Kisah Sang Penulis [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kisah Sang Penulis [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:33 Rating: 4,5

Kisah Sang Penulis [5]

Ketika membuka pintu rumah, Dea sedikit kaget melihat penampilan sang penulis hari ini. Kaus turtleneck putih lengan panjang, rok lebar motif retro hitam putih, sabuk merah, dan sandal merah. Rambutnya disanggul di tengkuk dan seperti biasa sekuntum bunga terselip di sanggulnya. 

“Wah, cantik sekali Ibu hari ini. Mau ke mana?” tanya Dea ingin tahu.

Sang penulis yang tidak menyadari kedatangan Dea, langsung membalikkan badan. Ketika melihat gadis itu, senyumnya pun mengembang. “Hari ini kita libur, Dea,” katanya, ceria.

“Tapi, ini kan hari Sabtu, Bu,” kata Dea, mengingatkan.

“Aku tahu ini hari Sabtu, anak bandel, aku belum pikun,” sergahnya, kesal. Dea tertawa. “Maksudku, hari ini aku mau mengajakmu jalan-jalan. Kamu pasti bosan kan berbulan-bulan terkurung di rumah ini? Aku juga bosan. Makanya, hari ini aku umumkan sebagai hari libur dan kita pergi jalan-jalan. Aku yang traktir!” 

Ajakannya lebih seperti perintah yang tak boleh ditolak. Tapi, Dea memang tidak ingin menolaknya. Entah sudah berapa lama dia tidak bersenang-senang. Selain karena harus menghemat uang, dia juga belum hafal betul kota ini. Malas rasanya kalau setiap saat mesti bertanya pada orang lewat. Sudah beberapa kali dia mendapat pengalaman tidak menyenangkan, ketika terpaksa harus bertanya pada orang-orang di jalan. Ada yang memandang curiga, ada yang menggeleng tak acuh, bahkan ada yang malah menggodanya. Ada juga yang baik, sih, tapi....

“Aduh, kamu itu terlalu banyak pikiran, ya. Diajak jalan-jalan, kok, malah melamun,” kata sang penulis gemas, sambil mencubit pipi Dea.

Dea tersenyum malu. Dia ingin sekali jalan-jalan. Tapi, melihat sang penulis berdandan dengan begitu modisnya, dia jadi tidak percaya diri. Dia hanya memakai celana jeans lamanya dan kaus hijau tua polos. 

“Tapi, Bu, pakaian saya seadanya begini. Ibu tidak bilang kalau mau jalan-jalan,” katanya, setengah memprotes.
Sang penulis mengamatinya sejenak, lalu berkata, “Hei, pakaian itu kan cuma status. Kamu sendiri yang bilang begitu. Jadi, sebenarnya apa bedanya kamu pakai jeans kumal atau gaun sutra?” tanyanya, menggoda.

Dea hanya bisa tertawa. Lalu, dengan langkah ringan mengikuti sang penulis yang sudah berjalan ke luar rumah. Tepat saat itu taksi yang dipesan sang penulis tiba.

Siang itu mereka menonton film di bioskop, dilanjutkan dengan makan sore, belanja buku, dan diakhiri dengan minum kopi di sebuah kafe. Seperti biasa, sang penulis memesan kopi tubruk dengan sedikit gula. Dea yang tidak terlalu suka kopi, memesan secangkir cokelat panas. 

Obrolan mereka terhenti, ketika mereka merasa perlu mengomentari sepasang anak muda di meja sudut kafe, yang kelihatannya sedang bertengkar. Tak lama kemudian si wanita berdiri, lalu langsung berlari ke luar kafe. Kekasihnya terbirit-birit mengejar dengan wajah memelas.

“Ah, anak-anak. Hidup ini dianggap seperti sinetron saja bagi mereka. Kalau tidak suka, bisa take ulang atau diganti pemerannya. Mereka yakin banyak aktor lain yang dengan senang hati mengisi tempat yang ditinggalkan pemeran sebelumnya,” kata sang penulis, setengah melamun.

“Mungkin, itu gara-gara mereka kebanyakan nonton sinetron, Bu,” sahut Dea, yang sedang tak ingin bicara serius.
“Ya, dan kamu malah mau menyumbang jadi penulis naskahnya!” sang penulis membalas Dea dengan ledekannya yang mengena. 

Mereka pun larut dalam tawa.

“Aku terkena kanker, Dea,” kata sang penulis tiba-tiba, tanpa mengubah nada suaranya. 

Dea mematung. Dia takut salah dengar. Wajah sang penulis tidak berubah, semburat senyum masih tertinggal di bibirnya. Benarkah yang dia dengar tadi?

“Kamu tidak salah dengar,” ujarnya lembut, seakan membaca pikiran Dea. “Kanker paru-paru.” Dia menambahkan keterangan itu, seolah Dea membutuhkannya. 

“Aku....” Dea tak tahu harus berkata apa. 

Sang penulis mengangkat tangannya seraya tersenyum. “Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku tidak minta dihibur, kok. Aku sudah tahu apa yang ingin kamu katakan dan aku tidak membutuhkannya. Aku hanya ingin kamu tahu saja, supaya tidak kaget. Aku tidak mau jika suatu hari nanti kamu masuk ke rumahku dan mendapati aku sudah tidak bernyawa, kamu malah kabur karena takut dituduh membunuh. Padahal, aku memang sakit,” katanya, sambil terkekeh.

Dea merengut. Dia tidak menganggap ini sesuatu yang pantas ditertawakan. Tega sekali dia mengumumkan sesuatu seperti itu, ketika Dea sedang tidak siap sama sekali. Dea tak bisa mencegah ingatannya yang kembali melayang ke almarhumah ibunya. Sungai duka itu mulai merambat lagi di sudut matanya.

“Hei,” panggil sang penulis seraya mengangkat dagu Dea. “Maaf, kalau pemberitahuan ini begitu tiba-tiba. Tapi, percayalah, untuk hal-hal seperti ini, kamu tak akan pernah siap,” katanya, bijak. 

Dea tidak menjawab. Dia masih kesal. 

“Sudahlah, Dea, jangan kamu rusak hari ini. Kita kan sedang bersenang-senang,” bujuk sang penulis. 

Dea masih diam. 

“Inilah yang namanya hidup. Kamu seharusnya tahu, hidup tidak selalu berisi kisah bahagia.” Melihat Dea bergeming, sang penulis tak melanjutkan kata-katanya. 

Dea ingin marah, tapi dia tahu tidak pada tempatnya dia berbuat begitu. Dia sadar, bagi penderita kanker paru-paru, waktu adalah benda paling berharga, karena usia mereka sudah digariskan tidak akan bertahan lama. Dan, jika sang penulis ingin dia melupakan penyakitnya, Dea tidak punya hak untuk menghancurkan keinginan itu. Biarlah pemberitahuan mengejutkan itu dia simpan di laci terbawah dari lemari ingatannya, dia kunci rapat, lalu dia buang kuncinya. 

Setelah beberapa saat, Dea menghela napas panjang dan terlihat mulai tenang. 

Sang penulis mengangkat wajah dan pandangan mereka berserobok. “Kau sudah tidak apa-apa, Dea?” tanyanya, hati-hati. 

Dea mengangguk. “Tapi, lain kali, Ibu harus memberi peringatan dulu sebelum mengatakan sesuatu yang mengejutkan seperti tadi. Bagaimanapun, hidup ini perlu persiapan, Bu,” kata Dea, dengan nada merajuk. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Barokah Ruziati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Kisah Sang Penulis [5]"