Kejora Membunuh Cahaya [7] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kejora Membunuh Cahaya [7] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:07 Rating: 4,5

Kejora Membunuh Cahaya [7]

Aku mulai berpikir dengan kacamata awam. Benarkah ia juga akan mendengarkan kidung itu tatkala mengikrarkan janji pernikahan dengan istrinya? Apakah kidung itu juga tetap mengalun mengiringi setiap adegan percintaan yang mungkin tak didasarkan pada cinta romantis negeri dongeng? Apakah kidung itu juga akan meninabobokan anak–anaknya, dari istrinya yang sah? Lalu, apa fungsi sang istri dalam takhta hidupnya? Sebagai lebah ratu yang menghasilkan pekerja dan tentara untuk menjaga keperkasaan sarang. Memberi pancaran kewibawaan. Betapa cinta menjadi sedemikian kejam. Mereka lebih peduli apa kata orang daripada seperti apa hati berkata tentang keindahan hakiki. 

Dari perenungan lama sekali, aku menyimpulkan sendiri. Dia tengah mengejar impiannya untuk menjadi dalang. Profesi yang sangat tabu untuk wanita pada masa itu. Sejenak sunyi. Angan kami menyeberang ke batas cakrawala. 

“Sungguh, ini pelajaran yang takkan saya dapat dari buku mana pun,” komentarku, tanpa bisa memilih kalimat yang lebih bagus.

“Ah, kamu melebih–lebihkan. Sudah berapa tahun kamu jadi wartawan?”

“Belum lama, Pak. Belum ada satu tahun. Makanya, mohon maaf bila banyak kekurangan.”

“Hei, tak masalah… bukankah setiap perjalanan hebat yang tercatat dalam sejarah, selalu ada langah pertama. Nantinya kamu pasti akan bertemu dengan banyak orang. Dengan masing–masing ceritanya yang menakjubkan. Di sanalah inti dari perjalananmu?”

“Ada hikmahnya juga, kalau saya tidak mengulang motret, saya tidak akan sampai ke tempat indah ini. Menikmati gurihnya sang pemanggil air yang menyanyikan kidung Hujan. Di tengah hutan jati dan bunga–bunga,” kataku, sembari menyeruput kembali teh yang mulai dingin. Lama sekali Pak Bhisma menatapku. Wah, salah tingkah juga. Tak jelas di sini, siapa mewawancarai siapa. Lalu ia tergelak. Riang sekali.

“Kau akan menjadi jurnalis hebat, bila kau berhasil menggunakan seluruh indramu, Nak,” kata Pak Bhisma, kembali menjelma lelaki sesuai umurnya. Di luar sana, hujan benar–benar pergi. Ia berdiri untuk mengajak berkeliling ke kebunnya. Kulirik jam tanganku kembali. Hmm... masih ada waktu untuk menyelesaikan perjalanan romantisisme purba ini. Bahkan, aku merelakan jika harus ketinggalan pesawat!

Sampai di Jakarta, Armin melihat hasil pemotretan ulang itu dengan decak kagum. Foto hutan jati, rumah kayu, dan taman bunga itu seperti negeri dongeng. Yang uniknya dimiliki oleh seorang lelaki tua yang menyimpan rapat– rapat cintanya. Mungkinkah kamera juga mampu merekam sebentuk cinta?

Setelah artikel itu terbit, banyak surat pembaca yang masuk. Ada yang dari aktivis lingkungan, terpesona dengan cara reklamasi lahan tandus hingga menjadi hutan jati yang menghasilkan ratusan juta rupiah. Sebagian besar surat dari wanita, ibu–ibu yang terpesona oleh kisahnya. Sisi lain terpesona oleh sosoknya. Duda keren dan kaya! Ketika kukatakan pada Pak Bhisma, dia hanya tertawa. Katanya, secara resmi mengangkatku sebagai sekretarisnya untuk mengurusi surat penggemar.

“Rhe, kamu menuliskannya dengan bagus sekali. Banyak wartawan pernah menulis profilku, tapi kamu menyajikannya beda,” kata Pak Bhisma melalui telepon, setelah ia menerima bukti terbitnya.

“Terima kasih, Pak. Mungkin karena saya memang jatuh cinta pada kebun dan hutan Bapak,” kataku. Tentu saja, aku jatuh cinta pada kisah itu.

“Mainlah kapan saja, aku akan sangat senang. Oh, ya, melati yang aku bilang dari Afrika itu sekarang sudah mekar. Bunganya besar dan sangat wangi. Aku kirim, ya ?” 

Oh, no! Apa kata teman-teman nanti. Tetapi, kiriman melati, terlalu abstrak kenangan tentang harum bunga suci itu. Amora-kah kau? Sejarah tak berulang, hanya berirama. Mereka tak sama persis. Hanya nadanya yang terdengar serupa.

“Emm… tidak usah repot–repot, Pak. Tentunya akan lebih bagus kalau saya melihatnya langsung,” tolakku halus, sembari mengembalikan angan yang tiba–tiba melayang. “Atau kalau memang saya harus menyampaikan pada Hujan?” 

Sunyi di seberang sana. Hanya desah yang mengambang. Ya, bahkan ketika aku sudah menuliskan tentang perjalanan sebuah hutan pun, dia tak pernah mau menyebut siapa nama Hujan itu. 

“Kamu sudah tahu jawabannya, ‘kan? Dalam hal ini, aku belum bisa berbagi pada siapa pun. Biar dia utuh tersimpan.” 

“Siapa tahu saya menemukannya, Pak. Ketika saya jalan–jalan, nongkrong di TIM, atau di mana pun,” desakku.

“Bukankah sudah aku katakan, dia tak pernah pergi?” jawabnya, sambil mengucapkan salam. Ah, sudahlah. Dunia itu terkadang menjadi sangat sempit untuk satu hal. Dan memang, akhirnya aku menemukannya, tanpa Pak Bhisma mengatakannya. Wanita yang dipanggilnya Hujan. Yang memberiku naungan dari panas dan hujannya Jakarta.

Kubawa ragaku menempuh kemegahan Suluk, dan kamulah Tembang laras Suluk itu. Kau mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.
Lakon 4. Asmara Mencipta Hujan
Aku lipat kembali sobekan majalah itu dan kukembalikan pada Bu Dalang. Ia menyimpannya di tempat semula. Bening air itu tumpah sudah. Kembali ia menangis. Kembali ia mencipta Hujan. Dentingnya mengalun mengiri fajar yang menyala serupa pijar. Kehangatan api masa silam yang ingin dihadirkannya malam ini.

Dia kupanggil Api, api yang menjadikan blencong menyala, kelir menyala dan wayang hidup meliuk-liuk. Api mungil yang memberikan pijar di tapak mungilku. Kala itu kami masih sedemikian belia. Dua belas tahun umurku dan dia tujuh belas tahun. Kami bersahabat sejak kecil. Hingga tak sadar, ikatan kami melebihi seorang sahabat. Momen kesadaran itu sedemikian dramatis. 

Aku masih ingat, di pakeliran pentas ayahku. Pada awal Muharam, Suroan di balai desa. Pentas yang sudah ditunggu oleh penduduk desa, yang jarang makan enak. Bahkan, makan cukup pun tak ada dalam kamus hidupnya. Setahun mereka menunggu. Tak hanya karena pamor ayahku sebagai dalang terkenal. Tapi, pada Suroan itu, banyak sekali makanan. Ingkung ayam utuh berderet, cara bikang yang manis, apem dan sebut saja semua makanan yang diimpikan orang–orang lapar, ada semua. Ibuku memimpin wanita desa untuk memasak dari subuh hingga terhidang megah di kala senja. Kami berpesta laksana surga. Semua warga menantikannya. 

Ketika Nyai Wuning, sinden jelita sekaligus ibu Bhisma tengah mengalunkan tembang Maskumambang, dan ayahku memainkan wayang– wayangnya dengan riuh, aku sibuk di balik panggung. Mengincar segala bentuk makanan yang bisa tertampung di perutku. Tak peduli sudah berapa banyak. Aku makan dan terus makan seperti dendam. Itu lebih baik, daripada aku harus duduk bersama kakakku di samping niyaga. 

Ya, wanita tak boleh pegang wayang. Wanita hanya boleh menyapa dapur dan makanan. Kalaupun boleh, cukup menjadi sinden saja. Tapi, tidak sekarang. Lebih baik aku menyelesaikan sekolah sampai kuliah. Agar tidak perlu ‘ngamen’ wayang dari kota ke kota seperti ayahku. Atau menjadi ibu rumah tangga, yang mengurus berandalan yang berwujud kakak-kakakku. Tingkahnya memang mempercepat putih rambut Ibu. Kata ibuku, aku harus menjadi dokter, yang pasiennya banyak, uangnya banyak. Tak perlu kelayapan hingga larut pagi dan terhormat. Ibu sengaja menekankan kata terhormat dengan melirik Nyai Wuning. Bukan untuk menyanjung, tapi lirikan tajam yang tak kenal ampun. Susah memahami kelakuan orang dewasa.


Titik Kartitiani
. Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Titik Kartitiani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Kejora Membunuh Cahaya [7]"