Kejora Membunuh Cahaya [3] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kejora Membunuh Cahaya [3] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:54 Rating: 4,5

Kejora Membunuh Cahaya [3]

Sampailah di negeri di mana malaikat tanpa sayap itu bertakhta. Sayang, bukan berarti  masalah teratasi, tapi justru memasuki era bifurkasi. Antara nurani Sang Putri dan cinta yang harus diperjuangkan. Karena ternyata, Wong Agung sudah punya banyak istri. Jelas, Sang Putri tidak ingin menyakiti hati istri-istri Wong Agung.

Kembali cinta suci memberi kekuatan. Dari mesu budi dan kekuatan doa, Kuiadaninggar dianugrahi aji Tampang Sutra Jaya Kencana. Sebuah kekuatan welas asih, yang bisa menghilangkan rasa benci di hati istri-istri Wong Agung. Dengan segala kasih istri-istri Wong Agung salut akan ketulusan cinta Sang Putri. Sebuah cinta yang tidak mungkin diberikan oleh mereka.

Tapi ternyata, tidak cukup sampai di situ. Karena kelicikan Patih Bestak (Patih Wong Agung) yang tidak mengerti keagungan cinta suci. Otak licik yang hanya tahu takhta dan ambisi, meracuni hati Wong Agung. Tertutuplah rasa welas asih Wong Agung oleh benci dan angkara. Pertarungan ambisi, angkara, dan cinta menjadi puncak lakon. 

Ada getar hebat ketika Bu Dalang menuntaskan akhir cerita. Demi cintanya, Sang Putri rela tewas karena tikaman senjata Wong Agung. Betapa terkejutnya Wong Agung ketika darah yang keluar dari raga Adaninggar adalah darah putih yang harum aromanya. Darah yang menggambarkan cinta  tanpa alasan, kecuali cinta itu sendiri. Berlututlah Wong Agung mengulurkan hatinya bersamaan dengan berakhirnya napas terakhir Sang Putri.

Kenapa cinta suci kalah dengan ambisi. Kenapa Yosodipuro, penulis serat Putri Cina Gandrung, tak punya perasaan untuk menghargai ketulusan hingga dimatikannya tokoh mulia itu? Kenapa Tampang Sutra Jaya Kencana tak cukup untuk melicinkan jalan cinta Sang Putri? Benarkah cinta berhak menghabisi hidup seseorang? Barangkali, mereka memang tidak benar-benar mati. Karena mereka pun tak benar-benar eksis dalam realitas. Hanya eksis dalam imaji. Wayang adalah pentas imaji bagi masing-masing penontonnya.

Lakon 2. Kehadirannya di Sepertiga Malam terakhir.
Aku masih menggenggam kameraku, jemariku bergetar melihat penghayatan yang demikian agung. Bahkan, Bu Dalang sendiri pun mungkin tak menduga, begitu dahsyat energi yang terajut malam ini. Untuk menghidupkan wayang-wayangnya. Untuk membentuk jalinan kisah Putri Cina Gandrung. Kisah itu, simfoni gamelan, gendhing itu, seperti terperangkap dalam fajar. Ia tetap menggema di sana. 

Aku melihatnya duduk di seberang kelir. Lunglai. Wajahnya kacau, seperti baru saja terlempar dari pusaran arus. Pandangannya ke arah pekerja yang sedang memasukkan wayang ke kotak. Namun, pikirannya tampak sedang bertakhta di suatu tempat. Di jiwa yang bercahaya.

Aku mendekatinya, lantas kuulurkan tanganku untuk mengucapkan selamat atas pementasan yang spektakuler. Bu Dalang bergeming. Menatapku dalam-dalam. Lantas memelukku. Sunyi. Tak ada air mata, tak ada isak. Tapi. aku bisa merasakan, ia menangis.

“Dia hadir... dia datang... dia, ya, dia masih ada untukku. Penantian selama 50 tahun itu terjawab sudah. Dia masih sangat mencintaiku,” katanya lirih, di telingaku. Aku tak mengerti.

“Nduk, jika hari-hari lalu aku hanya merasakannya mengembara dalam pikiranku, malam ini dia membuka wujudnya... ya, dia ada di sepertiga malam terakhir... ketika putri Cina itu terbunuh. Tidakkah kau tahu? Wong Agung akhirnya menyadari, betapa cinta itu tak pernah salah. Tak pernah memilih. Tak pernah tak pasti?” bisiknya,  makin lemah. Waktu terburai, seperti ada satuan yang lebih kecil dari detik. Bergerak sedemikian lamban. Aku bisa merasakan sebuah kerinduan yang mendapatkan jawaban. Benarkah cinta Bu Dalang pada seseorang? Seseorang yang bukan mendiang suaminya! 

Setelah Bu Dalang duduk kembali, aku bukakan botol air mineral yang kuambil dari tas punggungku. Ia menenggaknya, hingga sepertiganya. Menghela napas, kemudian tersenyum. Jarum jam di tanganku beranjak dari angka tiga.

“Nduk, kamu lahir tahun berapa?” tanya Bu Dalang tiba-tiba. Alisku mengerut.

“Tahun 1978. Ah, Ibu jadi mengingatkan usia, ha…ha...ha…,” jawabku.

“Tanggalnya?” 

“Pada 18 Januari...  ada ramalan buruk, Bu? Saya sudah terbiasa, kok,” kataku, asal. Aku ingat cerita tukang ramal di beberapa tempat, yang tak pernah memberikanku ramalan berpengharapan. Mulai dari karier melangkah seperti siput, hidup sakit-sakitan, hingga jauh jodoh. Apa pun ramalannya, mereka tak pernah meramalkan bahwa aku bisa mengatasi semua itu. Kulepas tali kamera dari leherku. Kamera itu sedemikian dingin. Apa pun ramalannya, aku masih hidup utuh hingga detik ini.

“Sudah kuduga,” kata Bu Dalang.

“Ramalan itu?” 

Bu Dalang menggeleng sembari tersenyum. 

Ia menghela napas.

“Ini bukan ramalan, Nduk. Ini perhitungan. Sastra jendra hayuningrat 1). Aku dan kamu dilahirkan di weton dan neptu yang sama. Jarang terjadi. Tapi, aku sudah tahu sejak pertama, sejak kau datang ke asrama dengan tas gunungmu itu,” kata Bu Dalang. 

Kepalaku mulai pening.
Aku mulai jatuh cinta pada wayang, tapi bukan berarti aku harus tenggelam dalam primbon.

“Kau lelaki itu/ Yang masih setia memastikan pohon–pohon bumi/Tetap berpucuk di kala yang lain luruh/ Sesungguhnya aku tak perlu menemukanmu/ Karena kau tak pernah pergi, kata Bu Dalang. 

Sebait puisi, ya, kukira puisi. Aku sudah lama tak menyapa keindahan kata-kata justru ketika menulis menjadi pekerjaanku. Keindahan memang akan pudar ketika menjadi keharusan. Kini kudengar, kata itu sedemikian merdu. Aku menggigit bibir keras-keras. Asin darah lumer di lidah. Aku kenal puisi itu. Karena aku yang menuliskannya. Sepuluh atau dua belas tahun lalu. Kenapa bisa tiba- tiba hadir di sini?

“Ha...ha...ha… bisa hafal begitu. Apa saya pernah menunjukkannya ke Ibu, ya? komentarku, sembari tertawa. Karena sering Bu Dalang membaca tulisanku, coretanku, ketika berkunjung ke kamarku. Bu Dalang tersenyum sambil menggeleng.

“Aku tidak menghafalkannya, Nduk. Aku membacanya di sana, katanya, sembari menatap mataku. Ya, mata adalah jendela hati. Kau bisa mengintip aktivitas hati dari kebeningan korneanya.

“Lelaki itu pasti bukan Yuan, ‘kan? tebak Bu Dalang. Bagaimana dia tahu.

“Ha...ha...ha… itu masa lalu, Bu. Lagi pula, saya menuliskan bait itu sebelum saya kenal Yuan. Sudah lama sekali.

“Kamu tahu dia sekarang ada di mana? Refleks aku menggeleng. Hanya saja, aku tak yakin. Pertanyaan itu seperti menuntunku ke jalan setapak itu. Di mana Merapi dan Merbabu berdampingan mesra. Kabut mengambang dalam bimbang. Kepedihan yang teramat dalam mendatangkan temaram. Kita pernah ada di sana, sebagai cahaya yang menjawab gelap. 

“Mungkin masih jadi aktivis lingkungan di Jawa, atau Sumatra, atau entah mana.  Tapi, saya tak tahu pasti, Bu. Sudah lama tidak kontak.

“Hmm... sebenarnya kamu tahu kan dia di mana? Hanya tak mau mengakui. 

Aku menghela napas. Amora, nama itu. Ada harum jasmin ketika aku mengingatmu. Dulu, kau selalu membawakan melati yang baru saja mekar di pagi hari. Katanya melati itu tumbuh di depan rumahmu. Walau aku tak pernah tahu, di sisi mana melati itu tumbuh setiap kali aku ke rumahmu. Yang jelas, wanginya bertahan lama. Berminggu, berbulan, dan bertahun-tahun. 

Catatan:
1) Mantra untuk membebaskan dari kejahatan dan meraih kebahagiaan.


Titik Kartitiani
. Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Titik Kartitiani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina

0 Response to "Kejora Membunuh Cahaya [3]"