Marissa [9] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Marissa [9] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:10 Rating: 4,5

Marissa [9]

Marissa menekan Pak Yudha untuk menerima dirinya sebagai Nadia, untuk menjadikan sekretaris baru menggantikan Tere. Semula Pak Yudha menolaknya. Ia sudah cocok memiliki sekretaris seterampil dan seahli Tere dalam mengelola pekerjaan. Tere sangat membantunya. Marissa terus menekannya melalui telepon, tapi Pak Yudha tidak menggubris. Sebenarnya, lelaki itu bersyukur telah terbebas dari Marissa selama beberapa waktu. Ia tetap mempekerjakan Tere sampai terjadi kecelakaan yang mengerikan di depan kantor.

Marissa mengulang kesuksesannya memasuki kehidupan Pak Yudha kembali. Namun, ia harus menelan kenyataan pahit bahwa lelaki itu memang tidak pernah menerima perubahannya, sekalipun ia sudah berusaha kuat. Pak Yudha selalu berhubungan dengan orang lain, bukan dengan dirinya. Seberat apa pun selama bertahun-tahun menjadi Nadia, Pak Yudha tidak pernah menanggapinya lebih dari sekadar pegawai biasa.

Begitu besar keinginan untuk merebut hati lelaki itu, sampai-sampai ia tidak memperhatikan bagaimana anaknya telah dirawat dengan baik oleh istri Pak Yudha yang sungguh-sungguh menyayanginya. Anak bukan lagi menjadi prioritasnya. Satu-satunya keinginan Marissa adalah dinikahi oleh lelaki itu.

Sekali lagi, ia menghilang untuk mengubah dirinya menjadi orang lain. Kali ini ia menjadikan dirinya sebagai Delia Semarno. Marissa juga belajar meningkatkan kemampuannya untuk dapat meraih kepercayaan Pak Yudha atas dirinya. Ia belajar banyak hal. Meninggalkan kemahiran mengetik steno yang dimilikinya, lalu mulai belajar komputer, juga memperdalam pengetahuan tentang hukum perdagangan. 

Tetapi, Pak Yudha telanjur menyayangi Luisa. Marissa dibuat cemburu hebat  oleh kedekatan lelaki yang dikasihinya itu dengan wanita workaholic bernama Luisa. Di matanya, ambisi Luisa sungguh kelewatan. Ia mampu bekerja dua belas jam sehari. Keandalannya membanggakan, karena ia mampu menangani masalah administratif dan manajemen. Terlebih pada masa itu, istri Pak Yudha berada dalam kondisi paling kritis dalam hidupnya sehingga membutuhkan perawatan intensif di Singapura. Di situlah peranan Luisa sangat menonjol. 

Marissa tidak membiarkan kehebatan itu berlangsung lama. Melalui bantuan Heriandi, ia berhasil kembali ke dalam posisinya sebagai sekretaris setelah Luisa meninggal dunia akibat keracunan gas karbon monoksida yang memenuhi mobilnya. Sekali lagi, ia berhasil.

Tetapi, kesuksesannya kali ini membuat Pak Yudha  makin membencinya. Lelaki itu bahkan menunjuk Bu Nanik untuk merangkap beberapa tugasnya yang makin dibatasi. Marissa diperlakukan sebagai boneka di kantornya dan tidak diberi kepercayaan oleh lelaki itu. Pak Yudha bahkan menyebutnya sakit dan menyarankannya untuk segera mengonsultasikan dirinya ke seorang ahli jiwa.

Marissa begitu marah disebut sakit. Bertahun-tahun ia berjuang memperoleh kebahagiaannya bersama lelaki itu, tetapi tidak berhasil digapainya. Yang ia terima selama itu hanyalah perubahan drastis pada wajahnya yang dua kali menjalani operasi plastik menjadi Nadia dan Delia. Selain itu, tidak ada. Apartemen yang ia huni saat itu pun adalah milik Pak Yudha yang hanya boleh ia tempati selama ia bekerja padanya. Dan, itu bisa saja berakhir setiap saat, terutama setelah lelaki itu meninggal dunia.

Marissa mendapatkan kenyataan pahit selain kematian lelaki yang tidak pernah memberinya apa-apa, kecuali seorang anak yang tidak pernah mengenalinya. Ternyata, tubuhnya pun mulai lelah melawan waktu. Bertambahnya umur membuatnya tidak mampu menahan lajunya hukum alam. Ia menderita penyakit degeneratif, seperti diabetes dan hipertensi. 

Kedua penyakit itu membuatnya bekerja ekstra keras agar penampilannya tetap seperti wanita yang berusia awal tiga puluhan. Amatlah sulit menjaga diri dari diet dan obat-obatan agar penampilannya terjaga. Akhirnya situasi yang mengerikan itu muncul juga. Ketatnya diet membuat penampilannya berantakan. Marissa dipaksa mengganti blus-blus seksinya dengan blus turtle neck agar lehernya yang mengendur bisa tertutup. Ia juga mengecilkan rok dan celananya yang makin lama makin longgar.

Marissa terpaksa menerapkan make up tebal untuk menyiasati wajahnya yang berubah karena tubuhnya makin kurus. Implan silikon yang disisipkan pada pipi dan dagunya menjadi semacam bantal yang menggayut, yang membuat wajahnya menjadi aneh. Ia tidak berani mengutak-atik wajahnya lagi karena diabetes. Sedikit kesalahan bisa membuat wajahnya luka dan membusuk oleh gangrene.

Penyakitnya telah menjadi momok yang memaksanya untuk sering bercermin. Ia berharap akan ada perubahan dalam dirinya yang bisa membuatnya bahagia. Tetapi,  makin lama ia bercermin, makin ia sadar bahwa hidupnya menuju kehancuran. Dengan penampilan seperti itu, masa depannya bisa berakhir segera. Maka, ia meminta bantuan Heriandi sekali lagi untuk membuatkan buku nikah dan akta kelahiran palsu. Tujuannya jelas, ia akan memaksa Satya memberikan warisan ayahnya kepada dirinya untuk menjamin hari tuanya.

Tetapi sayang, di saat rencana itu baru dijalankan, Satya ternyata membuat rencana lain terhadap perusahaan. Demi efisiensi dan efektivitas, maka ia telah menggabungkan perusahaan ayahnya dan dirinya berada dalam satu atap di bawah kendalinya. Sifat dan gaya kepemimpinan yang cepat, tegas, dan keras membuat Marissa pontang-panting. Pertama, karena sejak awal ia tidak terbiasa dengan tugas-tugas berat. Kedua, kondisi fisiknya mulai menurun.

Marissa terpukul oleh keadaan itu. Ia bagaikan seekor siput dalam dunia hewan berkaki dan bersayap yang dapat bergerak dengan lepas dan bebas. Ia begitu lambat, tak bertenaga dan tidak bisa diandalkan. Dalam beberapa hal ia menjadi begitu menyebalkan dan dicap sebagai trouble maker. Tetapi, ia bertahan untuk tetap berada dalam posisi itu sampai Heriandi dapat membawakan surat-surat yang akan menyelamatkan hidupnya dari kehancuran.

Malang baginya, tekanan yang diberikan Satya dengan gaya kepemimpinannya itu membuatnya terpuruk dalam waktu singkat. Ia mulai kehabisan napas, tidak  memiliki ruang gerak, miskin ide dan kehilangan harga diri di mata anaknya yang tidak pernah mengenalinya itu. Ketegasan sikap anak muda itu dengan memberikan satu demi satu surat peringatan membuatnya tertekan. Begitu tertekannya, sampai ia sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih. Dan, suatu ketika malah menjadi blank sama sekali.

Marissa  linglung. Ia mendadak kehilangan kemampuan mengenali apa pun, siapa pun, dan apa yang sedang dihadapinya. Sesaat setelah ia bisa kembali sadar, ia menjadi khawatir akan kondisinya itu. Segera ia mencari dokter untuk membantu masalah yang dihadapinya. Ia kemudian menjalani sejumlah tes untuk memastikan kondisi tubuhnya. Beberapa waktu kemudian ia menerima vonis yang begitu menakutkan. 

Dokter spesialis saraf itu menjelaskan kondisi kepalanya. Beberapa hal tentang bagian-bagian otaknya yang mulai mengecil, juga simpul-simpul saraf yang menyusut. Semuanya berujung pada satu hal: Alzheimer dementia alias pikun. Dokter itu merasa tertarik padanya karena Marissa yang menjadi Delia mencatatkan usianya 33 tahun.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Shanty Dwiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"


0 Response to "Marissa [9]"