Ketiban Pulung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ketiban Pulung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:55 Rating: 4,5

Ketiban Pulung

KARPO bermimpi ketiban pulung. Dalam mimpinya, yang terjadi menjelang fajar, Karpo seperti sedang berdiri di puncak bukit. Ketika mendongak, Karpo melihat sebutir bola cahaya jatuh dari langit dan menimpa wajahnya. Ketika tertimpa bola cahaya itu, wajahnya tidak merasakan sakit tapi justru merasa seperti diterpa angin lembut sejuk menyegarkan.

Menurut kepercayaan yang diwariskan para leluhur, setiap orang yang bermimpi ketiban pulung bakal memperoleh pangkat dan kehormatan. Misalnya, jika menjadi calon kepala desa atau calon legislatif pasti akan didukung banyak rakyat. 

Namun, sehabis bermimpi ketiban pulung, Karpo justru selalu murung. wajahnya seperti langit tersaput mendung. Karpo merasa tidak pantas bermimpi ketiban pulung, karena dirinya hanya mantan preman dan pernah beberapa kali masuk penjara. 

Selama menjadi preman, Karpo memang sering terlibat berbagai tindak kriminal dan harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Namanya cukup terkenal. Bahkan semua pejabat dan wartawan di daerah juga mengenalnya. Lalu Karpo bertibat meninggalkan dunia preman, setelah menikah. 

Sebagai mantan preman, Karpo ingin memerbaiki hidup dan berusaha memakmurkan keluarga dengan bertani. Sawah sepetak warisan orangtuanya menjadi ajang kegiatan pertanian bersama warga di kampungnya.

"Aku tak pantas bermimpi ketiban pulung," ujar Karpo setelah menceritakan mimpinya itu kepada istri dan anak-anaknya yang juga bermimpi melihatnya ketiban pulung.

"Tapi kamu harus bersyukur. Tuhan memberimu mimpi itu pasti ada maksudnya. Bagi Tuhan, tidak akan sulit mengubah nasib manusia. Kamu harus berani menjadi calon kepala ddesa dalam pilkades nanti. Pasti banyak rakyat akan mendukungmu." Istrinya terlihat sangat gembira dan mendorongnya berani tampil sebagai calon kepala desa.

"Jangan berkhayal terlalu jauh. Aku ini mantan preman, mana mungkin rakyat bersedia dipimpin manta preman?" tuka Karpo dengan wajah redup.

"Bapak jangan pesimis. Kalau mantan preman menjadi pemimpin pasti tidak akan berbuat jahat lagi. Sebaliknya, jika orang-orang baik menjadi pemimpin, nyatanya justru berbuat jahat, suka korupsi dan selingkuh, lalu masuk bui." Anak sulungnya yang sudah lulus SMA itu menyanggahnya.

Karpo tetap merasa tidak pantas bermimpi ketiban pulung. Namun anehnya, banyak tetangga dekatnya juga bermimpi melihatnya ketiban pulung. Mereka datang satu persatu menemuui Karpo, melaporkan mimpinya.

"Sumpah, aku betul-betul bermimpi melihatmu ketiba pulung," ujar tetangga sebelah dengan wajah serius. "Ternyata, istri dan anak-anakku juga bermimpi sama, melihatmu ketiban pulung."

"Demi Tuhan, aku tidak mengada-ada. Semalam aku betul-betul bermimpi melihatmu ketiban pulung. Anehnya, anak istriku juga bermimpi sama. Kami lantas berkesimpulan bahwa kamulah yang akan memimpin desa ini. Karena itu, kami akan mendukung jika kamu menjadi calon kepala desa." Tetangga depan rumah bertutur dengan mantap. 

"Aku juga bermimpi melihatmu ketiban pulung. Bahkan mimpi itu berulang-ulang. Karena itu aku akan mendukung sepenuhnya jika kamu menjadi calon kades dalam pilkades nanti," ujar Ketua RT yang datang menemui Karpo.

Mimpi melihat Karpo ketiban pulang ternyata juga dialami Ketua RW dan banyak warga desa. Bahkan tokoh-tokoh agama di desanya juga bermimpi sama. Karena itu, setiap hari banyak orang bergunjing dan yakin bahwa Karpo pasti akan menjadi pemimpin mereka. 

Namun Karpo tetap merasa tidak pantas bermimpi ketiban pulung. Karpo juga tidak yakin kalau banyak orang bermimpi melihat dirinya ketiban pulung. Karpo menduga, mungkin banyak orang mengaku bermimpi melihatnya ketiban pulung agar dirinya bersedia menjadi calon kepala desa dalam pilkades yang akan berlangsung awal tahun depan. Sebelum banyak orang mengaku memimpikan diirnya ketiban pulung, sudah ada isu politik bahwa pilkades nanti bakal gagal lagi karena tidak ada warga yang mau menjadi calon kepala desa. Jika pilkades gagal lagi, maka lagi-lagi yang akan menjadi kepala desa adalah pegawai kabupaten yang ditugaskan sebagai karteker untuk memimpin desanya.

Sejak dulu, semua kepala desa yang dipilih rakyat memang akan sakit lumpuh bertahun-tahun lamanya sebelum kemudian wafat. Karena itu, banyak warga menduga bahwa siapa pun yang mau menjadi kepala desa sama dengan bersedia hidup menderita dan menyusahkan keluarga. Karena itu juga, tidak ada warga yang bersedia menjadi calon kepala desa, sehingga beberapa pilkades gagal dilaksanakan.

Namun, Karpo tidak akan bersedia menjadi kepala desa bukan karena tidak berani melainkan karena merasa tidaak pantas. Sebagai mantan preman, dirinya memang merasa tidak layak memimpin desa, walaupun sekarang sudah bertibat. Menurutnya, setiap pemimpin seharusnya tidak memiliki riwayat hidup yang buruk dan juga tidak akan berbuat buruk agar bisa menjadi teladan yang baik.

Menurut Karpo, jika mantan preman yang sudah bertobat menjadi pemimpin maka bisa diteladani anak-anak muda, yakni mereka akan menjadi preman kemudian bertobat lalu berusaha menjadi pemimpin. Hal ini harus dicegah atau dihindari agar dunia ini tidak dikotori sejarah buruk para pemimpin yang menjadi telada buruk bagi generasi berikutnya. Karpo juga berpikir, alangkah tidak terpuji jika ada yang pernah menjadi penjahat atau yang suka berbuat jahat bercita-cita menjadi wakil rakyat atau pemimpin, walaupun mengaku sudah tobat.

Dan Karpo pun berpikir, seharusnya rakyat tidak mau memilih calon pemimpin yang memiliki riwayat hidup buruk, walaupun nyatanya sudah bertobat, jika masih ada orang baik-baik yang layak dipilih menjadi pemimpin.

***
PILKADES bakal digelar akhir bulan depan. Meskipun pernah bermimpi dan diimpikan banyak orang ketiban pulung, Karpo tetap merasa tidak pantas menjadi calon kepala desa. Sebaliknya, banyak orang semakin terang-terangan mendukung Karpo menjadi calon kepala desa dalam pilkades nanti. Mereka bergunjing di mana-mana mengungkapkan dukungannya kepada Karpo.

"Pokoknya hanya Karpo yang layak memimpin desa ini."

"Ya, hanya Karpo takut kalah melawan kotak kosong dalam pilkades nanti, kita harus menggelar unjuk rasa besar-besaran menyatakan dukungan kita kepadanya. Kalau perlu kita mendesak Karpo langsung diangkat menjadi kepala desa tanpa perlu pemungutan suara segala karena mayoritas warga sudah nyata-nyata mendukungnya. Pasti camat dan bupati akan sepakat dengan aspirasi politik mayoritas warga desa ini."

Karpo tetap tenang mendengar pergunjingan banyak warga yang mendukungnya. Lalu mayoritas warga desaa betul-betul menggelar unjuk rasa besar-besaran di depan kantor camat dan kantor bupati, menyatakan dukungannya kepada Karpo agar langsung ditetapkan dan diangkat menjadi kepala desa tanpa proses pilkades. 

"Kamu harus bersedia memimpin desa ini, karena mayoritas warga sudah terang-terangan mendukungmu." Istrimu berusaha merayu, tapi Karpo tetap tenang dan bungkam.

Suhu politik di desa itu makin panas. Di perempatan dan pertigaan jalan-jalan desa terlihat banyak spanduk terbentang dengan kalimat politis: "Seluruh warga mendukung penetapan Karpo untuk memimpin desa ini."

Camat dan bupati lantas menggelar rapat bersama jajaran pejabat daerah, membahasa perkembangan politik di desa itu yang semakin jelas memerlihatkan mayoritas warganya mendukung Karpo menjadi pemimpin.
"Jika kita langsung menetapkan dan mengangkat Karpo menjadi kades, kita melanggar aturan. Jadi kita tetap menggelear pilkades sesuai aturan yang berlaku." Bupati bertutur normatif. Camat dan semua jajaran pejabat daerah sepakat. Lantas rapat memutuskan bahwa pilkades akan tetap digelas di desa itu kalau warganya memang ingin dipimpin oleh Karpo. 

Sebagaimana lazimnya pilkades di desa-desaa lain, pilkades di desa itu tetap terbuka untuk diikuti sejumlah calon kades. Namun ternyata tidak ada warga yang berani menjadi calon kades meskipun sekadar untung-untungan bersaing dengan Karpo yang didukung mayoritas warga.

Pada malam menjelang pilkades, Karpo tetap tenang dan bungkam. Semua syarat pencalonan dirinya sebagai satu-satunya calon kades dalam pilkades sudah dibereskan sejumlah warga yang sangat antusias mendukungnya. Karpo tenang-tenang saja tanpa kampanye dan bahkan tanpa susah payah memenuhi persyaratan, pasti akan menang pilkades, karena tidaak ada lawan dan banyak warga desa sudah bertekad bulat mendukungnya.

Namun, ketika pagi tiba, Karpo sudah menghilang entah ke mana. Istri dan anak-anaknya kaget ketika bangun tidur dan melihat Karpo tidak ada di kamar, tidak ada di ruang keluarga, tidak ada di ruang tamu, tidak ada di teras atau di halaman rumah, juga tidak ada di kamar kecil.

Kemudian, di pagi yang cerah menjelang detik-detik pelaksanaan pilkada itu, istri dan anak-anak Karpo menangis menjerit-jerit. Semua tetangga dekat berlarian menuju rumah Karpo, ingin tahu yang ingin terjadi."

"Karpo hilang?!"

"Ya, Karpo tidak berada di rumah!"

"Mungkin Karpo sedang olahraga lari atau jalan santai."

"Sejak dulu Karpo tidak pernah olahraga lari atau jalan santai."

"Karpo minggat!"

Setelah berdebat sambil mencoba mencari-cari tapi tidak menemukan Karpo, semua warga kemudian menerima kenyataan bahwa Karpo betul-betul sudah minggat entah ke mana, karena Karpo memang sudah pergi tanpa pamitan kepada istri dan anak-anaknya. Dengan hilangnya Karpo, pilkades urung digelar, karena tidak ada warga yang bersedia mengikuti pemungutan suara. Camat, bupati dan semua pejabat daerah terpana mendengar Karpo minggat padahal sudah pasti akan menang pilkades karena didukung mayoritas warga di desanya. 

"Di zaman ini ternyata masih ada orang yang tidak mau menjadi pemimpin tanpa usaha dan biaya, padahal menjadi pemimpin sama dengan mendapat kesemaptan untuk menumpuk kekayaan dengan cepat dan mudah." Camat, bupat dan jajaran pejabat daerah bergumam secara serempak.

***
DI kota besar yang jauh dari desanya, Karpo hidup menggelandang karena dirinya memang minggat dari rumah tanpa membawa bekal kecuali busana yang dipakainya. Sejak dari rumah, Karpo terus berjalan kaki, tanpa henti, menuju kota besar itu. Karpo ingin hidup bebas sebagai manusia, tanpa pangkat dan kehormatan. Karpo betul-betul takut menjadi pemimpin, karena semakin banyak orang yang semula baik-baik kemudian dipenjara karena menjadi pemimpin yang menyeleweng.

Sambil berjalan menggelandang di atas trotoar di kota besar itu, Karpo memabca selembar koran yang ditemukannya di tong sampah. Sebuah berita yang dimuat selembar koran itu dibacanya dengan mata basah. "Hampir semua pemimpin daerah dan kepala desa bakal masuk penjara karena terbukti korupsi."

"Aku sudah membuktikan, zaman sekarang masih ada orang yang tidak bersedia menjadi pemimpin karena merasa tidak bersedia menjadi pemimpin karena merasa tidak pantas. Apakah akan ada orang yang meniru diriku?" Karpo bergumam sambil teringat kembali mimpinya ketiban pulung. (k)

[] Griya Pena Kudus, 20102015

Maria Magdalena Bhoernomo: lahir di Kudus, 23 Oktober 1962, tinggal di Prabatan Kidul RT 02 RW 04 No 775 Kudus 59331. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Maria Magdalena Bhoernomo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 29 November 2015

0 Response to "Ketiban Pulung"