Kejora Membunuh Cahaya [4] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kejora Membunuh Cahaya [4] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:57 Rating: 4,5

Kejora Membunuh Cahaya [4]

“Tujuh tahun saya memainkan peran itu, Bu. Peran sebagai padang Kurusetra mungil. Tempat bertarungnya cinta antar-anak manusia melawan pertaruhan sayang seorang ibu. Begitulah, ibu saya tak pernah setuju saya menjalin hubungan dengan aktivis macam dia. Keberadaannya memang dibutuhkan di negeri ini, namanya harum di banyak media, namun kehadirannya tak pernah diharapkan oleh calon mertua yang menginginkan anak gadisnya bahagia. Begitulah, Bu... saya mencoba menghapus cinta itu. Dengan logika sederhana dia terlalu santai untuk menjadi suami dan ayah dari anak-anak saya. Sialnya, walau begitu, saya pun masih tetap mencintainya kala itu. Lalu kami memutuskan berpisah dalam arti yang sebenarnya. Saya ke Jakarta, dan dia pergi tak pernah mau memberi alamat di mana ia tinggal. Tapi, dia selalu tahu di mana saya ada. Sesekali mengirimkan SMS dari banyak nomor. Menceritakan tentang alam. Aroma lumut basah, keperkasaan hutan, dan..., serak sekali rasanya. 

Tiba-tiba aku merasa, dia hadir di sini. Di antara kami. Dua wanita dari dua generasi, yang bimbang di larut pagi. 

“Yah, pernah suatu ketika saya menelepon satu di antara banyak nomor yang mengirimkan SMS itu. Semua menjelma nomor hantu. Dia lenyap seperti hutan. Lantas saya bertemu dengan Yuan, dan kami tunangan. Anehnya, setelah itu dia tak pernah ngirim SMS lagi. Saya rasa itu sudah cukup menjadi jawaban untuk saat ini. Mungkin dia masih tinggal di gunung-gunung itu. Dan bagi saya,  saya sudah cukup bahagia dengan pernah mencintainya, kataku. 

Ada kekuatan yang menelusup. Damai sekali. Baru kali ini aku bisa mengatakan, aku sudah cukup bahagia hanya dengan mencintainya. Hah, mengapa aku bisa mendadak romantis begini?! Sekuat tenaga aku mencoba untuk tidak menangis. Aku mau hemat air, seperti pesannya di tengah isu global warming. Takkan kusia-siakan setetes air pun, bahkan untuk sekadar air mata. Bu Dalang mengelus rambutku yang mulai kusut oleh malam. 

“Hei, kamu tidak usah menjawabnya. Aku tahu. Kudengar helaan napas berat. Kami sama-sama hening. Bulan pucat memanggil sebentuk memori. Bu Dalang mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Amplop putih sesuci Lucifer. Dari cara memegangnya, pastilah itu sangat berharga. 

“Bukalah, katanya. Amplop itu terasa hangat, panas tubuh wanita yang terperangkap. Tiba-tiba panas itu menjadi asing yang membingungkan, begitu tahu apa yang ada dalam amplop itu. Aku mengenal kertas itu. Tapi, aku tak tahu apa maksudnya.

“Ini kan... Pak Bhisma? Ya, aku tahu karena sobekan kertas itu tak lain adalah artikel yang aku tulis. Profil Bhisma Bayu Wardana, seorang pejabat yang membuat hutan dan kebun bunga dari tanah tandus. Narasumber yang kupotret dua kali, karena pemotretan pertama gagal. Memori kena virus dan datanya tak bisa ditransfer. Kecerobohan yang membawa kenangan.

“Bu Dalang kenal beliau? Masih belum terjawab kebingunganku. Ada air mata yang menggenangi semestanya. Wajah serupa kangen. Kerinduan yang mendalam, semacam hasrat yang dikubur paksa. Mengapa aku pertanyakan? Jawaban itu sejelas kilau sendok di piring makan. Duh, Gusti...  pertanda apa ini.

“Dia, Ibu ? Lelaki itu...?

Kupandangi wajah yang tercetak di kertas itu. Seorang pria yang dua pertiga wajahnya ditutupi cambang. Senyumnya merangkum pesan. Kini aku mulai menerjemahkan pesan itu. Jalinan dirinya, hutan, kebun bunga, dan Bu Dalang! Aku pun tahu, pertautan antara pertemuan Patung Liberty dan wayang-wayang itu. Kulihat tanggal yang tertera di jam tanganku. Ya, benar, hari ini dia sedang menjalani perawatan medis. Kala itu, dia pernah mengatakan tentang negeri Paman Sam untuk menyembuhkan penyakitnya. Kadar gula yang melebihi kemampuan tubuh menampung, yang mulai menggerogoti harapan hidupnya. Aku yang menuliskannya di sobekan majalah ini. Seperti  jaring laba-laba, yang dirajut napas liur di setiap helainya. Berputar. Tak putus. Akhirnya bersumbu pada takhta di bagian tengahnya. Akulah poros itu.
Lakon 3. Sinden Alas Jati
Sungguh aku mau pingsan siang itu. Ketika Armin, editor foto majalahku, mengatakan bahwa aku salah mengambil memori kamera. Memori yang kuambil salah. Saat pemotretan berjalan lancar. Merekam dengan baik. Tapi, begitu ditransfer ke komputer, virus seperti menyembunyikan data-datanya. Tragedi salah ambil memory card itu masih jelas sekali kuingat.

“Masak, sih, Ar... enggak bisa digimanain, kek,” kataku, memohon. Apa pun penjelasan Armin yang sangat teknis nan rumit itu, terjemahannya begitu sederhana: ulang pemotretan. Tubuhku pun serasa tak berpijak di lantai.

Terbayang tokoh pahit yang aku harus meliputnya itu. Seorang pejabat teras yang tinggal di kaki Merbabu dan Merapi, jauh di sana. Wawancara kemarin saja bukanlah wawancara yang manis. Apalagi disuruh mengulang. Pening, sesal, hingga memicu keringat dingin deras mengalir. Berapa kali lagi aku harus menanggung risiko kecerobohanku? Tapi, pagi itu memang aku lelah sekali karena nungguin pentas Bu Dalang semalaman. Makanya, aku tak begitu teliti ketika mempersiapkan peralatan untuk dinas luar kota. Apa pun alasannya, tak ada pilihan. Segenap doa dan mantra kurapal sebelum aku meneleponnya. Berharap Tuhan memberi keajaiban.

“Selamat siang, Pak, saya Rhea yang kemarin wawancara. Mohon maaf mengganggu waktu Bapak,” segenap kalimat diplomatis kulancarkan, sementara di sana tetap mendengar, tapi tak
ada jawaban.

“Memang saya ceroboh salah ambil memori. Karena mungkin kecapekan, semalaman menunggui pentas wayang kulit,” kataku, setengah curhat dan lebih tepat memohon. Ada desah di seberang sana.

“Wayang kulit? Kamu suka wayang kulit?” tanyanya, di luar dugaanku. Dia tertarik! Kalau aku bisa sedikit diplomatis memanfaatkan ketertarikan itu.

“Tidak juga, Pak. Hanya karena pentas pemilik asrama, jadi saya ikuti,” jawabku gagal bohong, sama ketika aku ngobrol dengan ibuku. 

“Dalang wanita? Siapa namanya?” tanyanya, semangat. Lho, kenapa begini.

“Kami panggil Bu Dalang. Nama aslinya sendiri saya tidak tahu,” kataku, jujur. Begitulah hebatnya Jakarta. Berapa orang kutemui tiap hari, berapa orang pula yang benar-benar kukenal selain urusan yang bersangkutan? 

Ada desah panjang dan berat terdengar menyembur gagang telepon. Hening. Dadaku jungkir balik atas nama pertaruhan karier.

“Oke, kamu bisa datang kapan saja,” ujarnya, yang menjadikan duniaku tersenyum sedemikian lebar. Ajaib!

Rumah sama, tuan rumah yang sama, bisa menjadi sangat berbeda keindahannya jika dihiasi senyum dari si empunya. Begitulah, pemotretan kali ini hasilnya lebih bagus dari kemarin. Aku berhasil mendekati kehidupannya lebih utuh, dibandingkan pemotretan formalitas kemarin. Karena sesungguhnya, memotret bukan hanya sekadar merekam objek dengan kamera, tetapi harusnya bisa membidik sisi menarik dari objek. Bukankah setiap benda, setiap orang, punya detail menarik, yang hanya akan kita temukan ketika kita mengenalnya? 

Seperti Pak Bhisma ini. Ternyata, dia bukan sekadar pejabat teras yang disegani di kota kecil ini. Lebih tepatnya, dia disegani bukan karena menjadi pejabat teras, tapi karena dirinya adalah Bhisma. Bhisma yang berhak memilih hari kematiannya atas keikhlasan yang dilakukan di luar batas manusia.


Titik Kartitiani
. Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Titik Kartitiani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Kejora Membunuh Cahaya [4]"