Lewat Secangkir Kopi [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lewat Secangkir Kopi [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:57 Rating: 4,5

Lewat Secangkir Kopi [5]

Cepat–cepat Shota menghilang dari sampingku, melepaskan genggaman tangannya dan bergabung dengan kerumunan di depan sana. Ia tidak merasa letih untuk mengantre, walaupun panjang sekali. Aku menunggu Shota, menunggunya memegang tanganku lagi. Beberapa menit kemudian, ketika sampai di menit ke-15, ia datang membawa dua kotak berisi makanan berbentuk bundar seperti bakso. Hanya, warnanya kelihatan merah kecokelatan dan di atasnya diolesi mayones. 

Tahu–tahu saja ia menggunakan sumpitnya untuk mengambil satu bola takoyaki itu. Ia menadahkan tangan kirinya di bawah bola itu agar saus takoyaki-nya tidak jatuh ke pakaian kami dan ia menjulurkan bola tersebut ke arahku, ke arah mulutku. 

Aku terkejut melihat sikap Shota yang tiba–tiba sangat manis kepadaku, meskipun wajahnya masih tetap belum mau tersenyum. Pelan–pelan kubuka mulutku hingga bola tersebut masuk. Shota menatapku kemudian mengatakan sesuatu yang rasanya terdengar seperti mengajakku memasak atau apalah. Karena pikiranku tertuju dengan hal lain, maka aku meminta Shota mengulang kata–katanya.

“Nanti kita buat yang seperti ini di rumah, ya?”

Demi Tuhan! Benarkah ini Shota? Shota yang tinggal selama enam bulan bersamaku dan tidak suka banyak bicara? Juga tidak menyukai keramaian? Benarkah ini Shota yang secara tertulis merupakan suamiku? Aku hampir tidak percaya Shota bisa berubah seperti itu. Kenapa ia malah membuatku jadi salah tingkah dan tidak keruan begini?

Shota kelihatannya tidak melihat keanehanku karena ternyata ia sudah beranjak dan berjalan menuju kerumunan kedai es serut. Buru–buru aku mengejarnya, tapi Shota sudah menghilang di balik kerumunan. Aku menghentikan langkahku sambil menghela napas. Aku tidak mengenalnya... aku tidak mengenal pria ini... Shota tampak di luar pengetahuanku.

“Untukmu!” Tiba–tiba Shota datang dengan membawa 2 mangkuk kecil berisi es serut berwana merah dan hijau. Ia memberikan yang merah kepadaku. Tanpa pikir panjang, aku mengambilnya. Tangan yang hangat itu kembali menyentuh tanganku. Aku berusaha meredam rasa gemetar yang timbul di dadaku. Mata Shota tidak sedikit pun menoleh ke arahku. 

Aku merasakan tangannya basah berkeringat. Mungkin kami 

berdua merasakan getaran yang tidak semestinya, walaupun kami malu mengakuinya. 

Aku membiarkan tangan Shota menggenggam tanganku, membawaku pergi ke mana pun menuju tempat yang ia inginkan, menuju berbagai cahaya pelangi yang mulai menyala seiring hari yang makin gelap. Ia menarikku menuju warna terang kembang api di angkasa malam dan membiarkan kehangatan ini tetap terjaga. 

Mengingat bahwa tadi malam aku seperti sedang mendapatkan mimpi indah, maka aku bangun sangat telat keesokan paginya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, saat kulihat jam weker. Buru–buru aku turun ke lantai bawah dan mempersiapkan kedaiku. Aku berdiri tepat di atas anak tangga terakhir waktu kulihat kedaiku sudah dibuka. Aku melihat sepintas, Edo sedang melayani para tamu, para pekerja yang lain sedang membereskan pesanan, dan Shota sedang melayani para tamu. Hah? Tidak salah? 

“Tuan putri sudah bangun!” tahu–tahu Edo berseru. Hampir dari beberapa tamu tertawa melihatku. Shota menoleh ke arahku kemudian menyunggingkan tawa kecilnya padaku. Buru–buru aku melangkah ke atas dan masuk ke kamar mandi. Shota tidak kerja? Bukannya hari ini hari Senin?

“Shota-san membantu membuka kedai, Mbak! Maaf, ya, nggak nunggu Mbak Ayu dulu,” Edo takut–takut menatapku, ketika aku sudah ikut berada di bawah membantu mereka. 

Bukan itu yang aku permasalahkan, sungguh! Aku hanya bingung kenapa Shota hari ini tidak bekerja? Aku ingin bertanya padanya sejak tadi, tapi dia kelihatan sangat menikmati bekerja membantu kedaiku. Jadi, aku tidak bisa lagi bertanya apa pun. Shota beristirahat sebentar, saat tamu sudah mulai pulang. 

Karena tidak banyak tamu di siang hari, aku menyusul Shota ke belakang. Ia sedang merapikan buku–buku yang kemarin ia kumpulkan bersama Edo. “Belum ada kopi untukku hari ini,” tanyanya tiba–tiba, nadanya datar. Aku jadi tersadar. Aku memang belum sempat membuatkan secangkir kopi panas untuknya. Buru–buru aku ke dapur dan menyajikan secangkir kopi untuknya. Shota segera mengambil cangkir tersebut beserta tatakannya. Ia meniup kopi itu dan menyeruputnya. 

“Sebenarnya aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, tapi barangnya belum jadi. Besok saja, deh,” Shota kembali berbicara. Nadanya masih sama. Ia memang bukan orang yang menyenangkan untuk diajak berbicara.

“Memangnya ada apa?” aku bertanya.

“Sesuatu, sebenarnya untukmu. Aku sengaja memesannya. Mungkin baru akan dikirim dua atau tiga hari lagi, kalau cepat. Tapi, bisa juga seminggu kalau terlambat.”

“Sesuatu apa?” aku bertanya lagi, lebih pada penasaran. Sebelumnya Shota tidak pernah memberikanku sesuatu.

“Nanti lihat saja kalau sudah datang.” 

Karena ia sudah berbicara seperti itu, maka aku tidak lagi bertanya. Aku ingin beranjak dari sisi Shota, aku benar–benar ingin beranjak dan membantu Edo, tapi aku seperti tertahan untuk tetap berada di sampingnya.

“Mau buat apa?” sebisa mungkin aku berbasa–basi. 

Shota menoleh ke arahku. Alis kanannya terangkat sementara kacamatanya sedikit turun. “Kenapa tanya?”

“Tidak boleh bertanya, ya?” aku tertawa.

“Bukan. Kenapa kau bertanya seolah–olah kau tidak tahu?” Shota masih memandang ke arahku. Matanya seperti menangkap basah rasa gugupku.

“Maksudmu?” aku mulai salah tingkah. 

“Edo kan sudah memberi tahumu.” Ya, Tuhan! Aku benar–benar tidak suka caranya memandangku. Ia seperti ingin memakanku hidup–hidup.

“Memang kenapa kalau aku bertanya lagi padamu?”

“Lucu saja!” kali ini ia tertawa kecil. Bola matanya mulai sedikit menyipit. Aku baru menyadari bahwa ia memiliki lesung di pipi kirinya. Bulu matanya tampak lebih lebat dan tidak melengkung turun seperti pria oriental, yang pernah kutemui pada umumnya. Aku hampir saja tersihir oleh sosok pria ini.

Tamu Shota duduk di kursi favorit Shota ketika ia masih menjadi pelanggan setiaku. Ia terus melihat ke arah jendela dan memandangi jalan raya pada siang menjelang sore itu. Saat Shota menghampirinya, baru ia menoleh dan menyalami Shota. Melihat caranya memberikan salam dan mendengarnya berbicara, ia pasti orang Jepang. Shota memang beruntung mempunyai ibu yang punya darah Indonesia, sehingga ia bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, walau terhitung belum lama tinggal di Jakarta. 

Tadinya aku ingin mengantarkan teh ke meja mereka. Tapi, aku memperhatikan lagi, pembicaraan mereka sangat serius. Tidak pelan tidak juga terdengar keras oleh tamu-tamu lainnya memang, namun pembicaraan mereka terlihat tidak boleh diinterupsi. Akhirnya kuurungkan niatku. 

Terus terang, aku benci sekali mendengar Shota berbicara bahasa ayahnya, bahasa yang tidak sekali pun kumengerti. Ingin sekali kudatangi Shota untuk memintanya berbahasa Indonesia saja. Namun, mengingat bahwa statusku cuma teman hidup dalam arti yang sebenarnya, kuputuskan untuk diam.


Dwi Retno Handayani
Pemenang II Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Retno Handayani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 


0 Response to "Lewat Secangkir Kopi [5]"