Lewat Secangkir Kopi [2] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lewat Secangkir Kopi [2] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:51 Rating: 4,5

Lewat Secangkir Kopi [2]

Jujur saja, aku suka Shota, secara umum. Ia orang yang tidak banyak bicara, tidak banyak mengeluh. Ia akan memakan segala makanan yang kubuat (jika aku membuatnya) atau ia akan mendengarkan apa pun yang ingin kuutarakan dan biasanya yang berhubungan dengan rumah kami ini. Karena kami sama–sama tinggal di satu rumah dengan tujuan yang sama, yaitu mendapatkan ketenangan, maka sebisa mungkin kami saling membantu. 

Ia menghargai setiap makanan yang kubuatkan untuknya. Ia meminum kopi yang kubuat untuknya. Aneh bahwa ia tidak menyukai teh, sungguh aneh... apalagi ia berasal dari campuran dua negara yang punya tradisi sangat kental tentang teh. Aku belum pernah menanyakan hal itu padanya. Melihat bahwa ia tidak banyak bertanya padaku, maka aku pun tidak mau menginterogasi. 

Ia juga sering sekali memakai kaus atau kemeja berlengan panjang, yang sangat tidak kumengerti. Ketika pergi bekerja, ketika duduk di kursi dekat jendela hanya untuk bersantai, ketika malam tiba, bahkan ketika cuaca di luar sangat panas, ia tidak pernah sekali pun menggunakan lengan pendek ataupun baju tanpa lengan. Aku penasaran ingin bertanya, namun lagi–lagi mengingat bahwa ia tidak banyak berkomentar tentangku, maka aku mengurungkan niat tersebut.

“Aku pergi dulu kalau begitu,” Shota berbicara pelan, namun matanya tertuju pada tas hitam dan map biru yang akan ia bawa. 

Aku menunggunya menatapku, sebelum memberikan bekal tersebut padanya. Rasanya ia tidak menyadari kehadiranku sampai ia melihat bungkusan bekal berwarna biru tua yang kupegang. Matanya menatap bungkusan itu dan kemudian menatapku.  “Itu apa?” tanyanya, bingung.

“Bekal,” jawabku singkat.

“Untukku?” tanyanya lagi. Kali ini aku cuma mengangguk. 

Ia yang tadinya sudah berada pada anak tangga pertama sebelum turun, akhirnya kembali lagi mendekatiku dan mengambil bekal tersebut dari tanganku. “Terima kasih,” ucapnya begitu cepat dan singkat. 

Kemudian, suara langkah dari anak tangga menuju lantai pertama pun terdengar. Suara pintu yang tertutup juga terdengar beberapa detik kemudian. Aku mengintip dari jendela atas dan melihatnya keluar rumah menuju mobil SUV-nya. Desingan mobilnya terdengar dari atas dan perlahan menghilang dari tangkapan telingaku. Ia sudah pergi.

“Mbak Ayu! Mbak Ayuuu!” Edo datang setelah mobil Shota menghilang. Ia membuka helm dan nyengir seperti orang bodoh menyapaku. Edo sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, apalagi karena ia masih terlalu muda. Umurnya baru 20 tahun dan ia telah bekerja di kedaiku sejak setahun yang lalu. Ia mengetuk–ketuk pintu kaca kedaiku kencang sekali, seperti hampir mau pecah. 

“Sabar, dong, Do! Lagian juga nggak dikunci, kok!” 

Edo segera masuk sambil membawa satu tas berisi buku–buku besar.

“Kamu dan Shota, kok, hobi banget bawa banyak buku, sih, Do? Mau ngapain memangnya? Tidak berat?”

“Ini Mbak... Shota-san bilang, katanya kedainya mau ditambahin pakai perpustakaan,” ucap Edo kemudian. 

Shota-san... Shota-san... entah kenapa Edo lebih suka memanggil Shota dengan akhiran –san dibanding awalan ’Kak’ atau apalah. Pernah sekali aku tanya, katanya karena wajahnya yang imut itu bikin Shota tidak cocok dipanggil Kakak. 

“Dia, kok, tidak bilang aku, ya?”

“Memangnya Mbak Ayu nggak tahu, ya?”

“Nggak.”

“Duuuh... jadi nggak enak nih aku. Mungkin Shota-san mau buat kejutan untuk Mbak Ayu. Makanya, dia tidak ngomong apa–apa,” Edo buru–buru membenarkan penjelasannya dan meluruskan pikiranku yang mulai menceng.

“Mungkin...,“ tanpa pikir panjang aku cuma mengatakan ‘mungkin’ pada Edo. Memang mungkin saja. Mungkin saja ia tidak mau memberi tahuku... mungkin saja ia tidak perlu memberi tahuku, karena, toh, bangunan ini sudah dibeli dengan uangnya. Mungkin juga aku tidak perlu tahu. Banyak sekali kemungkinan dan aku kelewat memikirkan hal tersebut. Aku dan Shota, toh, cuma teman satu rumah. Jadi, kenapa aku harus merasa terganggu kalau dia juga mau melakukan sesuatu untuk rumahnya ini?

“Yuk, kita beres–beres!” kututup pikiran anehku dengan pekerjaan. Aku pun meninggalkan Edo di meja depan untuk pergi ke dapur dan menyiapkan kedai untuk dibuka.
Shota pulang tepat sebelum Magrib. Aku membuat kopi panas. Ia selalu suka kopi yang masih panas. Jika sudah mulai mendingin, tak akan ia sentuh. Karena itulah, aku selalu membuatkan kopi setiap kali desingan suara mesin mobilnya terdengar. 

Kebiasaan ini sudah kuketahui sejak ia menjadi pelanggan setia di kedaiku. Ia biasanya memesan kopi yang panas dan saat kuantar kopi tersebut ke mejanya, ia selalu langsung meminumnya tanpa harus membuka koran atau laptop-nya dan menunggu kopinya mendingin. Ia memang berbeda.

Langkah Shota terdengar makin dekat menuju lantai dua. Edo dan beberapa karyawan kedai berada di bawah untuk melayani para pelanggan. Pada jam–jam Shota pulang, aku selalu menyempatkan diri untuk berada di rumah kami, lantai dua, untuk memberikan senyuman pada pandangannya yang tetap tak berubah: seperti tak hidup di dunia ini.
Cangkir kopi merah maroon favoritnya selalu kuletakkan di depan meja teve. Setiap kali ia beranjak ke atas, wajah yang selalu ia lihat adalah wajahku. Memang begini kenyataannya, karena kami punya tujuan yang sama dalam menikah, maka kami pun setidaknya harus bisa saling berteman dengan baik. 

“Maaf, terlambat,” Shota sedikit menundukkan kepalanya dan menatapku, kemudian menatap cangkir kopi. 

Kadang–kadang ia segera masuk kamar hanya untuk mengganti pakaiannya dan kembali lagi ke ruang teve dengan kaus lengan panjang dan celana pendeknya. Tapi, kali ini ia langsung duduk sambil mencari remote. 

“Tidak mandi dulu?” aku mendekatinya, masih memakai celemek berwarna hijau merah khas kedaiku. 

Shota melirik sebentar, kemudian kembali lagi menatap teve. Aku lalu beranjak dari sofa menuju tangga. Bukanlah hal yang bagus sebenarnya, kalau mengajak Shota berbicara. Rasanya ia sudah pendiam dari sono-nya, jadi aku tidak perlu lagi merasa sakit hati, setiap kali pertanyaanku tidak ia jawab. 

“Mau ke mana?” tiba–tiba Shota bertanya ketika aku telah turun satu tangga menuju kedai.

“Bantu Edo.”

“Oke,“ ucap Shota lagi. Kali ini tangan kanannya sedang memegang cangkir kopi.

“Sudah makan belum?” tanyaku akhirnya, mengetahui bahwa ia punya selera makan yang kurang begitu bagus.

“Nanti aku turun setelah mandi.”

“Oke!” Aku kembali melangkahkan kakiku ke tangga berikutnya. Namun, di tangga ketiga, Shota meneriaki namaku. Kontan aku diam dan segera menoleh ke arahnya, “Kenapa?”

“Bento-mu tadi pagi... eh... hmm... enak!” ucapnya, ragu–ragu. Suaranya berubah sangat pelan, mungkin ia malu pada kata–kata yang ia lontarkan. Aku hanya tersenyum membalasnya dan kembali turun ke kedai. Tidak yakin apa yang sedang kurasakan, namun aku ingin tersenyum lebar. 

“Mbak? Mbak?” aku seperti mendengar suara Edo di telingaku. Aku belum menyadari apa pun, sampai Edo mencoba menepukku ringan dengan nampan.

Cepat–cepat kuambil nampan tersebut dari tangannya dan kulemparkan pukulan ringan ke punggungnya. Edo berteriak meledekku, sementara aku kesal karena dia menggodaku.


Dwi Retno Handayani
Pemenang II Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Retno Handayani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Lewat Secangkir Kopi [2]"