Marissa [6] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Marissa [6] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:04 Rating: 4,5

Marissa [6]

Saat itu, aku melihat sendiri bagaimana Delia berteriak-teriak sembari mencakar-cakar wajahnya. Aku menjadi ngeri bagaimana kukunya yang panjang itu membuat bilur-bilur merah di wajahnya. Dua orang suster yang memeganginya tampak kewalahan. Dokter Aulia memintanya menenangkan diri namun sepertinya sia-sia saja. Aku tidak heran saat mereka memberikan obat penenang padanya agar bisa diam.

Delia terkapar di atas kasurnya dengan lemah, mataya memandang liar ke sana sini. Keringat bercampur dengan darah dari bilur cakaran pada wajahnya menimbulkan kesan menyeramkan. Ia sama sekali tidak kelihatan kesakitan, malah seperti sedang kebingungan. Melupakan bagaimana menyebalkan sikapnya dulu, aku menjadi kasihan melihatnya seperti itu.

Kusentuh bahunya. Ya, ampun, aku baru sadar, jariku menyentuh tulang. Delia begitu kurus dari balik baju rumah sakitnya yang kedodoran. Rambutnya berantakan. Tanpa make up tebal, dia benar-benar seperti orang aneh. Kutelan ludahku yang terasa pahit.

“Del…,” kupanggil namanya.

Delia memandangiku seperti sedang mencari sesuatu pada diriku. Aku sampai merinding karena ngeri dipandangi serupa itu. Aku berharap ia memberikan satu dua patah kata sebagai respons. Tetapi, aku harus kecewa. Delia tidak menghiraukanku. Ia tidak mengenaliku.

“Del… ini aku, Rania. Ingat? Katakan sesuatu....“

Delia menggeleng lemah.

“Cermin… mana cermin… aku ingin pulang. Mana cermin… cermin… aku mau pulang….” Itu saja yang diucapkannya terus-menerus sampai suaranya kemudian makin lama makin lemah. Kepalanya terkulai ke kiri. Ia tidur.

Aku menghela napas dalam-dalam. Dokter Aulia memeriksa denyut nadi Delia, lalu dadanya. Kemudian ia mengatakan sesuatu pada perawat yang mencatat dengan cepat di sebelahnya. Dokter Aulia menoleh padaku.

“Ayo, kutunjukkan sesuatu yang menarik padamu!“ Ia memintaku untuk mendekat ke arahnya. Perawat tadi menggeserkan tubuhnya, memberikanku tempat di sisi Dokter Aulia yang kini mengangkat dagu Delia ke atas. Kami bisa melihat lehernya sekarang.

“Perhatikan kulitnya ini. Kisut, berkerut, dan kendur. Berbeda dari kulit wajahnya yang masih cukup halus.“

Aku tidak pernah memperhatikannya karena Delia selalu mengenakan blus model turtle neck atau scarf sutra yang menutupi lehernya.

Dokter Aulia kemudian memiringkan wajah Delia ke sisi kiri, menyibakkan rambutnya ke atas sehingga kami bisa melihat telinganya. Ada bekas jahitan di belakang telinganya melingkar rapi sepanjang bagian dalam belakang telinga. Dokter Aulia memiringkan sisi kepala yang lain dan menunjukkan bekas jahitan yang sama di telinga itu. Ia kemudian meraba pipi Delia, menekan-nekannya sedikit, lalu menyisir garis rahang dan tulang hidungnya.

“Implan silikon.“ Itu adalah komentar yang sangat mengejutkanku.

Aku mencoba mencerna dari apa yang kusaksikan sekarang. Itulah mengapa pipinya jadi seperti menggantung. Jika Delia sedikit berisi, maka pipinya akan terangkat dan kelihatan bagus. Oh, pantas saja. 

Dokter Aulia mengajakku keluar dari ruang perawatan Delia.

“Saya hanya ingin memberitahumu satu hal, Rania.“ Dokter itu menatapku.

“Ada indikasi Delia sudah menjalani operasi plastik, sepertinya lebih dari sekali. Jadi, kau mungkin akan kesulitan untuk mencari wajah aslinya seperti apa.”

Aku terenyak. Aku tahu ini buruk, tapi tidak pernah membayangkan separah ini. Aku terhuyung ke samping dengan pandangan berkunang-kunang. Dokter itu menangkap tanganku dengan cepat.

“Kau baik-baik saja?“ tanyanya.

Setelah semuanya menjadi terang kembali, aku mengangguk sambil melepaskan cekalannya. Aku hanya belum makan, sejak semalam aku begadang dan sampai sekarang belum beristirahat sama sekali. Ditambah dengan kejutan demi kejutan yang membuat semangatku makin merosot saja.

“Saya baik-baik saja, Dok. Terima kasih. Maaf, saya harus bergegas untuk menyelesaikan banyak masalah.“ Kedengarannya sombong sekali, tapi aku memang harus segera pergi dari tempat ini.
Aku meminta Pak Amran mengantarku pulang ke rumah. Aku harus segera melakukan scan tiga salinan ijazah dan foto lama yang disimpan Delia di bawah tasnya, dan mengirimkan kepada Ardi. Sambil menunggu proses scanning, aku menyempatkan makan risoles ayam dan minum teh manis. Pak Amran duduk di teras ditemani Mbok Nah sambil minum kopi.

Dalam hati aku sangat penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga Pak Yudha bisa meloloskan sekretaris dengan ijazah fiktif seperti mereka? Apa yang membuat mereka demikian istimewa hingga memperoleh perlakuan khusus? Tinggal di apartemen mewah, gaji besar, kerja asal-asalan dan mengorbankan rekan-rekannya selama belasan tahun! Hebat sekali!

Aku baru akan menelepon ketika Ardi menghubungiku. E-mail-ku sudah sampai. Alhamdulillah, aku bersyukur sekali dengan kemajuan teknologi wireles yang dapat menghubungkan orang di mana saja dan kapan saja tanpa terikat kabel. Ardi berpesan agar aku jangan pergi dulu dari rumah karena ia berada dalam perjalanan menuju rumah Bu Maryam. Aku melihat jam, sudah hampir pukul satu. Pas waktunya makan siang.

Sekitar lima belas menit kemudian, ada SMS Ardi yang memintaku menghubungi sebuah nomor telepon rumah di Yogya. Kubawa laptop, berkas-berkas Delia  dan catatanku ke ruang tengah. Adrenalinku mulai naik. Ini pasti akan sangat menarik. Kutekan nomor sesuai yang di-SMS Ardi padaku. Ia langsung menyambar telepon begitu nada kedua masuk.

“Ran, ini Bu Maryam, kau bicara sendiri padanya sementara aku akan membuka file-nya.”

“Thanks sekali, Ar.”

Perutku terasa kaku sekarang menunggu perpindahan dari Ardi ke Bu Maryam. Sesaat kemudian kudengar sebuah suara lembut.

“Assalamu’alaikum, Bu Maryam? Saya Rania...,“  aku memperkenalkan diri. Sepatah dua patah kata basa-basi mengawali percakapan yang segera mengalir di antara kami. Beberapa saat kemudian, aku merasa dipaku pada sofa yang kududuki setelah mendengar informasi mengangetkan yang diberikan oleh Bu Maryam. 

Ia mengatakan seperti yang diceritakan Ardi beberapa jam sebelumnya. Saat aku minta ia menunjukkan nama-nama dalam foto yang kukirimkan ke Ardi lewat e-mail, dengan lancar ia menyebutkan nama kesepuluh gadis yang berpose di sana. Aku mengikutinya dengan memberi tanda pada foto yang kupegang dengan pensil. Nama-nama yang kukenal: Marissa Subyastuti dan Nadia Rahmadhanti berada di sana sebagai dua orang gadis yang sedang duduk sambil merangkul satu sama lain.

“Delia Sumarno itu nama aslinya Adelia Prabawati, kemudian menikah dengan pilot bernama Teguh Sumarno. Yang pakai kacamata itu orangnya, Mbak.” 

Keterangan itu membuatku meradang. Gadis berkacamata yang tampak lugu dan sederhana sedang duduk paling kiri pada foto di warung lesehan gudeg itu. Aku jadi  makin puyeng.

“Apakah Ibu memiliki alamat Adelia saat ini?”  

“Sayang sekali tidak, Mbak. Adelia sudah meninggal 20 tahun yang lalu karena kanker dan dimakamkan di Temanggung.” Jawabannya membuatku terbelalak.

“Kalau Nadia?” kejarku kemudian.

“Nadia malah sudah meninggal lebih dulu, setahun setelah kami lulus. Beliau dan bayi yang gagal dilahirkannya.”

Makin lama  makin aneh, tapi terus terang menjadi menarik sekali.

“Bagaimana dengan Marissa, Bu?“

Bu Maryam tertawa, kedengarannya tidak enak di telinga.

“Ia agak aneh orangnya. Pendiam, tapi sering gonta-ganti pacar. Waktu Nadia wafat, ia datang sambil membawa bayi laki-laki yang baru berumur 40 hari. Kami sempat menegurnya karena tidak baik membawa bayi ke tempat orang mati. Kabarnya, ia menyusul kekasihnya ke Surabaya. Setelah itu, saya tidak tahu bagaimana kabarnya.“

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Shanty Dwiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Marissa [6]"