Kisah Sang Penulis [7] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kisah Sang Penulis [7] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:48 Rating: 4,5

Kisah Sang Penulis [7]

“Dea, coba tebak?! seru sang penulis suatu hari, sambil berlari-lari masuk ke ruang kerja. Saat itu Dea sedang mencetak beberapa bab yang akan diserahkannya kepada Rani. 

“Kenapa, Bu?” tanya Dea, heran. Sang penulis melambai-lambaikan selembar surat di depan wajah Dea. Dea mengambilnya dan membacanya. Lalu, dibacanya sekali lagi. Surat itu berisi permohonan untuk menjadi tamu di acara bincang-bincang radio. Radio nomor satu di sebuah kota kecil. Radio tempat Dea bekerja dulu. Setelah beberapa saat, Dea mengangkat wajahnya dan menatap sang penulis dengan pandangan bertanya.

“Ya, bagaimana menurutmu? Ah, sudahlah, kau tak perlu menjawabnya. Aku akan menerimanya. Aku tak peduli apa pendapatmu,” katanya, tanpa menunggu jawaban Dea.

“Kenapa?” tanya Dea, lugu.

“Hei, biar sudah tua begini, pembaca bukuku masih banyak. Dan aku tak pernah mau mengecewakan penggemar. Jadi, kalau penggemarku di kota itu menginginkan kehadiranku, tentu saja aku akan datang. Satu hal lagi, kau ikut denganku,” katanya, riang. 

“Kenapa?” tanyanya, seakan hanya satu kata itu yang bisa dia ucapkan.

“Karena, kau asistenku dan asistenku harus menemani aku ke mana pun aku pergi. Jadi, kemasi barang-barangmu, dan lusa kita berangkat. Ingat, bawa bajumu yang bagus-bagus. Kau ingin tampak hebat kan di depan mereka?” katanya sok tahu, lalu meninggalkan Dea dalam kepanikan. 

“Aku juga heran. Sudah beberapa tahun terakhir ini dia tak pernah mau meninggalkan Jakarta, kecuali ada urusan yang sangat penting. Dia selalu beralasan kesehatannya sudah tidak memungkinkan untuk bepergian jauh. Makanya, aku kaget waktu dia bilang mau menerima undangan ini,” jelas Rani, saat berbincang dengan Dea di telepon malam itu. 

“Mungkin ada alasan lain?” tanya Dea.

“Setahuku kota itu tak punya arti penting apa pun bagi dia. Penggemarnya kan ada di mana-mana, dan selama ini dia mudah saja menolak undangan dari kota-kota lain,” jawab Rani yakin.

“Mungkinkah dia yang meminta?” tanya Dea lagi.

“Dia minta diundang?!” seru Rani kaget. Lalu, dia tertawa. “Aku berani bersumpah, kalau dia masih waras, dia tak akan pernah melakukan hal semacam itu. Lebih baik dia makan tanah daripada meminta-minta orang untuk mengundang atau mewawancarainya. Tapi, kita memang tak pernah bisa menebak jalan pikirannya. Siapa yang tahu tentang apa yang sedang direncanakannya sekarang?”

Setelah mengakhiri pembicaraan mereka, Dea duduk termenung di kamar kosnya. Mungkinkah ini hanya kebetulan? Kepalanya mendadak pusing. Bukan hanya karena harus menghadapi masa lalu yang menyebalkan, tapi juga karena dia tak punya baju yang cukup bagus untuk tampak hebat di depan mantan rekan-rekan kerjanya. Ralat. Seorang mantan rekan kerjanya. 

Mobil yang membawa mereka memasuki gerbang yang sudah begitu dikenal oleh Dea. Matanya langsung tertumbuk pada barisan huruf di dinding depan yang membentuk sebuah nama, Cakrawala FM. Dea melirik teman seperjalanannya yang duduk di sampingnya. Seperti biasa, tak ada sesuatu yang salah tempat pada diri wanita tua itu. Walaupun, tadi mereka harus berangkat pagi-pagi buta, terbang 1 jam lebih, dan langsung kemari tanpa beristirahat lebih dulu. Blus putih bertepi renda dan celana panjang abu-abunya masih rapi, gulungan rambutnya tak tercela. Dea tersenyum. Wanita ini begitu kuat dan yakin pada dirinya sendiri. Semua orang yang baru bertemu dengannya pasti langsung merasa segan, termasuk petugas humas dari radio yang menjemput mereka tadi. 

Di dalam, beberapa orang sudah menanti kedatangan mereka. Dea berpikir, seandainya dia masih bekerja di sini, pasti dia termasuk yang paling bersemangat menyambut penulis idolanya ini. 

Suasana canggung langsung terasa ketika mereka melihat Dea yang berdiri di belakang sang penulis. Dea sangat menyadarinya dan dengan gugup mengamati reaksi sang penulis. Apakah dia juga menyadarinya, pikir Dea. Tapi, wanita itu tampak tidak terpengaruh dengan keadaan di sekelilingnya. Dia tersenyum dan menyalami orang-orang yang menyambutnya. Dea pun mau tak mau ikut menyalami mereka. 

Sebagian dari mereka menyambut uluran tangannya dengan hangat, sinar di mata mereka seakan ingin berkata bahwa mereka selalu menganggap Dea sebagai teman. Walaupun mereka tak mengucapkan kata-kata sambutan yang manis, senyum dan sorot mata mereka membuat kegugupan Dea mencair. Dia masih punya teman di sini, teman yang tak terpengaruh oleh insiden konyol yang menimpa dirinya beberapa waktu lalu. 

Sampailah mereka di hadapan tuan besar pemilik radio. Dea tak pernah melupakan wajah itu. Sepasang mata dingin di balik kaca mata tipis dan senyum manis yang palsu, setidaknya menurut Dea begitu. Pria itu memperkenalkan diri pada sang penulis dengan keramahan yang dibuat-buat. Dia mengucapkan terima kasih, karena sang penulis mau meluangkan waktunya yang berharga untuk berkunjung ke tempat mereka yang sederhana. 

“Oh, Pak Gani, saya juga berterima kasih sudah diundang kemari. Ini asisten saya, Dea,” katanya, sambil menarik tangan Dea dan memaksanya bersalaman dengan Pak Gani. “Bapak harus berterima kasih pada Dea. Dia yang membujuk saya untuk menerima undangan Bapak. Katanya, di kota ini penggemar saya banyak. Jadi, mereka pasti senang kalau saya datang. Bapak sudah mempromosikan kehadiran saya, ‘kan?” tanya sang penulis, tanpa memedulikan Dea yang salah tingkah.

“Tentu sudah, Bu, para pendengar kami pasti sudah tidak sabar ingin segera berbincang dengan Ibu. Dari kemarin telepon tak pernah berhenti menanyakan kepastian kedatangan Ibu,” jawabnya.

“Wah, banyak pendengar berarti banyak iklan, dong, Pak,” goda sang penulis, yang langsung membuat Pak Gani terkekeh.

“Ya, lumayanlah, Bu,” katanya, riang.

“Tuh, Dea, kamu bawa rezeki buat radio ini. Ya, kan, Pak?” ucap sang penulis, sambil tertawa. 

Dea melirik ke belakang. Beberapa orang terlihat menahan senyum, ada juga yang menyeringai senang. Sementara keceriaan di wajah Pak Gani langsung memudar tersapu senyum kecut.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Barokah Ruziati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Kisah Sang Penulis [7]"