Kepak Sayap Merpati [3] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepak Sayap Merpati [3] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:46 Rating: 4,5

Kepak Sayap Merpati [3]

“Beberapa unit apartemen dibangun menyerupai paviliun kecil. Lengkap dengan ruang tamu, meja makan dan dapur,” lanjutnya lagi, sambil menunjuk sederet paviliun yang dibangun di sisi gedung utama dari jendela. “Selain itu kami juga menyediakan fasilitas dapur umum, ruangan untuk acara keluarga, kapel, salon, ruang fitness dan rehabilitasi. Setelah ini, saya akan menunjukkan fasilitas yang lain,” katanya, sambil mempersilakan Ben masuk lift.

“Bagaimana dengan kegiatan di luar?” tanya Ben, sambil mengamati kolam renang berbentuk segi empat dari dinding kaca. Ukurannya cukup besar untuk menampung seluruh penghuni panti. 

”Secara teratur kami menyediakan kegiatan di luar, seperti menonton konser, kursus dansa dan tur luar kota. Kami bahkan memiliki kendaraan bus sendiri untuk keperluan tersebut.” Sebuah melodi terdengar dari arah kantong celana perawat tersebut. Tergopoh-gopoh pria itu mengambil telepon genggam. Setelah mengatakan ‘ya’ dan ‘segera’, pria itu meminta maaf karena ada hal mendadak yang harus diselesaikan.
Ben melaju meninggalkan Kota Dortmund. Tanah yang tadinya datar dengan bangunan-bangunan tinggi, berganti dengan kawasan berbukit. Di sisi jalan hanya terlihat pohon-pohon yang tumbuh liar menyerupai hutan. Beberapa saat kemudian, ia berbelok menuju Ennepetal, tempat kelahirannya. 

Di sisi jalan terdapat sederetan rumah berbentuk bujursangkar dengan atapnya yang lancip. Rumah-rumah itu semuanya berwarna abu-abu. Beberapa bekas pabrik sisa kejayaan zaman industri masih berdiri di sisi jalan. Memasuki pinggiran kota, terlihat beberapa rumah perternakan dengan padang rumput yang dibatasi oleh pagar kawat. Di musim panas orang bisa melihat sapi dan kuda di padang rumput tersebut. 

Ben berbelok ke salah satu perternakan. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan ibunya. Ia harus mencuci tangan dan segera duduk di meja makan, sebelum masakannya dingin. Ia membuka pintu. Hari ini ia tidak mendengar apa pun. Ia hanya mencium bau masakan yang minyaknya sudah habis menguap. Ben bergegas menuju dapur. Asap dan bau gosong membuatnya terbatuk-batuk. Di atas wajan terdapat gumpalan daging yang sudah menyerupai batu bara. Ia tidak tahu berapa lama wajan itu sudah berada di atas kompor. Yang ia tahu gagang wajan itu sudah begitu panas, sehingga melemparkannya begitu saja ke tempat cucian piring.

Karena tidak menemukan seorang pun di rumah, Ben pergi ke kandang ternak. Semasa ayahnya masih hidup, perternakan itu menampung beberapa ekor kuda, dua lusin domba, dan sapi perah. Tidak terhitung ayam, bebek, dan kelinci. Di kandang ia menemukan ibunya sedang memberikan botol susu ke seekor anak sapi. Bau jerami yang berbaur dengan bau kotoran hewan menjadi ciri khas ruangan yang dinding dan atapnya terbuat dari kayu.

“Gitte, lihat, Ben sudah datang. Ben, perkenalkan ini Gitte, anggota keluarga kita yang terbaru,“ kata Nyonya Hiller. 

“Ma, kau lupa mematikan kompor lagi,“ kata Ben. Ia heran dari mana ibunya mendapatkan anak sapi tersebut. 

“Astaga, makan apa kita hari ini?“

“Bukan itu yang aku khawatirkan, Ma. Kalau rumahmu terbakar bagamana?“ jawab Ben. Ia melihat ibunya masih mengenakan gaun tidur. Ia menyesal mengapa ia tidak mengenakan jaketnya. Paling tidak ia bisa meletakkan di bahu ibunya. 

“Dari mana kau dapatkan sapi ini?“ tanya Ben, sambil meneliti anak sapi itu dari belakang. “Ma, kau sudah menamai anak sapi jantan ini Gitte?“ ia mengambil botol susu dari tangan ibunya.

“Kenapa tidak Ben? Lihat matanya, bukankah seperti mata nenekmu. Makanya, aku namakan seperti nama nenekmu, Brigitte. Keluarga Weinberger tidak memerlukan anak sapi jantan. Daripada dijadikan steak, aku adopsi saja. Kau harus bertemu dengan Annika,“ nada suara ibunya terdengar bergairah. 

“Siapa Annika?“ tanya Ben, menuntun ibunya ke rumah.

“Dokter hewan yang menolong kelahiran Gitte. Orangnya cantik sekali.“

“Ke mana Dokter Hildegard?“ tanya Ben.

“Apakah aku tidak mengatakan kepadamu, Ben? Ia sudah pensiun. Anak perempuannya menggantikan pekerjaan ibunya.“

“Aku tidak tahu kalau Dokter Hildegrad punya anak perempuan,”.

“Tentu saja kau tahu. Kalian pernah bertemu di ruang praktik dokter. Waktu itu kau membawa kelincimu yang sakit.“

“Ah, Annika yang itu? Aku sudah lupa. Lagi pula, saat itu umurku baru tujuh tahun.“ Ben melihat ibunya mengambil daging giling dari kulkas. “Ma, kau tidak perlu membuat perkedel daging lagi. Bagaimana kalau kita pergi ke restoran untuk makan siang? Aku tadi lewat restoran Blaue Ente. Aku jadi bernafsu untuk makan bebek panggang.“

“Blaue Ente? Bulan kemarin aku mengajak Gisela ke sana. Kau tahu anak itu sudah banyak membantuku mengurus perternakan. Rasa sausnya sudah berbeda. Aku yakin mereka memakai bumbu instan. Aku tidak menentang bumbu instan. Aku sendiri kadang memakainya. Tapi, kalau aku harus membayar 20 euro untuk satu piring, itu namanya penipuan,” sungut wanita itu. “Astaga, Ben, aku lupa kalau sudah memasukkan kentang panggang di oven!”

“Jangan khawatir, Ma, ovennya sudah aku matikan,“ kata Ben.

“Nah, apa salahnya kalau hari ini kita berpura-pura menjadi vegetarian?“ kata Nyonya Hiller. 

Seperti biasa, selesai makan, Ben membawa piring dan gelas kotor ke tempat cucian. Sementara ibunya merebus air untuk menyeduh kopi, ia akan mencuci, mengelap, dan meletakkan piring dan gelas di lemari. Satu bulan setelah kematian ayahnya, ia mengunjungi ibunya setiap hari Sabtu untuk makan siang bersama. Kebiasaan mereka di hari Sabtu menjadi sebuah ritual yang tidak bisa diganggu gugat atau dibatalkan, karena alasan apa pun.

“Apakah kau sudah membaca brosur yang aku bawa?” tanya Ben.

“Kau masih mau mengirimku ke panti jompo?” sahut ibunya

“Ma, tempat itu bukan panti jompo. Mereka menyebutnya kediaman para senior. Pagi ini aku sudah melihat satu tempat lagi. Bagus sekali, seperti hotel berbintang lima,“ Ben mengeluarkan brosur dan meletakan di atas meja. “Bagaimana dengan rumah sosial? Kau bahkan bisa memiliki apartemen sendiri.“

“Maksudmu aku harus menjual rumah ini? Kalau ayahmu tahu, ia bisa bangkit dari kubur! Satu-satunya orang yang berhak menentukan hidupku adalah aku sendiri, Ben.“

“Ya, bagaimana kau menjelaskan pihak asuransi dan polisi, jika rumah ini terbakar atau kebanjiran karena kau lupa mematikan keran?“ nada suara Ben mulai tinggi.  “Maaf, Ma, aku hanya khawatir denganmu. Aku tidak bisa seharian di sini untuk mematikan kompor dan keran.“

“Kalau sudah waktunya nanti, kau hanya perlu mengantarkanku ke Swiss. Di sana aku bisa mati dengan harga diri. Aku tidak harus menjadi pikun. Aku bisa mati dengan tenang, tanpa rasa sakit lagi. Kalau perlu aku sendiri yang akan menghubungi organisasi kemanusiaan Dignitas. Mereka akan mencarikan dokter yang bersedia memberiku pil yang membawaku ke nirwana,“ kata wanita itu, sambil membuka lemari dan mengambil guntingan koran.

“Kau sudah memintaku untuk mengantarkanmu bunuh diri,“ Ben membaca sekilas judul artikel itu: dukungan terhadap kematian. Sementara orang-orang tua di negara Swiss berhak bahkan mendapat dukungan untuk mengakhiri hidup, di Jerman tema ini menjadi bahan perdebatan dari segi etik, moral, dan hukum. 

“Tenang saja, Ben, di Jerman orang tidak bakalan dihukum kalau membantu orang bunuh diri.“

“Aku tahu itu, tapi tolong pikirkan lagi mengenai kediaman para senior. Paling tidak dilihat dulu,“ Ben harus mengakhiri percakapan mereka, sebelum perutnya mulas didera perasaaan bersalah, karena tidak mampu untuk terus-menerus mengawasi ibunya.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Pratiwi Sossdorf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 


0 Response to "Kepak Sayap Merpati [3]"