Kepak Sayap Merpati [7] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepak Sayap Merpati [7] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:05 Rating: 4,5

Kepak Sayap Merpati [7]

Ketika memasuki sekolah dasar, ia sudah terbiasa untuk bangun pagi dan mempersiapkan sarapannya sendiri. Kalau persediaan roti masih cukup, ia akan membawanya untuk bekal di sekolah. Kalau ayahnya sudah terlalu mabuk, ia yang membeli makanan di supermarket. Ayahnya mengatakan, satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.

Masalahnya, dari hari ke hari ayahnya makin sering mabuk. Awalnya ia menganggap gurunya sebagai pengkhianat, karena mengadukan ayahnya ke departemen sosial. Ibu guru Sabine pasti tidak tahu, bagaimana rasanya harus berpisah dua kali dengan orang yang disayangi. Ketika pegawai sosial menjemputnya untuk dititipkan di rumah neneknya, ayahnya hanya menatapnya dengan pandangan kosong dari jendela. Sejak saat itu ia hanya sesekali bertemu dengan ayahnya, sampai kematiannya karena penyakit radang paru-paru. 

Katrin merasa senang bisa melihat neneknya setiap hari. Dulu ia hanya mengunjunginya setiap bulan. Neneknya tinggal sendirian di sebuah apartemen lama di Kota Wuppertal. Baru saja ia merasa bahwa hidupnya berjalan sebagaimana mestinya, ia harus menguburkan neneknya. Ia tidak pernah mengutuki dan menghina dirinya sendiri, sampai ia mengidentifikasi jenazah neneknya di rumah sakit. 

Sejak saat itu ia merasa tubuh dan pikirannya berubah menjadi lokasi bencana alam. Apakah karena neneknya pergi sambil membawa tawanya yang terakhir atau lebih karena masa pubertas, ia tidak pernah tahu. Ia tidak pernah bertanya pada orang tua asuhnya mengapa masa remajanya penuh jerawat, tindik dan depresi. Ia mulai kehilangan minatnya terhadap sekolah dan memilih berkeliaran dengan teman-temannya yang berpakaian hitam-hitam yang disebut sebagai gaya ‘gothic’ dan menganggapnya sebagai alternatif gaya hidup. 

Setahun sebelum ujian akhir pendidikan menengah atas, Katrin keluar begitu saja dari sekolah. Dengan alasan ketidakmampuan untuk berkomunikasi dan bekerja sama, orang tua asuh Katrin menyerahkannya kembali ke departemen sosial. Ibu asuhnya mengatakan, Katrin seperti terperangkap dalam bola kaca. Ia bisa melihat bagaimana gadis itu menyakiti dirinya sendiri, tapi tidak mampu meraihnya. 

Dari hari ke hari tingkah laku Katrin hanya membuatnya agresif. Ia ingin memecahkan bola kaca itu dan menyeret Katrin keluar. Tapi, ia tahu benar, kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Hal itu membuat ibu asuhnya merasa gagal. Setelah itu Katrin ditempatkan di sebuah asrama khusus untuk remaja bermasalah. 

Di tempat ia belajar banyak hal yang baik, yang membangun kepercayaan dirinya. 

Tapi, ia sudah lupa bagaimana rasanya berbahagia, sampai ia mendapat panggilan kerja sebagai tenaga kasir di sebuah supermarket diskonan.

Katrin memasuki salah satu gedung yang setiap sudutnya berbau pesing. Apartemen nomor 305. Ruangan itu hanya terdiri dari tempat tidur, dapur kecil dan kamar mandi. Makanan di rumah sakit tidak jelek, bahkan lebih baik dari menunya sehari-hari. Ia merindukan sesuatu yang tidak disediakan di rumah sakit, sesuatu yang gurih dan renyah. 

Ia membuka-buka laci dan lemari di atas kompor. Ia bernapas lega ketika menemukan beberapa bungkus keripik kentang. Ia duduk di lantai dan mulai membuka kantong pertama. Ia memasukkan keripik itu ke mulutnya seperti orang kelaparan. Ia terus mengunyah, walaupun sudut-sudut tajam keripik menyakiti gusi dan langit-langit mulutnya. Ia menatap satu-satunya foto yang tergantung di dinding. Ayahnya berpesan, supaya ia tidak pernah membuang atau menyimpan foto keberuntungan itu di laci. 

Katrin menggulung bungkus-bungkus keripik yang berserakan di atas lantai. Ia tidak ingin membuangnya di tempat sampah. Ia tidak ingin ada orang yang mengetahui, bahwa ia sudah makan keripik kentang sebanyak itu. Ia membuka laci lemari dan menyimpan bungkus itu di situ. Jantungnya berdebar, ketika mendengar pikirannya sendiri. Dari siapa ia ingin menyembunyikan bungkus-bungkus itu? 

Ia teringat ayahnya. 

Ia bergegas ke kamar mandi. Keripik itu rasanya terlalu enak untuk dimuntahkan kembali. Katrin membatalkan niatnya. Ia duduk di lantai kamar mandi. Ia merasa seperti ayahnya, seperti seorang pecandu yang berusaha menyembunyikan botol-botol kosong minuman keras. Ia mengusap wajahnya yang basah dengan punggung tangan. Di bawah tempat tidur tergeletak pesawat telepon dengan kabel terputus. Ia tidak ingat lagi kapan ia menyilet kabel pesawat telepon itu. Ia tidak pernah mendaftarkan namanya di kantor telekom. Ia pergi keluar untuk mencari apakah masih ada telepon umum yang masih berfungsi di Nordstadt.

Sesampainya di markas, Alex sudah memberinya isyarat untuk masuk ke ruang pimpinan. ”Selamat pagi, Komisaris Reinhard,” sapanya, kepada pria yang sedang mengamati dua layar komputer. 

“Silakan masuk, Ben, duduk. Ke mana saja kamu pagi ini? Kau bahkan tidak memberi tahu partnermu. Bukan tindakan bijaksana untuk melakukan hal-hal pribadi saat jam dinas.” 

“Maaf, ada sesuatu yang harus aku selesaikan, tidak akan terjadi lagi,“ jawab Ben. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia mengunjungi Katrin di rumah sakit. Ia tahu atasannya tidak bisa bertoleransi pada keperluan pribadi yang dilakukan pada jam dinas.

“Kau terlihat kacau, kapan terakhir kali tidur?” tanya Reinhard. 

“Jangan khawatir, Bos. Saya baik-baik saja. Boleh saya pergi?” tanya Ben. Dengan anggukan kepala ia mempersilakan Ben keluar dari ruangannya. 

“Oh, ya Ben, pengacara cerai Schmidt sudah menghubungiku sejak tadi pagi. Ia memerlukan berkas kasus Homberg bulan lalu. Bisakah kau menyerahkannya hari ini?”

“Ya, tentu saja,” Ben menepuk keningnya. Kasus Homberg, kasus kekerasan dalam rumah tangga. Siapa yang bisa melupakan Anna Homberg? Wanita dengan buah dada berukuran minimum 38B itu telah memukuli suaminya dengan hak sepatu. 

“Ben, ada yang mencarimu. Pesawat 2,” kata Alex. Ben bergegas kembali ke kursinya dan meraih gagang telpon.

“Benhard Hiller, markas besar kepolisian Dortmund. Ada yang bisa saya bantu?“ 

“Halo, Ben. Ini Katrin, maaf mengganggu,” suara gadis itu kedengaran seperti dari dunia lain.

“Ya, ehm, tentu saja tidak...,“ Ben berusaha supaya nada suaranya terdengar formal.

“Aku baru saja teringat ucapanmu di atas gedung itu. Persisnya aku sudah lupa. Kurang lebih kau mengatakan pasti ada orang yang cemas kalau melihatku bergelantungan di gedung itu. Gadis itu terdiam beberapa saat, seperti sedang mengumpulkan keberanian. “Ben, apakah kau bersedia menyertaiku menemui orang itu?” suaranya tersendat-sendat. 

“Tentu saja, katakan siapa dan di mana alamatnya,“ jawab Ben cepat, sambil meletakan jemarinya di komputer untuk mencari data orang yang dicari. 

“Ben, aku sendiri tidak yakin. Aku harap orang itu masih tinggal di Indonesia,“ kata gadis itu. Ben menopang dahi dengan tangannya. Alex menatapnya dan memberi isyarat apakah semuanya baik-baik saja. Ben mengangguk. Tentu saja orang yang dimaksudkan Katrin adalah ibunya, pikir Ben.

“Apakah kau masih ingat alamat kalian dulu pernah tinggal?” tanya Ben.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Pratiwi Sossdorf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 


0 Response to "Kepak Sayap Merpati [7]"