Jejak Seribu Penyu [7] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jejak Seribu Penyu [7] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:56 Rating: 4,5

Jejak Seribu Penyu [7]

“Jangan banyak bicara, Nona! Cukup katakan ‘ya’ dan Anda akan kembali ke rumah dengan selamat! Kedua paman dan bibi Anda pasti telah cemas menunggu Anda!” kali ini suara seorang wanita yang berdiri seraya mendekapkan tangan di dada. Sorot matanya menyinar angkuh.

“Selamanya jawaban saya tetap tidak!” tegas suara itu, kembali terluncur dari bibir Via tanpa sedikit pun mampu ia cegah. Pun tak dimilikinya kekuatan untuk menahan langkah kakinya yang bergerak mundur, berusaha menghindar dari kepungan tujuh orang asing yang telah kian merapat.

“Awww... tolooong!” jeritan Via lepas landas ke udara seiring dengan pijakan terakhirnya yang menyentuh ruang kosong.  Dua kali tersangkut pada pohon pisang sebelum akhirnya jatuh berguling di tanah dan... ahh! Darah segar muncrat dengan deras, dari perut sebelah kirinya yang tertancap batang kayu lapuk.

Via mengaduh keras. Seraya mencengkeram erat perutnya yang nyaris terburai. Sekuat tenaga berusaha menarik tancapan batang kayu. Namun, rasa sakit yang luar biasa menghentikan usahanya. Kedua tangan Via mengejang, lalu menggeletak pasrah di sisi tubuh. Samar terlihat olehnya tujuh kepala yang melongok di ketinggian, lalu satu per satu lenyap.

Sinar mentari pagi yang teduh beranjak garang menyilaukan, lalu berangsur menuju teduh kembali, merangkak gelap, dan kian lama gelap itu makin memekat. Pekat yang panjang. Tak diketahuinya berapa lama ia tergeletak, menunggu pertolongan yang hanya sebatas harap. Ia bahkan tak mampu lagi untuk mendesah. Juga menghirup hawa kering yang berembus dari arah laut. Sempat benaknya teringat Nila. Ke mana gerangan Nila? Tidakkah Nila melihat kehadiran tujuh orang asing tadi dan mendengar teriakannya?

Pandangannya yang mulai mengabur, samar menangkap enam bayang-bayang yang mendekat dan mengerumun. Saling bercakap-cakap lirih sebelum akhirnya membopong tubuhnya beramai-ramai. Dengan batang kayu yang masih menancap dan darah yang terus mengalir. Perjalanan terasa amat panjang. Via merasakan tubuhnya yang beralas matras terguncang-guncang serta telinganya menangkap bunyi sirene ambulans yang meraung kencang. 

Perjalanan berakhir dengan tubuhnya yang direbahkan pada ranjang besi di ruang sempit beraroma karbol. Tiba-tiba saja telinganya menangkap suara gaduh. Jeritan-jeritan histeris membahana. Gemuruh suara tangis bercampur teriakan yang berulang-ulang memanggil sepotong nama.

“Annisaaa! Kenape kau tinggalkan kami?”  

“Annisaaa! Bukankah dah kucakap jangan urus lagi soal hewan-hewan tu?“ Suara pria dan wanita yang menjerit silih berganti. Rasa takut yang pekat, spontan menjalar di sekujur tubuh dan benak Via. Annisa. Mereka memanggil Annisa. Siapa gerangan dia?

Sepasang pria dan wanita yang terus menjerit dan menangis itu perlahan menepi. Memberi jalan pada seseorang yang baru tiba. Seseorang yang langsung berlutut di sisi ranjang dan menggenggam erat jemarinya. Tuhan! Bukankah itu... Fei?

Tak salah lagi. Pria jangkung itu kini tak hanya menggenggam jemarinya, melainkan memeluk erat tubuhnya yang terbaring kaku. Lalu membanjirinya dengan air mata yang mengalir deras. Bukan. Ini bukan tubuhnya. Juga bukan jiwanya. Melainkan jiwa dan raga milik Annisa. Setitik kesadaran itu mulai membentuk kumparan yang kian lama kian gegas melingkari alam pikiran Via. Seiring dengan kecemasan yang menyergap deras dari segala penjuru. Bagaimana hingga dirinya bisa ‘tersesat’ di sini? Di alam lain yang membentang peristiwa tragis akan seorang  wanita bernama Annisa? Wanita yang kemungkinan, pernah memiliki arti sedemikian besar dalam hidup Fei?

Sehelai kain putih ditutupkan ke wajahnya, membatasi pandangannya dari orang-orang di sekelilingnya yang kini mulai mengisak dan tenggelam dalam sedu sedan. Tidak! Via menjerit. Jeritan yang hanya menggema di dinding hati. Bebaskan aku dari sini! Aku masih hidup! Aku bukan Annisa! Hei, kalian dengarlah...!

“Via...  hei! Melamun saja! Ayo, cepat turun! Kapal sudah akan berangkat.” 

Via tergeragap. Manusia-manusia di hadapannya telah berganti wujud. Putri dan Maya, yang entah kapan menyusul mereka, serta gadis tetangga Pak Rahman. Juga Nila, yang tengah asyik mengamati gambar-gambar yang terekam oleh kameranya. “Melamun lagi! Ayolah cepat naik ke motor. Kamu mau menunggu kapal dua minggu lagi untuk pulang ke Bintan?” Omelan Putri spontan mendistorsi lamunan Via. 

Tak ada waktu untuk memikirkan. Apalagi untuk mengonfirmasi makna ‘mimpi’ barusan. Dan Via merelakan tubuhnya terduduk pasrah di boncengan motor yang segera bergerak, langsung menuju dermaga. Waktu yang tersisa hanya tinggal setengah jam lagi. Via mendapati dirinya yang berada di tengah arus penumpang yang berbondong-bondong menaiki kapal. Tubuhnya seperti baru saja menjadi sasaran sandsack. Letih dan kehabisan tenaga.

Kali ini Via tak lagi menuju ruang makan samping dapur ABK, melainkan langsung menyandarkan diri pada salah satu tiang yang terletak di dek depan.
Via menarik napas dalam-dalam, berkali-kali, memenuhkan rongga kosong dalam dadanya hingga detak jantungnya berangsur normal. Seorang ibu separuh baya berselonjor di sebelahnya. “Adek ni yang hari tu jadi juri di acara lomba masak, ye? Tak sangke ye, masih mude dah pintar masak.” 

Via tersipu mendengar pujian polos itu. “Saya sebenarnya tak pintar memasak. Kemarin itu, saya hanya menilai penampilan dari hidangan. Oh, ya. Kenalkan, Bu. Nama saya Lyvia,” Via mengulurkan tangan, yang disambut sang ibu dengan menyebut namanya sebagai Aisyah.

Selanjutnya, pembicaraan mengalir lancar. Para ABK telah melepas jangkar. Kapal bergerak pelan. Suasana di dek mulai riuh oleh suara obrolan yang mendengung. 

“Bu Aisyah, adakah seseorang bernama Annisa, pernah menetap di Tambelan?” pertanyaan itu meluncur begitu saja. Refleks dan spontan. 

“Annisa yang kemenakan Sahak?”  

“I...iya,”  Via menjawab gugup. Tak diketahuinya siapa Sahak. Satu harapannya bahwa hanya ada dan hanya pernah ada satu Annisa yang tinggal di Tambelan.

“Annisa tu dah meninggal! Sahak dan istrinye pule, langsung menyeberang dan menetap di Kalimantan tak lama setelah kepergian Annisa.”

Meninggal? Seketika, detak kencang di dada Via kembali menalu.

“Kenapa... meninggalnya?”

Bu Aisyah tak langsung menjawab. “Nanti saje-lah kalau dah sampai, baru saye cerite. Pantang membicarakan hal yang tak baik di tengah laut.”

Tak baik? Apanya yang tak baik? Kematian Annisa-kah, ataukah penyebab kematiannya? Benak Via penuh dirundung penasaran, nyaris tak tertahan untuk segera ia tuntaskan. Namun, cepat ia sadari satu hal. Sekali berpantang, tetap berpantang. Demikian prinsip orang Melayu yang selamanya sulit diganggu gugat.

Waktu sehari semalam di atas kapal terasa bergerak amat lambat, seperti bayi yang baru belajar berjalan. Dan, sepasang kaki Via serasa tak sabar untuk segera menjejak ke daratan Bintan ketika keesokan siangnya kapal mulai merapat. Seperti pada saat tiba di Tambelan, kali ini pun penumpang turun dengan berbondong-bondong, berdesak dan berimpitan. Mendadak, Via tergeragap. Hanya beberapa menit ia bergegas ke kamar mandi, Bu Aisyah bersama rombongan kecilnya telah tak terlihat lagi.

Via menajamkan penglihatan, seraya mengulurkan leher, ketika dirinya telah berada di tengah arus penumpang yang menuruni tangga. Namun, bayang Bu Aisyah pun sudah tak tampak. Via mendengus kesal. Sesungguhnya, ia bisa saja berbuat konyol, dengan mencegat warga Tambelan yang lain untuk bertanya tentang Annisa. Namun, pikiran warasnya cepat melarang.

Setiap penumpang telah menunjukkan gejala fisik teramat lelah dan wajah yang menyiratkan keinginan untuk segera melabuhkan raga yang penat di cangkang ternyaman: rumah. Jadi, kalaupun memang ada yang mengetahui tentang Annisa, kecil kemungkinan sudi meluangkan waktu untuk berpanjang lebar menceritakan kepadanya. 


Riawani Elyta. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riawani Elyta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Jejak Seribu Penyu [7]"