Lewat Secangkir Kopi [8] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lewat Secangkir Kopi [8] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:03 Rating: 4,5

Lewat Secangkir Kopi [8]

Ia kembali menoleh ke arahku, menatapku, kali ini lebih ramah. “Jangan panggil aku Nyonya Hajime, aku mohon. Kan sudah kuberi tahu kalau aku juga ibumu, Ayu.” 

“Baiklah... Bu,” ucapku, sedikit ragu. 

“Sebenarnya aku mau mengajakmu dan Shota makan malam bersama di rumah.” Ibu Shota mengambil cangkir teh dan meminumnya pelan–pelan. “Tadinya aku mau mengabarinya lewat telepon, tapi hitung-hitung ingin bertemu dengan menantuku, maka aku datang kemari.” Lagi-lagi ibu Shota tersenyum. 

Aku tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Apakah aku harus mengatakan sudah dua hari Shota tidak pulang ke rumah, tidak mengabari apa pun kepadaku, dan aku tidak tahu dia pergi ke mana.

“Eh... aku tidak janji, Bu.” 

“Kenapa? Apakah kalian sudah punya acara terlebih dahulu?” Wajah ibu Shota  tampak kecewa.

“Eh... Shota...,” aku ragu-ragu mengatakannya.

“Shota sudah punya acara?” tanya ibu Shota. Bahasa Indonesia-nya baik sekali. Shota bilang, ibunya mewarisi darah Indonesia, tapi aku tidak mengerti dari sisi yang mana, karena wajahnya sangat Jepang.

“Maaf, aku lancang, Bu. Tapi, sebenarnya... sebenarnya Shota sudah dua hari ini tidak pulang,” akhirnya aku berbicara padanya. Aku menunduk malu, mengetahui bahwa mungkin di mata ibu Shota, aku bukanlah istri yang baik, yang tidak tahu ke mana perginya suaminya sendiri.

“Ia tidak menelepon? Tidak memberi tahumu sedikit pun?”

Aku menggeleng. Aku sudah berusaha meneleponnya, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Aku menjelaskan pada ibu Shota bahwa aku sama sekali tidak tahu kenapa ia pergi. Aku tidak tahu apakah aku telah berbuat salah, yang jelas ia tidak memberi tahuku ke mana perginya. Ibu Shota menoleh ke belakang, melihat ke arah kalender yang terpasang di dinding di belakangnya.

“Jangan-jangan ia benar-benar pergi....” Kalau tidak salah aku mendengar ibu Shota berbicara begitu pelan pada dirinya sendiri. 

“Pergi?” aku bertanya akhirnya.

“Sebelumnya aku benar-benar minta maaf, tapi apakah Shota belum menceritakan apa pun padamu, Yu?”

“Menceritakan apa, Bu?”

“Bahwa ia akan pergi ke Jepang?”

“Ke Jepang?” aku mengulangi kata-kata itu, lebih untuk meminta penegasan bahwa aku tidak salah dengar. Ke Jepang! Untuk apa? Kenapa tidak memberi tahuku sedikit pun?

“Oh! Demi Tuhan, aku tidak mengerti! Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang tidak aku ketahui, Bu? Aku mengkhawatirkannya sampai hari ini. Aku menunggunya saat sore itu, berharap ia pulang, tapi ia tidak pulang, tidak memberi tahuku. Ada apa ini?” Aku mulai kebingungan. Apa yang sedang Shota sembunyikan? 

“Hari ini, tepat di hari ini...,” ibu Shota berhenti berbicara. Aku rasa ia sedang mencari kata-kata yang pas. Namun, aku sudah tidak sabar mendengarnya.

“Ada apa di hari ini, Bu?”

“Tepat di hari ini adalah tiga tahun peringatan kematian istrinya yang dulu.” 

Bohong jika aku tidak mendengar apa yang ibu Shota ucapkan barusan. Kebenaran macam apa itu? Kebenaran macam apa? Apa yang sedang terjadi? Kematian istrinya yang dulu? Shota tidak pernah memberi tahuku ia pernah menikah. Ia tidak pernah sedikit pun memberi tahuku tentang hal ini. Padahal, aku menceritakan semua hal yang Akbar lakukan terhadapku, bagaimana perasaanku dulu padanya, tapi kenapa tidak sedikit pun ia membicarakan kehidupannya? Masa lalunya?

“Aku tidak yakin apa ini benar, namun aku tidak punya pilihan. Kalau kau tidak tahu, aku akan memberitahukannya, Yu. Istrinya meninggal tiga tahun yang lalu saat melahirkan. Keduanya tidak selamat saat proses kelahiran tersebut. Sejak saat itu Shota pergi dari Jepang. Ia memutuskan bekerja di Jakarta dan hidup sendiri meninggalkan Jepang. Namun, setiap tahun, setiap peringatan kematian istri dan anaknya, ia pulang ke Jepang untuk memperingatinya,” kata ibu Shota, sambil mengusapkan tisu ke matanya yang 
mulai membasah.

Aku tidak mampu berbicara. Aku tidak tahu, apakah aku sedang terkejut atau tidak percaya pada kenyataan ini. Namun, aku merasa seperti sedang ditampar oleh sesuatu. Pandangan mata itu... aku jadi ingat pandangan mata Shota yang begitu hampa, kosong, seperti ia tidak hidup di dunia ini. Aku jadi mengerti kenapa ia memintaku menikahinya, meskipun ia belum mengenalku waktu itu. 

“Tadinya kami takut Shota akan menjadi gila. Aku takut sekali Shota akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah kematian istrinya, ia menjadi sangat pendiam. Ia tidak pernah menangisi keadaannya, namun sikapnya yang seperti itu malah membuat kami resah. Tiga hari setelah kematian istrinya, tiba-tiba ia minta dipindahkan ke Jakarta. Semuanya sangat tiba-tiba. Enam bulan yang lalu ia datang padaku dan bilang mau menikahimu. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi semua itu terasa aneh bagiku,” ujar ibu Shota, pelan. Aku sendiri masih sangat terkejut dengan kebenaran ini. Aku belum tahu harus berbuat apa.

“Karena itu aku sedikit lega, walaupun terasa aneh, mengetahui ia akan menikah lagi. Setidaknya ia tidak sendiri, itulah yang aku harapkan. Ia tidak sendiri dan melakukan hal-hal bodoh seperti yang pernah dilakukannya setahun yang lalu.”

“Apa yang dilakukannya setahun yang lalu?” 

“Di suatu hari ia mengatakan padaku ia ingin bersama dengan istri dan anaknya. Ia ingin menyusulnya. Ia bilang ia ingin secepat mungkin menyusul mereka.” 

“Maksud Ibu, ia ingin bunuh diri?”

“Begitulah... aku baru sadar saat mengetahui ia sudah berada di rumah sakit, dengan banyak infus mengalir di tubuhnya.”

“Shota tidak seperti itu. Ia pendiam, tapi tidak seperti itu!” sebisa mungkin aku menangkis kebenaran itu.

“Dulu ia seperti itu. Kuperhatikan belakangan ini, semenjak hidup denganmu, ia sedikit lebih hidup.”

“Lalu... apakah ia akan kembali?”

“Aku sendiri tidak tahu. Biasanya ia akan pulang sehari setelah peringatan kematian itu.”

“Bersabarlah padanya, Yu. Aku sebagai seorang ibu benar-benar memohon padamu. Bantulah ia untuk kembali menjalani hidupnya.”

Aku pikir Shota benar-benar akan datang sehari setelah peringatan kematian istri dan anaknya. Namun, sudah hari kedua ia tidak juga datang. Sudah lima hari Shota tidak kembali ke rumah. Aku sangat merindukannya. Aku merindukan hari-hari kami yang penuh ketenangan, walau hanya berdua dengannya. Aku merindukan genggaman tangannya. Kini, ketika aku tahu kebenarannya, aku makin merindukannya.

Aku berdiri di depan pintu kamar Shota. Ia tidak pernah mengunci pintu kamarnya, namun pintu kamarnya selalu tertutup. Aku memberanikan diri untuk membuka kamarnya. Aroma Shota seperti ada di sekelilingku. Kamarnya tertata rapi. Kulangkahkan kakiku masuk mendekati lemari kecil dekat dengan tempat tidurnya. Aku pikir aku bisa menemukan keterangan lebih jelas mengenai masa lalunya di lemari tersebut, tapi tidak ada sedikit pun keterangan yang menjurus ke sana.


Dwi Retno Handayani
Pemenang II Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Retno Handayani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 


0 Response to "Lewat Secangkir Kopi [8]"