Malam yang Menelan Ayah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Malam yang Menelan Ayah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:15 Rating: 4,5

Malam yang Menelan Ayah

SAAT ayah menghilang, usiaku 17 tahun. Malam itu ayah tiba-tiba lenyap, tanpa pesan, tanpa salam perpisahan. Tak ada kejadian aneh atau sikap yang mencurigakan. Hanya saja, dua malam sebelum ayah menghilang, aku menemukan ayah meringkuk di atas tempat tidurku. Sejak aku berusia 10 tahun, ayah tak pernah lagi masuk ke dalam kamarku. Katanya, anak perempuan butuh privasi dan dia tak bisa leluasa lagi ke kamarku.

Ketika kutanya, ayah sedang apa di kamarku? Dia gugup, seakan pertanyaanku mesin pengisap debu yang menyedot kesadarannya. Dia segera duduk di tepi ranjang, matanya bergerak liar, tapi lurus ke arah pintu. Saat aku melangkah mendekatinya, dia tergesa berdiri. “Tak ada apa-apa. Aku hanya rindu suasana kamarmu.” Lalu dia menghilang di balik daun pintu.

Setelah itu kami masih makan malam bersama. Seperti biasa, ibu membuat sup yang lezat, tapi dingin. Aku percaya, sebenarnya sup ini sangat hangat dan enak dinikmati, tapi mantra ibulah yang membuatnya cepat membeku. Oya, aku selalu beranggapan jika ibu sebenarnya seorang penyihir. Aku sangat meyakini intuisiku ini. Sebab, ibu tak pernah bersikap hangat kepadaku. Dia membenciku, juga membenci ayah.

Sejatinya ibu perempuan yang sangat cantik. Pada bagian ini aku bersyukur menjadi anak perempuannya, karena aku mewarisi kulit putihnya yang bersih, mata bulat cemerlangnya dengan manik biru terang. Bibirnya tipis, selalu disapu oleh lipstik merah menyala. Rambutnya cokelat dan bergelombang. Sayangnya, aku memiliki rambut hitam tipis punya ayah.

Aku tak tahu, bagaimana dua kutub yang berbeda seperti ibu dan ayah bisa menyatu? Bagaimana bisa mereka menikah dan memutuskan hidup bersama? Kurasa dan aku meyakininya, ibu telah memantrai ayah dengan sihir paling hitam. Ayah selalu tunduk pada ibu. Apa pun ucapan ibu, akan ayah turuti, termasuk ayah harus tidur di sofa, bukan di atas ranjang bersamanya.

Akan kubagi kau satu rahasia antara ayah dan ibuku, yang aku yakin sekali ayah menganggapku tak mengetahui apa-apa, sementara ibu sangat sadar bila aku mengetahui ihwal ini. Ibu tak pernah mau bercinta dengan ayah. Entah sejak kapan itu terjadi, aku tak tahu. Aku menyadari ini setelah tahu bila ayah tidur di sofa dan ibu di atas ranjang. Lalu aku mengetahui kebiasaan ayah yang kerap masturbasi di basement rumah kami. Aku beberapa kali hampir memergoki ayah yang menonton video porno atau membaca majalah porno, lalu dia melakukannya sendirian di sofa. Sementara ibu sibuk menonton opera sabun di televisi atau membaca novel erotis. Ayah menyimpan video dan majalahnya di brankas tua yang ada di basement, mungkin dia mengira aku tak tahu di mana dia menyimpan benda-benda itu. Padahal aku tahu setiap sudut rumah ini.

Itulah yang membuatku tak mengerti, kenapa ayah menikahi ibu? Ibu memang cantik, tapi apa gunanya cantik bila ibu tak mau bercinta dengan ayah? Sementara ayah lelaki tampan dan berbadan bagus. Dia manis dan disukai ibu-ibu di sekitar rumah kami. Aku kerap ikut ayah joging di Minggu pagi dan ibu-ibu itu dengan genitnya menggoda ayah dari balik pagar rumah mereka. Namun ayah hanya tersenyum, tak meladeni mereka. Mungkin karena ada aku atau ayah tak ingin mengkhianati ibu.

Begitulah, kehidupan kami terus bergulir. Almanak menggugurkan angka-angka yang kedaluwarsa seperti pepohonan yang menggugurkan daun-daun kuning di rantingnya. Musim demi musim silih berganti. Aku tumbuh memanjang bersama pohon-pohon. Ayah dan ibu masih bersikap seperti dulu, sampai malam ketika ayah tidak pernah pulang hingga detik ini.
Hubunganku dengan ayah agak merenggang setahun lalu, saat Justin dan kedua orangtuanya menjadi tetangga baru kami. Jujur, aku menyukai Justin saat pertama kali melihatnya. Dia anak lakilaki terkeren yang pernah kulihat. Aku menyukai mata dan rambut cokelatnya. Badannya liat, kuduga otot-otot biseps dan perutnya itu tempaan dari mesinmesin di tempat gym.

Bagian yang paling melambungkan imajinasiku adalah bibirnya. Aku menyukai bibir Justin yang seksi. Tipis dan lebar. Sorot matanya tajam. Setiap sore di hari Minggu, aku akan duduk di halaman belakang rumah kami, menonton Justin yang bertelanjang dada dan bermain basket sendirian. Kadang-kadang dia juga memotong rumput dan membersihkan kolam dan tetap bertelanjang dada. Aku rasa dia tahu betul jika perut dan dadanya sangat seksi. Setelah tiga pekan berturut-turut menjadi penonton diam-diamnya, Justin menyadari ulahku. Dia menghampiri dan aku rasanya mati beku.

“Kau mau bergabung?” tawarnya sembari memeluk bola basket di pinggang kanannya. Aku bisa melihat keringat mengalir dari dadanya menuju perut dan lenyap di balik tali celana pendeknya. Tak kubuang kesempatan itu, kami akrab dan ayah mendukungku. Bahkan ayah sesekali bergabung bersama kami untuk main basket di halaman belakang rumah Justin. Sementara ibu selalu kebalikannya, dia seperti mengobarkan perang untuk Justin.

“Apa kau mencintainya?” 
Aku ingat sekali dengan pertanyaan ibu malam itu. Aku terhenyak. Ibu tiba-tiba masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk terlebih dahulu. Handuk terlepas dan aku bugil.

“Pelacur kecil!” dengusnya dengan mata melotot ke arahku, tergesa aku menjangkau handuk dan menutupi tubuh. “Apa kau sudah bercinta dengannya?” 
“Apa yang Ibu maksud?” 
“Tak usah pura-pura,” dia melangkah sembari berkacak pinggang. “Apa dia memuaskan hasrat liar remajamu? Apa dia mampu bercinta seperti yang kau harapkan?” 
“Apa yang Ibu maksud?” 
Ibu kembali mendengus, matanya begitu membeliak, seakan-akan kedua bola mata itu akan meloncat dari rongganya.

“Kau sudah pandai berpura-pura,” dia berbalik dan meninggalkanku yang didera kebingungan serta rasa takut. Aku tak pernah mengerti ibuku. Dia benarbenar penyihir jahat yang menyaru jadi ibu. Bisa jadi sebenarnya dia telah membunuh ibu kandungku, lalu dengan mantra hitamnya, dia menjelma ibu dan mengambil posisi di rumah ini.

“Ayahku menghilang,” kuceritakan ini pada Justin. Hanya dia yang bisa kupercaya sekarang. Cuma dia yang mau mendengar ceritaku. Sementara ibu, seperti tak peduli dengan lenyapnya ayah. Dia tetap seperti biasa, berdandan, dan membuat sup dingin untuk makan malam. Hanya saja sejak ayah pergi tanpa pesan, ibu lebih sering duduk diam di depan televisi yang menyala tanpa channel siaran, lalu dia akan menenggak vodka atau rum lebih banyak dari biasanya. 
“Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri. Atau dia mendadak harus keluar kota karena tugas kantornya,“ suara Justin serak di ujung telepon.

“Enggak mungkin. Dia pasti akan bercerita padaku,“ aku mengenal betul ayahku.

“Kurasa ayahmu ingin bercerai dari ibumu. Kau kan tahu sendiri bila mereka berdua sudah lama sekali ingin berpisah.“

Justin benar. Sudah lama sekali ibu mengancam untuk meninggalkan ayah. Dulu aku terkejut sekali mendengarnya. Bukan karena takut mereka berpisah, tetapi aku merasa ganjil sekali kalimat itu terluncur dari mulut ibu. Seharusnya ayahlah yang ingin berpisah darinya. Ayah tak mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan seorang suami dari istrinya, termasuk kehangatan. Anehnya, justru ibu yang mengancam akan meninggalkan ayah. Dan bila ibu sudah berkata demikian, ayah akan memohon-mohon agar ibu tak meninggalkannya. Kurasa ibuku memang penyihir hitam paling jahat di muka bumi ini.

“Ayahmu sedang butuh waktu untuk memikirkannya, jadi dia pergi. Aku yakin dia akan segera kembali.“

“Semoga kau benar.“

Lalu hening. Aku masih bisa mendengar hembusan napas Justin di ujung telepon. Kami berdua kehilangan kata-kata.

“Tapi bila ayahmu tak kunjung kembali, apa yang akan kau lakukan?“ 
Pertanyaan Justin ini membuatku kian terdiam, aku tak tahu harus melakukan apa.

“Mungkin aku akan mengajak ibu melapor ke polisi.“

“Semoga ayahmu lekas kembali,“ lalu telepon berakhir.

Aku memandang langit-langit kamar dan lamatlamat kudengar dentingan pilu dari ruang tengah.Suara piano. Ibu. Sudah lama sekali aku tak mendengar alunan itu. Ketika aku hendak beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba aku mendengar suara beling dibanting, jeritan ibu dan tangisan yang paling mengerikan. Seperti lolongan arwah dari dasar neraka. Aku mengurungkan niat dan meringkuk dalam selimut yang pengap.?

Sudah sepekan ayah menghilang, aku dan ibu sudah melaporkan hilangnya ayah ke polisi. Tapi tak ada hasil.

Oya, aku hampir lupa. Sore itu seharusnya Justin menjemputku dari rumah Tania, tapi ponselnya tak aktif. Lalu aku menelepon ayah. Tak diangkat. Aku pulang sendirian. Saat aku pulang, rumah kosong. Ibu tak ada, juga ayah. Saat malamnya kutelepon Justin, dia bilang main ke rumah Andrew dan mabuk video games. Malam itu kusadari, ayah menghilang.

Aku sudah berusaha mencari ayah, tapi tak ada hasil. Sejak ayah menghilang, Justin tak pernah mau ke rumah lagi. Aku tahu, dia tak pernah suka kepada ibu, sama sepertiku. Perlahan hubungan kami merenggang dan kami putus begitu saja. Sampai detik ini, ayah tak pernah kembali. Aku tak tahu ke mana dia. Mungkin dia lelah menghabiskan sisa hidupnya bersama penyihir seperti ibu. Jadi dia pergi. Aku hanya berharap, ayah bahagia.

G59 ­ Pali, 2015  
Guntur Alam, buku kumpulan cerpennya, Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang (2015).
  
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Guntur Alam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 29 November 2015

0 Response to "Malam yang Menelan Ayah "