Kutukan Rahim (16) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (16) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:59 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (16)

BEGITU mendengar kata 'psikopat' sebagaimana yang dikatakan pak bos, perasaan Zul sontak berdebar sangatlah kencang.  Sebuah debaran yang sepertinya merupakan petunjuk dari Sang Kuasa. Ada yang tidak beres dengan yang dilakukan Mos kaitannya dengan anak Zul. Tapi, saat itu pula, Zul tidak langsung mengutarakannya pada pak bos dan suaminya soal debaran perasaannya yang aneh. 

"Hidup benar-benar misterius ya, Zul. Tapi, percayalah, bahwa kebenaran selalu menang. Di amna pun tempatnya," tukas pak bos mengakhiri pertemuan kali itu.

Merwka pun akan berpisah. Sebelum berpisah, pak bos menawarkan kepada Zul, jika tidak keberatan suaminya bisa bekerja sebagai sopir pribadinya. Kebetulan, sopir pribadi pak bos mengajukan penguncuran diri. Tak lama lagi akan pulang kampung. Tawaran itu memang langsung diterima Zul dan suaminya.

Sesampainya di rumah, Zul menceritakan kepada suaminya soal debaran perasaannya yang aneh ketika pak bos menyebut bahwa Mos sudah dirundung psikopat.

"Maksudmu, anak kita yang menculik Mos?" Suami Zul langsung tanggap dengan arah pembicaraan istrinya.

"Iya. Sepertinya begitu. Tapi, tentu saja Mos menyuruh orang. Kok bisa tidak ada tuntutan dari si penculik itu kan aneh. Berarti si penculik memang tidak butuh uang. Mungkin saja ia hanya butuh memperkeruh situasi atau balas dendam entah karena penyebab apa."

Suami Zul diam. Otaknya sontak sepaham dengan apa yang dibicarakan istrinya.

Kenangan itu yang menyeruak di benak suami Zul. Sesaat.

***
KERUSUHAN pecah. Tiga tempat, kampung yang menjadi basis komunitas buruh, petani, dan nelayan, dibakar massa. Yang membakar adalah orang-orang non pribumi! Begitu mendengar kabar itu, insting politik sang kepala daerah juga langsung paham bahwa Mos ada di balik layar! Maka, untuk meredam konflik berkembang lebih jauh, sang kepala daerah cepat-cepat mengeluarkan imbauan dengan cara disiarkan langsung oleh televisi lokal. Juga radio-radio dan koran-koran.

"Saya berharap besar, masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi dengan adanya pembakaran tiga kampung yang merupakan basis buruh, petani, dan nelayan. Saya berharap besar, masyarakat tidak mudah teradu domba. Pemerintah segera mencari tahu kejadian yang sebenarnya dan seegra akan mengambil tindakan yang sesuai dengan koridor hukum. Persatuan dan kesatuan kita harus selalu dijaga. Tuhan selalu bersama kita dan memberkati kita semua." Demikian bunyi pidato imbauan sang kepala daerah secara serentak di jaringan informasio resmi pemerintah maupun swasta itu.

"Gila! Mos sudah semakin kesetanan. DIa berambisi besar merobohkanku." Sang kepala daerah itu curhat kepada suami Zul di dalam mobil. Ia pun kemudian menelepon kepala kepolisian daerah.

"Halo, saya tunggu secepatnya ya hasil investigasinya. Tersangka yang sudah tertangkap mohon segera ditindaklanjuti." Demikian telepon sang kepala daerah itu.

***
SEJUMLAH tersangka kerusuhan sudah dapat dimintai keterangan. Otak intelektual di belakang mereka juga terus dicari. Kecekatan polisi juga berhasil membongkar bahwa otak intelektualnya memang Mos. Maka, rumah Mos pun kemudian didatangi. Ternyata, ststus rumahnya sudah dijual. Anak dan istrinya sudah mengungsi ke luar negeri. Mungkin atas inisiatif mereka sendiri. Bukan inisiatif Mos. Mos sendiri entah di mana berada.

Pencekalan terhadap Mos dilakukan. Untunglah, menurut data imigrasi, nama Mos belum ke luar negeri. Tapi, di manakah dia? Polisi mendatangi saudara-saudara Mos. Nihil. Polisi mendatangi tempat mana pun yang memungkinkan keberadaan Mos. Nihil.

Dalam proses pencarian Mos itu pula, pecah lagi kerusuhan. Kali ini pembakaran pasar. Dua pasar ikan. Jelas, masih ada kaitannya dengan kerusuhan sebelumnya. Rupanya, yang dijadikan target pembakaran memang merupakan simbol-simbol nelayan, buruh, dan petani. Polisi terus bergerak. Bergerak. Sejumlah tersangka yang tertangkap dari dua kerusuhan yang berbeda mengaku bahwa otak intelektualnya Mos. Mos pun terus menerus diburu. Diburu. Dan diburu. Berhari-hari.

Polisi menyebar foto Mos di tempat-tempat umum. Polisi meminta bantuan masyarakat untuk segera melaporkan jika melihat Mos. Sebegitu pentingnya, snag kepala daerah memberikan pernyataan di media elektronik dan cetak, meminta Mos segera menyerahkan diri. Imbauan kepada amsyarakat agar terus waspada dan tidka mudah terprovokasi pun senantiasa gencar dilakukan sang kepala daerah.

Zul meng-SMS sang kepala daerah. Memberi masukan supaya Mos menyerahkan diri. Caranya: ibu Mos di kampung di-blow up media. Diminta ibunyalah yang berbicara di televisi dan koran agar Mos segera mengakhiri drama petualangannya. Agar segera menyerahkan diri secara baik-baik!

Sang kepala daerah menganggap cara itulah yang jitu, maka ia segera meneruskan kepada pihak kepolisian. Kepolisian pun bekerjasama dengan pihak media. Jadilah ibu Mos didatangi secara baik-baik. Benar, setelah ibu Mos yang menyatakan agar Mos segera menyerahkan diri, Mos muncul dari tempat persembunyiannya.

Ia langusng datang ke kantor polisi. Polisi juga sudah menyiapkan dokter jiwa segala. Media pun memberitakan tertangkapnya Mos. Masyarakat lumayan lega. Sang kepala daerah lega. Tapi, hati Zul masih tetap diiris-iris sembilu. Bagaimana dengan nasib anaknya?

Hasil pemeriksaan polisi dan dokter jiwa menyimpulkan otak intelektualnya Mos. Namun, kini Mos memang sudah dalam kondisi menderita psikopat akut. Persoalannya, bagaimana dengan anak Zul? Sang kepala daerah pun berinisiatif menemui Mos secara pribadi. Menanyakan soal anak Zul.

"Selamat siang, Mos. Apa kabar? Baik-baik?"

"Hei, kau. Kau mau mengucapkan terima kasih padaku karena aku menjadikanmu 'bos besar' di daerah ini? Jangan kau balas air susu dengan air tuba.Kau kasih aku tuba, kau minum sendiri susu yang enak. Kawan macam apa, kau?!"

Kedatangan sang kepala daerah menemui Mos itu tentu saja didampingi polisi dan dokter jiwa. Dari arah pembicaraan Mos mereka tahu bahwa Mos memang sudah sinting bukan kepalang tanggung.

"Aku mau mengajakmu meminum susu itu juga. Susu paling enak. Aku yakin, pasti kau mau, Mos."

"Bah...."

"Tapi, aku ingin, itu semua dilakukan bersama anak Zul. Kau ingat Zul dan anaknya, kan?"

"hah, Zul? Anaknya? Ngapain pula kau sebut-sebut mereka. Zul sudah tenang sama suaminya.  Anaknya juga sudah selalu kuberi minuman susu paling enak sedaerah kekuasaanmu ini. Akulah orang yang paling peduli kepada anaknya. Bukan kau. Kau juga hanya memberi tuba kepada anaknya, kan?"

"Tapi, di mana anak itu, Mos?"

"Sudahlah. Kau tak perlu peduli. Ia selalu minum susu paling suci setiap harinya. Bersama seorang kiai. Bukan bersama dengan orang sepertimu. Laki-laki g  yang tak peduli pada anak orang. Laki-laki yang haus kekuasaan.Laki-laki yang suka mengumbar ambisi...." ❑ (bersambung)-c


Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 15 November 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (16)"