Kejora Membunuh Cahaya [2] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kejora Membunuh Cahaya [2] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:49 Rating: 4,5

Kejora Membunuh Cahaya [2]

Ini kali pertama aku melihat pentas Bu Dalang secara langsung. Sebelumnya, pusing aku harus melihat rekaman pementasannya. Bayangkan, setiap kali Bu Dalang mengunjungi kamarku, dia akan membawa setumpuk DVD yang disetel di laptop-ku. Aku harus mengomentari setiap adegan penting. Terutama saat adegan perang. 

“Bagaimana Mbak seblakan-nya? Mantap, ‘kan?” Atau terkadang, ”Coba dengarkan, ini jatuh di slendro-nya,” dan ini dan itu. Dan, aku pun pening.

Aku memang lahir di Klaten. Kota kecil pertemuan antara kebudayaan Keraton Yogya dan Solo. Banyak dalang kondang berasal dari sana. Tetapi, bukan berarti aku ahli wayang. Bahkan, penggemar pun tidak. Karena, bisa dikata, aku sudah pening dengan wayang kulit sejak ayahku kerap membiarkan radionya menyala hingga larut pagi. Mungkin irama itu kudengar semenjak aku bisa mendengar. Segala slogan hemat energi luluh lantak demi pentas wayang kulit semalam suntuk yang digelar tiap malam Minggu di RRI. Entah mengapa, tak secuil pun aku tertarik pada wayang. Terlihat jadul, kuno, dan tidak gaul. Ayahku bersikeras menjejalkannya dan aku tetap bergeming dengan ketidaktertarikanku. 

Seperti karma yang menyeringai dengan taringnya, tak peduli sejauh apa aku melarikan diri. Justru di kota megapolitan ini, aku harus menyaksikan wayang- wayang itu. Yang masih tetap jadul, kuno, dan terjebak masa silam. Bahkan, aku ada di jantung udara, yang menyiarkan wayang kulit di seantero Nusantara. 

Bu Dalang kerap mendalang di RRI, dan aku selalu diminta menungguinya. Dalam benakku, ratusan kilometer nun jauh di sana, ayahku pasti akan tersenyum di samping radio National-nya sembari berkata dengan mata bijaknya yang berkaca- kaca, “Aku bangga padamu, Nduk... estafet budaya negeri ini akan tegak berdiri.” Radio pun akan makin dibiarkan hidup hingga larut pagi. Slogan hemat energi luluh tak bertepi. Ups! 

Sesungguhnya, bukan karena aku lantas sadar dengan budaya adiluhung ini. Kegigihanku untuk bergelut dengan wayang justru karena alasan yang sedemikian remeh. Aku salah satu 
dari empat puluh penghuni asrama yang bernaung di rumah Bu Dalang. 

Di antara sekian itu, akulah satu-satunya yang mengerti bahasa Jawa, punya laptop dan kamera. Modalku untuk menembus rimba Jakarta. Bu Dalang menawarkan imbalan yang menggiurkan. Pemotongan tarif sewa kamar sampai 75%. Itu pun aku bisa bayar kapan saja. Dengan catatan, aku bersedia mendokumentasikan pentas-pentasnya. Kadang-kadang mengetikkan naskah tembang yang dikarangnya. Sesekali memberikan satu edisi majalahku yang memuat tentang bunga dan hutan.

Sebagai wartawan baru dan masih shock dengan ‘materialisnya’ Jakarta, tawaran itu pun aku sanggupi. Memang risikonya tak mudah. Kerap bangun kesiangan dan berantakanlah hidup awak. Bahkan, yang paling parah, ketika aku harus ke luar kota esok harinya. Meliput salah satu pejabat yang menghibahkan tanahnya untuk membuat hutan kota. 

Karena semalaman begadang hingga pagi, persiapan pun berantakan. Wawancara sukses, pemotretan terlihat lancar. Tapi, aku salah memasukkan memory card yang sudah rusak. Data hasil pemotretan seperti fiktif, tak bisa dipindahkan ke komputer. Sebagai konsekuensinya, aku harus mengulang. Sebuah konsekuensi yang disandang wanita nan pecicilan ini sebagai seorang ‘pemegang estafet budaya negeri’. Yang kelak justru akan menjadi awal pementasan, pendhapa suwung bagi lakon hidup Bu Dalang, di mana aku porosnya. Lantas karma itu menancapkan taringnya di leherku. Aku pun jatuh cinta pada wayang, gamelan, dan malam-malam larut! 

Tepat pukul delapan malam, hening menyelimuti perhelatan. Pidato seremonial dari pejabat setempat, dilanjutkan panitia dan terakhir tuan rumah, usai sudah. Tibalah acara inti, yaitu pementasan lakon Putri Cina Gandrung. Sebenarnya, lakon ini kurang pas untuk syukuran kenaikan jabatan. Namun, si tuan rumah tak begitu mempermasalahkan. Cukup atasannya tahu, bahwa pejabat yang baru saja dilantik ini sangat peduli pada wayang. Penonton pun tak protes. Apa pun lakonnya, toh, Jakarta butuh hiburan.

Bagi Bu Dalang, pentas ini teramat penting. Hingga aku harus mendokumentasikan secara lengkap. Berbeda dari pentas-pentas sebelumnya, yang hanya disimpan di file memori otak dan beberapa DVD dokumentasi televisi. Bagi Bu Dalang, setiap pementasan tentu membekas hingga berhari, berbulan, bahkan bertahun. Bagiku, ingatan akan pentas-pentas itu segera lenyap, bahkan sebelum gong tanda akhir bergema.

“Mendalang bagiku seperti bernapas. Tak mungkin kan aku lupa akan napasku?” itu kata Bu Dalang ketika kutanya, kenapa hanya ada beberapa saja fotonya. 

Kali ini beda. Dia butuh dokumentasi yang lengkap untuk menggalang dana besar. Agar bisa pentas di San Francisco, lengkap dengan para penabuh gamelannya. Katanya, akan ada World Culture Summit, pertemuan kebudayaan seluruh dunia, akhir tahun ini. Bu Dalang ingin pergi ke sana, mengenalkan wayang- wayangnya dengan Patung Liberty. 

“Loh, Bu... Patung Liberty bukannya di New York ?” tanyaku, meyakinkan.

“Halah... apa pentingnya, sih, satu negara juga, ‘kan?” Ups. Memang satu negara, semacam antara Aceh dengan Papua lumayan juga jaraknya.

Lepas dari hitungan jarak itu, entahlah, aku merasakan hal beda. Sebagai jurnalis yang kerap bertemu dengan banyak orang, berbeda karakter, aku terbiasa melihat sesuatu yang tak tersurat. Benarkah kegigihan Bu Dalang ‘hanya’ demi pentasnya di San Francisco untuk mengharumkan Indonesia? Matanya mengatakan hal yang beda.

“Lakon Putri Cina Gandrung itu wayang menak, Rhe. Eranya sebelum Rama dan Shinta, dan itu artinya jauh sebelum Pandawa,” kata Bu Dalang. mengalihkan perhatian. Dia tak menjawab pertanyaan dan penasaranku. Hanya, tatkala menyebut Putri Cina, wajah itu menyalakan hasrat. Kerinduan yang dalam. Cinta yang tak terbantahkan. Aku bisa merasakannya.
Fragmen itu bergerak di genggaman lentik seorang wanita yang tak lagi muda, namun masih menyimpan kecantikan masa silam. Lakon Putri Cina Gandrung adalah salah satu dari ribuan kisah dalam wayang kulit. Cerita ini dulu kerap didendangkan oleh ayahku melalui radio National-nya. Tentunya beliau mempertajam rupa Wong Agung Jayengrana, seorang raja agung dari Kerajaan Kuparman, yang kini menjadi negeri Persia. Bukan Wong Agung yang memesonaku. 

Aku terpesona pada kata, kidung, dan nada yang disampaikan Bu Dalang untuk melukiskan curahan sang Kwi Adaninggar, Putri Cina yang sedang gandrung kapiluyu1) dengan Wong Agung Jayengrana. Serasa tak masuk akal, tapi menggetarkan. 

Cinta itu datang bukan karena Sang Putri bertemu dengan Wong Agung. Tapi, cinta itu datang hanya dari kabar angin dari para pedagang sutra Cina yang mengabarkan kegagahan Sang Raja. Mengagumi secara fisik di mana Wong Agung dilukiskan sebagai pria yang sempurna. Tidak hanya fisik, Sang Putri pun mengagumi kepandaiannya, pengetahuannya dan tutur katanya yang cerdas. Tanpa foto, tanpa pic mail, tanpa web cam, sang putri bisa jatuh hati. Saat itulah aku melihat roh Kuiadaninggar merasuk ke raga Bu Dalang. 

Aduh babo, Tiyang Agung /Kasih Adaninggar iki/Kang kasrimpung ing katresnan/Kagubet ing raras ati/Kasrimpet sengseming nala/Katalikung kung kingkim/ Sumunar cahya Wong Agung2).

Sang Putri pun tak berdaya membendung beban cinta di hatinya. Kewarasannya luluh lantak seperti terhujam senjata. Tak ada yang bisa menyembuhkan, kecuali bertemu Wong Agung. Sang Putri pun berangkat ke negeri Kuparman untuk menemui sang penyembuh.

Catatan:
1) Jatuh cinta yang teramat sangat.
2) Salah satu suluk yang didendangkan Nyi Rumiati Ajang Mas artinya kurang lebih: Aduh Tuan, Tiyang Agung/Kasihanilah Adaninggar/Yang terjerat tali asmara/Terikat hingga ke jiwa/Hati pun terjerat pesona/Hingga terasa sakit di tubuh (lempeng badan)/Cahya Wong Agung begitu kemilau.


Titik Kartitiani
. Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Titik Kartitiani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Kejora Membunuh Cahaya [2]"