Marissa [1] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Marissa [1] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:47 Rating: 4,5

Marissa [1]

Kami berjalan cepat menuju toilet begitu mendapat laporandari satpam kalau Delia ditemukan pingsan di sana.  Di depan toilet sudah berkerumun beberapa orang pegawai yang berusaha merangsekmasuk. Melihat kami datang, mereka menyeruak ke samping untuk memberi jalan. 

Di bawah sana, di dekat wastafel, tergeletak sosok Delia dalam keadaan taksadarkan diri. Sisa-sisa muntahan tampak berceceran, mulai dari wastafel hinggalantai di mana ia tergeletak. Aku berlutut untuk memeriksa keadaannya.Nadinya  berdenyut lemah saat kusentuh lehernya.

“Panggilkan ambulans!” seruku, pada kerumunan pegawai di pintu.  

Bu Nanik memangku kepala Delia agar posisinya lebih tinggi, supaya ia dapatbernapas dengan baik. Seorang pegawai membawakan minyak angin yang segerakuoleskan pada bagian bawah hidung dan pelipis Delia untuk memberikan rasa danaroma panas. Kupijat-pijat juga lengan dan kakinya agar ia terjaga. Tetapi,Delia tetap tak sadarkan diri. Dahinya benjol dan berdarah sedikit, mungkin karena terbentur saat jatuh tadi.

Satya –bos kami– datang dengan tiba-tiba di toilet itu. Membuat kerumunanpegawai buyar dalam hitungan detik. Kami menengadah ke arahnya. Wajah lelakiyang juga sepupuku itu kelihatan datar-datar saja memerhatikan bagaimana Deliaterkapar. Seakan-akan ia tidak pernah memanggil wanita itu ke ruangannyabeberapa saat yang lalu. Memarahinya habis-habisan, lalu menjatuhkan suratperingatan keempat padanya tanpa ampun.

Ya. Delia baru saja menerima vonis yang membuat dirinya harus segera keluardari perusahaan ini, jika tidak mau dipecat tanpa pesangon. Ini merupakankeputusan final perusahaan terhadap wanita berusia 33 tahun atas segalaprestasi yang tidak memuaskan selama bekerja di perusahaan kami.

Sekitar 15 menit kemudian, ambulans datang.  Aku berharap Satya akanmengatakan atau menyatakan sesuatu atas perkara ini. Tetapi, seperti yang sudahkuduga, ia diam saja memerhatikan bagaimana kami berjalan tergesa di sisibrankar yang membawa Delia di atasnya. Kami ikut masuk ke dalam ambulans untukmengurus keperluan Delia.

Aku tidak tahu apakah karena Satya masih menyimpan kekesalan yang begitu luarbiasa pada seorang Delia, atau karena memang watak aslinya demikian sehinggaSatya tampak begitu tega di mataku. Tapi, kalau dipikir-pikir, Delia memangketerlaluan. Ia telah membuat Satya terlunta-lunta di Lombok pada saatmenghadiri undangan kewirausahaan di sana.

Oh, ya, ampun... betapa marahnya dia. Aku bisa mengerti betapa paniknya diasaat meneleponku pada hari Jumat kemarin. Ia sudah sampai di Hotel GrandEmerald pada pukul 8 malam waktu Lombok. Ia terpaksa berangkat hari Jumat malamdari Surabaya karena penerbangan pada Sabtu pagi sudah penuh. Sedangkan esoknyaia harus mengisi acara ceramah pada sesi kedua.

Aku bisa membayangkan kemarahannya. Satya baru saja tiba dari Singapura, belumsempat pulang ke rumah. Ia sudah harus pergi memberikan pengalamannya menjadi pengusahawaralaba yang sukses pada seminar marketing bagi para pemula di Lombok. Ialelah, tapi masih memiliki semangat untuk menularkan ilmunya. Tetapi, apa yangdiperolehnya adalah kekacauan. Delia adalah sumber kekacauannya itu.

Sebenarnya, Satya tidaklah sekasar itu. Ia lebih menjurus untuk selalu bersikaptegas, serius, dan memegang tinggi komitmen. Tak heran, di usianya yang baru 30tahun, ia sudah memiliki semuanya. Investasi, prestasi, dan prestise. Iamemiliki jaringan waralaba untuk bakso dan bebek goreng yang tersebar diseluruh negeri. Serta sebuah pabrik pengalengan ikan warisan ayahnya yangmenjadi cikal bakal perusahaan kami sekarang ini.

Satya bukanlah tipe orang yang cukup sabar. Ia menginginkan semuanya berjalandengan cepat, tepat, sesuai kesepakatan bersama. Ia tidak akan senang, jika adasesuatu yang keluar dari komitmen itu. Lebih-lebih, jika tidak bisa memberikanalasan yang masuk akal. 

Dan Delia sudah melewati batas kesabarannya. Bukan sekali ini Satya sudahdibuat keki oleh wanita itu. Tiga bulan lalu, ia hampir gagal menggelar pameranbisnis UKM di Malang karena tidak mengantongi izin dari pihak pemda setempat.Padahal, Satya sudah menandatangani proposalnya tiga bulan sebelumnya. Setelahdiselidiki, ternyata file itu masih tersimpan di laci meja Delia, tertumpukberkas-berkas lain yang tidak berguna.

Kami juga pernah kena denda besar dalam perpajakan karena terlambat setor.Masalahnya, berkas itu tidak sampai ke tangan bagian akunting untuk diserahkanke kantor pajak. Usut punya usut, Delia menghilangkannya. Ia tidak ingat dimana terakhir kali ia meletakkan berkas itu. Yang jelas, ketika kami bantumencarinya, amplop itu tidak pernah ada. Jadi, terpaksa kami lembur untukmengerjakan sekali lagi. Dan kena denda, tentunya.

Dan masih ada beberapa kesalahan yang membuatnya menjadi  makin parah didepan kami. Delia kerap menghilang di antara jam kerjanya. Jika melewati harilibur panjang, maka ia akan menambah dua hari ekstra berikutnya dengan alasantidak mendapat tiket. Jika Satya marah, dengan mudah ia akan bilang pada BuNanik untuk memotong jatah cuti tahunannya.

Perangainya itu menjadikan hambatan besar bagi kami rekan sekerjanya. Terutamajika ada hal-hal yang membutuhkan hubungannya dengan Satya yang tidak selaluberada di tempat. Jika Delia sedang ’kumat’ begitu, maka akulah yang akandijadikan sasaran mereka untuk menghubungkan mereka dengan Satya. Danmengerjakan pekerjaannya yang amburadul, tentunya.

Aku tidak mengerti apa yang menyebabkan Delia mampu bertahan di sini sedangkanhampir semua rekan kerjanya sudah tidak welcome terhadap kehadirannya.Bagaimana mungkin seseorang yang dihadapkan pada tekanan psikologis seperti itumasih bisa melenggang tenang mengenakan baju kebangsaannya: blus dengan kerahturtle neck, mini skirt, dan blazer-blazer yang modis. Dengan make up yangtermasuk menor untuk wanita seumurnya, Delia tampak percaya diri sekali. Seakantidak ada masalah antara dirinya dengan kantor ini. Kalau bukan bebal, makapastilah ia bermental baja.

Kami menunggu perawatan Delia cukup lama sampai ia sadar sekitar pukul satusiang. Ia demikian lemah saat membuka matanya yang kelihatan kosong memandangke arah langit-langit. Delia membisu seakan-akan mulutnya telah terkunci rapat.Aku menghela napas hampir bersamaan dengan Bu Nanik. 

Ia pasti sedang mengalami shock yang luar biasa.

Akhirnya aku dan Bu Nanik berbagi tugas. Aku ke rumah Delia untuk mengambilbeberapa pakaian dan barang-barang pribadi yang dibutuhkannya, sementara BuNanik akan menunggui wanita itu sampai aku kembali.

“Apa pun yang bisa menghubungkan kita dengan keluarganya, Ran, haruskautemukan,“ itu pesan Bu Nanik padaku.

Aku mengerti, oleh sebab itu aku harus bergegas menuju apartemen tempat Deliatinggal. Memang agak mengherankan kalau sekretaris berprestasi kurang baikseperti Delia mampu tinggal pada sebuah apartemen mewah sekelas ApartemenSatelit. Di mana untuk memasuki apartemen itu saja harus  melewati barisanpengamanan seperti di hotel-hotel bintang lima. Bukannya berburuk sangka. Sebesarapa pun gaji Delia, rasanya belum cukup layak untuk tinggal di tempat seperti ini.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Shanty Dwiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Marissa [1] "