Kepak Sayap Merpati [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepak Sayap Merpati [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:51 Rating: 4,5

Kepak Sayap Merpati [5]

Saat itu Katrin merasa seperti seorang serdadu yang memutuskan untuk melakukan aksi disersi. Mogok bertempur dan memilih melarikan diri. Tanpa banyak berkata-kata, ia meminta surat pemberhentian diri. Ketika pengawasnya menyodorkan kertas pengakuan mencuri, ia melirik dan menandatanganinya. Ia hanya ingin sesegera mungkin keluar dari ruangan ini. Satu-satunya hal yang menganggu adalah pertanyaan apa yang ia harus lakukan esok hari. Bukankah selama ini pekerjaannya yang telah memaksanya untuk bangun di pagi hari? Tidak peduli yang ia inginkan hanyalah tetap tidur dan tidak pernah bangun lagi? 

Tanpa melihat tujuan, Katrin naik kereta api bawah tanah sampai stasiun terakhir. Di sana ia melihat lampu-lampu reklame di salah satu gedung. Sinarnya yang berkelap-kelip mengundangnya untuk datang. 

“Salah satu rekan Anda sudah mengakui perbuatannya. Ia tidak bisa mengelak lagi. Diam-diam, pemilik supermarket, tanpa sepengetahuan siapa pun, telah menginstalasi kamera di ruang ganti karyawan. Satu hal yang sebenarnya melanggar hak individu, tapi hal itu telah menolong membersihkan namamu,” suara Ben menyadarkannya kembali.

“Kapan boleh pulang?” tanya Ben.

“Hari ini,” jawab Katrin. 

“Perlu diantar?” tanya Ben, sambil bangkit dari kursinya.

“Tidak. Bukankah kau seharusnya bekerja?” tanya gadis itu.

”Kalau perlu sesuatu, tolong hubungi aku. Apa saja,“ Ben mencoba menangkap emosi di kedua bola mata yang tertuju padanya. 

Katrin memejamkan matanya kembali. Ia menikmati cahaya matahari terakhir, sebelum musim gugur menjarah habis sisa-sia kehangatan musim panas tahun ini. Ia masih ingat tempat ia bisa menikmati cahaya matahari sepanjang tahun. Satu tempat jauh di belahan bumi lain, di ekuator. 

Untuk pertama kalinya ia benar-benar memperhatikan matahari dari jendela pesawat terbang. Ia terpesona dengan bola api berpigura warna emas dan perak yang menyala-nyala. Waktu itu ia ingin sekali membangunkan ibunya yang sedang tidur di sebelahnya. Ia sebenarnya juga mengantuk, tapi tidak bisa memejamkan matanya. Rasanya sudah lama sekali mereka duduk di dalam pesawat. Ia bahkan sudah mengarang kata-kata yang akan ia ucapkan, kalau bertemu dengan nenek, sepupu, paman, dan bibinya. Selama ini ia hanya mendengar cerita tentang keluarganya dari mulut ibunya. Ia tidak lagi merasa sendirian. 

Menjadi anak tunggal sebenarnya tidak terlalu jelek. Ia tidak perlu membagi perhatian dan kasih sayang orang tuanya kepada orang lain. Sejak lahir sampai usia lima tahun, ia tinggal di sebuah apartemen dengan tiga kamar di Dortmund. Setelah mempertimbangan banyak hal, orang tuanya akhirnya memberanikan diri untuk membangun sebuah rumah. Tidak sebesar rumah walikota, tapi rumah sendiri, kata ayahnya. 

Untuk itu, ayahnya mengambil kredit di beberapa bank. Waktu itu ayahnya sudah tiga tahun memulai usaha wiraswasta sebagai penasihat pajak. Usahanya sepertinya menjanjikan. Ia mempunyai klien tetap. Ibunya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Setelah proyek pembangunan rumah dimulai, ibunya memutuskan untuk bekerja sebagai tenaga bersih-bersih di sebuah kantor arsitek. Dengan modal tiga bulan kursus bahasa Jerman, ia sudah beruntung bisa mendapatkan pekerjaan tersebut. 

Untuk menghemat biaya, mereka membeli sebidang tanah di luar kota dan berniat untuk membangun sendiri rumah tersebut. Ayahnya menghabiskan setiap menit dari waktu luangnya untuk membangun rumah. Katrin menganggap tumpukan batu, semen, dan kayu sebagai tempat bermain yang tidak terbatas. Waktu itu ia masih terlalu kecil untuk menyadari bahwa pembangunan rumah itu sudah menggerogoti syaraf kedua orang tuanya. Ia heran mengapa mereka satu sama lain mulai berteriak, seperti pada hari ulang tahunnya yang keempat.

“Aku tidak sanggup lagi, kalau aku harus mengerjakan semuanya sendiri,” kata ayahnya kepada ibunya.

“Oh, jadi maksudmu aku sama sekali tidak mengerjakan apa-apa, cuma menonton? Kau pikir pekerjaanku hanya bersih-bersih di kantor saja? Siapa yang mengerjakan pekerjaan rumah? Kau kira semuanya berjalan otomatis? Aku seharusnya mogok kerja sehari, biar kau sesekali bisa menghargai pekerjaan rumah tangga,” sahut ibunya pedas.

“Kalau saja kamu mau belajar bagaimana memasang lemari dapur yang kau pesan, aku akan sangat berterima kasih.”

“Her, mana bisa kau menyuruhku untuk mengebor tembok dan menggantung lemari-lemari dapur itu,” kata ibunya setengah terisak.

“Kenapa tidak? Yang kau perlukan cuma membaca dan mengikuti instruksinya saja. Makanya belajar kalau tidak mengerti bahasanya. Semua perencanaan keuangan meleset. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana menutupi biaya yang membengkak,” jawab ayahnya.

Percakapan seperti itu biasanya berakhir dengan teriakan ayahnya dan tangisan ibunya. Lama-kelamaan, ibunya tidak lagi menangis tapi membalas teriakan ayahnya dengan suara yang lebih keras. Ia mulai mengancam untuk meninggalkan ayahnya. Satu-satunya hal yang ia takutkan adalah berpisah dengan Katrin, tapi tidak dengan ayahnya. Ayahnya menjawab ia boleh pergi sesukanya, tapi jangan pernah berpikir untuk membawa Katrin.
Sewaktu mereka pindah ke rumah yang baru, rumah itu belum sepenuhnya jadi. Di sana-sini masih ada bagian yang harus diselesaikan. Teras yang belum dibangun, balkon yang masih dipulas semen. Rumah itu dibangun dengan fondasi hubungan orang tuanya yang sudah retak. Ayahnya dari hari ke hari makin menarik diri. Ia menghabiskan waktu dengan duduk berjam-jam di ruang kerjanya. Ia makin jarang menerima klien. Kadang-kadang ia menghilang di ruang bawah tanah. Katrin hanya melihat beberapa koleksi minuman keras mendiang kakeknya dalam botol-botol miniatur mulai kosong. 

Sebagai kompensasi, ibunya terus menghias dan memenuhi rumah dengan barang-barang yang mengingatkannya pada kampung halamannya. Walaupun ia sudah mulai kehabisan tempat untuk meletakkan pot-pot bunga di dalam rumah, ia tetap mengumpulkan tanaman anggrek, pohon pisang, serai, cabai, tomat hijau, bahkan pohon avokad. Suatu hari ayahnya memutuskan untuk menjual rumah tersebut.

“Aku tadi pergi ke bank dengan maksud mengambil kredit baru. Kau tahu apa yang dikatakan pegawai bank? Kita lebih baik menjual rumah itu daripada mengambil kredit baru. Utang kita di bank sudah terlalu menumpuk, tidak bisa lagi mengambil kredit.

“Bagaimana kalau aku bekerja penuh, Her? tanya ibunya.

“Siapa yang akan mengurus Katrin? suara ayahnya mulai keras.

“Aku bisa titipkan di tempat penitipan anak. Ada ibu asuh di sekitar sini, aku sudah membacanya di koran.

“Dan membiarkan anakmu dididik oleh orang lain? Lagi pula, biaya penitipan anak tidak sedikit. Dengan gajimu yang tidak seberapa, kau hanya akan membuang uang dari jendela. Kita jual saja rumah ini. Aku sudah tidak sudi lagi membayar angsuran kredit. Berapa tahun aku baru bisa melunasi utang tersebut? Dua puluh, tiga puluh tahun? Sampai masuk liang kubur pun tidak akan lunas. 

“Her, tolong dipikirkan lagi. Aku sudah membuat sepotong kampung halaman di tempat ini. Sayang kalau kita harus mulai dari awal lagi. Bagaimana dengan ibumu, mungkin ia bisa sedikit menolong.

“Ibuku jangan disangkut-pautkan dengan urusan rumah ini. Dari uang pensiunnya kau tidak bisa berharap banyak. Kau tahu sendiri, ayahku cuma mewariskan koleksi botol kecil minuman keras. Kalau kau punya utang segunung, hidup di kampung halamanmu sendiri pun tidak bakalan nyaman, sahut ayahnya. Ibunya terdiam.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Pratiwi Sossdorf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Kepak Sayap Merpati [5]"