Lewat Secangkir Kopi [6] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lewat Secangkir Kopi [6] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:58 Rating: 4,5

Lewat Secangkir Kopi [6]

Yang bisa aku harapkan hanya Shota bersedia untuk menceritakan padaku isi pembicaraan itu. 

Tidak sampai setengah jam, tamu itu sudah berpamitan. Aku segera bergegas menghampiri Shota. Namun, belum sampai aku ke mejanya, Shota buru-buru melangkah ke belakang, menaiki anak tangga ke lantai atas. Aku mendengar pintu kamarnya tertutup keras. Cepat-cepat aku mengejarnya.

“Shota... Shota...!”

“Ada apa?” Shota menjawab. Nada bicaranya terdengar sedikit tak terkontrol. Aku mengetuk pintu kamarnya lagi. Shota pun menyahut dari dalam bahwa ia tidak ingin diganggu, oleh siapa pun. Aku terdiam ketika itu. Aku tidak mengerti kenapa Shota jadi bersikap aneh setelah beberapa detik yang lalu ia bersikap sangat hangat kepadaku. Aku mengalah. Kuputuskan untuk kembali turun ke kedai sambil menunggu Shota keluar 
dari kamarnya. 

Di depan kasir kedai, Edo menanyaiku tentang rencana kepergian Shota ke Jepang. Aku sedang melamun sehingga tak kudengar pertanyaan Edo. Dia pun harus bertanya untuk kedua kalinya. Karena aku tidak tahu sama sekali apa yang ia maksud, aku hanya bisa menggeleng.

“Ke Jepang apa?”

“Lho, memangnya Mbak Ayu nggak tahu? Memangnya tadi nggak dengar Shota-san bilang apa?” Edo bertanya padaku, sengaja memperhitungkan penguasaan bahasa Jepang-ku yang boleh dibilang nol jongkok. Aku menatap kesal ke arahnya.

“Sori, nih, bukannya nyindir, Mbak. 

Tapi, Shota-san kayaknya mau pergi ke Jepang, deh!”

“Kamu tahu dari mana, Do?”

“Mbak, tadi aku dengar sendiri waktu Shota-san ngobrol sama tamunya. Si tamu bilang, dia harus segera pergi ke Jepang. Begitu...,” Edo menjelaskan padaku. Aku lupa, Edo mengambil kuliah jurusan bahasa Jepang. Sudah pasti ia mengerti apa yang dibicarakan oleh mereka. Aku segera mendekati Edo dan memintanya mengingat semua hal yang ia dengar dari perbincangan Shota dan tamunya. Sayangnya, Edo cuma dengar bahwa si tamu mau ke Jepang, itu saja.

Biasanya, aku baru tutup kedai ketika malam sudah tiba. Namun, kali ini aku tutup lebih awal. Edo telah pulang dan aku menutup semua gorden jendela kedai. Kudengar langkah Shota menuruni tangga menuju dapur belakang. Aku segera menyiapkan makan malam untuknya. Shota duduk di dekat halaman belakang. Tubuhnya menyandar pada tembok dan pandangannya tertuju pada tanaman-tanaman kecil yang tertata rapi dalam berbagai macam pot berukuran kecil. Ia mengenakan celana panjang dan sweater panjang bertudung. Ia kelihatan kaku seperti biasanya.

“Aku mau kopi,” Shota berbicara pelan, tapi matanya tidak menoleh ke arahku. 

Aku ke dapur untuk menyiapkan kopi untuknya. Begitu aku kembali sambil membawa kopi, kutemukan Shota telah ketiduran. Ia kelihatan sangat letih, walaupun hari ini tidak bekerja. Ia terlelap menyandar pada dinding tembok. Tangannya terlipat dan kacamatanya sedikit turun tersangkut pada batang hidungnya yang mancung. Aku mendekatinya. Tadinya aku cuma ingin membangunkannya dan menyuruhnya makan. Tapi, melihat tidurnya yang pulas itu, aku mengurungkan niatku. 

Kupandangi wajahnya yang putih kepucat-pucatan. Kugerakkan tanganku perlahan menyentuh kacamatanya. Aku ingin membetulkan posisinya, tapi sulit sekali, karena itu kulepas kacamata itu dari pandangannya. Tidak kuat menahan betapa memesonanya dia, kubiarkan tanganku lancang menyentuh kulitnya, menyentuh wajahnya, menyentuh setiap bagian kecil dari hidupnya. Aku pun ingin menyentuh hatinya. 

Aku tidak tahu apa yang sedang kurasakan, apa yang sedang Shota rasakan. Kami seperti terjebak dalam satu situasi yang sama. Kami telah hidup bersama, membawa masalah hidup kami masing-masing. Aku tidak pernah tahu apa yang pernah dialami oleh Shota. Namun, melihat pandangan matanya yang terlihat tidak hidup, aku mengerti bahwa persoalannya jauh lebih sulit dari yang kupunya. Tapi, Shota berbeda dari laki-laki yang pernah kukenal. Aku merasakan kehangatan yang luar biasa setiap kali duduk di sisinya, mendengarnya berbicara dengan nada yang kaku. Aku merasa sangat aman berada di sisinya.

Kusentuh kembali wajahnya yang kelihatan lelah. Kupandangi berulang kali sesosok dirinya di hadapanku. Aku tidak yakin, bisakah seumur hidup aku bersama pria ini? Pria yang diam-diam menghangatkan hatiku yang sudah membeku?

Shota terbangun ketika itu juga. Perlahan, kedua matanya mulai terbuka. Cepat-cepat aku menjauh darinya. Kuberikan secangkir kopi untuknya, namun ia menolak. Aneh mengetahui bahwa kali ini ia menolak kopiku.

“Maaf, Yu, aku ngantuk sekali….”

“Tidak apa-apa,” kujawab seadanya. Shota menatapku ketika itu. Lama sekali.

“Kalau boleh, maukah kau tidur bersamaku malam ini? Maukah kau menemaniku malam ini?” 

Jantungku berdetak kencang saat kata-kata itu terdengar di telingaku. Shota tidak berhenti menatapku. Aku menunduk mengetahui ia tidak berhenti mengalihkan pandangannya dari hadapanku. Aku tidak menjawabnya. Aku takut sekali mengatakan ya. Aku takut juga akan menolaknya. Secara hukum kami benar-benar sah untuk tidur bersama, tapi apa perasaan ini juga akan mengesahkan dua insan yang saling menyimpan misteri hidupnya?

“Kenapa tidak dijawab?” Shota bertanya, pandangannya masih belum lepas dariku. Ia beranjak dari tempatnya, mendekatiku, memegang telapak tanganku. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, namun ada kekuatan yang begitu besarnya merobohkan semua pertahananku. Ada kekuatan besar yang membuatku diam tak berdaya mengiyakan semuanya. Shota menggandeng tanganku, menuntunku menuju kamarnya. Ia menyihirku untuk naik ke ranjang dan berbaring di sampingnya.

“Aku ingin kau tetap berada di sampingku, itu saja.”

Shota memelukku dari belakang. Aku berbaring dengan perasaan tak keruan. Sebagian tubuhku merasakan kehangatan yang lembut, beberapa di antaranya merasakan ketegangan yang luar biasa. Shota tetap melingkarkan tangannya ke tubuhku. Berulang kali ia mengatakan bahwa ia sangat kedinginan. Makin dingin yang ia rasakan, makin kencang lingkaran tangannya di tubuhku. Aku balikkan tubuhku, menghadap ke arahnya. 

Suhu tubuhnya dingin sekali, sementara aku benar-benar merasa panas. Apa yang dirasakan oleh Shota? Kenapa hanya ia seorang yang merasa begitu dingin? Apa ia kena demam? Aku mulai khawatir. Kuperiksa kepalanya dan suhu tubuhnya. Kepalanya panas sekali. Aku segera beranjak dan mencari termometer. Kupasangkan pada ketiaknya, dan begitu termometer itu berbunyi, suhunya mencapai 39 derajat Celsius. 

Aku turun untuk mengambil baskom berisi air hangat. Kuambil handuk kecil dan kukompres kepalanya berulang kali. Aku tidak bisa diam menunggunya. Apa yang membuatnya demam? Seharian ini ia ada di rumah, kok! Kuingat-ingat lagi apa yang telah dilakukannya sejak pagi tadi. Aku baru ingat, ia belum makan. Mungkin ia demam karena telat makan sejak siang tadi. Bagaimana bisa aku lupa kebiasaan buruknya itu? Aku cari obat penurun panas. Setelah ia meminumnya, ia kembali tertidur. Aku kompres lagi kepalanya dan aku cek lagi apakah suhu panasnya sudah turun. Kulakukan itu berulang-ulang. Aku pun mulai mengantuk dan terlelap di sampingnya hingga pagi.

“Shota?” tanganku meraba-raba sisi kiri kasur agar mendapati tubuh Shota di sampingku. Waktu tanganku terus menjelajah, Shota tidak tergapai. Aku segera terbangun. Aku melihat ke arah jam dinding Shota dan melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sial!! Lagi-lagi aku kesiangan!

Dwi Retno HandayaniPemenang II Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Retno Handayani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 


0 Response to "Lewat Secangkir Kopi [6]"