Kejora Membunuh Cahaya [6] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kejora Membunuh Cahaya [6] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:03 Rating: 4,5

Kejora Membunuh Cahaya [6]

“Salah satu episode Mahabarata. Di mana Kresna menjadi kusir Arjuna,” kata Pak Bhisma. Lalu ia meminta pembantunya untuk menyiapkan minum.

“Ini Yu Min, ahli kebun di sini,” kata Pak Bhisma, mengenalkan wanita senja yang mengenakan kebaya. Menunduk sembari tersenyum. Kulihat tangannya yang lentik, tapi tak mulus. Di sanalah lahir kuncup-kuncup bunga.

Untuk beberapa saat, aku masih mengedarkan pandangan ke setiap perabot yang ada di ruangan ini. Jikalau ini vila, atau semacam rumah peristirahatan, tapi mengapa tak ada satu pun foto keluarga. Mendiang istrinya, atau anaknya. Dari sini aku bermain-main dengan perkiraan. Jadi, rumah ini benar-benar perwujudan cinta platonis, seperti Gunongan yang didirikan dengan bait cinta oleh Sultan Iskandar Muda untuk Putri Pahang. Atau kemegahan Taj Mahal untuk sang permaisuri. Tapi, mereka semua adalah wujud kenangan dari cinta yang menyatu. Sementara rumah kayu ini… lebih menggetarkan dari semua itu. Seperti membangun Candi Seribu.

Teh hangat terhidang dengan poci dari tanah liat. Aromanya mengundang selera, mengusir linu tulang. Hangat. Apalagi ditambah  dengan gula batu yang berkilauan seperti kristal. Lalu Yu Min menghidangkan sesuatu, seperti jengkol dan berasap. Teh poci pastilah elegan, tapi makan jengkol? Oh, no... aku nanti harus melanjutkan perjalanan, naik pesawat ke Jakarta. Bagaimana mungkin perjalanan itu ditemani aroma jengkol. 

“Ayo, minumlah. Kamu pasti jarang minum beginian,” kata Pak Bhisma.

“Momen yang tak akan terlupakan bagi saya, Pak,“ jawabku, menuang teh dari poci, sembari melirik makanan aneh itu. Agaknya ia menangkap isyarat ngeri di wajahku. Ia pun tergelak.

“Ah, aku lupa memperkenalkan. Ini namanya gayam. Cobalah,” tawarnya, sembari menyodorkan sepiring ‘jengkol’ itu. Demi kesopanan, aku pun mengambil satu keping. Memang teksturnya seperti jengkol, hanya 

rasanya beda. Gurihnya klasik, menyapa lidah dengan akrab, tak ada aroma menusuk yang kutakutkan. Tanpa malu-malu, aku mengambil satu lagi, satu lagi, dan terus mengiringi obrolan kami. Pak Bhisma tergelak. Sebaris giginya tampak rapi, dan belum ada yang tanggal. Hmm, wanita, yang menjelma menjadi Hujan itu, yang meninggalkannya, pastilah 
akan menyesal. 

“Sebenarnya, kalau kamu memperhatikan, di Kebun Raya Bogor ada juga tanaman ini. Tumbuh besar, akarnya seperti lempeng yang timbul di permukaan tanah. Akarnya yang banyak inilah yang mampu menahan erosi dan menyimpan airnya di pori tanah. Makanya, gayam dijuluki sang pemanggil air.”

“Pemanggil Hujan?” tanyaku hati-hati. Pria itu tersenyum, lantas tergelak. Lalu diceritakannya, tentang gayam yang memanggil Hujan. Hujan dengan ’H’ kapital. Ketika subuh menjemput hari, Bhisma kecil bersuit panjang di ujung desa. Gelombang suara akan terdengar nyaring melebihi kemampuannya di siang hari. Udara masih hening dan padat, hingga memperluas jangkauan. Tak berapa lama, seorang gadis kecil yang membaca sasmita, buru-buru turun dari peraduan. Rambut yang tergerai digelung sekenanya. Kebaya dirapikan dan kain bermotif kukilo dikencangkan. Langkah kecilnya nyaris tanpa suara, membuka pintu gebyok sembari menjinjing bakul yang berisi pakaian kotor untuk dicuci di sungai.
Namun sebelum itu, ia akan menemui Bhisma terlebih dahulu. Untuk mengumpulkan buah gayam yang jatuh di sungai dan lumpur, yang bahkan jauh dari pohonnya. Menuntaskan kerja kelelawar semalaman. Yang telah memetik buah-buah gepeng, warna hijau kekuningan, tepat pada usia masaknya. Lantas memakan kulitnya yang manis, hingga menyisakan sabut–sabut menyelimuti batok bijinya yang keras. Biji–biji itu akan tersebar, sejauh kelelawar bisa membawanya. Dengan cara seperti itulah, sebatang pohon gayam mengirimkan bayi–bayi bijinya merantau ke negeri yang jauh.

“Berulang kali orang tua kami melarang untuk mencari gayam. Karena, itu makanan orang susah. Tapi, tetap saja kami melanggarnya,” kenang Pak Bhisma. 

Berbekal  kaleng yang dilubangi, kemudian diberi gagang bambu panjang, mereka berdua mampu mengait gayam yang bahkan sudah terkubur lumpur. Satu demi satu hingga terkumpul seribu. Kemudian gayam diplanthong untuk membuka batoknya. Lembaga yang putih bersih bersusu itulah yang direbus. Dengan menambahkan sedikit garam, air mendidih akan mematangkannya. Mengubah putih susu menjadi kecokelatan. Menjadi matang dan gurih.

Keping–keping gayam itu ditata apik di atas daun lembong. Lantas dimakan di dangau sembari melindungi padi dari sergapan burung pipit. Hingga senja menjelang. Hingga pipit pulang ke sarang. Sepasang bocah belia itu rasanya enggan mengakhiri hari. Bahkan, sampai usia belasan, lembar romantisisme sebatang gayam, masih terus dituliskannya. Hingga akhirnya si perempuan melantunkan pupuh Asmaradana. Merdu, mengiris, dan tragis.

“Emm…. apakah Bapak tahu, di mana dia sekarang?” tanyaku. Dua warna rambut itu tersibak oleh angin yang menerobos melalu jendela. Di luar sana, hujan mulai reda. Hujan mulai pergi?

“Aku sudah katakan padamu, Rhe,..dia tidak pernah pergi, bukan? Dia ada di sini,” katanya, sembari meletakkan tangan di dadanya. Aku merinding, mulai pening. Di luar sana gedung tinggi sedemikian menjulang dengan arsitektur futuristis, arus informasi deras mengalir, facebook menyatukan orang–orang di berbagai belahan bumi, dunia seperti terlipat dan jarak itu musnah sudah. Di sini, aku seperti terperangkap pada zaman entah kapan. Di mana Shakespeare masih menuliskan huruf demi huruf dengan tinta celup. Untuk mereka adegan di mana Juliet mencecap sari terong beracun. Deathly nightshade, bunga cantik yang memekarkan sayap maut.

“Kapan terakhir kali bertemu dengannya?” Ah, kenapa juga aku menanyakannya. Bukankah ini akan mengaduk–aduk luka yang sudah mulai terajut oleh benang penyembuh? Tapi, ekspresi lelaki di hadapanku ini sedemikian tenang. Aku menduga, ia pasti akan menjawab, setiap hari ia selalu ketemu di pikirannya yang maaf saja kukatakan, sinting.

“Di suatu senja, saat Grebeg Mulud mengalun di kotaku,” jawabnya, dengan senyum yang agaknya sudah dipelajari selama puluhan tahun. Pelajaran sulit tentang bagaimana membuat senyum dari adonan sakit.  Saat dia mengalunkan kidung Asmaradana, yang ternyata itu terakhir kali aku mendengarnya. Lalu suitan panjang dini hari, hanya membangunkan matahari dan mengejutkan kelelawar. Melemparkan biji–biji gayam sekenanya. Terkadang memecah genteng, terkadang membenjolkan jidat para pemanjat nira. 

“Kenapa dia tiba–tiba pergi? Bukan karena berantem atau...mungkin sudah dijodohkan dengan orang lain?” selaku. Pak Bhisma menggeleng. 

“Selama ini, kedua orang tua kami tak pernah membicarakan atau tepatnya mempermasalahkan kedekatan kami. Awalnya sungguh sakit, kenapa dia pergi tanpa pesan. Ada dendam karena merasa tak dihargai. Lalu tiba–tiba aku khawatir, jangan–jangan sesuatu yang buruk menimpanya. Namun, melihat kedua orang tuanya yang tenang–tenang saja, aku yakin dia baik–baik saja. Tidak kena tifus, hanyut di sungai, atau ketimpa pohon.

Hanya saja dia lenyap, dan keluarganya tak pernah tahu atau mau tahu, bahwa aku sangat kehilangan separuh nyawaku. Bagaimana aku bisa berharap lebih, menceritakannya dengan benderang, ketika para orang dewasa itu sudah sibuk membangun dunianya. Tak lupa, duniaku pun dibangun atas desainnya, tak peduli aku setuju atau tidak. Seolah mereka paling tahu cara mendeskripsikan kata kebahagiaan dan masa depan bagi anak–anak mereka. Aku tak mendengar kabarnya lagi. Walaupun aku masih selalu bisa memanggil alunan kidung itu, selagi aku mau,” jawabnya.


Titik Kartitiani
. Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Titik Kartitiani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Kejora Membunuh Cahaya [6]"