Kisah Sang Penulis [6] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kisah Sang Penulis [6] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:46 Rating: 4,5

Kisah Sang Penulis [6]

Sang penulis tertawa, lalu mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya. “Aku janji! Sumpah! 
Dea tak bisa menahan senyumnya. 

“Nah, begitu, dong. Ayo, sekarang giliranmu menceritakan kecurangan hidup ini padamu,” kata sang penulis. 

“Kecurangan hidup?” tanya Dea, tak mengerti.

“Ya, aku sudah dicurangi oleh hidup. Dulu sewaktu aku masih merokok, tak pernah terjadi sesuatu apa pun padaku. Setelah aku berhenti, sudah lama sekali aku berhenti, tiba-tiba aku dinyatakan terkena kanker paru-paru. Apa itu namanya bukan curang?” keluh sang penulis, seperti mengadu.

Dea tertawa kecil. Ada-ada saja perumpamaan yang dipakainya. 

“Ya, Dea, aku lebih suka bilang kecurangan hidup daripada takdir. Aku tak mungkin memprotes takdir. Tapi, aku bisa mengumpat hidup karena sudah berbuat curang padaku. Itu membuatku merasa lebih mudah menghadapi masalah. Nah, apakah hidup pernah berbuat curang padamu?” tanyanya lagi.

Dea ragu-ragu. Dia sebenarnya masih enggan menceritakannya. Tapi, sebagian dari dirinya ingin membagi kisah dengan wanita tua yang baik hati ini. Akhirnya, mengalirlah kisah itu dari mulut Dea. 

“Ya, tentu saja, hidup pernah curang padaku. Saat baru lulus D-3, aku merasa sangat yakin dengan masa depanku. Aku pintar dan masih muda. Aku melamar ke radio paling terkenal di kotaku dan langsung diterima sebagai penulis naskah. Aku merasa menemukan duniaku di situ. Radio tempatku bekerja sering mengangkat topik-topik menarik untuk dijadikan bahan diskusi dengan pendengar. Kami juga sering mengundang para ahli untuk berbicara tentang berbagai masalah. Mulai dari politik, sosial, budaya, gender, semuanya. Selain itu, kami juga punya program sandiwara radio bertemakan topik-topik yang sedang hangat. Aku bisa mencurahkan hasrat menulisku sepuasnya di situ.” Saat bercerita, wajah Dea tampak berseri-seri.

“Lalu?” sang penulis mendorong Dea untuk bercerita lebih banyak lagi.

“Salah seorang penyiar adalah putri pemilik radio. Orang terpandang di kotaku. Bisa dibilang dia yang punya kota. Yah... mungkin itu terlalu berlebihan, tapi Ibu pasti paham maksudku,” kata Dea, seolah meminta untuk dimengerti. “Aku yang saat itu sudah merangkap sebagai produser selalu diminta mendampingi sang putri saat dia siaran.”

“Tentu saja, mereka butuh orang terbaik untuk menutupi kekurangannya,” kata sang penulis, lugas. 

Dea menatapnya dengan pandangan senang.

“Yah, Ibu yang bilang begitu, bukan saya. Suatu hari, mungkin karena banyak yang harus aku kerjakan, atau mungkin karena aku sedang tidak konsentrasi, ada beberapa kesalahan pada naskahku. Kesalahan cukup fatal, menyangkut nama dan peristiwa. Mungkin aku memang salah, tapi seharusnya dia sebagai penyiar juga memahami apa yang dia baca dan bisa mengoreksi kesalahan yang aku buat. Ketika banyak pendengar yang protes, sang putri marah besar dan menimpakan semua kesalahan padaku. 

“Selanjutnya klise, Ibu pasti sudah bisa menebak. Aku dipecat dan namaku tiba-tiba dihindari oleh para pencari pegawai di kota kecil kami. Aku menyerah, lalu memutuskan pindah ke Jakarta. Mungkin keputusan yang terburu-buru dan terlalu emosional. Aku tidak memperhitungkan bahwa wanita muda yang pintar dan gesit di Jakarta jumlahnya ribuan. Pengalaman yang kumiliki seperti tidak ada artinya di sini. 

“Sebelum bertemu Ibu, aku sempat merasa salah langkah dan berniat pergi dari kota besar ini. Tapi, berkat iklan yang dipasang Rani di koran, aku jadi yakin kedatanganku ke Jakarta memang sudah merupakan jalan hidupku,” Dea mengakhiri kisahnya. 

“Aku tersanjung mendengarnya,” kata sang penulis, sambil menggenggam tangan Dea. “Aku senang kau sudah merasa yakin bahwa ini adalah jalan hidupmu. Tapi, hati-hati, jangan sampai hidup berbuat curang lagi padamu,” katanya, mengingatkan.

Mereka seakan menemukan kekuatan baru. Dua jiwa yang terbebas dari sebuah rahasia. Dua jiwa yang disatukan oleh kepahitan hidup. Dan, malam pun turun di kota Jakarta yang gemerlap. 

Lingga kembali kepadaku. Setelah berbulan-bulan tanpa kabar, dia menghubungiku dan berkata ingin bertemu denganku. Awalnya dia menolak bertemu di istana kami, yang sekarang lebih senang disebutnya sebagai pondok di atas pohon. Aku tidak keberatan dengan sebutan itu. Apa pun namanya, asalkan Lingga senang, aku terima saja. Setelah berdebat beberapa lama, akhirnya dia mengalah dan kami berjanji akan bertemu sore ini. 

“Ana,” panggilnya saat memasuki pintu istana. Aku mendongak dan menatap wajah yang begitu kurindukan. Aku tersenyum, tak bisa berkata apa-apa. Hatiku terlalu sesak oleh bahagia.

Lingga mendekat dan duduk di sampingku. “Maafkan aku,” katanya. 

Aku mengangguk. Mana pernah aku marah padanya? 

“Seharusnya aku tidak berkata sekeras itu padamu. Seharusnya aku lebih sabar. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu dan....”

“Sudahlah,” aku memotong ungkapan penyesalannya. “Itu sudah berlalu. Sekarang kau sudah kembali ke sini. Tak ada lagi yang perlu disesali.”

Tapi, Lingga tetap gundah. Dia tepekur menatap lantai di bawah kakinya. Untuk beberapa saat kami hanya terdiam. Aku ingin tahu apa gerangan yang masih mengganjal di hatinya. 

Ketika akhirnya Lingga mengangkat muka dan menatapku, aku terkesiap melihat matanya yang berkaca-kaca. “Ada apa?” tanyaku.

“Aku tidak akan kembali ke sini,” jawab Lingga.

“Tapi....”

“Aku sudah menemukan apa yang kucari,” lanjutnya cepat-cepat. “Bersamanya aku bisa menjalani kehidupan yang nyata dan sederhana. Saat masalah datang bertubi-tubi, dia menguatkan aku untuk menghadapinya, dan bukan mengajak aku melarikan diri darinya.”

“Maksudmu...,” aku mencoba menyela.

“Aku tak bisa mengikutimu. Kau juga tak bisa mengikuti aku. Kukira aku bisa hidup di duniamu. Tapi...,” dia berhenti sebentar, meng­hela napas. “Ku mohon, lihatlah ke luar sana. Semua sudah berubah, Ana, pahamilah itu. Aku mohon, demi kebaikanmu sendiri, hentikan semua ini,” katanya, sambil menunjuk ke sekeliling kami. 

Aku menatapnya dalam-dalam. Aku tak percaya ada putri yang lain dalam hidupnya. Lingga tampak kesal melihatku hanya diam. Memangnya dia berharap aku akan berkata apa? 

Tiba-tiba dia berdiri dan melangkah ke pintu. Sebelum keluar dia berpaling dan berkata, “Selamat tinggal. Ana. Maafkan aku.” 

Lalu, dia menghilang, membawa serta sebagian jiwaku dan meremukkan sebagian lagi yang masih tersisa. 
Aku bangkit dari dudukku dan mendekati gambar gadis kecil di padang rumput. Perlahan-lahan, dengan hati tersayat, aku turunkan gambar itu. Aku tak mengerti. Kenapa dia tidak mencoba mengajakku ke dunianya sebelum meninggalkan aku sendiri di sini?

Dan saat itu aku tahu, Lingga tak akan pernah kembali lagi.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Barokah Ruziati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Kisah Sang Penulis [6]"