Mat Kurap | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mat Kurap Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:15 Rating: 4,5

Mat Kurap

HAMPIR pukul tiga sore. Shalat Lohor pun aku belum sempat. Tapi pintu telah terbuka. Aku hampir tergagap – tak tahu kenapa akhir-akhir ini aku sering begitu. Sekretarisku masuk. da orang yang cari Bapak, dan yang Bapak cari, katanya. Aku mendehem.

Seorang lelaki, setengah tua, berkopiah, baju hitam, masuk dengan wajah tertunduk. Seorang bocah, enam atau tujuh tahunan, lusuh kausnya ia gandeng dengan tangan kiri. kupersilakan ia duduk. 

“Saya mat Kurap, Pak.”

“Dari kantor Pekerjaan Umum?”

“Ya Pak.”

“Lulus es em pe, tiga kali pindah kerja?”

“Saya, Pak.”

“Gaji enam puluh ribu rupiah, kawin dua kali, anak tujuh, sekali maling ayam, dua kali kepergok mai dadu koprol…”

“….Pak Kurap!”

“Sa..saya, pak.”

“Benarkah itu?”

“Apa yang benar, Pak?”

“Bapak tak menyimak kata-kata saya?”

“Saya, Pak, dengar.”

“Bapak tahu kenapa saya panggil ke sini?”'

“Saya, pak.”

“Bapak mengerti kalau bapak sedang diperiksa?”

“Saya, Pak.”

“Bahwa Bapak didakwa terlibat korupsi yang tidak kecil.”

“Pak.”

“Bapak mengerti?!”

“Bapak, sa..saya mengerti.”

“Jadi kewajiban Bapak untuk menyimak dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Mengeri, Pak?”

“Mengerti, Pak.”

“Bisa saya teruskan?”

“Bisa.”

“Baik.” Aku turunkan kaca-mata minus tiga di leher hidungku. “Apa benar anak Bapak tujuh, dua kali beristri, dan punya dua ratus meter sawah di Pacitan, kampung Bapak?”

“Benar, Pak.”

“Bapak pernah sekali maling ayam, main judi koprol, sabung ayam, dan jadi makelar tanah?”

“Benar, Pak.” Mat Kurap menurunkan pandang ke arah kaki meja di hadapannya.

“Bapak suka membawa kertas dari kantor, atau peralatan seperti pensil, mistar, pines, selotip, atua buku-buku tulis?”

“Be…benar, Pak.” Mat Kurap sudah terlalu dalam menunduk.

“Bapak sering diminta oleh sesama peawai untuk mencatatkan absensi mereka, dengan bayaran sebungkus rokok atau lima ratus perak? Bapak pernah diminta mengantar suat atau barang sesama pegawai atau atasan, yang pribadi, tapi Bapak pakai kendaran kantor?”

Mat Kurap menelengkan sedikit kepalanya. Menengok bocah kecil yang berdiri di sisinya.
“Pak Kurap?”

“Ya ya. Bapak benar.”

“Apa Bapak sebagai sopir, sering membeli bensin, dua puluh liter tapi dengan bon tiga puluh? Bapak senang mentraktir teman sesama sopir? Bapak selalu main gaple di waktu senggang kantor? Kadang dengan taruhan ratusan rupiah? Bapak suka mengutang juga?”

“Bapak lebih tahu.” Suara Mat Kurap bergetar.

“Tentu, saya tahu itu. Tolong jawablah lagi.” Aku menatap matanya lurus dan keras. “Betulkah pada tanggal dua belas Mei, Bapak diminta mengantar barang oleh Sukri, atasan Bapak? Barangnya terbungkus sebesar mesin tik dan diantar ke daerah … (tak terlihat jelas, red)?”

“Saya, Pak.” Mat Kurap menggenggam tangan anaknya.

“Apa Bapak diberi imbalan sepuluh ribu untuk itu!”

“Sa..saya, Pak.” Mat Kurap tak sadar merapatkan tubuh anaknya ke dadanya sendiri.

“Bapak tentu tahu bahwa itu bukan barang resmi kantor? Bapak tidak punya surat tugas untuk itu!”

“Bapak lebih tahu.” Mat Kurap sudah hampir memeluk anaknya. Apa benar hal itu sudah berlangsun hampir dua tahun rutin? Dan kalau dihitung dengan komisinya, Pak Kurap hampir menerima sekitar sepuluh juta seluruhnya?”

“Bapak begitu tahu. Saya..saya tak pernah menghitungnya.”

“Terima kasih. Tapi apa benar karena itu, Bapak sudah punya tivi berwarna, motor bebek, bahan pernah dijanjikan tanah oleh Sukri?”

‘Saya.” Mat Kurap sudah menekan kepala anaknya di dada.

“Tentunya Bapak tahu bahwa Bapak telah terlibat kasus manipulasi yang tidak kecil? Bapak tahu kalau Bapak jadi penghubung antara dua pihak yang sbenarnya koruptor penyelundp dan bisa didakwa mencoreng rahasia negara?”

“Pak, sebelumnya saya tak tahu.”

“Bapak pada akhirnya tahu. Juga tahu, bahwa Bapak bisa didakwa ikut melakukan subversi? Bapak tahu itu sangat berat?”

“Saya, menyesal.”

“Bapak mengerti bisa ditahan sampai dua puluh tahun?”

“Saya, menyesal.” Mat Kurap menciumi anaknya.

“Bahwa Bapak tidak akan bertemu dengan anak dan istri lagi. Bapak kehilangan hak. Bapak dimusuhi setiap oran. Bapak…”

“Saya sudah menyesal, Pak!” Mat Kurap berteriak.

“Aku terkesiap. Dan terdiam. Kupandang wajahnya, ia menantang dengan matanya. Aku coba meladeninya, dengan segala wibawa yang pernah bermukim dalam pisik jiwa, dan jabatanku. Tapi, kampret. Kenapa manusia ini? Kenapa bulu tengkukku harus meremang. Kurang ajar.
Kutambah voltase tekanan pandangku. Tapi, uih! Ini manusia memang lain. Aku tak bisa menghadapinya sama dengan pejabat eselon tiga sekalipun, atau tauke-tauke, jutawan kelas dua, banker, juragan, atau orang-orang yang puluhan kali lipat dari si Kurap ini derajat sosial dan ekonominya. Mereka cuma sama, sebagai terdakwa. 

Aku tikam dia dengan kerut dahi yang dalam. Ia tak bergeming. Kutinju ia dengan tarikan bibir yang kejam. Tatapannya malah meruncing. Manusia apa ini?

“Apa mau Anda, Pak Kurap?” Aku merasa tekananku kendor.

“Saya mau bicara, Pak.” Kata-katanya tegas dan kering.

“Kamu punya hak.” Aku pun coba lebih tegas. Dan aku mesti berhasil. Aku tahu di sinilah aku punya kekuatan. Karena tak mudah aku ditundukkan, apalagi dengan tekanan psikologis, aku berhasil mencapai kursi yang kududuki sekarang ini.

“Bicaralah, Pak Kurap!” Aku tak boleh menunggu. Kesempatan datang, aku mesti mengantisipasinya dengan baik. Kunaikkan kacamata sedikit, sambil – hampir tanpa terlihat – menegakkan punggung yang entah bagaimana tadi melengkung terlalu dalam.

“Saudara Marjoni bin Rojak, alias Mat Kurap, saya tidak duduk di sini hanya untuk menunggu Anda bicara.” Sunguh, sangat kurasakan tekanan kataku yang kian keras. Apakah aku sudah dapat mengatasi keadaan dan perang batin ini? Aku tak tahu. Kalaupun kemudian Mat Kurap mengatupkan matanya dengan dada yang tetap tegak, dan pelukan pada anaknya tetap erat, aku ak yakin itu karena kekuatan tekananku sendiri. Tapi, air apa yang bergulir itu?

Mat Kurap menangis. Tetap tegak. Tanpa suara.

“Anda terganggu?” Suaraku merendah, namun – aneh – sama sekali aku tak merasa membuat kebodohan.

Lelaki itu mengusap air matanya dengan punggung tangan anaknya. Ia buka mata dan menatap bocah yang sedari tadi kaku memandangi wajah lelaki pegawai golongan dua A yang sudah lima belas tahun berdinas itu.

“Baiklah,” kataku lagi. “Saya akan memanggil Bapak lagi untuk pemeriksaan selanjutnya. Selamat sore.”

“Saya mau bicara.”

“Bapak tidak sedang menguji kesabaran saya tentunya?”

“Tak ada keberanian saya untuk itu, Pak. Saya orang kecil. Saya cuma pegawai rendahan. Mencari seperak dua perak untuk menghidup keluarga saya yang besar.” Mat Kurap berhenti sejenak. Ia tidak seheran aku, mendengar dari mulutnya keluar kata-kata sebanyak itu, dan sangat lancar ia ucapkan. Aku tertegun, tepatnya tertarik.

“Bapak begitu tahu tentang saya. Tapi, Bapak mungkin kurang tahu kalau saya juga harus membiayai adik-adik saya yang lima orang jumlahnya di desa. Juga orangtua. Juga beberapa sanak lainnya. Kami keluarga miskin, turun temurun.” Mat Kurap mencium anaknya. “Ya, demi si Buyung inilah saya bekerja. Dan di kota seperti begini uang enam puluh ribu sebulan, Bapak lebih tahu dari saya, apa cukup menyumpel perut lima belas orang lebih. BUkankah begitu, Bapak?”

Aku tak menjawab. Aku melihat pemandangan lain dari manusia yang ada di depaku sekarang.

“Pak,” ia melanjutkan. “Bukan perut mereka saja yang merintih. Mereka juga sekolah. Saya tak mau anak-anak saya lebih rendah kehidupannya dibanding bapaknya. Sedang, Bapak juga tahu sekolah tidak sedikit biayanya. Mereka butuh buku, pensil, seragam, atau sepatu. Uang sekolah, iuran-iuran, atau sedikit jajan. Ya Pak, semata-mata ini soal dapur. Tapi Pak, hidup ‘kan tidak cuma di dapur. Ada kamar tidur, ruang depan, beranda, halaman, juga lingkungan, tetangga. Itu ‘kan, kalau saya tak salah, kebutuhan jadi kian menumpuk.”

Mat Kurap menghela napas. Aku kini melihat manusia.

“Apalagi habis Lebaran seperti ini. Bapak juga mengerti, bagaimana Lebaran seperti mencekik leher para orangtua. Suara mereka yang merengek minta baju atau sepatu baru tentu membuat kita tidak tahan. Anak kecil memang tidak mengerti, tapi itu bukan salah mereka. Begitu ‘kan, Pak?” Ia menatapku lurus.

Aku terdiam. Aku sungguh melihat manusia. Manusia sebenarnya.

“Sementara, kita sendiri, sebagai orangtua, tiap hari kerja. Begitu selalu, rutin, kadang bosan. Orangtua saya pernah bilang, bahwa kita hidup tak melulu kerja. Kita kadang butuh hiburan. Dan saya suka nonton wayang, juga film India. Itu wajar ‘kan, Pak? Itu butuh biaya ‘kan, Pak?” Ia seperti menunggu reaksiku. Aku masih diam. “Saya tak mau seperti Sudrun, Pak. Kata orang, apa itu, setres namanya. Tapi yang saya lihat dia gila. Gila, Pak. Apalagi Bandi, yang bunuh diri. Saya tak mau, Pak. Tak mau. Anak-anak saya, Pak. Mereka bisa telantar.”

Aku melihat Mat Kurap penuh perhatian. Kurasa di sederhana sebagamana manusia.

“Menurut saya, ini menurut saya lho, Pak, mereka itu, si Sudrun dan Bandi, kurang hiburan. Mereka tidak tahu artinya hiburan. Atau munkin kuran rileks. Kurang santailah, begitu. Kalau saya, gaple, koprol, adu ayam, cuma untuk rileks saja. Bagus, bisa sekalian untuk cari duit. Saya tak mau tersiksa oleh hidup, Pak. Apa itu salah, Pak. Pak?”

“Mungkin.”

“Yah, mungkin saja mungkin. Tapi, saya kira Bapak mengerti.”

“Bapak sudah banyak korupsi.”

“Saya tahu. Tapi apa ada cara lain? Bapak bisa melihat, Bapak bisa kasih tahu?”

“Saya tak bertugas untuk itu, Pak Kurap!”

“tapi ini kenyataannya, Pak. Hukum sih hukum, tapi ‘kan tahu diri. Apa orang yang sudah ditekan hidup, ditekan hukum lagi. Hukum itu ‘kan buat menolong, bukan untuk mencelakakan. Ya nggak, Pak?”

“Korupsi tetap sebuah kejahatan, Pak Kurap.”

“Saya tahu. Tapi apa saya biarkan anak saya cuma sekali sehari makannya? Kurang gizi. Apa saya biarkan anak saya tak sekolah? Apa saya biarkan, anak-anak saya tak bisa merasakan masa kecilnya dengan baik? Apa saya tak boleh rileks? Tidak, tidak Pak. Saya tak mau mereka lebih bodoh, lebih miskin dari bapaknya. Kapan majunya keluarga saya? Kapan keluarga saya bisa pulang ke desa dengan bangga, atau mungkin bisa bantu pembangunannya di sana? Apa tak wajar harapan ini, Pak?”

“Wajar. Tapi itu tak menghalalkan setiap cara.”

“Bapak ini seperti tidak tahu saja. Kalau Bapak tahu begitu dalamnya saya, tentu tahu si Sukri, Dono, Suhana, Sidarmo, Sikas, dan sederet lainnya. Apa mereka lebih bersih dari saya? Dono pernah nggondol mesin tik kantor, Sukri ngurangi jatah beras. Pak Suhana tukang potong gaji, dan anu dan si itu. sepanjang tahu saya, siapa sih di kantor yang tidak begitu. Itu semuanya kayak sudah umum, sudah wajar saja, Pak. Masalahnya apa? Ya, saya rasa, sama saja dengan saya. Anak Pak, anak!”

Aku tercekat. Getaran kata terakhir itu cukup mengguncang. 

“Bapak lihat si Buyung ini? Bapak tentu tega, karena ia bukan anak Bapak. Tapi, Bapak ‘kan juga punya anak. Anak Bapak juga punya keinginan, punya kebutuhan. Bapak sendiri juga. Istri Bapak juga. Belum saudara, belum orangtua.”

Aku kembali terdiam.

“Apa Bapak mau bilang, gaji Bapak cukup untuk itu? Teman-teman saya pada nggak percaya sama gaji. Utuk Bapak, saya tak tahu.”

“Pak Kurap ingin menuduh? Ingin menyudutkan saya?”

“Bapak jangan salah paham.”

“Pak Kurap, Anda saya peringatkan!”

“Terserah, Bapak! Saya tahu kalau saya memang harus dihukum. Itu memang timpalan saya yang wajar. Dosa saya juga banyak. Di akherat nanti juga saya pasti dihukum. Saya terima. Tapi, izinkan saya, Pak, saya membela diri. Saya tak cuma mikirkan diri sendiri. saya mikirin anak, mikirin masa depan mereka. Itu ‘kan artinya generasi nanti, generasi yang nggantiin kita, Pak.” Mat Kurap sudah hampir menanggalkan formalitasnya. Di luar kesadarannya, ia telah berlalu banyak mengikutsertakan emosi.

“Terus terang Pak, saya tak takut dihukum. Saya cuma katakan sebenarnya. Jujur saja, kalau saya dihukum, dan orang-orang seperti saya juga dihukum, mungkin seluruh kantor akan kosong dari pegawai. Saya tidak tahu bagaimana Bapak sendiri.”

Dia terengah-engah. Tajam matanya. Si Buyung menangis. Aku hampir tak kuat menahan pandangannya. Jangan, jangan sampai aku tertunduk. Kurapatkan gigi-gigiku kuat-kuat.

“Saya siap, Pak. Saya akan datang untuk pemeriksaan selanjutnya. Selamat sore!”

Lelaki setengah tua berbaju hitam, dengan anak kecil di tangan kirinya itu berbalik. Berjalan tegap, mantap dan hilang di balik pintu.

Ah! Aku seperti membuang tiga karung beras dari tas pundakku. Mataku lelah dan kuistirahatkan dengan mencari pemandangan lain. Aku berhasil tak menunduk, tapi hatiku jatuh. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Radhar Panca Dahana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 5 Juni 1988

1 Response to "Mat Kurap"

Tips Kesehatan said...

keren gan ceritanya ,, jempol deh lannjut nulisnya