Marissa [4] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Marissa [4] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:00 Rating: 4,5

Marissa [4]

Rasa penasaran membuatku menjelajah di Google, menulis nama akademi yang dimaksud untuk mencari tahu. Sambil menunggu, aku memperhatikan dua lembar foto. Yang satu adalah foto lama dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Aku mendadak ingat, foto yang sama juga tergantung di ruang kerja Pak Yudha. Sungguh sebuah kebetulan berikutnya. 

Sedang yang lainnya adalah juga sebuah foto lama. Foto sekelompok wanita yang tengah berpose pada sebuah lesehan makan di kaki lima. Kuperkirakan tempat itu berada di Yogya juga. Pada spanduk yang menempel di belakang tempat makan  kaki lima itu tertulis: ’Goedeg Toegoe Jogja’.  
Tetapi, buat apa Delia mengumpulkan foto-foto dan salinan ijazah lama? Kuangkat kepalaku karena leherku menjadi demikian kaku. Kembali ke monitor dan aku kecewa. Pencarian atas nama akademi itu tidak berhasil. Kuketik nama ASMADJY untuk dijelajah. Kembali gagal. Aku makin penasaran. Apakah sekolah itu pernah ada atau tidak, ya? Kuketik Dharma Jaya. Yang keluar ternyata nama kelenteng, merek bakso, dan nama sebuah yayasan sosial yang setelah kutelusuri ternyata milik perkumpulan etnis keturunan Cina.

Kok, jadi butek begini, ya? Kalau aku gagal mendapatkan sebuah petunjuk, maka Delia akan mengacau hidupku lebih lama lagi. Kuhirup teh manisku yang sudah dingin.  Mbok Nah kedengaran mendengkur halus dari atas dipan. Siaran teve masih menyala dan kubiarkan saja. Jika kumatikan, maka ia akan segera terjaga. Aku sudah tahu kebiasaannya itu.

Satu-satunya harapanku adalah pada ponselnya. Dari jenis smartphone yang cukup andal dan yang pasti mahal harganya. Beruntung pin pembukanya standar saja, 1234, jadi aku bisa masuk ke dalamnya. Yang lebih mengherankan, aku hanya menemukan lima nama dalam phonebook-nya. Untuk seorang sekretaris yang seharusnya  memiliki jaringan luas, Delia benar-benar payah.  Kelima nama itu adalah nomor Pak Yudha, Bu Yudha, Satya, Bu Nanik,  dan aku, Rania.  Aneh juga, seorang staf biasa seperti aku bisa masuk ke dalam lima besar orang yang patut dicatatnya.

Lelah menjelajah dan menerka-nerka menyadarkan aku pada waktu yang sudah sangat larut, pukul 01.45.  Akhirnya kuputuskan untuk menulis e-mail pada Ardi, sales manager di wilayah Yogya dan Semarang, untuk melacak keberadaan sekolah itu sebelum aku tidur. Aku berharap, Ardi bisa memberikan jawaban dengan segera.

Wajah Bu Nanik tidak kelihatan heran melihatku sudah duduk di mejaku pada pukul 7.30 keesokan harinya. Aku sendiri sudah berada di sana sejak setengah jam lalu. Terus terang, semalaman aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena penasaran. Aku perlu datang pagi ke kantor hanya untuk meminta izin Bu Nanik membuka file para sekretaris.

Dengan cepat aku memeriksa berkas-berkas yang tersusun rapi berdasarkan abjad yang segera kucabut dari tempatnya. Marissa, Nadia, Tere, Luisa, dan Delia sendiri. Kelimanya kubawa ke ruanganku agar bisa menghirup udara bersih   dari AC berteknologi nano itu.

Tanpa menghiraukan Bu Nanik, aku mulai membuka berkas-berkas itu satu per satu. Dimulai dari Marissa Subyastuti. Lahir di Yogya, 5 Juni 1959. Lulus ASMADJY tahun 1979. Bergabung dengan perusahaan sejak 1982 – 1988. Keluar atas permintaan sendiri. Alamat terakhir di Apartemen Satelite Surabaya.

Theresia Susanti, lahir di Tabing, 15 April 1964. Lulusan YASMI Medan tahun 1986. Bergabung dengan perusahaan sejak tahun 1988 – 1990. Mengundurkan diri setelah mengalami kecelakaan pada September 1990. Alamat terakhir di Perumahan Griya Kencana D/16 Surabaya. 

Kemudian Nadia Rahmadhanti. Lahir di Yogya, 5 Juni 1968. Lulusan ASMADJY tahun 1989. Bergabung dengan perusahaan sejak 1990 – 1998. Ia mengundurkan diri untuk menikah. Alamat terakhir yang tercatat, Apartemen Satelite Surabaya.

Yang keempat adalah Luisa Sanjaya, lahir di Pontianak 8 Agustus 1967. Lulusan Lembaga Pendidikan Profesi Surabaya ( LP2S ). Bergabung sejak 1998 – 2001. Kariernya berakhir saat ia meninggal akibat keracunan gas karbondioksida dari mobilnya sendiri. Ada kliping obituarinya pada sebuah koran tanggal 30 Maret 2001. Ia dikremasikan di sebuah krematorium di daerah Malang.

Terakhir, Delia Sumarno. Lahir di Yogya, 5 Juni 1976. Lulusan ASMADJY tahun 1999. Bergabung sejak 2001 sampai sekarang. Apartemen Satelite menjadi tempat tinggalnya dan tidak ada keterangan lain. 

Kuluruskan punggungku sambil memikirkan berbagai kebetulan yang kudapati dari data di tanganku ini. Bahwa Marissa, Nadia, dan Delia tinggal di apartemen yang sama, bersekolah di tempat yang sama dan mereka memiliki tanggal lahir yang sama, yaitu 5 Juni. Hanya saja berbeda tahun. Hebat sekali. Jadi, mereka berada dalam naungan bintang yang sama, dan mungkin juga memiliki sifat atau karakter yang sama pula. Betapa sebuah kebetulan!
Bunyi nada panggil dari ponsel mengejutkan kami berdua. Bu Nanik menggeleng setelah memeriksa ponselnya. Aku pun tidak merasa bunyi itu berasal dari ponselku karena nadanya berbeda. Lalu dari ponsel siapa karena kami hanya berdua di ruangan ini? Aku jadi ingat. Ponsel Delia! Aku membawanya di dalam ransel!

Buru-buru kubuka komunikatornya dan berharap ada sebuah informasi baru yang dapat kuperoleh. Ternyata sebuah SMS masuk dari nomor yang tidak terdaftar. Isi pesannya sederhana:
Paket sudah dikirim. Harga TO baru 15 juta.

Aku terdiam dan mulai berpikir. Paket apa dan dari siapa? TO itu apa? Target operasi? Kututup ponsel itu dan kembali ke berkas lima sekretaris yang aneh ini. 

Aku mengamati Bu Nanik yang masih memproses data gaji pegawai.

“Bu, maaf mengganggu sebentar.“

“Nggak apa-apa, mau tanya apa, Ran?“ ia menjawabku tanpa menoleh.

Kemudian aku menanyakan seputar keanehan tiga sekretaris Pak Yudha yang berasal dari sekolah yang sama, dan tinggal di tempat yang sama. Kecuali Tere dan Luisa. Bu Nanik mengatakan, mereka bertiga memang direkomendasikan Pak Yudha. Bahkan tinggal di apartemen milik pribadinya.

“Saya memeriksa di internet semalaman, ASMADJY -sekolah para sekretaris itu-  tidak ada datanya.“

Baru sekarang kulihat perubahan dari Bu Nanik. wanita itu duduk menegak di kursinya untuk beberapa saat lamanya seperti sedang memikirkan sesuatu. 

Dulu ia adalah staf personalia yang terpaksa mengerjakan tugas-tugas sekretaris bagi Pak Yudha untuk sekian belas tahun lamanya. Itu dikarenakan Marissa, Nadia, dan Delia tidak pernah melakukan tugasnya dengan baik. Mereka lebih sibuk mencari perhatian bos yang flamboyan itu. Hanya Tere dan Luisa yang benar-benar menjalankan tugasnya dengan benar. Sayangnya, mereka tidak bertahan lama.

“Sekalipun Pak Yudha tahu betapa menyebalkannya mereka, beliau tidak pernah menegur ketiganya.” Gerutuannya membuatku tercengang. ”Sebenarnya kau direkrut untuk menggantikan Delia. Pak Satya sudah tidak tahan bekerja dengannya,  tidak seperti ayahnya.”

“Tapi, lama-kelamaan, aku merasa dibodohi oleh wanita-wanita itu,“ lanjutnya, masam.

Aku merasa tidak enak dengan semua ini.

“Mengenai akademi itu, Bu Nanik tidak pernah memeriksanya?“

Wanita itu menggeleng, ia kembali memunggungiku. Mengerjakan proses cetak slip gaji untuk seratus orang karyawan di sini. Aku menghela napas. “Tere mengalami kecelakaan apa?“

“Dia ditabrak mobil saat keluar dari kantor untuk makan siang. Penabraknya tidak pernah ditemukan. Kabarnya ia lumpuh sekarang.“ Ada kegetiran dalam suaranya yang membuatnya terdiam.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Shanty Dwiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Marissa [4]"