Marbun Menggali Kubur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Marbun Menggali Kubur Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:21 Rating: 4,5

Marbun Menggali Kubur

MARBUN menggali lubang di pekuburan kampung. Saat matahari terbit ia telah menggali. Kedalamannya baru dapat sekira setengah meter, lebar satu meterm dan panjang hampir dua meter. Tubuh Marbun kekar, tenaganya besar, tetapi sepasang matanya kosong tak bercahaya. Matahari sudah sepenggalah. 

Melintaslah Samijo dan bertanya.

"Siapa yang meninggal, Mar?"

"TIdak ada!"

"Lalu untuk siapa kubur ini?"

Marbun diam. Terus menggali.

"Mengapa kamu menggali kubur, Mar?"

"Perintah kakek!"

"Bagaimana mungkin, kakekmu sudah lama meninggal."

"Kakek datang dalam mimpi. Aku harus menggali kubur!"

"Untuk apa?"

"Tidak tahu!"

Samijo lantas berlari menuju rumah Pak Karmijan. 

"Marbun kumat lagi, Pak RT," lapornya.

"Dia ngauk-ngamuk dan membawa parang lagi?"

"Bukan, Pak RT," Samijo lantas menceritakan apa yang terjadi.

"Gila! Marbun benar-benar kumat," ucap Pak Karmijan.

Pak Karmijan meminta Pak Karmijan menunjukkan keberadaan Marbun. Di sana. di pekuburan kampung, Marbun masih menggali. Kedalaman lubang telah bertambah.

"Hentikan, Mar!" perintah Pak Karmijan.

Marbun berhenti menggali. Menoleh.

"Pergi kalian!"

"Saya bilang, hentikan!"
Marbun melompat naik. Mengangkat cangkul. Tatapannya garang.

"Pergi kalian! Pergi!"

"Sabar, Mar. Sabar," Pak Karmijan dan Samijo mundur beberapa langkah. "Baiklah. Kami akan pergi."

Dua lelaki itu bergegas pergi. Sesampai di rumah, Pak Karmijan mengambil dua cangkul. Satu untuk dirinya dan satu lagi ia serahkan pada Samijo. Kemudian Pak Karmijan mengajak Samijo kembali ke pekuburan.

"Kita akan mengeroyok Marbun, Pak RT?" tanya Samijo.

Pak Karmijan diam. Langkahnya gegas. Samijo berlari kecil mengikuti.

Dua lelaki itu kembali berada di pekuburan. Melihat kedatangan mereka, dari dalam lubang, Marbun mengangkat cangkul dan membentak, "Pergi!"

Tatapan Paerubah garanng dan ia turun ke dalam lubang.

"Kakekmu benar. Kita harus menggali kubur ini," kata Pak Karmijan, lalu menoleh pada Samijo yang berdiri di atas. "Kamu juga turun. Bantu kami menggali!"

"Tapi, Pak..."

"Turun kataku!"

Gugup, Samijo pun turun ke dalam lubang. Ketiga lelaki itu melanjutkan menggali lubang. Tengah hari, mereka telah menggali hingga kedalaman ideal untuk sebuah kubur.

"Pulanglah," kata Pak Karmijan dan menyentuh pelan bahu Marbun.

Kegarangan Marbun surut. Matany kuyu. Tanpa berkata-kata, Marbun pulang. Langkahnya gontai.

"Mengapa kita menggali kubur ini, Pak RT?" tanya Samijo dengan dahi berkerut. Napasnya memburu.

"Tidak tahu!" sahut Pak Karmijan, lalu berjalan pulang. Langkahnya pun gontai. Kelelahan.

***
Malam datang. Sudah tengah malam. Beberapa lelaki dewasa berkumpul di pos ronda. Main gaple dan mengobrol. Memperbincangkan perilaku Marbun hari ini. Semakin hari semakin aneh saja tingkah Marbun. Mereka membuat kesimpulan, Marbun gila setelah ditinggal kawin isterinya yang bekerja di Malaysia.

Tiba-tiba terdengar suara kentongan bertalu-talu dan seseorang berteriak-teriak.

"Maling! Maling! Maling!" Orang-orang di pos ronda berhamburan keluar. Mereka melihat sekelebat bayanagn berlari menuju pekuburan. Mereka bergerak, berlari mengejar bayangan itu. Malam gelap pekat. Bulan di langit, entah ke mana.

Sinar-sinar senter berkelebatan di pekuburan. Dari sudut pekuburan terdengar suara orang mengerang. Orang-orang kampung mendekat. Mereka mengepung sebuah lubang  di tanah.

Orang-orang yang membawa senter mengarahkan sinar ke dalam lubang. Di sudut lubang tampak seorang lelaki muda duduk menggigil dan wajah ketakutan.

"Subhannallah," seseorang berseru. "Ini lubang galian Marbun!" (*)


Sulistiyo Suparno, kelahiran Batang, Mei 1974. Alumnus Fisip Untag Semarang (1999) ini bekerja sebagai Staf di STKIP Muhammadiyah. Cerpennya dimuat di media lokal dan nasional. Berdomisili di Limpung, Batang, Jawa Tengah.


***
Apresiasi dan ucapan terimakasih kami haturkan atas dikirimkannya karya sastra dan karya rupa ini oleh penulis (Sulistiyo Suparno) kepada klipingsastra. Salam Sastra. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sulistiyo Suparno
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Banjarmasin Post" Mingguu 22 November 2015


0 Response to "Marbun Menggali Kubur"