Jejak Seribu Penyu [8] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jejak Seribu Penyu [8] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:58 Rating: 4,5

Jejak Seribu Penyu [8]

Via langsung menghubungi Rachmat ketika tubuh letihnya telah ia empaskan di atas ranjang, meminta Rachmat untuk mengirimkan nomor ponsel Pak Burhan. Hanya rasa gatal dan gerah yang sejenak menginsafkan pemikiran Via untuk terlebih dulu membersihkan diri.

Nomor Pak Burhan langsung ia tekan setelah mandi dan bersalin pakaian. Mengabaikan keheranan pria tua itu terhadap pertanyaannya tentang Annisa. Sayang, jawaban yang didapat, tak jauh berbeda dengan apa yang ia peroleh dari Bu Aisyah. Hanya ada satu informasi tambahan dari Pak Burhan, bahwa Annisa pernah merintis usaha penangkaran penyu sebelum akhirnya usaha itu terhenti begitu saja.

Penangkaran penyu. Neuron-neuron di kepala Via cepat merangkai koneksi. Jemarinya gegas meraih dan menghidupkan laptop, lantas mengetikkan satu kalimat pada mesin pencari google.
Dalam hitungan beberapa detik, satu per satu informasi terpapar di layar datar. Via menelusuri seksama. Namun, hingga pencariannya berakhir, tak ditemukannya sepotong nama Annisa, pernah terlibat dalam upaya penangkaran penyu di Tambelan.

Lelah sejenak mengalihkan gerak jemari Via, yang menggeser kursor menuju weblog pribadinya. Weblog yang didominasi koleksi foto dirinya dalam berbagai pose. Ingatannya sontak tertuju pada seseorang: Fei!

Ya! Bukankah Fei adalah ‘tokoh’ yang sempat muncul dalam sekelebatan peristiwa aneh itu? Via tertegun. Telah belasan tahun ia ikhlas menjalani ‘anugerah’ Tuhan. Anugerah melihat dan merasakan ‘mereka’ yang tak teraba oleh visual manusia normal. Namun, baru untuk pertama kali dirinya mengalami ‘penyatuan’ dengan dimensi yang selama ini setia mengikuti tak ubahnya bayang-bayang sendiri.

Seorang spiritualis kenalannya pernah mengatakan, bahwa mereka membutuhkan energi teramat besar untuk menampakkan diri, meski dalam wujud samar sekalipun. Lantas, seberapa besar gerangan energi yang mereka serap untuk bisa ‘menarik’ seorang anak manusia untuk dapat menyatu dan merasakan dunianya? Dunia yang pernah mereka alami di suatu episode masa lalu? Dunia yang dulunya adalah dunia yang sama dengan apa yang Via jalani sekarang?

Kian lama dorongan tanya itu kian melesak, menuntutnya untuk segera mencari dan menemukan jawaban. Ia yakin. Ada sesuatu yang hendak ‘ditunjukkan’ oleh Annisa, hingga ‘mengajaknya’ untuk memasuki dimensi tak teraba dan berbagi sepenggal kisah rumit itu dengannya.

Via kembali mengangkat ponsel. Kali ini mengirim pesan singkat pada Ian, yang diketahuinya pernah bertugas di seksi kehumasan bersama Fei. Tlg, krm alamat dan no. Fei. Sgr.

Keraguan itu sesaat menyergap, saat langkahnya tiba di depan rumah kontrakan Fei yang merangkap studio mini tempatnya mengedit dan memproses hasil dokumentasi. Namun, cepat ia enyahkan keraguan itu sebelum sempat menyurutkan niatnya dan berbalik mundur. Ini yang terakhir, demikian janjinya dalam hati. Tak akan lagi ku bersusah payah mencari tahu tentang Annisa, andaikan tak kuperoleh apa pun dari Fei.

Via mengetuk pintu dan mengucap salam. Sebait suara halus menjawab dari dalam dan mempersilakan ia untuk masuk. Seorang gadis belia menyambutnya dengan senyum ramah. “Kakak pasti yang bernama Lyvia? Abang sedang keluar, katanya, kalau Kakak sudah datang, tolong menunggu sebentar.”

Via mengangguk, lalu duduk di sofa sederhana yang ditunjukkan gadis itu. Seraya menunggu, tangannya terulur pada album-album foto yang tersusun rapi di bawah meja. Via meraih satu darinya, dan mulai membuka. Panorama pantai dan laut adalah yang paling banyak mendominasi isi album. Rasanya, Via pernah melihat pantai itu. Sekilas, mengembalikan ingatannya pada pulau terpencil yang belum lagi genap dua hari ia tinggalkan. 

Terdapat beberapa gambar Fei di sana. Ada yang sendirian, ada pula yang berdua dengan seorang gadis berparas manis. Foto mereka tampak mesra. Bergandengan tangan, duduk berdampingan di gundukan pasir, juga berkejaran di bibir pantai. Via merendahkan matanya, ingin melihat jelas wajah gadis itu.

Ya, Tuhan! Album di tangan Via terlepas. Meluncur dan jatuh ke lantai. Wajah gadis itu, tak sedikit pun menggoyahkan keraguannya. Wajah yang di hari-hari terakhir ini setia mengikutinya, bahkan hingga ia menjejakkan kaki ke Tambelan!

“Setan apa yang membawamu sampai kemari dan berkeras untuk menemuiku? Aku bahkan belum mandi, tahu!”
Via yang masih menunduk seraya memungut album, spontan berdiri. Fei menatapnya dengan sepasang mata letih, namun memancarkan sorot yang sama sekali tak bersahabat.

“Aku hanya sebentar. Tolong, kamu hanya perlu menjawab pertanyaanku. Dan kumohon, jangan bertanya apa pun.”

Fei mendengus sinis. “Baik! Cepat katakan. Aku bisa mati kegerahan melihatmu berlama-lama di sini.”

“Tolong ceritakan padaku tentang... Annisa.”  

Wajah Fei spontan memucat. 

"Untuk apa?”   

“Kumohon, penuhi janjimu. Jangan dulu menanyakan apa-apa. Tak akan bisa kujelaskan sekarang.”

“Siapa pun tak berhak tahu tentang Annisa!” suara Fei mengguntur. Guntur yang justru menaikkan pacu adrenalin Via untuk segera mempercepat tuntasnya keingintahuannya. 

“Kenapa? Karena ia meninggal dengan cara tak wajar?”

“Diam! Jangan sembarang bicara.... !” 

“Aku tidak sembarang bicara! Annisa ditemukan di tepi pantai dalam kondisi sudah tak bernyawa dan berlumur darah! Sekumpulan orang yang berniat menghalangi usaha penangkarannya telah menyebabkannya jatuh lalu meninggal!” Kalimat Via mengalir deras. Tatap matanya tak berkedip. Tertuju lekat pada Fei. 

Tiba-tiba saja, pria itu mengendurkan arogansinya. “Kalau begitu, apa lagi yang hendak kau ketahui?” pertanyaan Fei terucap lirih. Nyaris tak bertenaga. 

Untuk pertama kalinya mata elang itu menatap lemas. 

Lirih itu justru membuat Via terenyak. Kontras dengan keberaniannya barusan saat berbicara lantang membalas makian Fei. Lantas memaki kebodohannya sendiri. 

Mengapa bibirnya terlalu cepat mengurai fakta? Fakta yang justru bersumber dari alam mimpi yang tak mungkin menggores bukti? Mendadak, Via merasa energinya menguap. Seperti pelari maraton yang kelelahan dan nyaris mengalami dehidrasi saat telah mencapai garis finish.  

Ya. Apa lagi yang hendak ia ketahui? Dan apa perlunya?


Riawani Elyta. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riawani Elyta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Jejak Seribu Penyu [8]"