Kisah Sang Penulis [8] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kisah Sang Penulis [8] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:51 Rating: 4,5

Kisah Sang Penulis [8]

Mobil membawa mereka memasuki gerbang yang sudah begitu dikenal oleh Dea. Matanya langsung tertumbuk pada barisan huruf di dinding depan yang membentuk sebuah nama, Cakrawala FM. Dea melirik teman seperjalanannya yang duduk di sampingnya. Seperti biasa, tak ada sesuatu yang salah tempat pada diri wanita tua itu. Walaupun, tadi mereka harus berangkat pagi-pagi buta, terbang 1 jam lebih, dan langsung kemari tanpa beristirahat lebih dulu. Blus putih bertepi renda dan celana panjang abu-abunya masih rapi, gulungan rambutnya tak tercela. Dea tersenyum. Wanita ini begitu yakin pada diri sendiri. Semua orang yang baru bertemu dengannya pasti langsung merasa segan, termasuk petugas humas dari radio yang menjemput mereka tadi. 

Di dalam, beberapa orang sudah menanti kedatangan mereka. Dea berpikir, seandainya dia masih bekerja di sini, pasti dia termasuk yang paling bersemangat menyambut penulis idolanya ini. 

Suasana canggung langsung terasa saat mereka melihat Dea yang berdiri di belakang sang penulis. Dea sangat menyadarinya dan dengan gugup mengamati reaksi sang penulis. Apakah dia juga menyadarinya, pikir Dea. Tapi, wanita itu tampak tidak terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya. Dia tersenyum dan menyalami orang yang menyambutnya. Dea mau tak mau ikut menyalami mereka. 

Sebagian dari mereka menyambut uluran tangannya dengan hangat, sinar di mata mereka seakan ingin berkata bahwa mere­ka selalu menganggap Dea sebagai teman. Walaupun mereka tak mengucapkan kata-kata sambutan yang manis, senyum dan sorot mata mereka membuat kegugupan Dea mencair. Dia masih punya teman di sini, teman yang tak terpengaruh oleh insiden konyol yang menimpa dirinya beberapa waktu lalu. 

Sampailah mereka di hadapan tuan besar pemilik radio. Dea tak pernah melupakan wajah itu. Sepasang mata dingin di balik kacamata tipis dan senyum manis yang palsu, setidaknya menurut Dea begitu. Pria itu memperkenalkan diri pada sang penulis de­ngan keramahan yang dibuat-buat. Dia mengucapkan terima kasih, karena sang penulis mau meluangkan waktunya yang berharga untuk berkunjung ke tempat mereka yang sederhana. 

“Oh, Pak Gani, saya juga berterima kasih sudah diundang kemari. Ini asisten saya, Dea,” katanya, sambil menarik tangan Dea dan memaksanya bersalaman dengan Pak Gani. “Bapak harus berterima kasih pada Dea. Dia yang membujuk saya untuk menerima undangan Bapak. Katanya, di kota ini penggemar saya banyak. Jadi, mereka pasti senang kalau saya datang. Bapak sudah mempromosikan kehadiran saya, ‘kan?” tanya sang penulis, tanpa memedulikan Dea yang salah tingkah.

“Tentu sudah, Bu, para pendengar kami pasti tidak sabar ingin segera berbincang dengan Ibu. Dari kemarin telepon tak pernah berhenti menanyakan kepastian kedatangan Ibu,” jawabnya, de­ngan bangga. 

“Wah, banyak pendengar berarti banyak iklan, dong, Pak,” goda sang penulis yang langsung membuat Pak Gani terkekeh.

“Ya, lumayanlah, Bu,” katanya, riang.

“Tuh, Dea, kamu bawa rezeki buat radio ini. Ya, kan, Pak?” ucap sang penulis, sambil tertawa. 

Dea melirik ke belakang. Beberapa orang terlihat menahan senyum, ada juga yang menyeringai senang. Sementara keceriaan di wajah Pak Gani langsung memudar tersapu senyum kecut. Masih ada waktu setengah jam sebelum acara bincang-bincang dimulai. Sang penulis langsung masuk ke dalam ruang siaran. I­ngin melihat-lihat, katanya. Dea mengamati wanita itu dari balik din­ding kaca yang membatasi ruang siaran. 

“Hei, melamun!” seruan riang disertai tepukan keras di bahu membuat Dea sontak menoleh ke belakang. Matanya langsung berbinar begitu melihat sosok Risa, sahabatnya. Mereka berpeluka­n. 

“Wah, cuma kamu yang berani menyambutku terang-terangan seperti ini,” kata Dea, riang.

“Ya, kau tahu sendiri, kalau di hadapan bos, mana berani mereka macam-macam,” jawab Risa, memberi pengertian. 

“Aku mengerti, kok,” sahut Dea, tenang.

“Wah, kamu pasti senang sekali, deh, bisa jadi asisten penulis idolamu itu. Mimpi apa kamu?” goda Risa, disambut tawa lepas Dea. Sebentar saja mereka sudah tenggelam dalam obrolan seru.

“Sudah mau siaran, jangan bercanda terus,” sebuah suara ketus menghentikan obrolan mereka. Sesosok gadis cantik berdiri sambil bersedekap di hadapan mereka. “Senang, ya, bisa jadi asisten orang terkenal,” katanya sinis kepada Dea. 

Dea tidak menjawab, hanya menatapnya dengan pandangan kosong. 

“Sudah jago, dong, bikin kopi,” katanya, sambil berlalu. 

“Setidaknya, dia bekerja dengan usaha sendiri,” gerutu Risa, cukup keras untuk membuat gadis itu melotot padanya. 

Risa hanya mengangkat bahu. Setelah merasa aman dari jangkauan pendengaran sang putri, Risa dengan berapi-api melanjutkan ceritanya. “Saat tahu sang penulis terkenal akan datang, dia langsung memutuskan bahwa dialah yang paling pantas untuk mewawancarainya. Uti yang sudah kami pilih karena memang dia yang paling menguasai materi, disingkirkannya begitu saja. Dia malah menyu­ruh Uti menyiapkan semua bahan untuknya,” omel Risa.

Dea tersenyum. Tak ada gunanya membahas kelakuan orang se­perti itu. Cuma bikin sakit hati dan menambah berat beban dosa.

Lampu on air sudah menyala. Siska, si gadis cantik, putri pemilik radio, menyapa pendengar dan memperkenalkan tamu isti­mewa yang akan meramaikan siarannya pagi itu. 

“Wah, banyak sekali bahan yang kamu kumpulkan tentang saya,” sang penulis tiba-tiba menyela aliran kata-kata Siska. 

Siska yang tampak agak terkejut, menatap lembar-lembar kertas yang ada di tangannya. “Ibu seorang penulis terkenal dengan jam terbang tinggi. Sudah tentu banyak yang bisa saya kumpulkan tentang perjalanan karier Ibu,” jawabnya, diplomatis.

“Maaf, boleh saya bertanya sesuatu? Saya tidak terlalu akrab de­ngan dunia radio, jadi banyak sekali yang ingin saya ketahui,” kata sang penulis, sebelum Siska sempat berbicara lagi. 

Siska memberi tanda menyilakan sang penulis bicara. 

“Biasanya, materi siaran disiapkan sendiri atau sudah ada yang membuatkan dan penyiar tinggal membaca saja?” tanyanya lembut. 

Siska mengerutkan kening. Kenapa wanita tua ini tidak membiarkan dia bicara? Tapi, dia berusaha menyembu­nyikan kekesalannya dan menjawab pertanyaan aneh tadi. “Kami mengerjakan bersama-sama, Bu. Penyiar, produser, penulis naskah, semua terlibat dalam pemilihan tema dan persiapan materi,” jawab Siska, mantap.

“Oh, bagus itu. Memang sebaiknya begitu. Berarti, kamu sudah tahu, berapa buku yang pernah saya tulis?” tanya sang penulis.

Siska melirik kertas-kertasnya sekilas dan menjawab, “Yang pasti sudah lebih dari 20 buku.”

Sang penulis tertawa, “Ya, ya, itu benar. Saya paling senang me­nulis cerita anak-anak. Karena memberi kebebasan pada saya untuk berkhayal sepuasnya dan mereka-reka karakter-karakter ajaib yang tak akan bisa ditemui di dunia nyata,” katanya, bersemangat. 

Siska membalik-balik kertas di tangannya, berusaha mengikuti arah pembicaraan sang penulis yang ternyata cerewet dan senang melantur. Dalam hati dia mengumpat Uti, karena tidak memberitahunya tentang buku anak-anak yang pernah ditulis wanita tua ini. Siska hanya tahu dia penulis fiksi dewasa dengan tema yang beragam dan terkadang tidak berhubungan satu sama lain. Tiba-tiba Siska menyadari sang penulis sudah berhenti bicara. 

“Kamu tidak akan menemukannya di kertas-kertas itu,” kata sang penulis, sembari menunjuk ke tangan Siska. “Karena, seumur hidup saya tidak pernah menulis buku anak-anak.” Siska terdiam, tak tahu harus berkata apa. “Nah, sekarang lebih baik kita buka line telepon saja. Saya lebih senang bicara langsung dengan penggemar saya yang pasti lebih tahu tentang karya saya daripada Mbak,” katanya lagi, tanpa memedulikan Siska yang wajahnya terlihat merah padam. 

Dea menoleh saat mendengar Risa terkekeh. Dia menyentuhkan jari telunjuk ke bibirnya, menyuruh Risa diam. Setelah itu dia memusatkan perhatian ke dalam ruang siaran. Saat matanya bertatap­an dengan sang penulis, Dea tak bisa menahan senyum, melihat sang penulis mengedipkan sebelah mata ke arahnya. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Barokah Ruziati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Kisah Sang Penulis [8]"