telah ‘dihiasi’ berbagai hidangan laut yang masih mengepul dan menebar aroma khas. 

Seekor ikan selar bakar cepat berpindah ke piring Via saat giliran antreannya tiba. Piring yang telah terisi nasi, sambal belacan (terasi), dan sayur asem. Meski warna kuah dan isi sayur asemnya sama dengan yang selalu Via jumpai di warung lesehan ataupun restoran Sunda, cita rasa sayur asem made in Tambelan ini lebih didominasi rasa asam plus sedikit sentuhan pedas.

“Makanmu seperti orang berdoa saja. Kau pikir siapa yang mau mencuri ikanmu? Hmm. Tampaknya bendera perang itu masih tegak berkibar. Via membatin tanpa menoleh. Begitukah sikap Fei terhadap semua wanita? Pantas saja, sampai hari ini ‘kekasih setianya’ hanya benda-benda mati: kamera, camcorder, blackberry dan tape recorder. Wanita mana yang sanggup bertahan di sisi pria sejutek Fei?

Fei tak perlu tahu mengapa lebih suka kuhadapkan wajah pada piring, menikmati warna-warni hidangan di dalamnya. ‘Seseorang’ berdiri di sana. Menatap lekat, seakan tak sabar menunggu suapan terakhir.

Via mengunyah pelan-pelan. Benar kata orang-orang. Padahal, ikan selar bakar itu bumbunya tampak sederhana saja, kering pula penampilannya, tidak berkilat oleh sapuan minyak bercampur bumbu kental yang biasa disajikan di restoran seafood. Tapi, rasanya...  hmm! Hanya rasa segan yang menahan Via untuk menambah.

“Sudah selesai makannya? Via menoleh pada Bu Devina yang tengah menepuk-nepuk bibirnya dengan tisu. 

“Kita pergi sekarang, Bu? 

“Ya. Sekarang.

Sebuah mobil satpol telah menunggu di depan kantor kecamatan. Selain mobil satpol, mobdin kecamatan dan ambulans, di pulau ini hanya ada sebuah pick-up yang sering digunakan untuk melayani jasa angkut penduduk menuju pelabuhan. Tidak ada mobil pribadi. Badan jalan yang lebarnya tak lebih dari tiga meter dan jarak tempuh yang relatif dekat, membuat penduduk Tambelan lebih banyak menggunakan sepeda motor atau cukup berjalan kaki.

“Duh, panas sekali! Bu Devina langsung mengembangkan kipas begitu tiba di balai desa. Beberapa ibu-ibu yang lain turut mendesah, melontar keluh yang sama, seraya masing-masing mengeluarkan ‘senjata penangkal’ berupa kipas dan tisu basah.
Ada enam meja bundar, masing-masing dikelilingi tiga pasang kursi. Piring, gelas, dan sendok-garpu telah tertata rapi, juga potongan karton berbentuk piramida yang bertuliskan daftar menu plus rincian harga. Lomba memasak yang bertema sajian sehat non-beras kali ini, selain menilai pada rasa dan penampilan, juga biaya keseluruhan pengolahan makanan. Tidak boleh melebihi standar harga yang telah ditetapkan oleh dewan juri. Standar harga yang dianggap mampu mencukupi kebutuhan penyajian makanan untuk empat orang.

Hm. Mengapa di sini pun ramai sekali? Masing-masing berusaha mencari celah, di antara ibu-ibu yang sibuk menata hidangan dan anggota juri yang berkeliling dari satu meja ke meja lain. 

“Jangan hanya mematung, Via. Waktu kita terbatas. Pukul setengah lima nanti semua nilai sudah harus terkumpul. Ibu Sari yang ketua Pokja II mengingatkan Via yang masih memeluk erat lembaran kertas berisikan nama kelompok peserta berikut indikator penilaian.

Tolong, menyingkirlah dari situ. Beri aku jalan. 

Ruang ini telah bertambah penuh, bahkan sesak dan memadat. Suhu udara masih membara, meski siang telah beranjak, bergeser menuju petang.

Meja di sayap sebelah kiri, tampak yang paling ramai dikerumuni.  “Ayo, cicipi,“ Bu Devina menyodorkan piring berisi bulatan sagu bal ke hadapan Via. 

“Boleh, Bu?  

“Menjadi juri yang menilai penampilan bukan berarti tak boleh mencicipi. Ayolah... sulit kamu temui sagu bal di Bintan kelak.

Via mengunyah sagu bal pelan-pelan. Makanan khas Tambelan yang terbuat dari tepung sagu dan dibentuk bulat telur, paling cocok jika dihidangkan bersama lauk berkuah. “Bagaimana... enak, ‘kan ? tanya Bu Devina.

“Ya... e... enak, Via menjawab gugup, bersamaan dengan gerak sepasang visualnya yang tak sengaja membentur dinding.  Potongan terakhir sagu bal, nyaris tersangkut di tenggorokan.

Terkejutkah kau? Telah makin dekat langkahmu. Dan tidak akan lama lagi.

Sebuah SMS masuk menggetarkan ponsel Via. 

Bisa hdr stgah jam lg? Dr desa dan BPD sdh pd kmpul.  

Bergegas jemari Via menulis balasan. 

Y. Tlg jmpt. Aq lg di balai desa. 

Hanya selang semenit balasannya terjawab singkat. 

Siap, bu!

Jemari Via yang menggenggam pena sigap membubuhkan tanda sontreng pada kolom-kolom kosong. Satu putaran, cukup sudah baginya untuk merekam dan menilai penampilan hidangan di setiap meja.


Riawani Elyta. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riawani Elyta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Jejak Seribu Penyu [3]"