Kisah Sang Penulis [10] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kisah Sang Penulis [10] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:00 Rating: 4,5

Kisah Sang Penulis [10]

Keesokan harinya, Dea menemukan alat perekam Alena tergeletak di meja teras, menindih selembar kertas bertuliskan: Aku lelah sekali, Dea. Semalam aku tidak tidur lagi. Kamu punya laptop, kan? Tolong kerjakan di tempat kosmu saja, ya. Peluk cium, Alena.

Peluk cium? Sejak kapan Alena jadi mesra begini? Tapi, Dea sudah belajar untuk tidak heran lagi dengan kelakuannya yang aneh-aneh. Maka, dia hanya mengangkat bahu dan pergi meninggalkan rumah Alena. 

Terima kasih, Alam. Kini aku tahu Lingga memang tak bisa kembali. Akulah yang harus menjemputnya. Dia pasti telah menungguku di istana kami. Sudah tidak ada orang lain lagi di sana. Hanya kami berdua yang tak akan pernah dewasa. 

Deg! Entah mengapa kalimat terakhir itu membuat jantung Dea berdebar. Tapi, dibuangnya jauh-jauh pikiran buruknya dan dia kembali memusatkan perhatian pada kata-kata Alena yang masih mengalir di telinganya.

“Dea, hidup sudah berkali-kali mencurangi aku. Sekarang aku punya kesempatan untuk membalasnya. Aku tidak ingin dicurangi lagi. Sebelum hidup memaksaku pergi dengan kesakitan, aku akan pergi lebih dulu. Dengan damai, tenang, tanpa sakit, dan indah se­perti saat aku dilahirkan. Jangan kaget begitu, Dea. Percayalah, aku akan lebih bahagia. Karena, dia sudah menungguku, dan aku akan menyesal jika tidak segera mendatanginya.” 

Alena tertawa kecil, lalu melanjutkan, “Untunglah, wanita itu se­kali lagi melakukan perbuatan bodoh dengan memamerkan lukisan-lukisan paling pribadi milik Lintang. Baru kali ini aku mengagumi dan mensyukuri kebodohannya. Aku jadi tahu Lin­tang tak pernah melupakan aku. Seumur hidupnya. Oh, aku masih tak percaya, betapa mudah hidup bisa diperdaya.” 

Alena terdiam sebentar, kemudian berkata, “Aku harap kau tidak menangisi aku, Sayang. Aku bersyukur bisa mengenalmu di saat-saat terakhirku. Kau teman terbaik yang telah lama tak kumiliki.”

Dan begitu saja, kata-kata Alena terhenti. Dea memutar kaset hingga habis, tapi tidak ada pesan apa-apa lagi. Dia terdiam, dan perlahan-lahan semua mulai jelas baginya. Lingga dan Ana, Lintang dan Alena. Lukisan itu. Gadis berpakaian putih. Putri Ana. 

Saat kesadaran menghantamnya dengan kuat, Dea hanya bisa me­­nutup wajah dengan kedua tangan, lalu terisak. De­ngan tangan gemetar dia menekan nomor ponsel Rani. Dengan tegar dia berkata, “Rani, bisakah kau ke rumah Alena sekarang? Penting sekali, aku rasa kau harus ke sana sekarang juga.” 

Lalu, dia menutup telepon.

Dea duduk berhadapan dengan Rani di ruang kerjanya yang sempit dan berantakan. Dalam beberapa hari terakhir, kedua wanita yang baru kehilangan sahabat itu disibukkan oleh urusan pemakam­an, pemberitahuan kepada pers dan semua pihak yang terkait, pengu­muman resmi kepada penggemar, dan adalah penyusunan laporan oleh polisi tentang dugaan bunuh diri. Mereka harus berkali-kali memberikan kete­rangan kepada pihak berwajib. 

Kini setelah semua berlalu, mereka punya waktu untuk duduk berdua dan bicara dari hati ke hati. Alena mewariskan rumah beserta seluruh isinya kepada Dea, dan Rani sama sekali tidak mau mendengar penolakan Dea. Dia meyakinkan Dea bahwa Alena pasti akan terluka, jika Dea menolak. 

Mereka juga membicarakan kemungkinan diterbitkannya cerita Dea, yang dengan diam-diam ditunjukkan Alena kepada Rani. Dan untuk itu, Dea sangat berterima kasih kepada Alena. 

Hampir tiga jam lamanya mereka mengobrol, sebelum akhirnya Dea berpamitan. 

“Tunggu dulu. Dea,” kata Rani menghentikan langkah Dea. “Aku sangat tertarik pada ceritamu. Tapi, sebelum itu, bisakah aku meminta sesuatu kepadamu? Dari tadi aku merasa ragu untuk membicarakan ini, tapi aku benar-benar harus menanya­kannya.”

“Tentu saja, silakan,” sahut Dea sedikit terkejut, seraya duduk kembali di kursinya. 

“Kau orang terdekat yang mendampingi Alena di saat-saat tera­k­hirnya. Banyak sekali orang yang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa tiba-tiba Alena memutuskan untuk... kau tahu... minum obat tidur dan berbaring tenang di ranjangnya dengan setangkai mawar di tangan. Harus diakui, itu memang agak... ya, agak sensasional dan... banyak yang menanyakannya, termasuk atasanku. Jadi...,” Rani terlihat sulit mengutarakan maksudnya, “Maukah kau menuliskan kesaksianmu? Semua yang kau tahu? Kami yakin tulisanmu akan laris dan... langsung melambungkan namamu. Setelah itu, pasti tak akan sulit mempromosikan novel pertamamu karena kau sudah dikenal. Bagaimana?” tanya Rani, menatap Dea lekat.

Dea terdiam sejenak. Laris, novel pertama, terkenal. Kata-kata itu berputar-putar di kepala Dea. Hanya sejenak, sebelum dia menjawab dengan tegas, “Maaf Rani, aku terpaksa menolaknya. Itu sama saja aku mengkhianati Alena. Dan ketenaran sedahsyat apa pun akan terlalu murah untuk membayarnya.”
Rani tidak bertanya lagi. 

Dalam perjalanan pulang, Dea bertanya-tanya apakah Rani serius dengan permintaannya tadi. Dia bersahabat baik dengan Alena, dan dia sudah membaca tulisan terakhir Alena. Seharusnya dia juga bisa menarik kesimpulan yang sama dengan Dea. Masa dia tega menjadikan sahabatnya sendiri sebagai komoditas?

Kemudian terlintas di benak Dea bahwa mungkin Rani ha­nya mengujinya. Dia ingin tahu serendah apa moral calon penulis yang akan ditanganinya ini. Pikiran itu mau tidak mau membuat Dea tertawa. Rani dan Alena memang sama saja, senang menguji orang-orang yang lugu seperti aku, katanya dalam hati. Tidak dipedulikannya tatapan orang-orang di dalam bus yang memandang­nya dengan aneh. 

Mungkin, hidup tidak benar-benar curang pada mereka. Mungkin hidup punya cara ajaib untuk menunjukkan jalan. Dan, di siang yang panas itu, di dalam bus yang sesak, di tengah suara cempreng pengamen, Dea berjanji pada dirinya dengan sepenuh hati. 

“Aku akan sekolah lagi. Akan kulakukan apa pun untuk menambah ilmu. Setelah itu aku akan menulis dan terus menulis hingga usiaku menembus hitungan jari, sampai aku tak kuat lagi berlama-lama menatap layar komputer, sampai aku tak sanggup lagi menge­tikkan kata-kata yang aku rangkai, dan harus minta tolong pada editorku yang lebih muda, untuk memasang iklan di surat kabar, yang berbunyi: ‘Dicari asisten penulis’.” (Tamat)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Barokah Ruziati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Kisah Sang Penulis [10]"