Lewat Secangkir Kopi [1] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lewat Secangkir Kopi [1] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:53 Rating: 4,5

Lewat Secangkir Kopi [1]

Menikahlah denganku, kalau begitu! 

Kenyataannya memang aneh, namun begitulah yang ia ucapkan padaku enam bulan yang lalu di depan kasir kedai kopi milikku. 

Ia telah menjadi langganan kami selama beberapa bulan ini. Aku sendiri belum pernah sekali pun ngobrol dengannya, kecuali kalau ia sedang memesan kopi atau makanan kecil. Itu pun hanya sebatas mau pesan apa, harga keseluruhan dan ucapan pemanis, seperti, Silakan menikmati. Semua itu kupikir tidak akan menjadi alasan utama kenapa ia ingin menikahiku. 

Setiap kali ia datang dan menikmati kopi panasnya (ia tidak pernah pesan kopi dingin atau es kopi), ia selalu duduk di sudut ruangan. Ia duduk di bangku yang menghadap ke jalan raya dan dengan mata menerawang. Tidak jelas apa yang biasanya ia lihat, namun pikirannya seperti melayang entah ke mana.

Aku kaget saat ia mengatakan lamaran itu. Baru kusadari suaranya agak berat dan lembut. Warna matanya yang tampak muda kecokelatan menatap warna hitam mataku. Ya, aku memang terkecoh pada wajah dan suaranya. 

Ada satu hal pasti, yang paling membuatku ingin secepat mungkin mengiyakan permintaan itu adalah karena minggu lalu pernikahanku dengan pria lain batal. Pernikahan yang sudah kurencanakan dengan baik ternyata gagal total. Calon suamiku meninggalkanku tepat sebelum acara janji pernikahan dimulai. Tidak ada tanda-tanda apa pun sebelumnya, kecuali ungkapan bodoh seperti ‘aku mencintaimu’ setiap hari, dan intensitasnya lebih sering sebelum hari pernikahan kami sepakati. 

Akbar pria mapan yang tampan. Tapi, caranya meninggalkanku secara mendadak di hari pernikahan, rasanya tidak menjamin sedikit pun bahwa hatinya seindah wajahnya. 

Aku gemetaran, ketika salah satu panitia pernikahan memberitahukan hal itu. Ia sibuk menelepon Akbar dan kerabat mereka, sementara aku panik tak keruan. Saudara-saudaraku sibuk mencari Akbar dan menjemputnya di rumahnya yang ternyata sudah kosong. Aku hanya bisa menangis hebat di atas ranjang  yang harusnya menjadi saksi malam pertama kami. 

Akbar menghancurkan mimpi-mimpiku tentang indahnya hidup pernikahan, tentang kebahagiaan. Ia menghancurkan seluruh harapan hidupku, menghancurkan janji yang telah kami buat, menghancurkan cinta yang telah kami bangun mulai dari nol. Ia membuatku merasa sangat malu dan dipermainkan. 

Ia benar-benar menyebalkan. Benar-benar kejam. 

Aku tidak bisa tidur nyenyak setelah peristiwa itu. Aku sangat malu pada teman–temanku, lingkungan sekitar, dan tentu saja keluargaku. Umurku tidak muda lagi. Bukanlah hal yang mudah untuk membuka lagi lembaran baru yang di dalamnya sudah terkoyak penuh tinta hitam yang menyebar hingga ke halaman–halaman berikutnya. 

Aku sudah tidak tahu lagi apa yang kuinginkan dalam hidup, kecuali menjalankan bisnis kedai kopiku. Kubuang jauh–jauh pikiranku tentang berumah tangga dan lain–lainnya untuk menenangkan jiwaku. Tapi, entah kenapa, pria yang tidak kukenal itu, datang tiba-tiba ke dalam hidupku, menawarkan hal yang ingin kuhindari. Betapa bodohnya aku menyadari bahwa sebenarnya aku sangat menginginkannya. Tanpa berpikir panjang atau takut bahwa orang itu hanya mengada–ada, aku mengatakan ‘ya’. 

Pernikahanku dan Shota sangat berbeda dari pernikahan pada umumnya. Aku baru tahu bahwa Shota adalah warga keturunan Indonesia-Jepang saat kulihat paspornya. Bahasa Indonesia-nya memang amat bagus, tapi tidak pernah kusangka ia punya darah Indonesia. Aku pikir ia hanya pria asing yang menetap di Jakarta dan menyuruhku menikah dengannya untuk keperluan pekerjaannya. Menikah demi sebuah green card. 

Hatiku sudah keburu mati oleh cinta. Jadi tidak pernah terpikirkan bahwa aku mungkin saja sedang dimanfaatkan. Aku sudah tidak peduli. Aku hanya mementingkan status. Tidak peduli nantinya aku akan dipermainkan atau dibuang, yang penting secara sah aku pernah dinikahi oleh seseorang. Aku masih bisa menikah lagi dengan orang lain, walaupun pernah ditinggal pergi oleh calon pendamping hidupku. 

Di Jakarta, apalagi di kota besar seperti ini, kenyataan bahwa wanita bisa lebih sukses daripada pria bukanlah hal aneh. Namun, di usiaku yang sudah 30-an dan masih melajang, pasti mudah jadi bahan omongan. Selama aku mendapatkan statusku dan membuat seluruh orang yang mencibirku diam, maka tenanglah hidupku. Cukup jelas alasanku. Tapi, Shota, sampai hari ini, tidak pernah membicarakan alasan lamaran mendadaknya itu padaku. 

Ia bekerja di salah satu kantor yang letaknya dekat dengan kedai kopiku, suatu perusahaan Jepang. Ia libur setiap Sabtu dan Minggu. Kadang–kadang ia menghabiskan hari liburnya itu hanya di depan meja kerjanya, menggambar sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya. Terkadang ia pergi dan pulang membawa banyak buku. Kadang–kadang ia pulang dan membawa banyak kertas berisi esai yang harus dikoreksi. Aku tidak mengerti mengapa ia terkadang bekerja di kantor, menggambar seperti seorang arsitek, tapi juga mengoreksi esai seperti seorang guru. 

Ia sangat sibuk, sampai kadang lupa makan atau berbicara denganku. Dulu, sebelum kami menjadi sepasang suami-istri yang aneh ini, ia tinggal di kawasan selatan Jakarta, di sebuah apartemen. Setelah menjadi suamiku, ia pindah ke kedai kopiku. Ia membayar seluruh sewa dan membeli bangunan yang telah kusewa ini. Ia bilang bahwa ia juga punya hak untuk membayarnya, karena ia akan tinggal bersamaku. 

Kami menyepakati persetujuan tersebut dan membagi kamar. Kamarku berada di lantai dua sebelah kiri, sementara kamar Shota berada di depan kamarku. Sebenarnya ada tiga kamar di tempat yang kusebut ‘rumah’ ini, kalau–kalau salah satu dari anggota rumah kami datang menginap. Aku dan Shota akan pura–pura menjadi sepasang suami-istri normal dan kami tidur di kamar yang sama. 

Teorinya memang begitu. Namun, setiap kali suara pintu telah tertutup dan aku mengunci pintu kamar, Shota segera beranjak dari kasur tanpa perlu kusuruh. Ia pindah ke sofa malas dekat jendela dan tidur di tempat itu seperti sedang tidur di kasur kesayangannya saja. Ia kelihatan menikmatinya. Ia kelihatan sangat menikmati setiap hari–hari aneh kami yang kami jalani bersama. Ia tidak begitu menyukai keluarganya dan kadang–kadang ia sering menunjukkan sikap tidak sukanya, setiap kali mereka bertamu di rumah kami. 

Aku jadi mulai berpikir, mungkin alasan Shota menikahiku karena hal ini. Ia menginginkan ketenangan, sementara aku sangat menginginkan status yang membuatku tenang dari segala ocehan dan rasa pedih tentang impian pernikahanku yang sesungguhnya. Shota terkadang sering membantuku, walau aku tahu dari setiap pandangan matanya itu, ia merasa seperti tidak hidup di dunia ini.
Karena pagi ini Shota berangkat lebih awal, aku bangun pagi–pagi sekali. Aku ingin membuatkan bekal untuknya, karena ia jarang sekali ingat bahwa ia butuh makan. Aku menyetel alarm ponselku, agar bisa bangun sebelum Shota bangun.

Dwi Retno Handayani
Pemenang II Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Retno Handayani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Lewat Secangkir Kopi [1]"