Kepak Sayap Merpati [10] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepak Sayap Merpati [10] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:12 Rating: 4,5

Kepak Sayap Merpati [10]

Ben terus memejamkan matanya sampai gadis itu pergi. Berapa lama sudah ia menunggu kata-kata seperti yang diucapkan oleh gadis itu tadi. Paling tidak, ia ingin sekali mendengar dari orang tuanya, bahwa kematian Tim bukan kesalahannya. Sejak pemakaman Tim, mereka tidak pernah membicarakan tentang hal itu lagi.

Ayahnya sama membisunya, ketika ia diterima di akademi kepolisian. Ben menerka pikiran ayahnya. Tidak usah repot-repot, Ben, sekalipun menjadi polisi, ia tidak bisa mengembalikan kembarannya.

Ah, kalau saja Tim masih hidup, ia tentu sudah mengatakan hal yang sebenarnya. Bukan ia yang sudah gagal menjaga kembarannya. Apa yang Tim lakukan adalah keputusannya sendiri. Keputusan seorang anak berusia 8 tahun. Apa yang didengarnya dari gadis itu lebih dari cukup. Ia tidak lagi merasa duduk di kursi terdakwa. Melalui kelopak mata yang tertutup, Ben melihat perasaan bersalahnya selama ini terbang menjauhi rongga dadanya.

“Aku kira, aku akan pulang sendirian,” kata Ben, ketika melihat Katrin sedang menanti pesawat yang membawa mereka kembali ke Semarang.

“Aku pikir juga begitu,“ sahut gadis itu.

Selama perjalanan pulang, mereka tidak banyak berbicara satu sama lain. Ben menganggap mereka adalah dua anak manusia yang saling mengerti rahasia yang paling gelap dan ingin menyimpannya di relung hati yang paling dalam. Gadis itu sepertinya mulai tidak tahan dengan kebisuan mereka. Pria itu bahkan sama sekali tidak bertanya apakah ia mau minum.

“Salahkah aku, jika aku memilih kembali ke Jerman, Ben?“ tanyanya. Ia kemudian tertawa sendiri. “Dokter Klaus benar. Aku selalu merasa bersalah dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di muka bumi. Ibuku mengatakan, saat ini tempat dan kesempatanku bukan dengan hidup bersamanya. Ia tidak ingin aku memulai segalanya dari nol lagi. Aku sendiri tidak yakin, apakah selama ini aku pernah memulai sesuatu. Ia menganjurkanku untuk menyelesaikan sekolah dulu. Aku pikir, ia ada benarnya juga. Sulit dipercaya, bahwa dulu aku jagonya matematika. Pernah mendengar biomolekul? Ya, tentu saja, beberapa bidang berhubungan erat dengan pekerjaan forensik. Aku dengar, di Jenewa ada fakultas terbaik biomolekular. Mungkin aku akan ke sana,“ kata Katrin, sambil mengambil penutup mata dan meletakkan di kepala seperti mengenakan bando.

“Sejauh itu? Bukankah di Universitas Dortmund juga ada? Belum pernah dengar? Kenalkan, dekan fakultas biomolekul terbaru,“ kata Ben, sambil mengulurkan tangannya. Gadis itu tergelak menyambut uluran tangan pria itu.

“Kau sudah mau tidur lagi?“ tanya Ben.

“Ben, kita masih harus terbang berjam-jam,“ sahut Katrin.

Kenapa harus tidur, Katrin, tanya Ben dalam hati. Bukankah kita baru mulai bicara? Ben mulai bercerita tentang anak sapi jantan yang diberi nama Briggite, tentang kebiasaannya mengendus sesuatu, walaupun tahu baunya tidak enak. Ia bahkan tidak bisa menahan diri untuk menceritakan perihal ibunya.

“Ibumu sepertinya termasuk orang yang bisa menikmati hidup. Ia sudah menguburkan suami dan anaknya, tapi tidak kehilangan semangat untuk mengadopsi anak sapi,“ sahut Katrin.

“Selain ibuku, tidak banyak orang yang tahu apa yang mereka benar-benar inginkan. Ibuku sudah mulai tua, mulai pelupa. Orang menyebutnya sebagai gejala pikun, alzheimer, dimensia, entah apa namanya. Tapi, ia sudah memutuskan. Ia memilih mati di Swiss daripada menjadi pikun di panti jompo,” Ben melirik gadis itu. “Bisakah kau bayangkan rombongan turis yang terdiri dari orang-orang tua pergi naik bus ke Swiss, tapi yang kembali hanya sopirnya saja?” tanya Ben.

“Paling tidak, hidupnya tidak harus berakhir seperti nenekku. Bayangan untuk mati kesepian lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Kalau saja aku tidak pergi untuk mengikuti kontes matematika bodoh itu, ia tidak harus sendirian,” kata Katrin, sambil membuka penutup matanya.

Saat mereka berada kembali di bandar udara Dusseldorf, suasana tidak banyak berubah. Di luar terlihat musim gugur sudah meninggalkan jejaknya. Hanya satu-dua daun yang tersisa di ranting-ranting pohon. Cakrawala seperti ditutup kain kelabu.

“Tolong jaga dirimu baik-baik. Paling tidak lakukan itu untuk dirimu sendiri dan ibumu.” Walaupun ada banyak hal yang Ben ingin katakan, hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. “Kalau perlu sesuatu, tolong hubungi aku, apa saja.”

“Tentu saja, Ben, terima kasih untuk segalanya,” gadis itu menjabat erat jemarinya. Ketika mereka berada di persimpangan, Katrin memilih arah lain. Ben menatap punggung itu. Ia memanggil namanya sekali lagi.

“Kau sudah lupa syalmu,” kata Ben sambil mengeluarkan syal hitam yang ia temukan di atas kursi pesawat dari ranselnya. Gadis itu mengalungkan syal di leher dan memeluknya. “Selamat jalan, Ben,” bisiknya, sebelum melangkah pergi.

Hanya sampai di sini saja? keluh Ben. Sesekali ia melihat ke belakang. Gadis itu berjalan tanpa menoleh sekali pun ke arahnya. Keningnya kembali berdenyut.

Ben merogoh isi kantong jaket untuk mencari sisa tablet aspirin. Senyumnya mengembang saat ia menemukan secarik kertas. Di atasnya tertera sebuah alamat di Nordstadt. Bukankah tempat itu tempat kelahiran tim sepak bola kesayangannya, Borussia Dortmund? Pasti gadis itu telah memasukkan diam-diam, saat memeluknya. Ben merapatkan kerah jaket. Senyumnya makin berkembang seperti dipinjamkan sepasang sayap. Selamat datang kembali di rumah, bisiknya pada diri sendiri. (tamat)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Pratiwi Sossdorf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Kepak Sayap Merpati [10]"