Kejora Membunuh Cahaya [10] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kejora Membunuh Cahaya [10] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:15 Rating: 4,5

Kejora Membunuh Cahaya [10]

“Sebelum Nyai Wuning meninggal, aku dengar kabar bahwa ia telah punya istri yang layak untuk Bhisma. Seorang dosen di Solo, yang pendidikannya sederajat. Yang pekerjaannya begitu sopan untuk seorang wanita,” ujarnya terasa pahit. 

Suami Bu Dalang tewas ketika menjalankan misi pembebasan Irian Barat. Makanya, ada rasa yang demikian menusuk di hati Bu Dalang, ketika tanah paling timur Indonesia, yang sudah dipertahankan dengan darah orang–orang tercinta, dirusak oleh segelintir manusia yang tak tahu betapa jiwa–jiwa mulia menyelimutinya. 

“Istri Pak Bhisma sudah meninggal juga,” kataku. Bu Dalang hanya angkat bahu sambil menunjuk dompet yang tadi ada sobekan majalahku. “Tidakkah Ibu ingin menemuinya? Dalam wujud nyata?” tanyaku. Untuk kesekian kali, ketika aku menyinggung lelaki itu, ada getar aneh yang kurasakan di raut wajah yang kini tampak letih. Ia menggeleng, tapi aku jelas membaca, jauh di sana, di palung hati yang paling dalam, ada  harap untuk mengatakan ‘ya’. Peran apa yang tengah dimainkan oleh wanita yang sudah melewati 65 pijar matahari ini?

Lakon 6.  Poros Jejaring Laba – Laba 
Setelah pementasan lakon Putri Cina Gandrung itu, aku menjadi gelisah. Sebaliknya, Bu Dalang justru tampak cerah bila bertemu denganku. Dia pernah mengatakan sebagaimana Heinrich Harrer, si pendaki gunung itu, menemukan ketenangan yang melebihi puncak Everest. 

“Kamu adalah jalan pembebasanku. Lima puluh tahun aku menyimpan kisah ini dalam kotak besi terkunci. Ketika aku berniat membuang kuncinya yang tak jua berkarat, justru kau menggunakan kunci lain untuk membongkarnya. Bagaimana mungkin kau bisa menghadirkannya datang di pintu kamarku,” kata Bu Dalang. 

Aku ingat majalah edisi yang memuat Pak Bhisma. Tak biasanya aku memberinya dengan semangat ke Bu Dalang. Kala itu alasannya sederhana, ada artikel ragam rangkaian melati karya Ibu Entik Dewabrata, perangkai bunga istana khusus melati. Aku tak menyangka, justru artikel lain di halaman lain yang bisa mempertemukan dengan masa lalu itu. Membawanya ke depan pintunya.

“Sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu. Kau tahu maksudnya, Nduk?” 

Tentu saja aku geragapan. Apa pula ini. Bahasa Jawa, sih, bahasa Jawa, kalau sudah beginian mana aku ngerti?

“Makna aslinya, ngelmu membebaskan kejahatan guna meraih kebahagiaan. Kalimat sederhana itu menjadi teramat luas. Inti dari hidup. Termasuk langkahmu mempertemukan masa laluku dengan masa kini, tanpa kau sadari. Itu sudah tersurat sebagai sastra semesta,” terang Bu Dalang. Tenang tanpa gejolak. Hening tanpa denting. Saat inilah, ada desir aneh yang membelai batin. Bisikan entah dari mana. Tapi aku tahu, aku harus melakukan sesuatu.

Apakah kau percaya bahwa semesta selalu memberi isyarat? Tanda itu akan menjadi bermakna ketika kita bisa membacanya. Malam ini, mobilku laju di Jalan Gatot Subroto. Lancar tanpa hambatan. Memang, warga Jakarta terlalu banyak keluhan. Begitu macet, memaki Jakarta yang membiarkan warganya tua di jalanan. Tapi begitu lancar, terheran–heran.

Jalanan yang lancar ini kuharap adalah pertanda bahwa niatanku mulia. Untuk mewujudkan mimpi menjadi bentuk nyata. Beberapa minggu setelah percakapanku di kantin dengan Zaka dan Mas Wahyu, majalahku mengadakan FGD (Focus Group Discussion). 

Intinya mengundang pihak–pihak berkompeten untuk memberi masukan. Salah satu nama yang kuajukan dan langsung disetujui adalah Pak Bhisma. Aku pun tak mengira. Jelas ini bukan sebuah kebetulan. Tuhan telah membuat skenarionya. Lalu mengapa aku tak segera menuntaskannya? 
Begitulah, akhirnya aku bisa mendatangkannya ke Jakarta. Kini tengah kuajak Pak Bhisma menuju Gedung Pewayangan, TMII (Taman Mini Indonesia Indah). 

“Saya akan menunjukkan bunga melati paling besar dan paling indah yang pernah saya lihat, Pak. Yakinlah, ini melebihi melati Afrika yang Bapak punya,” kataku tadi, setelah FGD usai. Pak Bhisma pun berminat. 

“Melati itu dari mana asalnya, Rhe?” tanyanya, sembari melihat gedung–gedung menjulang yang berlarian di kaca mobil.

“Dari Jawa, Pak,” jawabku tenang. 

Baru kemudian, ada gelisah yang tak mampu tersembunyikan ketika aroma melati benar–benar datang bersama alunan gamelan. Kidung Ilir–Ilir yang  melukiskan sawah menghijau, riuh hutan jati yang terbakar dan semangkuk rebusan gayam hangat. Melati itu sedemikian megah, menyilaukan dan menikam hingga Pak Bhisma terpaku dalam diam. Dia masih tak bergerak, bahkan ketika aku membuka pintu mobil.

Kugenggam tangannya. Buluh renta itu memanggil kembali cahaya kejora yang sempat padam. Begitu memasuki arena penonton, kelir itu melukis seorang wanita yang terbuat dari cahaya. Kejora itu menjelma wujud nyata, hanya beberapa depa dari muka. Pak Bhisma seperti menemukan semestanya. 

“Saya kira, itu lakon Putri Cina Gandrung, Pak. Geladi bersih untuk pemberangkatan ke San Francisco. Tapi, semoga Bu Dalang masih tetap punya energi untuk pergi ketika... ketika Bapak sudah hadir di sini,” kataku, mirip gumaman. Tepat ketika kami duduk di kursi paling depan, niyaga memukulkan gong seiring dengan Bu Dalang menancapkan gunungan.  

Kini aku percaya, sepasang mata bisa menjadi sedemikian buta ketika mata hati bisa membaca hati yang lain. Untuk sekian lama Bu Dalang hanya bisa menunduk, tak berpaling. Aku tahu, Bu Dalang tahu kehadiran sang Api. Separuh jiwa mengenali belahan jiwa yang sempat terserak. Hanya dengan menggunakan daya khayal tenangnya, mereka terbang dan dalam waktu yang lebih singkat dari waktu yang diperlukan untuk mengatakannya.

Aku berdiri, mendekati kelir. Sementara niyaga sudah beranjak dari tanggung jawabnya masing–masing. Riuh suara gelas dan denting piring beradu. Kuletakkan tanganku di pundak Bu Dalang.

“Ibu, saya menghadirkan Hujan dalam wujud nyata. Dingin, berbulir–bulir dan basah. Sementara Hujan tak lagi memanggil Api-nya lewat kidung yang samar. Ibu, ini nyata dan berdarah daging,” kataku.

Bu Dalang menoleh tepat ke arah Pak Bhisma duduk. Mata bertemu mata. Tanpa kata. Hanya senyum yang tergaris seperti semesta telah menciptakan garis fajar. Cahaya merajut kejora. Jaring laba–laba yang berputar, berhenti tepat di porosnya. Sungguh cinta bisa menjadi nyata tanpa kata.

Aku melangkah keluar Anjungan Jawa Tengah. Langit sedemikian megah dengan bintang yang riuh bergemerlap. Wangi bunga melati menyapa hidungku. Indah. Membangkitkan romantisisme yang terkubur di kerak bumi. HP-ku bergetar. Ada SMS masuk. Nomor tak dikenali. 

Rhe, aku tahu, kamu sudah menemukan rumahmu untuk beristirahat. Aku bahagia untukmu, selalu. Pesawatku akan transit di Jakarta esok pagi. Bolehkah aku singgah sebentar? Amora Kutengadahkan wajahku ke langit malam. Menghadap bintang. Menantang semesta. Sejarah tak berulang. Hanya seperti irama. Dan irama kali ini, sedemikian sumbang. Sungguh aku mau pingsan. (tamat)


Titik Kartitiani
. Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Titik Kartitiani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

1 Response to "Kejora Membunuh Cahaya [10]"

Luwita Qori said...

Sangat luar biasa! Terharu dengan kisah cinta tak beralasan antara Pak Bhisma dan Bu Dalang, benar-benar cinta sejati.