Kejora Membunuh Cahaya [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kejora Membunuh Cahaya [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:00 Rating: 4,5

Kejora Membunuh Cahaya [5]

“Rhe, kamu pernah punya kenangan?” tanya Pak Bhisma, sembari mengarahkan mobilnya ke suatu tempat. Dia ingin menunjukkan sesuatu yang tak ada kaitannya dengan liputanku. 

“Kenangan?” jawabku, heran. Pastilah punya. Kalaupun aku lupa, ada diari yang rajin kuisi untuk jaga-jaga kalau aku bangun dan lupa siapa diriku. Duh.

“Kenangan yang sangat kuat. Mimpi yang tak terbantahkan. Hingga kau berniat mewujudkannya sepanjang hidupmu,” ujarnya. Terasa berat dan dalam. Kuperhatikan pria ini lebih detail. Dia seusia kakekku. Tapi, dulunya pastilah dia tampan dan otaknya cemerlang. Rahangnya kuat, matanya tajam, dan rambutnya lebat, walau kini helaian itu sudah menjadi perak. Bibir yang kerap melukis senyum itu pastilah mantra pemanggil kaum hawa untuk terjerembap dalam jurang pesona. Berapa banyak kekasihnya dulu? Sebelum akhirnya tertambat pada mendiang istrinya, Areni.

Mobil itu berhenti di jalan tanah di tengah hutan jati. Lalu dia mengajakku untuk menyusuri jalan setapak yang membawa aku masuk di tengah pusaran ranting-ranting meranggas. Kemarau merenggut daun-daunnya hingga licin tandas.

“Hutan ini milik Bapak?” tanyaku. 

Pak Bhisma menggeleng. “Milik bumi dan Hujan itu.” Daun jati resah terinjak seakan ingin memanggil kembali bulir hujan untuk menumbuhkan pucuknya. Bukan hujan yang datang, tapi kenangan itu mengambang dalam ruang di antara kami.

“Dulu aku memanggilnya Hujan. Karena dia sejuk, indah, dan menjadikan bumiku berkilau. Kedatangannya sebagai penawar dahaga yang tak terjawab. Kehadirannya menjadikan warna-warna lebih terang. Suara-suara lebih bening. Cikal-cikal hidup tumbuh menyongsong harap. Aku pun jatuh cinta pada Hujan itu. Pada bulirnya yang jatuh beriringan. Pada geraknya yang lembut menyusup kulit bumi. Pada dingin yang meredam apiku. 

Denting Hujan suka sekali berkisah. Tentang kebajikan purba yang terlupa. Laga cinta Rama, epik Pandawa dan lara Kurusetra. Juga kidung agung yang akhirnya aku pun terjerembap dalam kubangan pesona. Kau pernah mendengar Suluk Tembangraras?” 

Aku terperanjat tak siap. Aduh, apa pula ini. Tiba-tiba sosok di depanku bukan lagi kakek renta. Namun, menjelma jejaka yang mabuk cinta. Masa silam, benar-benar datang mewujudkan dirinya. Di antara napasnya yang renta, ia mulai berkisah tentang suluk itu dan kenangan itu. 

“Aku ingat, suatu siang di ujung desa, setelah usai upacara wiwit. Dia duduk di dangau, di tengah padi yang gemuk dan dewasa. Di kejauhan, tampak bayangan hutan jati yang meranggas. Entah 
berapa lama lagi hutan ini memerankan bayangan kala gergaji dan ambisi nyaring terdengar. Kenyataan itu membuat parasnya mendung. 

Dia dulu begitu belia, namun pemikirannya seperti meloncat meninggalkan raga. Padanya rasa ini menemukan rumahnya. Seperti hutan jati menemukan Tanah Jawa. Hutan itu mengingatkan pada suluk yang mengisahkan tentang Lurah Hutan. Yang tugasnya menjelaskan kepada para penebang, pohon mana yang bisa dirobohkan dan mana yang bila diambil rantingnya saja akan mendatangkan petaka bagi yang melakukan kesalahan itu dan lingkungannya. Lurah Hutan memberikan nasihat tentang seni memilih pohon jati yang cocok untuk pembuatan rumah atau masjid. Juga musim yang pas untuk menebangnya. 

Hanya saja, ketika manusia  makin merasa pintar, Lurah Hutan pun kehilangan pengaruhnya. Nasihatnya luluh lantak di bawah angka uang dan keinginan yang tak pernah terpuaskan. Lalu katanya, “Kelak kalau aku sudah besar, aku akan membeli hutan yang luas.”
Entah mengapa, begitu selesai terucap, ada asap membubung tinggi sekali. Melenyapkan bayangan hutan jati di horison. Digantikan oleh kobaran api yang memenuhi horison. Kebakaran hebat itu menewaskan ratusan hektare lahan jati yang tersisa. Menyihir kayu mahal itu jadi abu. Tak tahukah, justru pemicu api adalah pembakaran semak untuk mengambil kayu-kayu yang masih belia. Hutan pun murka. Pontang-panting kami lari dari api. Tersandung, terperosok dan batu tajam melukai kaki telanjang kami. Api itu terlalu mengerikan bagi anak seusiaku waktu itu. 

Di atas bukit, ia memandang lunglai hutan itu. “Aku akan punya hutan, kan? Hingga aku bisa mengambil kayunya yang dewasa, keras dan tegak. Untuk membangun kayu. Di tengah kebun yang luas penuh bunga. Di mana matahari terbenam bisa dilihat setiap senja. Tanpa terhalang mendung, apalagi gedung.” 

Saat itu, disaksikan bukit kapur, hamparan padi di bayang api, aku berjanji untuk mewujudkannya. Janji heroik seorang lelaki kecil yang bahkan belum akil balik. Yang tak sadar bahwa dunia terkadang bukan lakon manis yang happy ending. Yang mengempaskannya di jurang kepedihan yang tak bisa dimengerti. Kenapa cinta hadir bukan untuk menghidupi? Kenapa keinginan mulia tak selalu dijawab Tuhan dengan kata iya saja?

Lelaki kecil itu mencoba merengkuh Hujan, namun tak pernah sadar bahwa Hujan tak pernah bisa tersentuh. Hujan hanya menyapa, tak pernah meninggalkan rasa. Dia berbagi untuk semua. Sungguh kecewa jikalau menambatkan diri pada Hujan. Hujan takkan pernah tahu kapan dia datang. Dan pergi tanpa perlu angin membawanya. Dan dia pun pergi, begitu saja. Walau sesungguhnya, bagiku dia tak pernah pergi. Hingga aku merasa menjadi dewasa bahkan renta. Janji lelaki kecil itu masih saja tumbuh dalam diriku. Aku harus mewujudkannya. Hutan ini tidak seluas hutan yang terbakar itu. Tapi, inilah tanah yang tersisa, untuk menjaga lereng akar tetap tegak. Menyelimuti tanah-tanah kapur agar tidak kabur. Kamu lihat, di bawah sana, banyak permukiman yang menengadah petaka. Jikalau bukit ini gundul, tebing-tebingnya bisa melenyapkan perkampungan. Hanya pohon jati yang bisa menyangga tanah sepahit ini. Menyangga hujan agar turun pelan. Tak merusak, dan selalu menyejukkan,” katanya, tanpa mampu aku sela.
Dan hujan pun datang. Kali ini memang hujan yang sesungguhnya. Seperti tiba–tiba tercurah dari langit. Riuh bulirnya menyapa dauh jati. Aroma tanah basah meruap di antara ranting dan dahan. Segar sekali. Hujan pertama di tahun ini. Katanya, hujan pertama selalu membawa berkah dan juga waktu mujarab untuk berdoa. Aku tak sempat memikirkan doa apa yang sebaiknya aku panjatkan. Buru–buru aku menyelimutkan penutup tas ransel. Kamera adalah barang pertama yang perlu diselamatkan. Bukan cerita seru ketika harus mengulang motret lagi, kali ini alasannya kamera basah kuyup. 

“Ayo, tidak jauh lagi ada tempat berteduh,” kata Pak Bhisma, yang mencoba membawa tubuhnya ke ujung jalan setapak.

Jalan setapak itu berujung pada sebuah tanah impian yang menjadi kenyataan. Di tengah hutan jati, ada kebun luas. Mungkin satu hektare atau lebih, dan penuh bunga! Bagaimana mungkin di sekelilingnya kemarau begitu sadis menggigit, sementara di sini seperti punya candra musim sendiri. Mimpi itu menjadi  makin nyata, ketika di tengah kebun itu ada rumah kayu. Tidak sebesar rumah gadang, tapi aku bisa merasakan betapa besar artinya bagi sang pembangun. Sementara aku terkesima, buliran hujan mulai menyapa seluruh tubuhku. Ups. Pak Bhisma melambaikan tangannya untuk segera masuk ke rumah kayu itu. Rumah kayu dengan kebun bunga. Begitukah cinta bisa sedemikian kuat? Hingga membentuk energi yang demikian hebat. Bahkan ketika tak tahu lagi, di manakah cinta itu kini bertakhta. 

“Wow!” hanya itu komentarku ketika aku duduk lesehan di dalam rumah itu. Interiornya khas Jawa Tengah. Ruangannya disekat dengan rana dengan lukisan kaca. Salah satunya, bergambar Bima yang terbelit ular. Lalu di dindingnya ada kain yang bergambar wayang juga. Kereta dengan penunggangnya sedang merentangkan gendewa.

“Itu Mahabarata?” tebakku.


Titik Kartitiani
. Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Titik Kartitiani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Kejora Membunuh Cahaya [5]"