Kepak Sayap Merpati [9] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepak Sayap Merpati [9] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:10 Rating: 4,5

Kepak Sayap Merpati [9]

Bagaimana rasanya?“ tanya gadis itu.

Sakit,“ jawab Ben. 

“Itu karena engkau masih bisa merasa Ben. Aku berhenti melakukannya, saat aku diterima bekerja di supermarket. Waktu itu aku seperti mendapat undian berhadiah. Aku tidak mau jika pelanggan di supermarket itu berpikiran bahwa mereka berhubungan dengan orang yang sakit jiwa.“ 

Katrin berdiri dan melepaskan pakaiannya. Dengan sudut matanya, Ben melihat gadis itu memakai bikini yang ukurannya sudah kekecilan. Katrin berjalan menuju pesisir, menyentuh air dengan jari-jari kakinya yang telanjang. Ayo, Ben, berenang! serunya. 

Ben menatap buih air laut. Ia berusaha keras mengingat nama penyakit jiwa yang pernah ia pelajari sekilas di sebuah seminar. Bukan penyakit jiwa atau gila, pikir Ben, tapi gangguan kepribadian. Orang-orang yang mempunyai kecenderungan untuk melukai dirinya sendiri, supaya bisa merasa, untuk melepaskan diri dari perasaan bersalah, untuk... Ben merasa mendengar otaknya bekerja. Apa namanya? Borderline syndrome? Sebuah bayangan masa lalu menghampiri pikirannya.
”Ben, bangun! Ada yang ingin kutunjukkan,“ bisik Tim, saudara kembarnya. Ia mengusap matanya untuk menghapus rasa kantuk. Ia berkata mengapa ia harus bangun, bukankah hari ini Sabtu? Mereka tidak harus pergi ke sekolah. Tim menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Ben. Ben melihat kembarannya sudah berpakaian lengkap dengan jaket, topi, dan syal. 

Saat itu Februari, bulan terdingin di musim dingin. Walaupun sudah pukul enam pagi, di luar kegelapan sama pekatnya seperti tengah malam. Tanpa banyak bersuara, mereka berjalan melewati padang rumput menuju pagar yang membatasi pekarangan tetangga. Ben melihat pagar pembatas kayu sudah roboh. “Pasti karena angin keras semalam,“ bisik Tim. Entah berapa lama mereka menunggu kesempatan untuk bisa melihat rumah sebelah. Seorang kontraktor jalan sudah membeli tanah itu dan membangun sebuah rumah berlantai empat. Pemilik beserta keluarganya sepertinya hanya tinggal di rumah itu selama musim panas.

Selama ini Ben dan Tim hanya bisa mendengar suara mereka, tanpa pernah melihat penghuninya. Tim menarik lengan Ben untuk memasuki halaman rumah tersebut. Mereka menempelkan wajah di dinding kaca untuk melihat isi rumah. 

Di depan beranda rumah tersebut terdapat kolam ikan dengan jembatan kecil berwarna oranye.  Tim berlari menuju ke telaga buatan yang terletak di sudut halaman. Diameternya kurang-lebih 5 meter. Di salah satu sisinya terdapat dermaga kayu berukuran mini. Selama ini mereka hanya bisa mendengar penghuni rumah terjun dan berenang di di telaga itu. Permukaan telaga itu kini membeku. Tim mengeluarkan sepatu luncur es dari tas ranselnya.

“Tim, jangan,“ cegah Ben, ketika melihat saudaranya mengenakan sepatu itu. Ia memukul-mukul lapisan es dengan sebilah batang bambu yang ia temukan di kebun tersebut. Selain tepi telaga, Ben tidak yakin apakah seluruh permukaan telaga itu sudah sepenuhnya membeku untuk bermain luncur es.

“Ayo, Ben,“ Tim berbisik agak keras sambil meluncur. Ia berputar dua kali. Ben bertepuk tangan. Ia menahan napas, ketika melihat Tim mengambil ancang-ancang untuk melakukan putaran sekali lagi. Di kegelapan Ben melihat tubuh Tim melayang di udara, sebelum mendengar suara berderak dari lapisan es yang retak. Setelah itu, Ben tidak lagi melihat saudaranya. 

Suara kecipak air menyadarkannya, bahwa Tim sudah berada di air. Ben menahan dirinya untuk tidak berjalan di atas es. Ia tahu nasibnya akan berakhir sama dengan Tim, jika ia melakukannya. Ia memilih merayap dengan perutnya di atas permukaan es. Ia menjulurkan batang bambu itu supaya Tim meraihnya. Usaha Tim untuk berpegangan pada lapisan es hanya membuat lapisan itu makin retak.  

Ben tahu, Tim sudah mulai kehabisan tenaga. Baju musim dingin Tim yang berat dan basah membuatnya makin sulit untuk tetap bergerak. Ia meminta Tim untuk melepaskan sepatu dan jaketnya. Tim menjawab ia tidak bisa lagi menggerakkan tangannya yang sudah membeku. Sambil terisak-isak, Ben memohon supaya Tim terus bertahan, sementara ia pergi mencari pertolongan. Dalam kegelapan, ia melihat tatapan mata Tim yang memohon untuk tidak ditinggalkan. Ben mulai berteriak. Ia terus berteriak sampai rahangnya terasa sakit. Ia tidak tahu berapa lama ia menjerit sampai kakinya ditarik oleh seseorang. Sekeras apa pun usaha tim gawat darurat dan para dokter di klinik universitas kota, Tim hanya bertahan 2 hari di rumah sakit. Ia pergi begitu saja tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun. 

Ben melihat tubuh Katrin makin menjauhi pantai. Sesekali ia membalas lambaian tangan gadis itu. Sesudah itu Ben hanya melihat gelombang laut. Ia bergegas menuju ke pantai dan berjalan ke sana-kemari. Ketika ia tidak menemukan apa pun di air, ia mulai berteriak memanggil nama gadis itu. Ben mulai disergap rasa panik yang tak tertahankan. Tanpa melepas pakaian, ia memaksa diri untuk masuk ke air laut. Jantungnya berhenti berdetak, ketika sepasang tangan menutup matanya. Kegelapan membuat emosinya meledak. Ia mulai memaki dan memelintir tangan yang mendekapnya.

“Ben, ini aku!” jerit Katrin kesakitan.

“Jangan berani lagi melakukan perbuatan seperti itu!” teriak Ben. 

“Ben, ini aku, Katrin, bukan Tim,“ teriak gadis itu, tak kalah keras.

Ben tidak mempercayai pendengarannya. Apakah ia menyebut nama adiknya ketika sedang mengumpat? pikir Ben. Ia berjalan menuju bungalo. Gadis itu mengikutinya. Luka di pergelangan tangannya berdenyut perih, setiap kali jantungnya memompa darah. Gadis itu masih berdiri mematung di ujung tempat tidur.
“Aku lelah sekali. Pulanglah ke ibumu. Bukankah karena itu engkau ada di sini?“

“Maaf, Ben, aku sama sekali tidak bermaksud menakutimu. Apakah ada yang bisa aku lakukan untuk membuatmu merasa lebih baik?“ tanya Katrin.

“Kau bicara apa? Kau pikir aku mau menolongmu untuk mengharapkan sesuatu darimu? Aku cuma ingin memenuhi janjiku. Itu saja,“ Ben memejamkan mata. 

“Dengar baik-baik. Aku tidak tahu siapa Tim dan tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Kau pasti berharap dengan melakukan semuanya ini untukku, kau bisa menebus kesalahanmu kepada Tim. Bukankah begitu, Ben? Aku tidak tahu bagaimana kau bisa menebus sesuatu yang bukan kesalahanmu. Aku rasa, Tim juga tahu tentang hal itu.“

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Pratiwi Sossdorf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Kepak Sayap Merpati [9]"