Keturunan Kura-kura | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Keturunan Kura-kura Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:15 Rating: 4,5

Keturunan Kura-kura

KETIKA kukatakan padanya bahwa nenek moyangnya adalah kura-kura, ia tak percaya. Semula ia menganggap aku bercanda. Tapi, ketika aku ungguh-sungguh mengatakan itu, ia benar-benar marah. Apalagi setelah kutunjuk bukti-bukti yang ada padanya. Pertama, ia suka berpikir dan berjalan lamban. Kedua, ia gemar menaruh ransel, gitar dan apa saja di punggung. Ketiga, lehernya melenggok ke kiri dan ke kanan bila ia bicara. Keempat, matanya, ya, matanya yang sering berkedip-kedip tak lazim Dan, yang kelima, kuku-kukunya runcing dan menjorok kebawah. Nah....

Ia balik menuduh bahwa nenek moyangku adalah buaya. Tidak. Kukatakan padanya, buaya dan kura-kura masih kerabat dekat. Mereka juga sama-sama suka berjalan lambat. Kendati buaya kadang lebih sigap, tapi sekali-kali aku tak bisa disebut dalam golongan demikian, Bukankah tadi kau cepat-cepat kudebat, ketika dengan ngawur mengatakan nenek moyangku buaya? Itu bukti bahwa pikiranku taktis dan bekerja cepat. Tidak seperti kau yang memang keturunan kura-kura. 

"Kalau begitu, nenek moyangmu pastilah kadal!" sergahnya.

"Tidak." kataku.

"Terwelu!"

"Tidak."

"Celeng!"

"Stop!"

Aku memangkas perdebatan. Kusodorkan sebungkus rokok kretek. Ia tampak ragu, lalu mengambil sebatang. Kami pun khusyuk merokok. Dan istri temanku ini keluar membawa dua cangkir kopi. Di belakangnya, seekor kucing Persia yang gemuk dan hitam tampak menguntit. Tunggu. Apa betul itu kucing Persia? Kata orang, ciri kucing Persia adalah bulunya yang tebal dan hidungnya yang pesek. Tapi dari mana mereka merinci ciri fisik macam itu? Ini tentu lucu. Bukankah orang Persia biasanya berhidung mancung, tapi mengapa kucingnya justru pesek? Tapi tak apa. Perihal kucing, biarlah jadi urusan pakar biologi saja. Yang menarik justru istri temanku ini.

Entah bagamana tiba-tiba ia tampak serupa betul dengan kucing yang menguntitnya. Pipinya tembem. Alis dan bulu matanya tajam. Kumisnya tipis. dan, yang membuat makin mirip, bentuk hidungnya persis dengan kucing Persia itu. Dengan kata lain, aku ingin berkata: istri temanku ini pastilah berleluhur kucing Persia. Tapi aku tak mengatakannya. Aku tak mau menyulut perdebatan. Apalagi menyangkut perempuan ini. Sebab, istri temanku termasuk golongan orang ketat. Bisa-bisa, aku dituduh penganut Darwin atau malah dicap atheis lokal. Bisa gawat. Bukankah perutku sedang lapar dan ia belum juga menghidangkan nasi Padang, sebagaimana biasa jika aku datang ke rumahnya. 

"Ayam itu sudah waktunya disembelih, Kawan," kataku untuk memecah kebekuan, setelah tedengar kokok ayam clipir yang dikurung sekitar lima meter di depan kami.

"Tidak," ia berkata mantap setelah mengisap rokoknya, "Ayam itu adalah kakekku."

Alamak, aku spontan tertawa. Aku kira ia meledekku.

"Ayam itu sudah terlalu tua, Kawan. Kokoknya sudah lemah dan payah."

"Semprul! Ayam itu betul-betul kakekku."

"Sudah kubilang, kakekmu pasti dari jenis kura-kura."

"Terserah cangkemmu, Bung. Tapi ayam itu memang kakekku. Kata bapak, kakekku menjelma jadi ayam clipir itu ketika ia akan diciduk tentara pada suatu malam. Tidakkah kau dengar kokoknya yang pilu, seolah itu doa agar ia kembali jadi manusia?"

"Sebentar, kau tidak meledekku, bukan?"

"Tidak!" bentaknya.

Aku kaget. Ternyata kura-kura ini bisa pura-pura marah.

"Lihat ini,' ia menunjukkan tatonya, seekor ayam keluruk dalam lingkaran dua celurit. "Ini untuk mengenang kakekku."

Tak mau kalah, aku menggulung lengan bajuku. Kutunjukkan tatoku. Tapi ia malah ketawa. Padahal tatoku cukup sangar, miniatur tulang-belulang nyambik utuh dengan ekor bercabang.

"Nyambik? Haha, itukah leluhurmu?"

"Bukan," jawabku.

"Ya, mestinya leluhurmu ulo dumung. Sebab lidahmu tipis dan lincah."

"Bukan."

"Kalau begitu, leluhurmu pasti jin. Mungkin begejil atau ifrit!"

"Asu!" potongku.

"Bukankan kau senang perkara klenik dan yang gaib?"

Hampir saja pisuhan pamungkas merucut dari mulutku. Tapi istri temanku itu kembali keluar membawa pisang goreng. Kali ini, rontoklah harapnku. Ia tak menghidangkan nasi padang. Kucing Persia kembali menguntit langkahnya, seperti ajudan setia. Dan seperti terang belaka, bahwa leluhur istri temanku ini pastilah kucing Persia. Tapi aku tak mengatakannya. 

Aku heran, bagaimana mungkin kucing Persia sanggup hidup rukun bersama kura-kura. Ini tentu tak terjelaskan kitab katuranggan. Apalagi, jika aku amati dengan seksama, temanku dan istirnya tampak salah cetak. Maksudku, istrinya terlihat lebih maskulin, dengan bentuk mata dan alis yang tajam. Ditambah kumis tipis itu. Dan kawanku ini, biar pakai tato dan suka pura-pura marah, sungguh tampak klemar-klemer, mirip pembawaan perempuan.

Aku mengambil pisang goreng dan mengunyah pelan. Tapi, karena perutku lapar dan tak mugkin tertolong pisang goreng, aku mengajak temanku menuju warung terdekat. Temanku setuju. Ia lalu masuk ke dalam kamar, mengambil gitar. Ia berencana memamerkan lagu yang ia petik dari pusinya. Puisi yang konon ia gubah dari kitab kuno entah kitab apa.

Ia keluar membawa gitar yang suah tercangklong di punggung. Semula, kami berjalan beriringan, namun perih perutku memaksa kakiku berjalan lebih cepat. Akibatnya, temanku teetinggal beberapa langkah di belakangku. 

"Cepatlah sedikit, Kura-Kura."

"Sabar, Begejil."

Aku berjalan makin cepat dan temanku tentu makin tertingal di belakang. Tapi, ia tiba-tiba berteriak, "Semprul, dompetku ketinggalan!"

"Dasar kura-kura!"

Kami serempak tertawa.

Ia kemudian berbalik untuk mengambil dompet. 

Dari belakang, dengan gitar di punggung dan jalannya yang pelan terhuyung-huyung, aku jadi ragu: jangan-jangan leluhur temanku itu bukan kura-kura, tapi bekicot. o


A Muttaqin lahir di Gresik dan tinggal di Surabya. Buku puisinya adalah Pembuangan (2010) dan Tetralogi Kerucut (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A. Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Sabtu 31 Oktober 2015

0 Response to "Keturunan Kura-kura "