Kejora Membunuh Cahaya [9] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kejora Membunuh Cahaya [9] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:12 Rating: 4,5

Kejora Membunuh Cahaya [9]

“Nduk, hanya kamu yang bisa menjadikan impian Ibu yang renta ini terlaksana. Bukankah kau juga ingin mewujudkan mimpi ibumu, Nyai Ratih Wangi?” 

Aroma kembang pengantin menjelma menjadi kembang setaman. Kembangnya  para kuburan.

“Aku harus menjadi dalang! Aku akan memainkan lakon Drupadi di hadapan banyak lelaki. Aku akan membisikkan penyesalan Amba pada setiap lelaki yang memberikan cinta tulus. Aku harus!” tekadku melawan sakit yang tak terperi. Ditambah lagi kemelut antara aku dan ibuku, ditambah ibuku selalu perang bisu dengan ayahku membuat tekadku  makin bulat untuk minggat. 

Ibuku tetap menunduk di depan Ayah sebagai jamaknya wanita santun yang ia cetakkan pada tubuhku. Tapi, hatinya mendongak penuh kesumat. Sudah saatnya aku meninggalkan semua itu. Aku akan datang ke dunia yang menerima wanita boleh menjadi siapa saja. Jika memang dunia itu ada. 

Sebagai awalnya, aku berani menantang mata ibuku ketika ia melempar nampan tempat ingkung ayam jago yang baru saja aku patahkan pahanya.

“Sungguh, sejak kamu menjadi wanita malam, tingkahmu  makin tak tahu adat!” bisik ibuku, tajam.

“Ibu, aku sudah bosan menjadi nomor dua! Aku bisa menjadi nomor satu!”

“Jadi semenjak kau bisa pentas dengan ayahmu, itu berarti kamu sudah bisa menginjak kepala ayahmu?”

“Apa maksud Ibu? Hanya karena aku makan ayam sebelum Ayah memakannya? Sebelum kakak–kakakku menghabiskannya? Lalu aku hanya kebagian ceker yang bahkan tinggal kukunya?”

“Hushhh... berandalan!”

“Ibu, maafkan saya yang tak bisa lagi menjadi seperti Ibu. Menunduk, tapi sebenarnya tegak menantang dari belakang. Sampai berapa lama Ibu mampu menyimpan dendam yang tak terucap itu? Alam lebih luas untuk menampung serapah Ibu dibandingkan tubuh ringkih Ibu. Maka, tumpahkan dengan lantang dan itu akan membuat Ibu terbebas dari energi buruk yang Ibu tutupi selama ini,” kataku, tanpa beralih dari wajah wanita yang sangat aku sayangi, tapi sekaligus aku ingin membakarnya.

“Lancang sekali kau!” Sebuah tamparan keras sekali mendarat di pipiku. Perihnya terasa benar hingga ujung kaki. Mataku berair, bukan karena tak kuat menahan pipiku yang memanas, tapi lebih kepada menyusun kekuatan untuk meredakan darahku yang mendidih.

“Saya tak pernah tahu mengapa Ibu sangat benci pada Nyai Wuning, lalu pada seluruh sinden dan aku yang ingin menjadi dalang. Kalau tak ingin aku menjadi dalang, mengapa kau alirkan darah dalang dalam diriku? Mengapa dulu Ibu tak menikah saja dengan dokter, polisi, atau presiden? Hingga tak ada darah dalang yang mengalir deras dalam diri anakmu?” Itu kata–kataku mengakhiri pertengkaran itu. Aku berlari menuju kamar, meraup baju sekenanya. Kuletakkan di atas kain taplak warna merah, lalu kuikat membentuk bungkusan siap jinjing.

Ketika aku melangkah membuka pintu gebyog, jujur aku ragu dengan langkahku. Aku berharap Ibu memanggil namaku untuk kembali. Detik menggumpal, menit membentuk gunungan, hanya desir angin selamat tinggal yang kudengar. Kubulatkan tekad dan kakiku melangkah dengan pasti, keluar dari rumah joglo yang telah membesarkan aku. Walau penuh ironi, tetap saja indah ketika aku akan pergi. Rumah yang telah menaungi segenap mimpi muda dan cinta tak bertakhta. Seribu bintang di langit malam menerangi langkahku. Jauh di belakang sana, samar kudengar. Isak tangis seorang ibu.

Pagi sudah lama bangun. Sinar mentari menerobos gedung–gedung tinggi. Hangatnya menyelimuti kulit kami. Sementara tiang–tiang tratag satu per satu dirobohkan.

“Begitulah, Rhe... akhirnya aku berangkat ke Jakata naik kereta. Di sini aku menemui pamanku, adik dari ayahku. Pamanku, Ki Nata Carita, adalah dalang RRI. Walaupun aku punya bakat alami,  beliaulah yang mengasahku. Aku diberikan kesempatan pentas berbagai kesempatan. Awalnya hanya membantu, tapi lama-kelamaan aku bisa pentas sendiri. Di Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, lalu menjadi dalang untuk program televisi. Sampai kini,” kata Bu Dalang, sembari menghabiskan air mineral dari botol.

“Lalu, apakah ibu Bu Dalang sudah memaafkan?” tanyaku. Bu Dalang mendesah. Lalu tersenyum.

“Aku tidak tahu pasti. Ibuku masih sama, bahkan hingga beliau wafat. Selalu tampak tersenyum, menunduk, tapi penuh dendam menyala. Baru kuketahui kemudian... ketika ibuku wafat, pamanku menceritakan semuanya.” Sampai di sini, Bu Dalang menatap matahari yang mulai beranjak. Seakan ingin menantang panas yang sebentar lagi singgah.

“Ayahku jatuh cinta pada Nyai Wuning. Walau Ayah berusaha untuk menahannya,  cinta itu membuat hubungan antara ayah dan ibuku tak pernah sama lagi. Itu yang membuat Ibu terbakar dendam tanpa bisa menyalahkan Ayah, yang akhirnya menuntunnya menjadi dendam tak masuk akal. Dendam pada sinden dan semua wanita wayang yang berkeliaran di malam–malam dingin. Teramat pahit baginya ketika anak perempuan satu–satunya masuk dalam lingkaran malam. Sementara Ibu begitu mendewakan sopan santun wanita Jawa. Ha...ha...ha... bukankah sopan santun itu masih berlaku ketika semesta ini ideal untuk ditinggali?” Kami pun tergelak. Tawa yang renyah.

“Ayah Bu Dalang tahu kalau Ibu jatuh cinta pada anak kekasihnya?”

“Ha...ha...ha... entahlah. Ayahku tahu dua hal yang paling kuinginkan dalam hidupku. Kekasih dan wayang–wayang itu. Makanya, ketika kekasih membuatnya pusing untuk bersikap, beliau mendukungku untuk keinginanku yang lain, yaitu menjadi dalang. Lama sekali ayahku merahasiakan keberadaanku yang ngenger di rumah adiknya. Baru ketika aku akan menikah, Ayah memberi tahu ibuku.”

“Pasti menyakitkan bagi hati ibu Bu Dalang, ya?”

“Mungkin tidak lagi. Karena, saat pernikahanku, Nyai Wuning sudah meninggal karena sakit kanker otak.”

“Lalu Pak Bhisma... apakah Ibu pernah menemuinya?” 

Mendengar nama itu disebut, Bu Dalang bergeming. Lama sekali seperti mengurai benang kusut.


Titik Kartitiani
. Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Titik Kartitiani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Kejora Membunuh Cahaya [9]"