Kami Berbicara tentang Dirimu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kami Berbicara tentang Dirimu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Kami Berbicara tentang Dirimu

TAK lama setelah pukul tiga sore, pada 13 Maret 2006, istriku berkata, “Duduklah.” Dia tidak menatap langsung mataku dan, seakan-akan telah berlatih adegan ini sebelumnya, dia menyampaikan dengan datar bahwa kami harus berpisah karena dia tak lagi mencintaiku dan aku harus mencari tempat tinggal baru secepatnya. Barangkali karena aku sudah mencium bahwa ini akan terjadi pada akhirnya, aku tak membantahnya.

Aku hanya perlu beberapa hari untuk menemukan tempat tinggal baru. Karena beberapa alasan, aku mengajak istriku untuk melihat calon tempat tinggal baruku bersamaku. Orang yang membawa kami berkeliling melihat tempat itu bertanya apakah flat itu akan kami tinggali berdua dan aku menjawab bahwa hanya aku yang akan menghuninya. Istriku menatapku tanpa menyiratkan rasa putus asa dan kebosanan yang selama ini mengungkungnya.

Aku mencapai kesepakatan dengan agen rumah dan segera menyewa seorang pekerja bangunan, tukang listrik, dan tukang cat. Ketika flat baruku tengah didandani, aku tidur di sofa tempat istriku mengatakan kepadaku bahwa dia tak lagi mencintaiku. Itu saat-saat yang aneh. Kami mencoba saling bersikap baik, tapi tidak terlalu saling peduli.

Suatu hari dia mengusulkan agar kami makan malam bersama di luar dan aku setuju. Dia bertanya kapankah aku akan pindah ke flat baruku. Kujawab aku akan segera pindah dan menyarankan agar kami mampi ke flat baruku. Lalu kami pergi ke sana. Dia memuji warna cat yang kupilih untuk dinding dan lukisan-lukisan yang kugantung. Meski dia tak banyak bicara, aku mendapat kesan dia senang karena aku tak memasang ranjang untuk dua orang di kamar tidur.

Ketika tiba saatnya aku mengucap salam perpisahan, dia menggigit bibirnya dan dengan gugup mencoba merapikan blusnya. Aku ingat, saat itu kami mendengar orang-orang bertepuk tangan dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun di flat sebelah. Kami tidak berpelukan atau berciuman. Aku memberikan kepadanya kunci rumah yang biasa kubawa dan berkata agar dia meneleponku jika membutuhkan sesuatu. 

Dua minggu berlalu. Aku mencoba menyesuaikan diri dengan hidup baruku. Kawan-kawanku mengundangku bepergian pada akhir pekan untuk bersenang-senang dan menonton film di bioskop. Aku selalu menolak ajakan mereka dengan alasan aku punya banyak pekerjaan. Padahal, sepanjang malam aku tak beralih dari sofa baruku yang lebih kecil tapi berwarna lebih terang daripada sofa milik istriku. 

Tak sengaja aku berpapasan dengan istriku dan seorang kawannya pada suatu hari di toserba. "Kami tadi berbicara tentang dirimu," kata dia. Dia tampak lebih bahagia. Sesuatu yang kukatakan membuatnya tertawa. Kami sepakat untuk saling enelepon. Selama beberapa hari aku mengira dia akan menelpon, tapi aku mencoba untuk tidak berharap.

Aku tak pernah mendengar lagi kabar darinya, tapi aku merasa sebaiknya aku tak meneleponnya karena dia mungkin akan merasa aku tertekan. Terkadang, aku pergi ke luar dan aku pun berbicara dengan orang-orang yang tak kukenal. Kehangatan yang kurasakan sangat luar biasa, seakan-akan aku baru saja selamat dari kapal karam.

Aku membeli sehelai kemeja baru seminggu lalu dan ketika aku mencoba di rumah sekeping kancingnya terlepas. "Ini pertanda buruk," pikirku. Aku tak bercukur. Aku tak mengangkat telepon yang berdering. Sebab, dari cara telepon itu berdering, aku tahu pasti dialah yang menelepon. Namun, apakah yang akan kurasakan jika aku mengangkat gagang telepon dan itu ternyata itu adalah orang lain?

Suau kali aku pernah mendengar di radio bahwa jika kita bisa makan jeruk nipis tanpa mengerenyit karena rasa masam, semua impian kita akan terwujud di dunia. Namun, aku takut jika aku mencobanya aku akan mengernyit dan tak satu pun impianku bakal terwujud. o


Sergi Pamies adalah pengarang Spanyol yang menulis dalam bahasa Katalan. Kisah di atas dialihbahasakan oleh Anton Kurnia dari terjemahan Inggris Peter Bush.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sergi Pamies dan dialihbahasakan oleh Anton Kurnia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Sabtu 7 November 2015

0 Response to "Kami Berbicara tentang Dirimu "