Kepak Sayap Merpati [6] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepak Sayap Merpati [6] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:59 Rating: 4,5

Kepak Sayap Merpati [6]

Berbulan-bulan ibunya menolak usul ayahnya untuk menjual rumah itu. Ayahnya sama sekali sudah menggantungkan palu dan gergaji. Entah atas pertimbangan apa, ibunya akhirnya menyetujui usulan untuk menjual rumah. Ia mengatakan, untuk liburan musim panas kali ini, ia ingin sekali membawa Katrin pulang ke Indonesia. Sejak membangun rumah, keuangan memang selalu pas-pasan. Tapi, ia sudah tidak pulang selama empat tahun. Ia menyetujui untuk menjual rumah itu, dengan syarat ayahnya harus menunggu sampai mereka kembali. Hanya satu bulan, janji ibunya. Ayahnya menyetujui. Awal pelarian Katrin.

Setelah bertemu dengan kakek dan neneknya di Bogor, Katrin diajak ibunya hidup berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain. Hanya dalam hitungan minggu, mereka menetap dari keluarga satu ke keluarga lain. Katrin selalu bertanya tentang keberadaan ayahnya. Ibunya menjawab, ayahnya tidak bisa ikut karena harus bekerja. Mereka harus sedikit bersabar. 

Lama-kelamaan ibunya membentaknya, setiap kali ia bertanya tentang ayahnya. Walaupun kerinduannya hampir tidak tertahankan, Katrin lagi-lagi berani bertanya. Akhirnya ibunya memilih tinggal di keluarga pamannya yang memiliki usaha penginapan terapung di Karimunjawa. Di tempat itu Katrin didaftarkan di salah satu taman kanak-kanak. 

Katrin sudah menganggap tempat itu sebagai rumahnya, sampai suatu hari dua orang turis berjalan di depan taman kanak-kanaknya. Ia begitu senang, karena ia mengerti bahasa mereka. Ia berteriak selamat pagi dalam bahasa tersebut. Kedua turis itu menjawabnya. Sejak kedatangan mereka di Indonesia, ibunya tidak pernah mau berbicara dan mendengar bahasa itu lagi. Ia begitu senang bisa berbicara lagi dengan bahasa ayahnya, sampai ia tidak keberatan untuk difoto. 

Satu tahun setelah peristiwa itu, ayahnya berdiri di depan pintu kelas. Ia tidak sendirian. Beberapa laki-laki berpakaian dinas menyertainya. Pertama melihat, Katrin hampir tidak mengenalinya lagi. Setelah keraguannya hilang, ia berteriak kegirangan dan berlari memeluk ayahnya. Laki-laki itu mengatakan, ia akan membawanya pulang. Tapi, tempat ini rumahku, jawabnya. Ayahnya menggeleng. 

Tanpa mengemasi barang-barangnya, ayahnya membawanya pergi. Di rumah yang baru sudah menanti baju-baju dan mainan yang lebih bagus, bujuknya. Katrin hanya sempat melambaikan tangan kepada teman-temannya dan ibu guru Hermin yang berdiri di halaman. Ia ingat benar bagaimana ibunya memanggilnya di sepanjang pantai. Ia berlari mengejar kapal ferry yang membawa mereka pergi. “Ari... Ari...! teriak ibunya di dermaga. Hanya ibunya yang memanggilnya dengan nama tersebut. 

“Nona Sommer!’’ Katrin mendongak. Ia melihat Dokter Klaus sudah berdiri di depannya. “Selamat pagi, Nona Sommer, bagaimana perasaanmu hari ini? tanya psikiater yang menangani Katrin di rumah sakit. Tanpa mengenakan jas panjang putih, Dokter Klaus terlihat seperti pensiunan yang biasa membeli telur atau sayur di supermarket atas suruhan istri mereka.

“Baik, jawab Katrin.

“Setelah pertemuan terakhir, aku tidak menemukan alasan untuk menahanmu di tempat ini. Asal berjanji untuk datang ke pertemuan berikut, hari ini kau boleh pulang. Kau bisa langsung berbicara dengan Nyonya Reuter untuk mengatur pertemuan berikut. Apakah aku sudah menulis resep untukmu? tanyanya

Katrin mengangguk. Ia seakan bisa mencium bau yang akan menyerbak dari pori-pori tubuhnya, setelah satu minggu meminum butiran pil. Bau kamar mandi rumah sakit setelah dibersihkan dengan karbol. Setelah membuat janji untuk pertemuan berikut, ia berjalan kaki menuju stasiun kereta api bawah tanah. Setelah melewati dua stasiun, Katrin turun di stasiun utama Dortmund. Di belakang stasiun itu terdapat kawasan Nordstadt, sebuah tempat bernama Borsigplatzviertel.

Ayahnya tidak membawanya kembali ke rumah yang dibangun dengan tangannya sendiri. Ia membawa Katrin ke Nordstadt. Enam bulan setelah kepergian istri dan anaknya, ayahnya memutuskan untuk mencari mereka dengan usaha sendiri. Ia sebenarnya keberatan dengan tawaran pertama yang jauh lebih rendah dari permintaannya. Tapi, ia memerlukan uang sesegera mungkin dan tidak punya banyak waktu untuk menunggu tawaran-tawaran berikutnya. Setelah melunasi sebagian utang di bank, ia menggunakan sisanya untuk mendanai pencarian anak dan istrinya.

Ia pergi ke Indonesia dengan harapan bisa membawa mereka pulang kembali. Usahanya untuk mendapatkan informasi dari keluarga istrinya, seperti membentur tembok. Mereka bahkan mengancam akan melapor ke polisi, jika melihatnya kembali di pintu rumah mereka. Setelah hampir kehilangan pengertian dan akal sehat, ia kembali ke Jerman dan memberanikan diri untuk pergi ke salah satu stasiun swasta di Koln. Ia meminta supaya usaha pencarian anaknya ditayangkan dalam acara ‘Mencari Kekasih yang Hilang’.
Jalan terakhir yang bisa ia pikirkan ternyata membuahkan hasil. Sepasang mahasiswa yang baru kembali dari perjalanan mengelilingi Indonesia menghubungi redaksi stasiun televisi. Mereka menunjukkan foto seorang gadis kecil yang mereka buat di Karimunjawa. Wajahnya sama dengan foto yang terpampang di layar televisi. 

“Kalau Papa sudah punya pekerjaan lagi, kita pindah dari tempat ini,” kata ayahnya, saat mereka memasuki apartemen yang cat dindingnya sudah mengelupas. Dari uang hasil penjualan rumah, tidak banyak lagi yang tersisa. Hanya cukup untuk membayar beberapa bulan sewa di kawasan Nordstadt dan berlusin-lusin minuman keras. Katrin tidak pernah bisa menyalahkan ayahnya karena terlalu banyak minum. Ayahnya memerlukan sesuatu untuk menghibur diri dari hidup dan segala persoalannya. 

Katrin melewati blok-blok bangunan terbuat dari beton. Sesekali ia melihat ke atas, kalau-kalau ada penghuni yang melempar ‘sesuatu’ dari atas. Kadang-kadang mereka melempar sampah plastik, bahkan sofa yang sudah lawas. Mobil sampah menyambangi wilayah itu tiga kali lebih sering dari wilayah lain. Dari jendela yang terbuka, terdengar musik dengan irama hip-hop dan oriental. Beberapa anak kecil tanpa pengawasan orang tua, bermain bola di halaman gedung. Mereka berbicara dengan semua bahasa, kecuali bahasa Jerman. Enam puluh persen penghuni tempat itu mempunyai latar belakang imigran. Imigran dari Turki, dari Eropa Timur, dari mantan negara-negara Uni Sovyet, yang menemukan tempat baru untuk beranak-pinak. 

Seperti ayahnya, rata-rata penghuni Nordstadt menyandang stigma sebagai pencari kerja. Dengan predikat tidak berpendidikan dan miskin, mereka seperti ditulah untuk tetap menjadi pengangguran. Mereka hidup dari tunjangan sosial yang sebagian besar dihabiskan untuk konsumsi rokok dan minuman keras. Meskipun anak-anak mereka pergi ke sekolah dengan perut kosong, orang tua mereka tidak bisa melepaskan kenikmatan terakhir yang mereka bisa dapat. 

Katrin sendiri tidak tahu alasan sebenarnya mengapa ia memilih untuk kembali ke tempat itu. Mungkin karena harga sewa kamar yang rendah dibanding dengan tempat lain, mungkin karena ia merasa senasib dengan anak-anak yang lahir dan besar di tempat itu. Mungkin juga karena ia rindu dengan sesuatu yang ia kenal, sesuatu yang tidak membuat dirinya harus beradaptasi. Di tempat itu ia belajar dari ayahnya untuk hidup mandiri.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Pratiwi Sossdorf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Kepak Sayap Merpati [6]"