Kepak Sayap Merpati [8] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepak Sayap Merpati [8] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:07 Rating: 4,5

Kepak Sayap Merpati [8]

“Aku sudah lupa,” gadis itu baru sadar bahwa ia tidak pernah tahu alamat lengkap semasa ia tinggal di Karimunjawa. “Tunggu dulu, kalau tidak salah, pamanku memiliki penginapan terapung, namanya Karimun indah.”

Kalau tidak salah? pikir Ben. Ia membutuhkan informasi yang menyakinkan, bukan informasi yang kemungkinan salah. Ia meminta Katrin untuk kembali menghubunginya esok hari pada jam yang sama. Ben sudah meletakkan gagang telepon sebelum menyadari kebodohannya. Bukankah akan jauh lebih baik, jika ia yang menghubungi gadis itu? Ia mencari alamat dan nomor Katrin di komputer. Selain nomor pembayar pajak dan asuransi sosial, ia tidak menemukan informasi yang ia butuhkan. Ia harus melakukan sesuatu.

“Ada apa lagi, Ben?” tanya Komisaris Reinhard, ketika ia melihat Ben berdiri di depan pintu ruangannya.

“Saya mau minta izin untuk cuti,” kata Ben. 

“Begitu mendadak?” tanya Reinhard.

“Mulai besok. Minggu ini saja. Hari Senin depan saya sudah berada di markas,” jawab Ben.

“Mulai besok? Apakah ada hal yang mendesak Ben?“

“Ya, bisa dikatakan begitu. Urusan keluarga. Lagi pula, saya tidak mau melewatkan pertandingan Borussia Dortmund hari Sabtu minggu depan. Sesuai permintaan, saya akan tetap menyerahkan laporan yang Anda minta hari ini juga,” kata Ben. Atasannya menatapnya dengan kening berkerut. Sebelum mendengar pertanyaan lebih lanjut, Ben sudah mengucapkan kata permisi dan berlalu dari hadapannya. 

”Apakah semua baik-baik saja, Ben?” tanya Alex. Tidak ada jawaban.

“Ben!” panggil Alex sekali lagi. Kali ini dengan nada yang lebih keras. Ia melihat wajah partnernya yang setengah tersembunyi di balik layar komputer. 

“Aku tidak mau ikut campur. Aku tidak bisa menganggap dirimu sebagai orang yang normal. Sejak kejadian Jumat malam kemarin, tingkah lakumu makin aneh. Kenapa tidak pulang saja, biar aku yang mengerjakan laporan itu. Oh, ya, istriku biasa memakai irisan timun. Coba saja, mungkin bisa membantu.”

“Irisan timun? Buat apa?” bisik Ben.

“Buat kantung dan lingkaran hitam di matamu. Kalau saat ini anakku melihat wajahmu, ia pasti tidak mengenal lagi Paman Ben,” jawab Alex. Ben tersenyum masam.

“Aku utang laporan berikut, oke?“

“Tidak usah dipikir, selamat berlibur,” sahut Alex.

Ben menghabiskan malam pertama liburannya dengan mencari jejak losmen paman Katrin di Karimunjawa. Setelah beberapa jam duduk di depan layar komputer, ia melihat di sebuah situs pribadi yang memuat sebuah nama penginapan terapung di Pulau Karimunjawa. Bilik-bilik terbuat dari kayu berjejer di atas permukaan air laut. Nama penginapan itu sama seperti yang disebutkan Katrin, lengkap dengan nomor telepon. Ia kemudian mencari informasi tentang transportasi dan akomodasi. 

Di Karimunjawa, ia memilih untuk mereservasi sebuah resor bernama Kura-Kura yang terletak di Pulau Menyawakan. Alasannya praktis: resor itu menyediakan transportasi udara pulang-pergi ke Semarang. Ben tidak ingin naik ferry. Bukan pilihan yang mudah, apalagi setelah melihat harganya. Ia harus merogoh koceknya sebanyak sekitar 400 dolar untuk menginap empat hari tiga malam. Hanya empat hari setelah itu tamat riwayatnya, harapnya diam-diam. 

Persoalan berikut adalah bagaimana mendapatkan tiket pesawat ke Indonesia dalam waktu kurang dari 36 jam. Ben memutuskan untuk pergi ke salah satu biro wisata dan menggunakan statusnya sebagai polisi untuk mempermudah jalannya transaksi. Ia sebenarnya agak menyesal karena telah menyalahgunakan nama kepolisian. Yang pasti, bukan kasus pertama di jajaran kepolisian Dortmund, hiburnya dalam hati. Hari berikutnya Ben sudah menyambangi markas kepolisian dari pukul delapan pagi. Ia tidak bergerak dari tempat duduknya sampai telepon di mejanya berdering.
“Selamat datang di Karimunjawa,“ sambut seorang staf hotel. Segelas cocktail tetap tidak mampu menyatukan jiwa dengan raganya. Hanya pasir putih dan deburan ombak yang menyadarkan bahwa ia tidak berada di Dortmund lagi. 

Seorang staf hotel dan seorang pria setengah baya menghampiri mereka. Katrin masih bisa mengenali wajah salah satu pria. Walaupun berat badannya paling tidak sudah bertambah 30 kg, raut wajahnya masih sama. Tanpa sepengetahuan Ben, ia sebenarnya baru berani menelepon pamannya setelah mereka sampai di Jakarta. Setelah prolog yang tersendat-sendat karena disampaikan dengan rasa gugup dan bahasa yang campur aduk, ia berhasil mengatakan siapa dirinya dan maksud kedatangannya. 

Pamannya mengatakan, ibunya sudah menikah lagi dan tinggal di Semarang. Ia akan datang sore ini, untuk itu ia meminta Katrin menginap di tempatnya, di Pulau Karimunjawa Besar.

“Ben, aku harus ikut pamanku,“ kata gadis itu, sambil mengikuti pamannya. Mereka berjalan menuju ke perahu boat yang ditambatkan di pantai. Ben mengangguk. Ia merasa lega, karena tidak harus menyaksikan secara pribadi pertemuan antara ibu dan anak tersebut. Setelah check in, Ben memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan mengenali resor dan mengitari pulau. Selain segelintir turis asing dan pegawai resor, pulau itu tidak berpenghuni. 

Hari berikutnya Katrin tidak datang menemuinya. Ben berpikir mungkin ia tidak akan pernah melihatnya lagi. Ia tidak akan heran, jika gadis itu memilih menetap di tempat ini. Siapa yang mau meninggalkan surga dunia? 

Di luar dugaan Ben, sehari sebelum jadwal pulang, Katrin datang menemuinya. Gadis itu mengenakan celana pendek dan kaus lengan panjang berwarna putih. Rambutnya yang panjang lurus tergerai ditiup angin. Untuk pertama kalinya Ben melihat senyum di matanya. Mereka berjalan menyusuri pantai. Waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi, tapi sinar matahari sudah menyengat kulit. Tidak ada seorang pun terlihat di pantai itu. Hanya suara debur ombak memecah pantai. 

“Bagaimana pertemuan dengan ibumu?“

“Baik. Aku sudah meninggalkan negara ini selama 15 tahun tapi semuanya tidak menjadi asing. Ibuku menunjukkan ratusan surat yang ia kirim ke tempat nenekku. Semuanya dikembalikan lagi. Ia bahkan pernah menelepon nenekku dan memohon supaya boleh bicara denganku.“

Ben tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Ia teringat kata-kata Alex. Kalau seorang wanita sedang sedih, pria sebenarnya tidak perlu banyak berkomentar. Dengarkan saja, kalau perlu dipeluk. Metode yang dijamin bisa membuat wanita merasa bisa dimengerti. “Hmm... aku tidak ingin bertanya sesuatu yang tidak sopan. Dengan kaus lengan panjangmu itu, apakah tidak kepanasan?“ tanya Ben, mengalihkan pembicaraan. Gadis itu menatapnya sedikit terbelalak, memamerkan bola matanya yang berwarna cokelat. Ia pasti tidak mengira Ben akan mengomentari kaus lengan panjangnya.

Aku pernah membeli botol minuman keras di supermarket itu. Isinya sudah aku tuang di gelas, tapi tidak jadi diminum. Baunya mengingatkanku pada bau ayahku, setiap kali ia memukuliku.“ Jawaban gadis itu seperti tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang diajukan. Ia kemudian menggulung lengan baju dan menyodorkan kedua tangannya. Ben melihat bekas luka goresan yang sudah lama, tampak berjejer tidak beraturan di kedua lengan tersebut. 

“Kalau tidak ada darah yang keluar, bagaimana rasa sakit di hatiku juga bisa keluar? Apakah kau pernah merasa bahwa kau tidak mempunyai emosi lagi, Ben? Kau tidak tahu lagi apakah harus marah, sedih, atau tertawa.“ Ben melihat sebuah benda tipis hitam mengilat di tangan Katrin. Ia heran di mana gadis itu menyembunyikan silet itu. 

Katrin menggenggam erat jemari Ben. “Jangan bergerak,“ perintahnya. Ia menorehkan luka memanjang di pergelangan tangan Ben. Ben merasakan sesaat rasa panas dan perih menjalar sampai ke seluruh persendiannya.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Pratiwi Sossdorf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 


0 Response to "Kepak Sayap Merpati [8]"