Marissa [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Marissa [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:03 Rating: 4,5

Marissa [5]

Kalau memang demikian adanya, maka aku memang tidak perlu menemuinya. Kehadiranku bisa jadi melukai perasaannya karena harus mengingat pengalaman terburuk dalam hidupnya. Makin ruwet saja masalah Delia ini. Sebaiknya aku segera keluar dari tempat ini. Aku khawatir bertemu dengan Satya yang akan menanyakan progres pekerjaanku. 

Pak Amran,  sopir perusahaan kami,  sudah siap mengantarku ke rumah sakit. Rupanya ia mendapat perintah langsung dari Satya untuk membantuku menyelesaikan masalah ini. Kembali aku mendengar nada SMS dari ponsel Delia. Aku membukanya, dari nomor yang tadi. 

Mana profil TO baru? Cepat balas. 

Aq byk order.

Aku penasaran dengan orang ini, karena begitu bersemangat mengejar Delia. Ia pasti memiliki sesuatu yang bisa berguna. Aku minta berhenti pada sebuah wartel saat kami melintas di daerah Praban. Aku ingin tahu, dengan siapa sebenarnya Delia berhubungan.
Aku berdoa semoga ponsel itu tidak dimatikan. Sebab, aku tahu beberapa kasus yang berhubungan dengan kerahasiaan selalu menonaktifkan ponsel mereka agar tidak cepat terlacak. Tapi untungnya tidak. Aku mendengar nada tunggu berupa kicauan burung yang lumayan merdu sebelum akhirnya diangkat oleh seorang lelaki bersuara cempreng.

“Selamat siang, Pak Jono. Saya Diana dari Asuransi….“

“Salah sambung!” sebuah jawaban yang ketus terdengar, kemudian telepon ditutup dengan kasar.  Aku tidak menyerah, kutelepon lagi nomor itu.

“Maaf, Pak Jono tadi terputus. Aplikasinya mau dikirim ke Kaliasin, Pak atau…?” dengan asal aku menyebutkan alamat yang segera dipotong orang itu.

“Mbak, dengar, ya… saya ini Heriandi. Bukan Pak Jono!”

“Ini Kaliasin lima satu ?”

“Bukan, Krembangan!” lalu mati.

Jantungku deg-degan. Heriandi. Nama yang sama tertera pada tiga tanda terima Delia. Aku langsung menutup telepon itu. Buru-buru aku keluar dari sana setelah membayar ongkos telepon. Aku kembali ke mobil dengan semangat yang naik karena setidaknya ada seorang yang ‘nyata’ dalam masalah ini. Pertanyaannya adalah apa yang dikerjakan lelaki itu untuk Delia sehingga ia mematok upah begitu tinggi?

Sampai di rumah sakit, aku masih harus menunggu Dokter Aulia yang masih melakukan visit pasien. Aku mengunjungi Delia di kamarnya diantar oleh seorang perawat. Aku melihatnya duduk di atas tempat tidur. Ia tengah berkaca pada sebuah cermin berbingkai plastik murahan yang mungkin dipinjamkan oleh salah seorang perawat.

Delia menyentuh pipi, hidung, dan bibirnya. Ia memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Sorot matanya kosong ke arah cermin, seakan-akan ia tidak melihat bayangan siapa pun di sana. Rambutnya yang kusut masai makin memperparah penampilannya yang menurutku tiba-tiba menjadi sangat aneh. Pipinya kelihatan menggantung pada wajahnya yang tirus. Tubuhnya juga begitu kurus seperti penderita kurang gizi.

“Halo, Del,” kusapa dirinya.

Delia tidak menanggapiku. Ia kembali memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan. Sesekali menyentuh kening dan pipinya dengan telunjuknya yang kurus.

“Delia, ini aku, Rania. Kau ingat?“

Ia kembali tidak menghiraukanku. Perawat yang datang bersamaku mengajakku keluar dari sana dan memberikan keterangan bahwa Delia sudah berkelakuan begitu sejak tadi malam. Mereka memperkirakan ia menderita depresi berat. Aduh, mengapa menjadi makin rumit saja masalah ini? Bagaimana jika aku tidak berhasil menemukan keluarganya? 

Dokter Aulia datang setengah jam kemudian. Aku diajak ke ruangannya untuk membicarakan masalah kesehatan Delia. Dokter itu menyilakanku duduk di hadapannya, sementara ia membuka-buka file di hadapannya, mencari data Delia. Aku memperhatikan beberapa sertifikat digantung dengan rapi pada dinding berlapis wallpaper bermotif bunga warna kuning dan merah muda dengan dasar hijau muda. 

“Sudah bisa menemukan keluarganya?“ itulah yang pertama kali ditanyakannya padaku. Membuat perutku sebah saja. Aku menggeleng.

Dokter Aulia mengetukkan jarinya pada kaca meja dengan cepat.

“Saya harus menyampaikan kalau kondisi Ibu Delia tidaklah baik. Hasil labnya buruk. Gula darahnya lebih dari empat ratus. SGOT-nya tinggi dan saya khawatir paru-parunya juga kena, jadi tadi pagi kami rontgen. Ada indikasi anoreksia juga. Apakah ia melakukan diet ketat selama ini?“

Kugelengkan kepalaku. Pusing oleh kenyataan kalau Delia begitu bermasalah. Aku mengeluarkan blister obat dan fotokopi resep dari dalam tasku, lalu menyerahkan kepada Dokter Aulia. Lelaki itu mengerutkan alisnya.

“Apa ada yang salah, Dok?“ aku merasa jauh dari harapan.

“Dari mana kau peroleh ini?“

Kuceritakan dengan singkat penemuanku kemarin di kamar Delia.

“Resep ini benar, dokter yang mengeluarkan juga benar. Tetapi tidak boleh menebusnya dengan menggunakan salinan resep, apalagi fotokopi.”

Bagaimana aku tahu kalau Delia sudah begitu menyalahi aturan?  Dokter Aulia tersenyum. Mungkin ia bisa merasakan kegundahan hatiku.

“Kau mungkin akan terkejut jika mendengar fungsi Exelon.“

Kejutan lain apa yang bisa membuat hariku bertambah buram?

“Exelon adalah obat yang digunakan sebagai terapi Alzheimer.“

Aku terperangah. Alzheimer? Pikun? Delia? Aku menatapnya kaget.

“Mana mungkin? Delia baru berumur tiga puluhan!“ seruku tidak percaya.

Dokter Aulia mengangguk. “Walau jarang terjadi, kasus Alzheimer dapat terjadi di usia tiga puluh limaan. Jadi mungkin saja Delia mengalaminya. Itu pula yang menjelaskan mengapa ia terserang anoreksia karena salah satu efek pemakaian obat ini adalah menurunkan nafsu makan.“
Aku terenyak di hadapan dokter yang menjelaskan panjang lebar mengenai penyakit Delia. Seandainya tidak ada bunyi telepon masuk, mungkin ceramah dokter itu masih terus berlanjut dan membuatku makin bingung. 

Dari Ardi. Dokter Aulia menyilakan aku untuk menerima telepon itu. “Ya, Ar? Sudah baca e-mail-ku?”
Kudengar tawa Ardi jauh di sana.

“Jam dua malam? Kau sama gilanya dengan kakakmu ya!”

“Sudahlah... ada info yang bisa kudapat?“

Ia menghela napas dalam-dalam.

“Kebetulan aku lagi di Yogya, sudah cari info sejak pagi tadi. Buruk, Ran.“ Ia terdiam sejenak, membuatku menjadi mulas oleh rasa tegang.

“Akademi Sekretaris dan Manajemen Dharma Jaya Yogya memang pernah ada, tapi itu jadul banget. Menurut cerita, sebenarnya sekolahnya cukup baik, tetapi ada konflik di yayasannya sehingga akhirnya ditutup pada awal ’80-an. Mereka hanya sempat meluluskan satu angkatan saja.“

Satu angkatan? Ini mengejutkan, karena pada ijazah Nadia dan Delia dinyatakan lulus namun berdasarkan tahun kelulusan yang berbeda.

“Kau yakin?“

“Seribu persen. Aku mendapat info ini dari salah seorang agen besar kita, Bu Maryam. Beliau asli sini dan tahu seluk-beluk sekolah itu karena menjadi salah satu almamaternya.“

Perutku terasa kaku.  Ada yang salah dengan ketiga sekretaris itu.

“Ar, aku akan kirim beberapa file padamu siang ini dan tolong dikonfirmasikan ke Bu Maryam segera. Kuharap malam ini sudah ada report-nya,“

“Tapi, aku harus balik ke Semarang siang ini.“

“Ar, please... jangan khawatir, nanti aku yang bilang ke Satya.“

Ardi tertawa, “Anything, Bos. Anything!“

Kututup ponselku dengan perasaan mengambang. Aku merasa tidak yakin dengan apa yang sedang kami hadapi sekarang. Dokter Aulia memandangiku. Sepertinya ia sedang memikirkan apa yang barusan aku bicarakan dengan Ardi. Baru saja ia akan membuka mulutnya, tiba-tiba telepon ruangan berdering. Mengabarkan bahwa Delia mulai berulah lagi. Kami bergegas kembali ke ruangan di mana Delia dirawat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Shanty Dwiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Marissa [5]"