Kutukan Rahim (17) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kutukan Rahim (17) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:17 Rating: 4,5

Kutukan Rahim (17)

OMONGAN Mos makin ngelantur ke sana ke mari tidak karuan. Omongannya berada dalam ambang batas pikiran yang nnormal dan tidak normal. Tapi, sang kepala daerah, dokter jiwa, dan pihak kepolisian sudah menangkap kata kunci mengenai anak Zul yang mereka cari. Yaitu dengan kata kunci kiai.

"Mos, aku sekarang mengaku bersalah kepadamu. Maka, aku akan peduli kepada anak-anak. Aku akan mengirim susu terbaik  dan terenak juga kepada anak Zul. Tapi, kepada kiai mana dan siapa aku harus memberikannya?" lanjut sang kepala daerah. Terus menginterogasi Mos secara baik-baik.

Di tengah ceracau omongan ngelanturnya, Mos pun menyebut nama seorang kiai.

"Tapi, kau jangan bangsat lagi ya, sayang? Kasihan anak Zul. gara-gara kau bangsat kau jadi lupakan Zul dan anaknya. Kau bangsat, sayang...."

Interogasi dirasa cukup. Sang kepala daerah pamit. Mos kemudian ditangani dokter jiwa dan polisi. Polisi juga menindaklanjuti nama kiai itu. Masukan sang kepala daerah kepada polisi: meminya polisi mengajak Zul ketikamenjemput anaknya.

Benarlah, sang anak Zul ada di rumah seorang kiai. Ia ternyata sehat bugar dirawat  seorang kiai. Sang kiai pun menceritakan proses mengenai anak itu bisa sampai ke tangannya. Zul tidak habis pikir. Begitu juga dengan pihak kepolisian.

Perasaan Zul bagaikan perasaan bidadari paling berbahagia di dunia ini. Ia kembali bertemu dengan anak semata wayangnya. Diciumnya berkali-kali anak lelaki satu-satunya. Dipeluknya erat-erat. Ia berjanji akan semakin hati-hati menjaga anaknya.

Sampai di rumah suami Zul sudah menyambut. Mereka kembali berkumpul. Bahagia tak terkira. Anak Zul ternyata juga sudah hapal banyak doa. rajin salat. Suka mengaji. Zul dan suaminya hanya bisa terharu.

***
BERTAHUN-TAHUN Zul menjalani kebahagiaan tak terkira bersama anak dan suaminya. Setidaknya, sepanjang anaknya menempuh pendidikan TK hingga SD. Selama itu pula, Zul juga kembali hidup bersama banyak kucing. Hubungan mereka dengan sang kepala daerah pun terus membaik. Apalagi sang kepala daerah sudah menjabat untuk yang kedua kalinya. Sementara, Mos, dari tahun ke tahun tetap menjalani perawatan intensif atas sakit jiwanya. Dan itu ada di bawah pengawasan, selain dokter jiwa, juga pihak kepolisian. Artinya, jika Mos tidak mengalami gangguan jiwa dengan derita psikopatnya, habitat hidupnya hanyalah di dalam terali besi. Cukup lumayan, menurut analisa dokter jiwa yang mengangani Mos, dari bulan ke bulan, tahun ke tahun sebenarnya sakit jiwanya terus membaik. Psikopatnya berkurang. Tetapi, tetap belum bisa dibilang sembuh, apalagi total, meski sudah enam tahun lebih rawat jalan. Boleh jadi, karena keluarga Mos sudah melupakan Mos, maka kesembuhan totalnya menjadi susah. Kalau masih ada keluarganya yang mau menjenguk barangkali akan menolong kesembuhan totalnya.

Selama sekitar enam tahun itu pula, Zul memang mengurangi aktivitas nyanyi dangdutnya. Setidaknya, cita-citanya menjadi artis sengaja ia buat tersendat. Ia lebih banyak mencurahkan perhatian kepada keluarga. Menyanyi jika pas memang ingin tampil. Usahanya selama ini adalah membuka kafe yang bisa untuk karaoke. Sehingga ia malah bisa selalu bertemu penggemarnya setiap hari. Kapan pun mau.

Persoalannya, di tengah keluarga Zul, ketika anaknya menginjak bangku SMP, muncul gonjang-ganjing. Anak Zul mulai tahu sejarah dirinya. Setidaknya, melalui pergaulan ia mendengar banyak hal mengenai kisah keluarganya di masa silam. Boleh dikata, anak Zul sudah terlalu sering mendengar orang mengisahkan masa lalu keluarganya. Lama-lama tentu ia makin penasaran juga. Apalagi, banyak orang membisiki dirinya soal ayah kandung yang sebenarnya. Kalau sudah sampai kasak-kusuk perihal itu, telinganya bisa langsung mengembang merah. Seperti bisul yang mau pecah.

Suatu malam, Zul pun didatangi anaknya. Waktu itu orang yang biasa ia panggil ayah masih bekerja. Ia tetap bekerja sebagai sopir pribadi sang kepala daerah.

"Bu, saya mau bertanya tentang ayah yang sesungguhnya." Beginilah pertanyaan anak Zul tiba-tiba. Pastilah amat menohok perasaan Zul.

"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya mengenai hal itu? Ada yang aneh?"

"Tentu saja ada yang aneh, karena sampai sekarang. Sampai aku sebesar ini, aku tidak diberitahu perihal Ayahku yang sesungguhnya."

Lama Zul tidak bereaksi. Tidak menanggapi pertanyaan anaknya yang membuatnya gerah itu.

"Aku akan menjelaskannya nanti, menunggu Ayahmu pulang."

"Ayahku?"

"Ya, semuanya akan kujelaskan nanti. Sabarlah."

Satu jam kemudian suami Zul memang pulang. Ia seperti biasanya kemudian mandi dan makan malam. Kebetulan sendirian karena Zul dan anaknya sudah makan malam terlebih dahulu. Barulah setelah makan malam itu, Zul dan anaknya mengundang sang ayah ke ruang tengah. Ruang keluarga.

Intuisi suami Zul sudah paham atas situasi itu. Apalagi, dulu Zul juga sudah me-wanti-wanti suaminya, bahwa pada saatnya kelak, anaknya harus tahu sejarah hidup dirinya, yang sebenarnya. Waktu itu, suami Zul sudah sepakat. Kinilah rupanya saat semuanya itu diomongkan.

"Begini...." tutur Zul.

"Oke, aku sudah tahu," sambung suami Zul. Suami Zul pun masuk ke kamar. Mengambil document paper yang tebal. Berisi kliping koran soal perjalanan keluarga.

"Syukurlah sudah paham. Ayahmu ini sudah bertahun-tahun menyimpan dokumen paper itu. Ibu merasa, Ayah dan Ibu tak perlu menceritakan isinya. Karena kamu bisa membawa dan emmbacanya sendiri. Kalau Ayah dan Ibu menceritakan, bisa saja kamu anggap berbohong. Maka, silakan kamu sendiri saja yang membaca secara baik-baik. Bawalah. Bacalah sambil kau tiduran. Ibu akan menemani. Kamu tidak perlu kaget. Ibu juga merasa kamu sudah kuat menerima berita apa pun dalam hidup ini. Baik dan buruk. Kamu sudah besar. Kamu pasti kuat."

Anak Zul lantas pamit masuk kamar. Diikuti Zul. Suaminya berjalan keluar rumah. Menengok usaha kafenya yang punya beberapa karyawan. Malam itu kebetulan ramai. Ada yang emnyanyikan karaoke. Syairnya: Bang Toyip, Bang Toyip, mengapa tak pulang-pulang, anakmu, anakmu, panggil-panggil namamu....

Suara keras pun membahana dari dalam kafe. Namun suara keras tersebut segera ditingkap oleh ruangan karaoke yang kedap suara. Berkat dindingnya dilapisi karpet tebal. Maka, suami Zul pun cuma mendengar lagu itu secara lamat-lamat, pelan-pelan saja. (bersambung)-c


Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 22 November 2015

0 Response to "Kutukan Rahim (17)"