Marissa [7] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Marissa [7] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:06 Rating: 4,5

Marissa [7]

Aku merasakan peningkatan adrenalin dalam tubuhku. 

“Maaf, Bu. Apakah Ibu mengetahui seperti apa kekasih Marissa itu?”

“Wah, saya tidak tahu, Mbak. Kabarnya lelaki itu sudah berkeluarga.”

“Oh, begitu. Maaf, Bu, barangkali Ibu masih ingat, apakah Marissa, Nadia dan Adelia lahir pada tanggal 5 Juni?”

“Saya nggak yakin benar, tapi rasanya mereka tidak lahir di tanggal yang sama. Karena, kalau ada yang ulang tahun bersamaan, pasti traktirannya besar-besaran. Nah, pas di gudeg itu kami sedang merayakan ulang tahunnya Marissa.”

Cukup sudah bagiku keterangannya dan aku sangat berterima kasih pada Bu Maryam. Suara Ardi kembali berada di ujung telepon.

“Bagaimana, Ran? Kamu sudah puas kan sekarang?”

“Terima kasih banyak atas bantuanmu,  Ar. Sungguh-sungguh membantu.“

Ardi tertawa di ujung sana.

“Kau  utang padaku, bebek goreng kayu tangan dan rawon setan.”

“Anything, Bos. Anything,” kukutip kata-katanya dulu.
Aku menjadi lemas. Punggungku terasa basah oleh keringat, dan kedua tungkai kakiku gemetaran. Kuperhatikan dengan seksama wajah kesepuluh gadis yang ada di dalam foto itu. Tiga di antaranya sudah pasti menjadi sekretaris perusahaan ini. Tapi, bagaimana Nadia dan Delia bisa melamar pada posisi itu dalam usia yang lebih muda dengan menggunakan ijazah palsu? Siapa yang tidak jujur di sini? Tadinya aku ingin mengonfrontasi Adelia dengan Delia. Tetapi, jelas tidak mungkin, karena yang satu sudah mati, sedangkan yang satunya mulai pikun!  Seandainya aku bisa menemukan Marissa. Tetapi, ia tidak jelas ke mana setelah keluar dari sini belasan tahun yang lalu.

Aku mencoba mengurut melalui billing statement dari kartu kredit yang digunakan oleh Delia. Billing statement itu keluaran dua tahun lalu. Dari merchant yang terbaca di sana adalah ada dari sebuah klinik kecantikan dan pelangsingan ternama di Surabaya. Imago Derma. Transaksi yang dikeluarkan juga cukup besar, hampir Rp11 juta.

Aku mencoba mencari nomor klinik itu melalui operator 108. Setelah mendapatkannya, aku segera menelepon melalui ponsel Delia dengan harapan aku tidak akan ditolak saat aku menanyakan beberapa hal. Seorang pelanggan loyal seperti Delia tidak akan ditolak oleh merchant sebesar itu.

“Selamat siang, Mbak Delia? Aduh... lama nggak ke sini, ya....“ Seperti dugaanku, operatornya langsung kedengaran ramah begitu nomor ponsel Delia muncul di ID-record mereka.

“Siang juga, Mbak... siapa ini?“

“Sisil, Mbak.“

“Eh, Sisil... apa kabar?“

“Baik, suaranya, kok, beda, Mbak? Sakit?“ 

Aku berdehem, mengiyakan. Lalu aku berlagak menjadi Delia yang sedang kena flu. Menyatakan kehilangan kartu anggota sehingga tidak bisa mengontak terapisku. Perempuan bernama Sisil itu percaya saja, mungkin karena Delia adalah seorang klien besar sehingga harus dilayani dengan baik. Jadi, aku mendapat nomor Dokter Frans Siwabessy darinya. Aku juga menanyakan info terkini seputar perawatan kulit.

“Banyak, sih. Botox, dermabrasi, laser-laser sama chemical, gitu. Cuma yang tindakan bedah, seperti biasa dipegang Dokter Frans di rumahnya.“

“Oh, gitu....Sil, kamu tahu nggak kalau yang bedah sekarang sampai berapa, ya?“  iseng-iseng aku bertanya.

“Tergantung tindakannya, sih. Sekitar Rp20 juta - Rp30 jutaan, Mbak.“

Wow! Luar biasa! Buru-buru aku mencatat nomor yang disebutkan dan segera pamit padanya setelah selesai. Rasanya sekarang  makin menyesakkan dada. Sepertinya aku mulai tahu ke mana arah permasalahan ini akan menuju. 

Ada seseorang yang menggunakan nama ketiga orang alumnus ASMADJY untuk kepentingan pribadinya. Dua di antaranya sudah meninggal, yang berarti mempersempit penyelidikan lebih jauh. Ada seseorang yang bersembunyi di dalam tubuh Delia saat ini. Dan aku yakin, seseorang itu telah mengubah wajahnya sedemikian rupa dengan melakukan operasi plastik. Entah di Imago Derma atau di Dokter Frans. Tetapi, untuk apa dan mengapa?

Mbok Nah tiba-tiba muncul di hadapanku. Ia menanyakan apakah aku balik ke kantor atau tidak. Aku baru sadar, hari sudah hampir pukul tiga sore ketika kudengar azan salat Asar. Aku segera salat, setelah itu kembali ke kantor bersama Pak Amran. Lelaki itu sama sekali tidak menanyakan mengapa aku berlama-lama di rumah. Mungkin ia sudah diinstruksikan demikian.

Di jalan aku menelepon Dokter Aulia, barangkali ia mengetahui informasi mengenai Dokter Frans Siwabessy. Ia mengatakan, dokter itu adalah seorang dokter umum biasa, tetapi istrinya memiliki klinik kecantikan ternama. Dokter Frans adalah konsultan di sana sejak klinik berdiri sekitar 20 tahun lalu. 

“Jadi, dia bukan seorang spesialis bedah plastik, Dok?“ tegasku.

“Bukan, aku tahu itu sebab Dokter Frans Siwabessy adalah teman satu angkatan ayahku.“

“Oh, begitu. Pasti, ya, Dok?“

“Ada apa, Ran? Tampaknya ada sesuatu yang begitu mengganggumu?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa. Terima kasih atas informasinya.”

Aku terdiam, berusaha merangkai semua jawaban yang kuperoleh hari ini. Aku merasa mulai dekat kepada jawabannya.

“Mbak Rania nggak apa-apa?” Pak Amran melirikku dari spion.

“Oh, saya baik-baik saja. Memang kenapa, Pak?”

“Hmm... Mbak pucat sekali. Apa tadi belum makan?”

Aku tertawa tidak menanggapi perhatiannya.

“Mbak Rania jadi repot, ya, mengurusi Mbak Delia.”

“Ini setengah terpaksa, setengah dipaksa,” aku bergurau menjawabnya.

Pak Amran tertawa. Aku ingat sesuatu.

“Pak, apakah pernah mengantar Delia ke daerah Krembangan?” 

Pak Amran kelihatan agak terkejut mendengar pertanyaanku. Tetapi, ia mengiyakan bahwa dirinya pernah mengantar Delia ke sana, tapi itu dulu sekali. Sekitar sebulan setelah ia menggantikan Luisa yang mati.

Yang mengherankan menurut Pak Amran adalah Delia begitu mengenal daerah itu dengan baik. Sangat aneh bagi seseorang yang baru menginjakkan kakinya di Surabaya.

Jawaban itu  makin meyakinkan aku pada sesuatu yang aku takutkan. Sebenarnya, aku sudah mulai bisa menduga apa yang dilakukannya di daerah Krembangan itu. Tapi, aku perlu menggali lebih banyak dari Pak Amran.

“Mengenai Tere, saya dengar dia ditabrak mobil ya, Pak.“

“Wah, itu mengerikan sekali, Mbak. Mbak Tere itu, biarpun  orang kaya, ia sangat merakyat. Kalau makan siang, kami biasa makan di kaki lima depan kantor. Eh, nggak tahu kenapa hari itu dia apes sekali.“ Pak Amran kelihatan menyesal saat menceritakan kejadian beberapa tahun lalu. 

Menurutnya, siang itu Tere tidak pergi bersama-sama yang lainnya saat makan siang. Ia harus menerima telepon penting dari seseorang. Saat ia menyusul lima belas menit kemudian, sebuah mobil kijang dengan kecepatan tinggi menabraknya persis di depan warung tempat mereka makan. Tere terpental sampai masuk ke dalam got air, punggungnya patah dan kepalanya  retak. Mobil kijang itu langsung kabur begitu saja. 

“Kasihan Mbak Tere, sekarang menjadi cacat dan nggak mau ketemu kami lagi. Mungkin ia merasa marah.“

“Saya bisa mengerti. Kata Bu Nanik, Luisa dan Tere adalah sekretaris yang hebat,“ kupancing ia dengan nama Luisa.

“Bukan hanya hebat, Mbak, tapi juga baik hati. Apalagi Mbak Luisa. Dia itu dermawan dan ringan tangan. Dia  sering liburan ke luar kota. Kalau pulang, kami  semua diberi hadiah. Para pesuruh kantor senang padanya, karena sering diberi tip. Apalagi kalau dia lembur sampai malam-malam.“
Pak Amran menggelengkan kepala dan menghela napasnya dalam-dalam.

“Karena lembur itu juga, kami terlambat menyelamatkan nyawanya.“

Luisa saat itu bekerja keras menyelesaikan laporan akhir bulan karena Pak Yudha sedang ke Singapura untuk menemani istrinya yang menjalani operasi pengangkatan rahim. Petugas keamanan malam itu merasa curiga karena sampai pukul sepuluh malam Luisa belum juga keluar dari kantor, padahal lampu ruangannya sudah padam.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Shanty Dwiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Marissa [7]"