Kutukan Rahim (15) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (15) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (15)

BEGITULAH tanggapan dari sang kepala daerah. Demo hari itu pun bubar setelah ada penyerahan pernyataan sikap dari pendemo untuk terus mengawasi dan mengritisi pemerintahan sang kepala saerah. Mereka pun mengancam tak segan-segan akan menurunkan sang kepala daerah di tengah jalan, begitu kebijakannya memang hanya memperpanjang ala PKI dulu. Sembari bubar, pulang ke rumah masing-masing, para pendemo itu menyebarkan poster bergambarkan palu arit yang sudah ditandai dengan tanda silang.

Insting politik sang kepala daerah langsung paham, siapa penggerak demo itu. Mos! Sebab, Moslah orang yang tahu betul rencana program, kebijakan-kebijakan apa saja yang bakalan menjadi skala priorotas selama pemerintahan berjalan. Tapi, rupanya Mos sengaja melintir isu kebijakan sang kepala daerah, menjadi disamakan dengan era PKI.

Sang kepala daerah menghubungkan cerita suami Zul soal kemungkinan dalang penculikan anaknya dan orang yang ada di belakang demo itu. Yang bagi analisa sang kepala daerah benar-benar dilakukan oleh orang yang sama: Mos!

"Benar-benar sudah psikopat di Mos." Sang kepala daerah pun menggerundel di mobil. Suami Zul mendengar.

"Ada apa, Pak?"

"Sekadar kamu tahu, yang menggerakkan demo itu dugaan kuatku adalah Mos!"

"Berarti Mos memang menghabisi kita semua. Anak kami juga dia yang menculik, bukan?"

"Tapi, kalau soal para pendemo itu tidak bisa diproses hukum. Mereka tidak menyalahi aturan. Aku juga hanya menganalisa kemungkinan besar siapa yang ada di balik mereka," tutur sang kepala daerah.

"Kalau soal anak kami, kami sudah laporkan perkembangan kecurigaan kami pada polisi. Intel sedang bergerak mengamati pergerakan Mos!"

"Baguslah. Semoga smeuanya cepat teratasi."

Ketarangan sang kepala daerah itu membuat suami Zul terkenang peristiwa beberapa waktu lalu. Ingat penculikan anaknya.

Hingga tiga hari semenjak anak Zul dinyatakan hilang diculik, belum ada titik terang siapa penculiknya. Polisi merasa kerepotan mengusut. Namun ketika si intel polisi menanyakan kepada Zul dan suaminya siapa kira-kira penculiknya, menurut mereka merupakan bagian dari kawanan penjahat, teman si terpidana pemerkosa yang sudah tewas bunuh diri di rutan.

Tapi, tentu saja itu juga masih perkiraan yang snagat bernbilai spekulatif. Yang pasti, pihak polisi, Zul dan suaminya masih terus menunggu apa yang menjadi tuntutan si penculik. Anehnya, tuntutan itu tak kunjung tiba.

Pikiran Zul dan suaminya mulai dibayang-bayangi ketakutan bahwa anak mereka menjadi korban kekerasan seksual si penculik. Jangan-jangan penculiknya penderita pedofilia. Jangan-jangan, anak mereka diculik untuk dijadikan pengemis. Jangan-jangan anak mereka diculik untuk dipekerjakan secara kasar di pelabuhan-pelabuhan atau di pasar-pasar. Jangan-jangan....

Begitu kalut dan runyam pikiran Zul dan istrinya. Betapa pun mereka terus berdoa dan salat malam setiap harinya, namun pikiran kalut masih tetap muncul. Hingga hari ke lima setelah anak mereka hilang, sebuah SMS masuk. Diterima Zul: Janganlah khawatir, anakmu baik-baik saja. Janganlah khawatir, tidak ada tuntutan untuk hal ini. Begitulah bunyi SMS gelap itu. Ketika Zul dengan cepat menghubungi kembali nomor SMS itu dengan mencoba menelepon, sudah tak tersambung. Rupanya, nomor itu langsung tak dipakai lagi oleh si pengirim.

Zul pun melaporkan perkembangan tersebut ke polisi. Polisi menampung laporan. Tak lebih. Belum bisa bertindak lebih jauh meskipun pikiran Zul dan suaminya kini sudah agak tenang. Setidaknya, ada pihak yang sudah menyatakan sebagai penculik. Cuma anehnya, tidak ada target tuntutan. Lantas untuk apa menculik? Untuk apa mengambil tindakan yang konsekuensi hukumnya akan sangat berat?

Itulah yang membuat Zul, suaminya, dan polisi tak habis pikir. Apakah motif yang sesungguhnya? Jika si penculik adalah kawanan penjahat  yang merupakan kaki tangan si terpidana pemerkosa Zul yang sudah mati bunuh diri di rutan, bukankah mereka akan jelas tuntutannya? Paling-paling hanya minta uang, bukan? Dengan cara bermain di air keruh, mengatasnamakan dendam bahwa temannya sudah masuk penjara dan kemudian mati bunuh diri, menjadi punya alasan untuk memeras. Tapi, ternyata, rupanya bukan mereka juga pelakunya.

Zul, suaminya, dan polisi masih terus mengotak-atik siapa pelakunya. Dari hari ke hari. rasa kangen Zul terhadap anaknya pun kian membuncah. Jika malam tiba sering cuma dipenuhi tangisan nggugruk sebagai konsekuensi dilanda kangen yang maha hebat. Suami Zul juga merasakan hal yang sama. Kesedihan terus tergambar di wajahnya, siang dan malam, meskipun ia bisa menahan air mata yang keluar.

"Ya, Tuhan, cobaan apa lagi yang kau berikan kepada kami? Benarkah kami akan kuat?" Demikian salah satu doa Zul di malam hari. Suami Zul pun tak habis pikir. Cobaan dalam keluarga mereka serasa tak pernah berhenti. Ketika muncul kebahagiaan sebentar, lantas disambung cobaan berat yang cukup lama.

Hingga suatu siang, 'pak bos' memanggil mereka. Minta ketemu. Zul dan suaminya pun memenuhi permintaan 'pak bos.' Mereka makan siang bersama. 'Pak bos' tentu saja menyatakan prihatin soal diculiknya anak Zul. Ia mendengar hal itu dari koran.

"Maaf, baru sekarang aku mengajak kalian bertemu. Aku sungguh prihatin atas peristiwa yang menimpa kalian," ujar 'pak bos'

"Lebih prihatin lagi karena pihak yang menyatakan menculik tanpa disertai tuntutan. Jadi, maunya apa? Benar-benar tidak berperi kemanusiaan."

"Itulah yang membuat kami amat heran, Pak." Zul menanggapi.

Lantas, pembicaraan mereka sampai pada Mos.

"Kudengar, Mos sekarang benar-benar mati kutu, Pak."

"Iya, benar Zul, banyak kawan menutup akses kiprahnya karena ia dianggap berpolitik terlalu kotor. Banyak yang tidak simpati. Malahan aku dengar, itu imbasnya sampai ke keluarganya. Banyak pihak yang juga menjauh dari istrinya. Malas melibatkan dalam urusan tertentu. Kudengar Mos lebih banyak mengurung diri di rumah. Sepertinya, ia juga malas untuk keluar. Habis sudah teman-teman terbaiknya. Teman-teman terdekatnya."

Sebuah SMS masuk ke ponsel 'pak bos'.

"Ini, ketika kita sedang membicarakan Mos, ada info masuk ke poinselku. Ternyata, belum lama, Mos baru saja diantar ke rumah sakit jiwa. Hanya satu hari di sana, lantas dipulangkan," tutur 'pak bos'

"Itu kesalahan tabiatnay sendiri. Rupanya, stres berat, dia nggak punya kawan sebanyak dulu," respons suami Zul.

Sebuah SMS lagi-lagi masuk ke ponsel 'pak bos'

"Ini, ada tambahan info lagi, bahwa Mos rupanya sudah menderita psikopat. Ia belakangan sering teriak sendiri di rumah. Bahkan membunuh hewan-hewan piaraannya secara membabi buta. Mengumpati nama-nama temannya. Itulah yang membuat dia dibawa ke rumah sakit jiwa."  (bersambung)-c

Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 8 November 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (15)"