Kisah Sang Penulis [9] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kisah Sang Penulis [9] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:53 Rating: 4,5

Kisah Sang Penulis [9]

“Ibu bisa masuk daftar hitam di radio itu.”

“Ah, Dea, mau daftar hitam atau daftar ungu, aku tidak peduli. Memangnya aku mau hidup berapa lama lagi sampai perlu takut masuk daftar hitam? Tidak ada pengaruhnya buatku.” 

Saat itu mereka dalam perjalanan ke rumah Dea, dan sang penu­lis tidak henti-hentinya menertawakan aksi cemerlangnya tadi. Dea akhirnya ikut tertawa dan dalam hati bertanya-tanya, seandainya dia sendiri yang mengerjai Siska seperti tadi, pasti rasanya puas sekali. 

Sesaat sebelum turun dari mobil, sang penulis berkata, “Dea, mulai sekarang kamu panggil aku Alena. Oke? Aku tidak mau dengar lagi kamu memanggilku Ibu.” 

PAMERAN TERAKHIR SANG MAESTRO

Kabar gembira bagi para penggemar dan pemburu lukisan Alm. Lin­tang Kala. Dua tahun setelah kepergiannya, janda mendiang, Agustina, memutuskan untuk melepas lima lukisan Lintang yang selama ini hanya menjadi koleksi pribadi dan tidak pernah diperlihatkan kepada publik. 

“Lukisan-lukisan itu mungkin punya arti khusus bagi suami saya, dan sebab itu hanya dia simpan di studionya. Tapi, saya rasa akan lebih baik jika lukisan-lukisan itu dimiliki oleh kolektor lukisan yang mungkin bisa lebih mengapresiasi. Bukan saya tidak menghormati peninggalan suami saya, tapi sayang jika lukisan-lukisan kesayangan beliau itu hanya teronggok di dalam studio, tanpa ada yang menikmati keindahannya,” kata Agustina dalam konferensi pers yang digelar kemarin sore. 

Pameran ‘terakhir’ Lintang dibuka hari ini di Galeri Manik dan akan berlangsung selama dua minggu penuh, untuk memberi kesempatan pada publik yang ingin menikmati lukisan-lukisan tersebut, sebelum dilelang kepada kolektor terbatas, bulan depan.

Dea membaca berita pendek di koran itu tanpa banyak menaruh minat. Dia hanya penasaran karena sudah beberapa hari ini dia memergoki Alena sedang menekurinya. Walaupun sudah tiga hari, koran itu masih tergeletak di ruang tamu, terlipat tepat di bagian berita itu dimuat. 

Saat makan siang, Dea memberanikan diri bertanya apakah Alena ingin melihat pameran lukisan. 
Alena terkesiap. “Kok, tiba-tiba kamu bertanya begitu?” katanya. 

Dea tertawa. “Jangan kaget begitu, aku cuma melihat dari kemarin kamu terus-menerus membaca berita tentang pameran lukisan Lintang Kala. Aku pikir, kamu ingin melihatnya, tapi tidak tahu harus mengajak siapa,” jawabnya. 

“Wah, kamu ini, kok, perhatian sekali, ya,” Alena masih heran.

“Iya, dong, aku kan asisten yang baik,” sahut Dea, bercanda. “Jadi, kita ke pameran lukisan, nih?” tanyanya lagi.
“Ah, aku tidak terlalu berminat, kok. Cuma iseng saja baca beri­ta itu. Lagi pula, aku tidak yakin kamu suka.” Alena mengelak.

“Benar, nih, tidak mau? Pameran terakhir, nih. Kalau nanti sudah dibeli kolektor, kita kan tidak bisa melihat lagi.” 
Alena akhirnya menyerah. “Baiklah kalau kamu memaksa. Setelah makan siang, kita ke Galeri Manik, ya.”
Setelah percakapan itu, Dea lihat, Alena lebih bersemangat.

Galeri Manik tidak terlalu ramai siang itu, sehingga mereka berdua bisa leluasa mengamati lukisan yang dipamerkan. Kelima lukisan Lintang Kala yang tak pernah diperlihatkan kepada publik itu dipajang berjauhan. 

Lukisan pertama menggambarkan padang rumput luas dengan bunga-bunga kecil di sana-sini, langit biru membentang, dan sebatang pohon di kejauhan. Dea mengernyitkan dahi saat melihat judul lukisan. “Fantasy Prairie”. Mungkinkah ada yang mau mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk lukisan seperti ini? Ya, mungkin saja, Dea menjawab pertanyaannya sendiri. Dia tahu para kolektor tidak segan-segan membeli lukisan yang dianggap potensial, dengan harga tinggi.

Lukisan kedua memperlihatkan dua anak yang sedang berlari sambil bergandengan tangan, tampak dari belakang. Di sekeliling mereka tidak ada gambar lain, hanya sapuan warna abu-abu dan putih. Judul lukisan itu Two Angels. Dea mendengar Alena tertawa pelan. Dia berpaling menatap wanita tua itu. Wajahnya terlihat senang dan matanya berbinar-binar. 

“Apa yang lucu?” tanyanya.

“Pasti bukan dia yang memberi judul. Aku yakin. Lukisan-lukisan ini sama sekali bukan untuk dijual,” kata Alena.
Dea tidak mengerti. Dari mana Alena tahu? “Kamu kenal Lin­tang?” tanyanya heran. 

Alena tidak menjawab, dia sudah beranjak ke lukisan berikutnya. Tapi, Dea sudah kehilangan minat dan hanya mengikuti langkah kaki Alena. Bukan pameran yang menarik, katanya dalam hati.

Lalu, tibalah mereka di lukisan terakhir. Terletak di tengah ruangan, lukisan itu paling menonjol, karena ukurannya yang cukup besar dengan gambar yang lebih meriah dari lukisan-lukisan sebelumnya. Seorang gadis manis berpakaian putih, duduk di te­ngah rumpun bunga berwarna-warni. Kuntum-kuntum bunga tersemat di bajunya, terselip di rambutnya, dan melingkar di pergelangan tangannya. Di kejauhan, sebuah kastil berdiri megah, keempat menaranya menjulang menembus awan. Dea merasa tidak asing dengan lukisan ini. Dia yakin pernah melihatnya. Tapi, di mana?

Sebelum Dea berhasil membongkar ingatannya, Alena sudah menariknya keluar dari galeri, langsung ke jalan, kemudian mendorongnya masuk ke taksi pertama yang berhasil dihentikannya. 

Mereka berkendara dalam diam. Begitu banyak yang ingin ditanyakan Dea, tapi Alena tampak berpikir keras dan wajahnya menunjukkan kesan tak ingin diganggu. Karena itu, Dea memutuskan tindakan terbaik yang dapat dilakukannya adalah tidak mengatakan apa pun.

Ketika taksi berhenti di depan rumah Alena, wanita itu bergegas menyelipkan uang pembayaran taksi ke genggaman Dea seraya berkata, “Sampai besok, Dea.” 

Setelah itu dia turun dan memberi tanda pada sopir taksi untuk melanjutkan perjalanan. Dea tak sempat berkata apa-apa dan saat dia menoleh ke belakang, dilihatnya Alena masuk ke rumahnya. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Barokah Ruziati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Kisah Sang Penulis [9]"