Kenangan Kematian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kenangan Kematian Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:44 Rating: 4,5

Kenangan Kematian

MENERIMA kabar kematian adalah hal yang membingungkan buatku. Bagaimana aku bersikap di hadapan orang terdekat adalah hal yang harus dipikirkan. Atau mungkin aku biarkan saja secara spontanitas.

KEMARIN malam, aku terbangun oleh dering telefon dari Bandung. Ayahku mengabarkan bahwa apa sudah meninggal beberapa menit sebelumnya. Apa adalah panggilan untuk kakekku. Dia sudah renta, tapi belum pikun. Karena permintaan ayah, aku pun segera bergegas besok malamnya.

Perjalanan ini sungguh panjang, menaiki kereta dari Yogyakarta menuju Bandung dengan kantung pucat di bawah mata. Aku duduk dekat jendela, melamun entah ke mana, dengan pandangan mata jauh ke luar. Penumpang tidak terlalu banyak dibanding akhir pekan, berbeda dengan kereta kelas ekonomi yang tiak aku naiki. Di luar, gedung silih berganti dengan cepat, digantikan dengan rumah-rumah yang lampunya temaram, lalu sawah yang gelap, perumahan, lalu sawah lagi. Keharusan berkumpul karena kematian adalah alasan dalam perjalanan ini.

Apa yang harus aku lakukan jika tiba nanti? Sedih? Ya, aku harus menampilkan muka sedi di depan sanak saudara nanti. Menangis? Untuk hal ini, aku kira tidak. Karena aku perempuan kuat. Atau juga dingin. Aku harus jujur pada diriku sendiri, kematian apa tidak membuatku bersedih dan ingin menangis. Kehidupanku akan baik-baik saja. Mungkin aku terlalu egosi. Atau mungkin bertahun tidka bertemu membuat perasaanku beku terhadap apa. Ah, enyahlah!" Maafkan aku, Apa. Saraswati cucumu ini yang kurang ajar. Aku hanya bisa berdoa untuk kebaikanmu di alam sana.

Malam yang tenang menuju Bandung, aku menikmatinya dalam kekusutan muka yang kurang tidur. Beruntung, tidak ada orang di sebelah yang mengajakku ngobrol. Jika pun ada, aku akan malas untuk menyahut dan akan menunjukkan sikap terganggu oleh pertanyaannya. Aku sedang asyik sendiri, tenggelam dalam masa kecilku. Hanya klakson kereta yang terkadang membawaku kembali duduk di salah satu kursi dalam kereta.

Aku memikirkan apa. Kapan terakhir kali kita bertemu? Mungkin lima atau enam tahun yang lalu. Saat itu, aku sudah duduk di bangku SMA dan menghabiskan waktu berkumpul bersama teman dibandingkan dengan keluarga. Apalagi berkunjung ke rumah apa yang letaknya jauh dari rumah. Aku tidak ada waktu untuk itu pada saat insting bermain anak muda menguasai. Hanya ayah, almarhum ibu, dan Wisnu --adikku-- yang berkunjung ke sana.

"Ara, Apa ingin bertemu denganmu. Katanya dia kangen sama cucu perempuannya." Aku ingat bebera[a tahun lalu ketika ayah mengajak ke rumah apa, sedangkan aku masih di atas ranjang, masih mengantuk dan berleha-leha untuk menjawab.

"Lain waktu saja, Pah. Ara ada janji sama Meli mau pergi ke toko buku." Ada saja alasan agar aku tidak pergi ke rumah apa. Sampai bertahun-tahun?

Selepas SMA adalag saat yang aku tunggu untuk meninggalkan rumah. Selain untuk kuliah, juga permasalahan dengan ayah hingga membuatku malas untuk membalas pertanyaa dan perhatian darinya. Meninggalnya ibu membuatku tak kerasan untuk serumah dengan ayah, tetapi tidak dengan Wisnu. Saat itu, aku terlalu menyalahkan ayah sebagai pengemudi motor yang membonceng ibu ketika mengantarnya ke sekolah untuk mengajar. Kejadiannya begitu cepat, tanpa firasat dan untukku berucap maaf pada ibu. Terkadang begitulah perilaku kematian.

Dalam masa berkabung, beberapa kali ayah meminta maaf dan menyesal kepada semua keluarga, terutama kepadaku. Aku tahu, beberapa minggu setelah kepergian ibu, wajah ayah selalu pucat. Dia sering menyendiri di halaman belakang dengan buku keuangannya meskipun aku tahu dia tidak fokus dengan buku itu. Sekarang, aku menyadari bahwa ayahlah yang paling tertekan atas kematian ibu meski bukanlah sepenuhnya kesalahannya. Ayah menghindar dari anak kecil yang menyeberang tanpa melihat sekitar, tetapi di depannya mobil truk sudah siap menghantam. Naifnya aku yang belum memaafkannya secara lisan meskipun hubungan kami sudah baik-baik saja.

**
KLAKSON kereta menjerit. Entah stasiun mana dan ke berapa kereta berhenti, aku tidak beranjak untuk ke kamar kecil ataupun membeli cemilan. Aku tetap duduk di kusriku. Dalam perjalanan ini, aku hanyut dalam masa lalu. Kematian apa lah yang menarikku. Aku tetap terjaga, tak sempat menikmati pemandangan malam yang sekilas-sekilas. Memikirkan hal itu, kadang aku rindu dengan masa kecilku. Bodohnya aku yang melupakan tentang apa yang pernah menjadi orang terdekat dalam hidupku. Justru apa lah yang memberikan nama Saraswati kepadaku. "Kenapa aku lupa akan hal itu?" Almarhumah ibu pernah memberitahukannya saat kami duduk di teras depan sambil membuat kerajinan dari kertas untuk tirai kamarku.

"Beberapa tahun pertama pernikahan ibu dengan ayah, kita masih numpang di rumah apa. Bahkan ketika ibu sedang mengandung dan melahirkanmu, Ra," kata ibu sambil menekuni kerajinannya. "Saat itu, ayah belum menjadi bandar ubi. Dia masih petani yang numpang di tanah milik apa."

"Hah....masak?" balasku.

"Iya, Ra. Apa memang baik orangnya. Apa jugalah yang memberi nama cucu pertamanya, kamu. Saraswati." Aku ingat obrolan itu.

Sebelum SMA, masa yang menyibukkan untuk berkumpul dengan teman. Aku sering berkunjung ke rumah apa. Aku akan menghabiskan libur panjangku di sana. Saat itu, aku masih duduk di kelas 5 SD ketika amih, nenek tersayang, masih ada. Wisnu belum lahir. Setiap hari, aku diajak apa pergi ke ladang. Bersama amih, aku membawa bekal makan selama di sana. Ladangnya terbilang luas, bercampur dengan rumpun bambu dan pohon keras di beberapa tempat. Tanaman utama yang ditanam apa dan amih adalah ubi.

Tempat apa memang terkenal dengan ubinya yang khas. Selain ukurannya yang besar, juga rasanya yang manis. Di samping ubi, apa juga menanam padi dan tanaman tumpang sari. Bila panen ubi tida,, mereka akan menjualnya ke pengepul di dekat jalan raya, letaknya lumayan jauh bila berjalan kaki. Aku pernah ikut apa mengantarkan ubi ke sana yang mengakibatkan aku di gendong olehnya ketika pulang.

Selama liburan itu, sebagai anak kecil, aku tidak merindukan ayah, ibu, dan Wisnmu. Di rumahapa ada tetangga yang sebaya  denganku, namanya Teguh. Dia suka membantu dan ikut ke ladang bersama kami. Meskipun sering bertengkar, aku dan Teguh sepat akur. Dia bocah yang ingusnya selalu mengerak di sekitar lubang hidung dan pipi. Entahlah, sekarang ke mana anak itu, yang memanggila apa-ku dengan sebutan "abah."

Di sela waktu luang yang banyak, apa sering menceritakan kepadaku kisah-kisah orangtua zaman dulu, kisah wayang, dan Nu Gellis Nyi Pohaci. Saat itu, kami sedang beristirahat di gubuk yang berada di ladang. Apa menanggalkan cangkulnya yang setia, mengusap peluh di sekitar muka, lalu kami makan bersama. Amih mengalaskan nasi untuk kami di atas piring yang terbuat dari logam. Sambil makan, kami mengobrol.

"Kalo dulu itu, nasi yang kita makan, padinya ditanam di sini, di ladang," kata apa sambil  menunjuk ke arah belakang gubuk.

"Hah? Bukannya di sawah, Pa?" sahutku dengan polos, dibarengi suara uir-uir pada musim kemarau. Saat itu, kami makan dengan goreng tahu, tempe, ikan asin, sambal, dan tumis kangkung. Dibandingkan dengan saat itu, sekarang aku bisa membayangkan bagaimana nikmatnya hidangan di ladang.

"Iya itu sekarang. Kalau dulu, menanamnya di ladang, Ra." pungkas apa.

Untuk ukuran bocah, aku tidak mengerti dan tidak tertarik dengan obrolan apa. Yang membuatku tertarik adalah ketika dia menceritakan bagaimana padi dibawa berarak dari ladang ke leuit (lumbung) menggunakan rengkong sambil memeragakan dirinya memikul batang bambu besar dengan geugeusan padi (kumpulan padi yang diikat) yang menggantung di kedua ujungnya. Sambil menggoyangkan bahu, apa menirukan suara rengkong yang dihasilkan dari gesekan tali dan bambu, "Ngek..ngok..ngek..ngok...!" dengan nasi yang belum ia telan menyumpal mulutnya. Di situ, aku tertawa terbahak bersama amih. "Begitu suaranya." kata apa.

"Telan dulu, Pa, nanti tersedak," amih memperingatkan sambil menepuk apa dan tertawa.

Hari minggu. Aku ingat ketika diajak ke rumah pak RT yang letaknya berdekatan dengan pos ronda. Aku membawa sekantong keresek ubi, sedangkan apa satu karung penuh yang dipikulnya di bahu. DI perjalanan, aku bertanya-tanya, apakah ubi ini akan dijual?

"Kebetulan, sekarang ini, dilakukannya di rumah pak RT." Entah kepada siapa apa bicara.

"Apanya, Pa?" balasku bingung.

"Ini, acara Hajat Bumi Desa."

Aku tidak mengerti apa itu Hajat Bumi Desa. Yang pasti, sesampainya di sana, banyak warga yang sedang memasak. Laki-laki dan perempuan di hadapan tungku yang juymlahnya mungkin sepuluh atau lebih. Ada juga yang mencuci beras di sumur, mengupas ubi jalar, dan mengeluarkan hasil panen dari karung lalu merapikannya. Banyak sekali hasil panennya, mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, kacang-kacangan, dan sebagainya. Kesibukan macam apa ini? Dan, yang sedang berlari-lari mengejar anak ayam itu Teguh. Aku berjalan menghampirinya dan ikut bergabung mengejar anak ayam yang tak bersalah.

Dalam kesibukan warga yang hiruk-pikuk, tetapi terlihat menyenangkan, terdengarlah musik yang mengalun lembut. Aku mencari-cari di mana asal suara itu. Ternyata berasal dari dalam rumah pak RT. Ada dua kakek-kakek yang sedang memainkan alat musik gesek dan petik. Kata apa, itu adalah tarawangsa, kesenian yang digunakan untuk menghibur Nu Geulis Nyi Pohaci ketika panen ataupun acara-acara besar seperti Hajat Bumi ini.

Dulu, aku tidak tahu siapa itu Nyi Pohaci. Sekarang aku tahu, dialah Dewi Kesuburan yang dipercaya asal-muasal padi dan tanaman lainnya yang dikonsumsi. Aku merasa takjub masih bisa menemukan masyarakat yang masih menganut kepercayaan orang-orang dulu, mungkin apa juga salah satunya.

Ah, apa...apa-ku sayang. Aku merindukan saat-saat dulu yang pernah aku miliki. Kini kau sudah tiada, juga amih tercinta dan ibuku tersayang. Kalian sudah pergi. Dan, Ayah, aku masih membutuhkanmu. Maafkan aku selama ini, Ayah!

**
KLAKSON kereta berbunyi lagi. Aku menyadari sedang tersenyum manis dan meneteskan air mata. Aku menangis bukan karena sedih. Aku bahagia pernah memiliki kehidupan seperti itu, sebuah kehidupan sederhana bersama orangtua terdekat. Apa, amih, ibu, aku rindu kaliam. Aku merindukan diriku yang riang dalam keluarga, tidak memikirkan hidup dan  tugas akhir yang menyebalkan, apalagi usia.

Kereta berhenti. Aku bersiap turun dnegan ransel berisi tiga pakaian ganti. Keluar dari pintu gerbang stasiun, sosok ayah sudah terlihat dari jauh. Aku tak kuat ingin berlari sambil berlinang air mata dan memeluknya. Entah kenapa aku ingin melakukan itu, sedih atau bahagia? Aku berjalan perlahan. Aku mendekat kepada ayah dan salim layaknya anak pada orangtua. "Terima kasih, Ayah," gumamku.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hendra Sandi Nugraha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 1 November 2015

0 Response to "Kenangan Kematian"