Kutukan Rahim (14) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (14) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:20 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (14)

WAKTU pun menggilas tatap muka sebentar antara si terpidana, Zul dan suaminya. Si terpidana segera naik ke mobil tahanan kejaksaan dan dilajukan ke rutan.

"Apa yang perlu kita lakukan kepada Mos?" tanya suami Zul.

"Aku harus mengabarkan ini kepada 'Pak Bos' dulu, kandidat yang kini jadi pemimpin itu. Biar dia yang memberi pelajaran," ujar Zul.

"Tapi, aku juga harus memberi pelajaran kepada Mos."

"Itu setelah 'Pak Bos' memberinya pelajaran."

***
"PAK BOS memarahi Mos. Bahkan menempeleng juga. Mos pun kalang kabut. Imbasnya, karir politiknya habis. Ia tidak dipercaya lagi oleh Pak Bos." Dan suami Zul, juga membuat perhitungan tersendiri terhadap Mos.

Sebagai sesama lelaki, suami Zul menginginkan sikap jantan Mos. Suami Zul menantang Mos duel. Mos sebenarnya sudah meminta maaf, namun suami Zul tidak memaafkan. Ia ingin Mos menerima tantangan duelnya. Mos akhirnya melayani dengan perasaan ingin menebus rasa malu dan dosanya. Tentu saja Mos langsung remuk. Babak bundhas.   Ia lebih banyak tidak melawan dan jika pun melawan sekadarnya. Tangannya bagaikan sudah tak bisa diigunakan memukul karena kuatnya tekanan rasa malu di dada.

***
KELEGAAN ada dalam binar sorot mata Zul dan suaminya di hari-hari tinggal di rumah baru mereka. Perlahan-lahan suami Zul bisa menerima anak Zul. Proses panjang rupanya sudah cukup dilalui suami Zul. Perjuangan perasaannya akhirnya memberikan ruang keikhlasan. Ia mau berkompromi dengan situasi.

Berita mengejutkan pun tiba. Ketika suatu pagi Zul dan suaminya membaca koran, ternyata si terpidana perkosaan itu malah mati bunuh diri di rutan.

"Ternyata, rahimmu tidak bisa bernilai main-main. Rahimmu mampu mengutuk orang yang melukainya," demikian komentar suami Zul seusai membaca berita bunuh dirinya si terpidana itu.

Anak Zul tiba-tiba muncul. Tentu, bagi Zul, belum saatnya anaknya tahu semua hal mengenai sejarah hidupnya. Sembari menyuapi anaknya pagi itu, Zul berjanji di dalam hati, suatu saat akan menjelaskan semuanya kepada anak semata wayangnya. Seperti ada kontak batin yang baik antara Zul dan suaminya, suami Zul pun berinisiatif  menyimpan semua koran yang memberitakan perihal kisah mereka, termasuk kisah si terpidana, ayah biologis anak Zul.

Pagi itu, tak mereka sadari, ternyata adalah pagi di hari Jumat. Sebuah hari yang tiba-tiba menyadarkan suami Zul dan juga Zul untuk segera kembali ke jalan Illahi. Sebuah jalan yang mereka sadari sudah lama mereka tinggalkan.

"Aku mau jumatan nanti," tutur suami Zul.

"Baguslah," Zul menanggapi singkat.

Mereka lantas terlibat dalam pembicaraan mengenai anak mereka. Rencananya, keesekan harinya, mereka mau mendaftarkan anak mereka ke play group.

"Sudah saatnya ia bersekolah," ujar Zul.

"Nanti aku yang mengantar setiapharinya," jawab suami Zul.

Mereka lantas berpelukan. Anak yang mereka bicarakan hanya memandangi tingkah mereka. Tak begitu paham kenapa orang tua mereka kini bercucuran air mata. Linangan air mata pengorbanan. Linangan air mata kebahagiaan.

Setelah didaftarkan pada hari Sabtu, hari Senin si anak sudah mulai masuk Play Group. Itulah hari pertama suami Zul sepenuhnya merasakan getaran perasaan sebagai ayah sejati. Itulah untuk pertama kalinya suami Zul meng-SMS si intel untuk mengucapkan terima kasih sudah membantu mengembalikan kebahagiaan keluarganya. Meski begitu, saat itu pulalah, di siang hari saat menjemput anaknya, suami Zul merasakan apa yang dilakukannya sontak menjadi bernilai hampa. Karena anak yang dijemput, ditunggui di pinggir jalan dekat sekolah Play Group-nya, tidak muncul-muncul. Kata ibu guru, tadi sudah ada yang menjemput. Pakai mobil. Setelah lama dicari ke mana-mana tak ketemu, pihak sekolah, Zul, dan suaminya menyatakan bahwa anaknya telah hilang. Diculik!

Mereka pun resmi melaporkannya  kepada polisi.

***
HARI pertama suami Zul menjadi sopir 'Pak Bos.' Ia langsung bisa mengatasi kecanggungan. Sembari nyetir dan 'pak bos' memilih di sampingnya. Suami Zul menceritakan soal feeling istrinya bahwa Mos ada di belakang penculikan anaknya. Cerita suami Zul itu membuat 'pak bos' lantas mengerutkan kening. Namun, bisa menerima logika atas kebenaran asumsi itu.

"Semuanya sangat  ungkin. Lebih baik, kau laporkan saja dugaanmu itu pada polisi sebagai pertimbangan peyelidikan lebih lanjut," ujar 'pak bos.'

Di tengah perjalanan itu pula SMS masuk ke 'pak bis.' Isinya sebuah laporan dari bawahannya. Ada sekelompok orang yang mendemo di kantor. Menyebarkan poster supaya 'pak bos' diturunkan dari jabatan kepala daerah. Sebab, jika ia masih menjabat akan berbahaya. Ia akan lebih memuliakan petani, buruh, nelayan dan semua bidang pekerjaan yang non-pemerintah. Yang pemerintahan malah disuruh prihatin. Kebijakan ini, dianggap oleh pendemo sebagai kebijakan yang mirip ala Partai Komunis Indonesia (PKI) dulu. Di mana posisi petani, buruh, nelayan, dan sejenisnya, dibela mati-matian.

Bawahan sang kepala daerah tersebut, selain mengirimkan foto-foto suasana demo melalui Whats App, juga mengirimkan foto-foto poster dan yel-yel yang disertakan di dalam demo.

"Segera menuju ke kantor! Aku mau temui para pendemo itu," tutur kepala daerah tersebut kepada suami Zul.

***
"CERMATI baik-baik gaya pemerintahan dia. Cermati baik-baik kebijakannya. Dia bunglon PKI yang berhasil menyusup di zaman sekarang. Kita benar-benar salah memilih pemimpin. Sebentar lagi, petani, buruh, dan nelayan akan menjadi di atas segala-galanya. Padahal yang dibutuhkan adalah penghargaan dan kesetaraan bidang. Tidak hanya membela petani, buruh, nelayan, dan sejenisnya. Tetapi, semuanya! Semuanya..."

Begitulah salah satu isi orasi sang pendemo. Sang kepala daerah mendengarkan baik-baik aspirasi tersebut. Lantas, mendatangi kerumunan pendemo dan meminjam mikropon mereka.

"Saya mengucapkan terima kasih atas perhatian saudara-saudara yang begitu besar di masa pemerintahan saya ini. Sialkan terus menjadi partner kontrol yang baik atas pemerintahan saya. Jika saya ada yang salah, benarkan. JIka saya melenceng, ingatkan. Saya sennag sekali. Tapi, soal kebijakan pembelaan saya yang terkesan sepihak hanya memberi perhatian yang besar pada petani, buruh, nelayan, dan sejenisnya, itu saya rasa tidak benar. Semuanya saya perhatikan. Sama. Buktikan saja...." c

Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 1 November 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (14)"